Single Mother

Single Mother
Mendarat Darurat



Mencari Daddy  Bag. 86


Oleh Sept


Rate 18 +


Alung menarik diri, berdiri sembari membentulkan jasnya yang sedikit kusut. Ia menarik napas dalam-dalam, sembari menahan kesal. Kemudian melirik ke samping. Ditatapnya Elena lekat-lekat, seolah ingin menyimpannya dalam hati. Dasar pria bucin.


"Tunggu di sini! Jangan ke mana-mana! Kita belum selesai!" ujarnya tegas dengan ekpresi serius. Sekedar menegaskan bahwa ia sedang tidak main-main.


Jleb


"Aduh!" pekik Elena dalam hati.


Pria itu pun melangkah menuju pintu, sambil memasang muka masam tentunya. Siap menerkam yang sudah menganggu jam sibuknya. Enak aja, lagi inu-inu main ganggu saja.


KLEK


Begitu pintu terbuka, sebelum Pak Rafi mengatakan sesuatu, Alung langsung melotot. Sebuah tatapan kurang bersahabat.


"Apa lagi?" tanya Alung geram. Tentu saja ia sangat marah, lagi asik-asiknya kok ada saja iklan. Membuat moodnya langsung hancur.


"Ada klien penting, Tuan."


"Tidak biasakan kamu menghandlenya sendiri?" Alung sudah sangat kesal.


"Maaf, Tuan. Kali ini tidak bisa saya wakilkan. Mereka ingin bertemu Tuan langsung."


"Ish! Tunggu lima menit!"


KLEK


Bruakkk


Alung membanting pintu ruang kerjanya. Elena yang ada di dalam sana langsung terkejut. Ia menoleh ke belakang, dilihatnya Alung berjalan menghampiri dirinya.


"Ada masalah?"


"Ya ... masalah sangat serius. Tunggu! Jangan ke mana-mana. Kali ini pokoknya tetap di dalam sini."


Elena mengangguk saja.


***


Alung dan Pak Rafi berjalan menyusuri lorong ruangan yang panjang, mereka berhenti tepat di sebuah ruang meeting. Seorang pria keturunan Jepang langsung berdiri menyapa.


Keduanya langsung membahas masalah serius. Sepertinya klien itu menginginkan kerja sama dengan perusahaan yang selama ini dikembangkan oleh Alung.


Cukup lama mereka membicarakan bisnis, hingga sampai sebuah titik kesepakatan. Dan begitu klien pergi, Alung bergegas ke ruang kerjanya. Tapi, sebelum ia menoleh dan menatap tajam ke arah sekretarisnya.


"Apapun itu! Jangan pernah ganggu. Dua jam! Tolak semua tamu yang datang."


Pak Rafi hanya mengangguk. Namun, ia juga bertanya-tanya. Untuk apa waktu dua jam itu.


Tap tap tap


Alung bergegas, entah takut ketingalan apa dia itu. Yang jelas ia terlihat sangat buru-buru. Sudah bersemangat, eh tak tahunya pas sampai di ruang kerja, Elena tidur sambil kepalanya diletakkan di atas meja.


"Apa soal-soal ini membuatmu capek?" gumam Alung.


Pria itu kemudian merapika meja yang berantakan itu. Melakukan dengan kasar, agar Elena cepat bangun. Dasar seperti kebo, sekeras apapun Alung mengeluarkan suara. Elena tetap tidur nyenyak.


"Elena ...!" bisiknya.


"Len ...!"


Tapi Elena tidak mau bangun, matanya sangat perih. Mengerjakan ratusan soal, membuatnya kelelahan.


Tidak tega melihat Elena tidur dengan posisi itu. Alung pun mengangkat tubuh tersebut. Meletakkan pelan di atas sofa besar di dalam ruangan itu.


Saat Elena sudah diletakkan, eh mata wanita muda itu bergerak. Selang beberapa detik Elana membuka mata.


"Sudah selesai?" tanya Elena lirih.


"Lama, ya?"


Elena menggeleng. Meskipun memang sangat lama sekali sih.


"Kamu pasti bosan tadi?"


"Lalu, sekarang bosan nggak?


Jelas tidak, karena Alung sudah datang. Pria bucinnya, yang selalu ada untuk Elena selama ini. Elena kemudian menguap, saat akan menutupi mulutnya, eh Alung sudah gercep duluan.


"Sambung yang tadi!"


CUP


"Nanti ada yang datang!" Elena masih malu-malu meong.


"Udah aku kasih tahu Pak Rafi. Aku rasa dua jam sangat cukup."


"Hah?"


Selanjutnya Elena tidak bisa lagi bertanya-tanya, sebab Alung sudah mengambil kuasa. Merampas bibir rasa cherry tersebut. Siap membuatnya kebas sampai beberapa saat yang akan datang.


"Di rumah aja!" bisik Elena sambil mencengkram rambut suaminya.


Dasar Alung, si jones yang mulai mesummm, ia sama sekali tidak mendengar bisikan Elena. Suara Elena malah membuatnya semakin bergejolak. Merdu dan syahdu.


Hampir saja ia lupa, tangannya kemudian meraih sesuatu.


"Astaga!" Elena menutup mata karena malu.


"Jangan malu! Kamu sudah sering melihatnya, kan!" cetus Alung. Elena langsung terbelalak, menolak mengakui. Karena ia baru lihat beberapa kali, bukannya sering seperti tuduhan suaminya itu.


"Coba ya, kalau nggak nyaman. Buang aja!" Pria itu menyeringai pada Elana yang sudah dibawah kuasanya.


Akhirnya, sesuatu yang sudah tertunda dari tadi menemukan momentumnya. Siang-siang di dalam ruangan Alung, keduanya malah iha-iha. Dasar pengantin baru.


Dua jam kemudian.


KLEK


Alung keluar dengan wajah fresh, sedang Elena, ia masih bersandar di sofa.


"Pak Rafi, tolong kain dan air hangat."


"Siapa yang sakit, Tuan? Nona Elena sakit?"


"Sudah ... bawakan saja. aku tunggu."


Sembari menunggu Pak Rafi, Alung duduk di samping Elena.


"Mana yang bengkak, coba aku periksa."


BUGH ...


Alung tertegun, ini kali pertama Elena memukul durinya. Sedangkan Elena, ia menatap sebal. Suaminya benar-benar mania. Masa sampai punyanya terasa perih dan bengkak.


"Besok nggak pakai lagi deh. Hamil gak apa-apa ya? Sekolahnya bisa aku atur."


Elana memalingkan wajah.


"Ish!"


Cup cup cup


Kalau ngambek dan merajuk, Alung malah suka. Dengan gemas ia mengecupii semua wajah Elena.


Ehem ... ehem...


Sekretarisnya berdehem. Pak Rafi yang kala itu sudah membawa kompres dan wadah, niatnya mendekat sampai tidak enak sendiri. Ia seperti salah masuk ruangan.


"Terima kasih, Pak. Taruh di situ!" seru Alung sebiasa mungkin.


"Baik, permisi ... Tuan."


Alung melambaikan tangan.


"Jangan lupa tutup pintunya!" teriak Alung saat oak Pak Rafi sudah hampir sampai di depan pintu.


KLEK


"Sini ... aku kompres!" Alung duduk sambil berjongkok di depan Elena. Kemudian tangannya tiba-tiba menyibak bawahan yang dikenakan Elena. Bersambung.