
Mencari Daddy Bag. 49
Oleh Sept
Rate 18 +
"Nin!" Tawa Kanina terhenti ketika Gara menyebut namanya.
"Iya, Mas."
Kanina yang dari tadi dicuekin karena Gara asik ngobrol santai dengan papanya. Dan ketambahan Gendis yang terus merangsek suaminya itu, ia pun beranjak mendekati Gara. Berjalan dengan wajah biasa, meski hatinya tidak nyaman. Melihat Gendis yang bergelayutan manja pada suaminya. Sedari tadi ia sudah melirik lewat ekor matanya. Rasanya lama-lama kok tidak wajar.
Jadi selama ini Kanina tidak tahu, kalau keduanya tidak memiliki hubungan darah. Ia mengira mungkin Gendis saking sayangnya pada sang kakak. Kini, sambil berjalan ke arah mereka, ia mencoba menahan diri. Tidak apa-apa jika sangat dekat. Berkali-kali ia menepis rasa curiganya. Sebab, bila dilihat dari cara Gendis menatap Gara. Sebenarnya, Kanina curiga sejak lama. Tapi, ia tepis dengan anggapan bahwa keduanya adalah saudara. Tidak mungkin lebih, tidak mungkin kan? Adik mencintai kakaknya sendiri? Kanina yang polos dan lugu, berpegang pada hal tersebut.
"Altar mana?" tanya Gara saat Kanina sudah ada di dekatnya.
"Sama mama," jawab Kanina. Sudut matanya masih melirik lengan Gara yang dipegang Gendis. Lama-lama kok ia jadi risih juga ya. Ia yang istri sahnya saja, jarang mengumbar kemesraan di tempat umum.
"Hemmm ... Duduk sini!" Gara menarik kursi di sebelahnya, meminta Kanina duduk di dekatnya. Dari pada tertawa tidak jelas bersama Dika di sana. Kanina pun menurut, ia duduk di sebelah kanan suaminya, sedangkan Gendis, duduk di sisi yang lain.
Gara juga menarik lengannya yang semula dibuat mainan oleh adiknya itu. Tentunya hal tersebut membuat Gendis jadi masam. Kalau ada Kanina, Gara pasti sudah lupa dengannya. Kanina benar-benar sudah mengalihkan dunia sang kakak. Padahal, itu wanita tidak ada bagus-bagusnya, sekiranya itu yang ada di benak Gendis saat ini.
"Eh ... pada ngumpul semua. Nah ... Ada Tante Gendis, sama Om Dika. Tante ... main sama Altar ya ..." Bu Sadewo datang sambil menggandeng tangan Altar yang berjalan sangat cepat menuju pangkuan papanya.
"Males!" ucap Gendis dalam hati dengan jengkel. Ia kan dari Altar masih di kandungan sudah benci sekali sama anak dan ibunya itu. Gendis itu tipe-tipe manusia yang memiliki penyakit akut. Penyakit hati yang sulit diobati. Iri, dengki, cemburu yang tidak pada tempatnya. Mungkin RSJ adalah tempat yang cocok untuk gadis seperti itu.
"Wah ... sudah gede ya. Kapan nih dibuatin adek?" celetuk Dika yang kala itu sudah duduk bergabung dengan mereka.
Bu Sadewo pun melirik putranya, entah mengapa sudah tiga tahun menikah, kok Gara belum punya anak juga. Sedangkan Gara, wajahnya langsung dingin. Perkara anak itu urusan Tuhan, dia juga tidak tahu mengapa belum dikasih. Yang jelas, keduanya sudah periksa ke dokter. Dan hasilnya bagus. Hanya saja, memang belum diberi kepercayaan pada yang di atas.
"Coba ke dokter!" titah tuan Kusuma. Padahal selama ini ayah dari Gara tersebut jarang sekali ikut campur dalam rumah tangga anaknya.
"Hemm!" Gara mulai tidak nyaman dengan bahasan seperti sekarang ini.
Sedangkan Gendis, sudut bibirnya nampak terangkat. Sepertinya ia senang karena sang kakak tidak mendapat keturunan dari Kanina. Doanya terkabul! Yes!!! Gadis itu tersenyum licik dalam hati.
"Makan yuk, sepertinya Bibi sudah selesai menyiapkan semuanya." Bu Sadewo mencoba mencairkan suasana. Karena ia merasakan ketegangan ketika membahas anak di depan Gara. Bagaimana pun juga, Gara kan pria. Dan Kanina sudah terbukti bisa memiliki anak. Jangan-jangan Gara mandul.
Selesai makan, Gara lantas naik ke lantai atas menuju kamarnya. Pria itu nampak murung terhitung sejak keluarga besarnya membahas anak.
Sedangkan Altar, anak itu sudah dikelilingi banyak mainan. Meskipun bukan cucu kandung, bu Sadewo terlihat tulus sayang pada anak Kanina tersebut.
"Iya, biar Altar sama Mama."
Di atas sofa sana, Gendis menatap dengan sebal. Padahal ia sedang bersama Dika, tapi pikirannya malah traveling ke mana-mana.
***
KLEK
Kanina membuka pintu kamar, dilihatnya Gara sedang di balkon sambil menghisap benda pipi yang ia apit dengan jari. Padahal, Gara jarang sekali berteman dengan kepulan asap tersebut, pasti kali ini sangat banyak pikiran.
"Kok merokokk, Mas? Gak baik untuk kesehatan."
"Kenapa?" tanya Gara dengan datar tanpa menoleh. Matanya menatap kosong pada langit yang terlihat hampa.
"Biar mandul sekalian!" tambah Gara. Nadanya sinis, mungkin ia juga bertanya-tanya, mengapa tidak bisa membuat Kanina hamil juga. Hidup sehat sudah, melakukan kegiatan itu secara rutin juga sudah. Lalu salahnya di mana?
Ya sudah, dari pada pusing. Ia pun melampiaskan dengan menyesap benda pipi tersebut. Setidaknya mengurangi beban pikiran.
Settt
Kanina merebut benda itu, kemudian membuang ke tempat sampah.
"Kanina gak suka lihat Mas merokokk."
Kanina mengambil paksa bungkus yang tadi ada di atas meja. Kemudian memasukkan ke dalam tempat sampah lagi.
"Ish!!! Jangan nambah pusing Mas!" sentak Gara yang memang lagi tertekan.
Kanina diam sesaat, kemudian mendekat sambil jinjit kecil.
Cup
"Masih pusing?"
Bagaimana mau pusing kalau Kanina sudah pandai menggoda, ia pun tidak bisa menyembunyikan senyumnya lagi.
Srakkkkk
Tangannya meraih korden jendela, menutupnya dengan rapat. Kalau dibuat di sini, siapa tahu jadi. Dicoba dulu! Bersambung.