
Mencari Daddy Bag. 66
Oleh Sept
Rate 18 +
"Maksud Tuan?"
"Jangan memikirkan hal yang bukan-bukan. Aku hanya ingin menolong. Anggap saja misi kemanusian."
Elena diam. Namun, bibirnya mengucapkan terima kasih yang banyak. Sebab, bila ia pulang ke rusun, pasti Tante Nana mencari dirinya. Wanita itu pasti marah mengingat apa yang Elena lakukan di hotel tempo hari lalu.
***
7 Hari kemudian
Elena turun dari sebuah mobil sambil mengendong bayi kecil yang sudah terlihat sehat kembali. Hari ini baby Gavi sudah sembuh, sudah bisa pulang. Beruntung bagi Gavi, karena ada pria baik yang sudi menolong mereka. Apalagi, pria itu bersedia menampung mereka berdua.
Alung rupanya membawa Elena dan adiknya yang masih bayi ke rumah pribadinya. Rumah yang selama ini jarang ia singgahi. Karena lebih sering di rumah sang mama.
"Untuk sementara, kalian bisa tinggal di sini."
"Terima kasih."
Alung kemudian menatap jam tangan merek Rolekz di pergelangan tangan. Sudah pukul 10 pagi menjelang siang. Beberapa saat lagi ia harus menemui klien penting.
"Bila butuh apa-apa, cukup katakan pada bibi."
Kemudian Alung pun pergi, sedangkan Elena, gadis itu menatap kepergian Alung dengan rasa banyak terima kasih yang tidak bisa ia ucapkan lagi. Karena terlalu banyak kebaikan yang dilakukan pria tersebut.
***
Di salah satu mall, mama Ami sedang menghadiri acara arisan rutin dengan teman-temannya. Seperti biasa, bila berkumpul pasti yang dipamerkan anak cucu dan menantu mereka.
"Mi ... kapan itu Alung kau kawinkan? Jangan disimpan lama-lama, jadi bujang lapuk lah dia entar!" celoteh salah satu teman mama Ami yang sudah akrab. Sehingga mama Ami sama sekali tidak tersinggung.
"Belum ada yang kecantol, sini ... kalian ajuin. Sapa tahu jodoh Alung anak temen sendiri?" ujar mama Ami sembari ikut bercanda.
"Ish ... cari yang bagaimana si Alung itu? Ini Putraku saja anaknya mau tiga." Teman paling tua, kembali pamer cucu.
"Iya, Alung memangnya cari yang bagaimana, Mi? Bilangin jangan pilih-pilih. Nanti malah keburu karatan."
***
Entah mengapa habis pulang dari mall, karena mobil melewati depan rumah Alung. Mama Ami minta mobilnya berhenti.
"Berhenti di sini, Pak."
Mama Ami pun turun, ia mengamati halaman yang masih terawat. Meski jarang ditinggali. Tapi, rumah ini ditempati asisten-asisten Alung. Mama juga melihat kolam renangnya, airnya jernih dan sepertinya habis dibersihkan.
"Mau minum apa, Nyonya?"
"Nggak, Bik. Cuma lihat sebentar, apa ada yang rusak. Cuma mampir bentar karena kebetulan lewat. Ya sudah ... titip rumah lagi ya. Saya mau balik."
"Baik, Nyonya."
Karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan, maka mama Ami pun memutuskan pergi meninggalkan rumah itu lagi. Dan ketika sudah melangkah ke depan, mendadak mama Ami mendengar suara sayup-sayup. Semakin lama suara itu semakin jelas, apa ia berhalusi?
Oek oek oek
Kakinya langsung berhenti mendadak, ia berbalik. Bibi sudah pergi, di belakangnya tidak ada siapapun. Mendadak mama Ami merinding.
Oek oek oek
"Astaga! Apa rumah ini sudah angker?" batin mama Ami.
Oek oek oek
Mama Ami menggeleng keras, kemudian tangannya meraih knop pintu. Ia bergidik ngeri karena mendengar suara tangisan bayi. Bayi siapa itu? Tidak mungkin bayi si Bibi. Bibi sudah tua, tidak mungkin punya bayi.
Oek .. Oek ...
Mama Ami melepaskan tangannya dari pegangan pintu. Kemudian ia berbalik. Ini bukan halusinasi, suara tangisan bayi itu begitu nyata. Apa karena ingin cucu, ia jadi mendengar hal yang tidak-tidak?
Tidak mau mati penasaran, mama Ami melangkah menuju sumber suara. Ia terus berjalan hingga mendapat jawaban.
KLEK
Mama Ami dengan takut-takut membuka pintu itu, karena ia yakin sumber suara berasal di kamar tamu rumah Alung tersebut.
"Ka-ka-kalian si-apa?" Mama Ami kebingungan. Kaget, shock, dan penuh tanda tanya dalam benaknya. Di dalam rumah sang putra kok tersimpan seorang gadis dan juga seorang bayi. Bersambung.