
Mencari Daddy Bag. 27
Oleh Sept
Rate 18 +
Hari itu akan Kanina kenang untuk selamanya, hari di mana Gara berjanji untuk pertama kalinya akan membuatnya bahagia. Kata-kata Gara nyatanya mampu menghancurkan dinding pertahanan Kanina. Pria itu kini mampu membuat tubuhnya bergetar karena terisak. Sebuah tangis penuh rasa haru, seolah masih tidak percaya. Apakah dia layak untuk menikah dengan Gara dan hidup bahagia?
"Jangan hanya menangis, Kanina. Gara sedang menanti jawaban darimu," ucap bu Sadewo yang sudah tidak sabar menunggu jawaban Kanina.
"Tidak apa-apa, Ma. Mungkin ini terlalu mengejutkan dan mendadak bagi Kanina," sela Gara yang mengerti perasaan gadis tersebut.
Gara hanya bisa pasrah, karena perasaan manusia tidak bisa dipaksa. Sedangkan sang mama, ia terlihat masih ingin memastikan arti tangisan Kanina tersebut. Mau apa tidak?
Oek oek oek
Altar kembali menangis, mungkin ikatan batin. Saat sang ibunya menangis, bayi laki-laki itu pun ikut menangis.
"Kenapa, sayang? Apa lapar? Haus?" tanya bu Sadewo pada bayi yang ada dalam gendongannya.
"Biar Kanina beri ASI, Tante. Dia pasti haus," ucap Kanina dengan suara serak. Matanya pun masih merah dan sembab.
Gara hanya bisa menatap di tempat, rasanya ia ingin mengusap pipi gadis itu. Karena ia tidak ingin membuat Kanina menitihkan air mata lagi, gadis itu hanya boleh tersenyum.
Sedangkan bu Sadewo, ia kemudian memberikan baby Altar pada ibunya. Biar diberi ASI, dan benar saja. Setelah mendapat minuman sari-sari kehidupan dari sang ibu, Altar kecil langsung diam.
Tanpa sadar, Gara masih saja menatap ke arah Kanina. Barulah saat Kanina mendongak dan melihat ke arahnya, pria itu langsung keluar. Padahal Kanina malu, saat memberi ASI, Gara masih di situ.
KLEK
Gara dan mamanya keluar dari kamar, mereka menutup daun pintu yang baru diplitur ulang tersebut.
"Sepertinya dia mau, tapi ragu," kata bu Sadewo sambil duduk di ruang tamu.
"Gara pikir juga begitu."
"Ya sudah, siapkan saja semuanya mulai dari sekarang."
"Siapakan apanya, Ma?" Gara mengeryitkan dahi.
"Semua surat-suratnya. Kamu juga harus ke kampung asal Kanina, minta ijin sama ibunya. Mama bisa bayangkan, pasti ibunya kangen sekali pada anak itu. Mereka juga pasti masih menyimpan semua berkas-berkas pribadi milik Kanina."
"Mau! Dia mau sekali. Sebagai sesama perempuan, Mama bisa merasakan, Kanina hanya merasa rendah diri. Ini semua karena masa lalunya itu. Mama malah bangga sama kamu yang tidak mempermasalahkan masa lalu Kanina. Padahal Mama yakin, banyak gadis terhormat yang lebih segalanya. Tapi, yang Mama salut, kamu menyukai Kanina dari hati. Bukan karena dia siapa dan kelebihannya apa. Dan masalah ijin di keluarga, Mama pastikan bisa bantu. Karena Mama mau, hidup anak Mama bahagia. Bahagia yang sebenarnya, bukan karena Mama paksa untuk menikah," terang bu Sadewo panjang kali lebar.
Gara sampai tertegun, kemudian menarik lembut tangan sang Mama. Mengecup punggung tangan yang sudah tidak mulus karena termakan umur tersebut.
"Doain Gara, Ma. Doain yang terbaik untuk Gara."
"Pasti, pasti Gara ... Doa Mama untuk kalian." Bu Sadewo menepuk pundak sang putra.
***
Malam hari, suara jangkrik dan kodok sudah mendominasi. Mengusir sepi dan menjadi lagu malam yang wajib.
"Kamu pulang saja, Mama yang nginep di sini," usir bu Sadewo saat malam mengelar jubahnya.
Gara sepertinya enggan pulang, ia kemudian menuju kamar Kanina.
"Sebentar, Ma. Gara pamit dulu sama Altar," ucapnya. Padahal modus.
Tok tok tok
"Masuk!" suara Kanina.
KLEK
"Ada apa Mas Gara?" tanya Kanina yang kala itu baru saja menidurkan Altar kecil.
"Saya mau pulang."
"Iya, Mas."
Gara menyentuh tengkuknya sendiri, bingung mau ngomong apa lagi. Padahal masih belum mau pulang. Ini kan rumahnya sendiri. Rasanya ia tidak mau pergi dari rumah itu. Bukan karena rumahnya, tapi karena tamu yang sedang tinggal di sana. Gadis beranak satu, yang membuat pikiran Gara jadi resah dan gelisah tak menentu.
Karena bingung mau ngomong apa lagi, akhirnya Gara berbalik. Tapi, baru tiga langkah ia menoleh.
"Besok kita ke rumahmu ya ... tenang, nggak saya antar pulang kok. Cuma ngambil KTP, KK, Akta buat syarat nikah."
Deg
Bersambung.