Single Mother

Single Mother
Neting



Mencari Daddy  Bag. 93


Oleh Sept


Rate 18 +


"All ... sayang, All!" panggil Kanina sembari terus mencari sampai halaman depan.


Melihat istrinya lari ke sana ke mari, Gara yang belum berangkat kerja pun langsung bertanya pada penghuni rumah.


"Ada apa, mbak Roh? Nin ...!" Belum sempat mbak Roh menjawab, Gara langsung melangkah menghampiri Kanina.


"Ada apa?"


"Al ... Altar, Mas. Dia kabur!"


Gara langsung berbalik dan masuk ke kamar Altar. Dilihatnya tas lemari baju Altar yang masih terbuka, dan celengan ayam juga sudah pecah. Serpihan celengan pun masih berserak di pojokan kamar.


"Ya Tuhan!" Gara mengusap wajahnya dengan kasar. Pria yang dulu terkenal lembut dan hangat itu, kini diliputi kecemasan yang begitu kentara.


Gara takut terjadi sesuatu pada anak umur sembilan tahun tersebut. Mau kabur ke mana anak sambung yang sudah ia anggap seperti anak sendiri itu?


Settt


Gara masuk ke kamarnya, ia ambil kunci mobil dan bergegas mengeluarkan mobil dari garasi.


"Mas ... aku ikut!" cegah Kanina saat mobil akan keluar dari halaman.


"Mbak Roh, titip anak-anak."


Mbak Roh mengangguk dan menatap mobil warna silver itu kian pergi menjauh dan hilang di pertigaan jalan.


Di dalam mobil, dua orang yang baru saja kehilangan anak itu nampak gelisah. Mereka sama-sama paniknya.


"Coba hubungi daddy-nya!" seru Gara masih fokus pada jalan di depannya.


"Kanina gak bawa ponsel, Mas."


"Pakai ini!" seru Gara sambil merogoh saku celana.


Tut Tut Tut


Lama sekali Kanina menunggu jawaban telpon dari seberang. Karena Alung memang sedang mandi di kamar hotelnya. Sedangkan Elena, wanita muda itu sedang mendengarnya headset. Jadi tidak tahu, ponsel suaminya berdering.


"Nggak dijawab, Mas."


"Siallll! Pasti Altar bersama mereka. Coba telpon istrinya."


Kanina menurut, ia lantas mencari nomor ponsel Elena.


Tut Tut Tut


Elena kaget, ada panggilan masuk. Ia pun melepas headset, sambil bergumam.


"Mengapa mereka telpon?" gumam Elena sembari melirik ke pintu kamar mandi. Suaminya masih mandi. Akhirnya ia menjawab saja telpon masuk itu.


"Iya, hallo Mas Gara?"


"Ini Saya, mamanya Altar!"


Elena terdiam, ia berpikir sejenak. Untuk apa mamanya Altar menghubungi dirinya? Apa ini berkaitan dengan ijin tinggal anak sambungnya itu?


"Iya, Mbak. Ada apa ya?"


"Kalian di mana?" tanya Kanina sembari melirik suaminya.


"Boleh minta alamat hotelnya."


"Boleh, nanti Elena kirimkan lewat WA."


"Ya sudah. Terima kasih."


"Iya, Mbak."


Kanina sengaja tidak menyingung putranya. Ia takut Altar disembunyikan. Belum apa-apa Kanina sudah Neting duluan.


Klunting


Sebuah notification masuk. Buru-buru Kanina membuka pesan yang berisi alamat hotel di mana Alung dan Elena menginap.


"Ke sini, Mas!"


"Kamu yakin, Altar di sana?"


"Ntahlah, tapi pasti dia mencari daddy-nya."


WUSHHHH


Mobil melesat menembus debu jalanan. Dengan kecepatan penuh, baja besi itu melaju seolah berkejaran dengan waktu.


Benda itu baru berhenti ketika sampai di depan sebuah hotel bintang lima.


"Hubungi mereka lagi!" seru Gara.


Tut Tut Tut


Kanina lantas menghubungi ponsel Elena kembali. Dan kali ini yang menjawab adalah Alung. Karena gantian Elena yang sedang mandi.


"Hallo!" sapa Alung dengan nada biasa.


"Kami di lobby, tolong turun segera. Dan ... bawa Altar, atau kami panggil polisi ke mari."


"Hallo ... Kanina, polisi? Apa maksudnya?"


"Kami tidak mau ribut. Tolong kembalikan Altar."


"Altar hilang?" tanya Alung panik, pria itu kemudian bergegas keluar dari kamar hotel menuju lobby.


Tap tap tap


Dari jauh, Kanina dan Gara melihat Alung bergegas melangkah ke arah mereka.


"Mana Altar? Jangan bawa dia pergi!" mata Kanina sudah berkaca-kaca. Ia berharap sekali kalau Altar berada di hotel ini bersama Alung.


"Kenapa bertanya padaku? Bukankah Altar bersama kalian?" serang Alung yang mulai emosional.


Seketika, kaki Kanina terasa lemas. Kalau bukan karena dirangkul bahunya oleh Gara, mungkin wanita itu sudah jatuh.


***


Di sebuah taman bermain. Seorang anak duduk seorang diri sambil memeluk tas miliknya. Dilihatnya tak jauh dari sana, banyak anak-anak bermain bersama ayah mereka. Dulu, papa Gara sering mengajak bermain saat ia kecil. Tapi, semenjak ada Ara, ia merasa menjadi nomor dua.


Dulu, sering papanya mengendong di atas pundaknya, sekarang Ara. Hanya Ara, Altar merasa dinomor duakan.


Dukkk


Sebuah bola mengenai bagian tunuh Altar. Ia pun mendongak, melihat siapa yang melempar bola ke arahnya. Bersambung.