Single Mother

Single Mother
Maaf Elena



Mencari Daddy  Bag. 73


Oleh Sept


Rate 18 +


Area rawan, belum menikah. Jomblo akut, tidak punya gandengan, masih di bawah umur, mohon skip. Demi kebaikan bersama. Terima kasih.


"Lung! Apa yang kamu pikirkan!" sentak Alung dalam hati. Ia memarahi dirinya sendiri.


"Kami sudah menikah! Bukankah tidak apa-apa aku sedikit menyentuhnya?" tanya Alung pada hati kecilnya.


Sungguh ini ujian yang cukup berat bagi pria yang lama kesepian seperti dirinya. Bagai musyafir di padang pasir yang tandus. Alung haus, ada rasa dahaga yang minta di salurkan. Ada gejolak yang meronta. Ada gairahhh yang mengebu ingin dipuaskan.


Sadar pikirannya begitu kacau dan dipenuhi akan hal-hal seperti itu. Alung langsung mengusap wajahnya. Ia menggeleng keras.


"Tuan kenapa?" tatap Elena dengan heran saat melihat wajah Alung yang tidak seperti biasa.


"Bukan apa-apa, kunci pintunya!" titah Alung kemudian berbalik.


"Tuan tidak apa-apa, kan?"


Bukannya menutup pintu, Elena malah mengikuti Alung keluar. Gadis itu hanya merasa kasihan. Sebab dilihatnya Alung yang nampak gelisah.


"Jangan panggil aku tuan, sudah aku katakan, Kan? Kamu bahkan bukan karyawanku."


Elena diam, "Emm ... itu ... maaf. Saya belum terbiasa."


"Maka dari itu, biasakan dari sekarang. Karena aku merasa terganggu dengan panggilan itu."


"Ba-baik ... Tu ... eh."


Elena bingung, masa manggil om sama suaminya sendiri.


"Baik, Pak!"


"Lennn!"


"Iya!" Elena langsung mendongak.


Saat Elena menatapnya dengan lurus, mata keduanya pun beradu. Tanpa kedip, mereka malah seperti lomba siapa yang berhasil bertahan paling lama tanpa kedip.


"Aduh ... kenapa menatapku seperti itu?" batin Elena sembari melipat bibirnya.


"Mengapa dia memainkan bibirnya? Apa dia menggodaku?" pikir Alung yang masih menatap dengan intense.


"Ak-Aku ke kamar," ucap Elena kemudian dengan gugup.


Saat Elena akan kembali dan berbalik pergi, Alung langsung saja menarik lengan gadis itu. Satu kecupannn, hanya satu kecupannn ... tidak lebih. Dan jiwa pria itu pun mulai bergejolak.


CUP


Mata lentik itu terbelalak, saat bibir mereka bertemu. Hanya bertemu. Sebuah pertemuan sesaat yang cukup mengetarkan jiwa-jiwa kesepian. Gadis itu jantungnya mulai meletup-letup. Seperti kembang api di tahun baru. Sedangkan Alung, setelah mengecuup Elena tanpa perlawanan, pria itu kembali menelan ludah. Sepertinya, tindakannya barusan sangatlah kurang.


Dengan kaku, tangan pria itu terangkat. Perlahan naik dan mengusap pipi Elena. Terasa lembut dan membuatnya ingin menyentuh serta memilikinya.


"Astaga, Lung! Sadar apa yang kamu lakukan!" bisik sesuatu ditelinga Alung.


"Dia istrimu, lakukan apa yang ingin kamu lakukan," bisikan yang lain muncul.


"Lakukan saja, keluarkan di luar jika kau takut membuatnya hamil."


Tiba-tiba saja kepala pria itu dipenuhi bisikan goib. Karena Alung sejatinya pria normal, ia akhirnya menurut pada nuraninya. Dengan tenang ia merunduk. Menurunkan wajahnya, hingga mendekati wajah Elena.


"Aduh! Apa yang akan Tuan Alung lakukan? Astaga, bagaimana ini? Duh!" teriak Elena dalam hati.


Akan tetapi, saat bibir itu kembali menempel, dan dengan lembut meminta masuk, Elena malah membuka jalan. Gadis itu membuka mulut tanpa diminta. Darah mudanya pun ikut memanas, perlahan tapi pasti, mereka terbakar sama-sama dalam api gejolak yang makin membara.


Alung melepas tautan mereka sesaat, ditatapnya mata itu lekat-lekat. Kemudian berbisik lembut, membuat Elena bergidik.


"Kamu bisa mundur sekarang, kunci pintunya ... karena aku tidak bisa menjamin bila kita berdua tetap seperti ini."


Terang saja Elena bergidik, kakinya terasa lemas seketika.


"Dia mau haknya ... ya Tuhan. Bagaimana dengan sekolahku?" pikir Elena. Dalam suasana panas pun ia masih memikirkan sekolahnya.


"Cepat masuk kamarmu!" Alung menarik diri. Rasanya tidak mungkin mendapat malam pertamanya dalam waktu dekat ini.


Elena yang jantungnya jedak-jeduk tak menentu, terlihat sedikit bingung. Ia kemudian berbalik hendak ke kamarnya sendiri. Namun, saat akan masuk dan tangannya sudah memegang knop pintu, ia lepaskan begitu saja.


Alung yang sedari tadi memperhatikan kepergian Elena, merasa heran. Mengapa gadis itu malah berbalik lagi dan berjalan ke arahan.


CUP


Ganti Elena yang mengecupp pipi pria tersebut tanpa rasa takut.


"Elenaaa ... aku sudah memperingatkanmu!"


Alung langsung mengendong Elena ala bride style. Kemudian membuka pintu kamar utama. Dan dengan sekali tendangan, ia menutup pintunya kembali.


Bruakkk


Bukkk


Ia rebahan tubuh istri kecilnya itu.


"Elenaaa ... kamu tahu apa artinya ini?"


Elena nampak kesulitan menelan ludah.


"Aduh!" pekik gadis itu dalam hati. Benar-benar menantang Komodo tidur. Harusnya pas tadi disuruh masuk kamar dan kunci dari dalam, ia nurut. Bukannya malah membangunkan singa tidur. Sekarang tanggung akibatnya.


Cup


Satu sentuhan dari bibirnya mendarat pada kelopak mata yang sedari tadi menatapnya.


"Sudah berani menatapku terang-terangan?" bisik Alung sembarang merangsek leher jenjang Elena. Membuat gadis itu mengeliat. Sepertinya cacing kepanasan.


"Emm ...!"


"Aduh!"


Alung tersenyum, bibirnya merekah melihat betapa lucunya ekpresi Elena. Canggung, malu-malu kucing. Pipinya merona, dan matanya mulai tidak berani menatapnya lagi.


"Jangan ... gak kuat geli, Tuan!!!" ucap Elena sambil mengeser tubuhnya.


Cup


Kecupann singkat lagi di bibir ranum itu.


"Jangan panggil, Tuan."


"I-iya ... Om aduh." Elena malah salting sendiri.


Bukannya marah, jengkel atau sebal. Alung dibuat semakin gemas dengan pola kaku Elena nan canggung bukan main tersebut.


"Eh ...!" pekik Elena.


"Aduhhhh!!!"


Alung membuainya hingga melambung tinggi, menciptakan sensasi yang belum pernah ia alami selama ini. Sepertinya pria itu habis membuat stempel tepat di leher jenjang Elena.


"Geli ..."


Elena mencoba menepis wajah Alung. Namun, pria itu malah menatapnya dengan dalam. Kemudian mendekatkan wajahnya lagi. Hingga keduanya bisa merasakan kehangatan napas masing-masing saat jarak semakin dekat.


Detik berikutnya, terdengar suara sesapan dari keduanya. Tenang, pelan dan pasti. Semakin lama semakin cepat. Menuntut dan memburu.


Tubuh Elena dibuat menggeliat lagi, tak kala tangan Alung mulai menyentuh dan memegang miliknya. Mau menolak, tapi tubuhnya mersepon dengan baik sentuhan-sentuhan suaminya itu. Elena pun terbawa arus, Alung benar-benar membuatnya larut.


Ketika sudah berhasil membuat Elena meremang dan mabuk kepayang, Alung lantas melepas celananya. Ia pun mengkungkung gadis polos tersebut. Membuat Elena berada tepat dalam kuasanya.


Alung bisa melihat, dadaaa Elena naik turun, wajah Elena sedikit gelisah saat ia berada tepat di atasannya. Jujur, pria itu juga merasa deg-degan. Tapi, semua ia tepis. Demi suksesnya malam pertama ini. Nanggung kalau gagal, karena tinggal ke acara inti. Dan Elena sempat terhenyak tak kala merasakan sesuatu yang keras di bawah sana. Belum masuk, tapi Elena sudah bergidik ngeri duluan. Ia beringsut, mengeser tubuhnya sedikit. Maunya sih menghindar. Namun, Alung menungunci geraknya rapat.


"Mungkin sedikit sakit ..." bisik Alung lembut.


Benar kata Alung, karena saat tubuh mereka benar-benar menyatu, Elena memekik. Mengigit bibirnya saat Alung menyentak untuk pertama kalinya. Mata gadis itu membulat sempurna, dan mulai berkaca-kaca. Sepertinya Elena merasakan perih luar biasa ketika Alung berhasil membuat selaput darahnya robek.


Tangannya mencengkram punggung suaminya itu. Meninggalkan beberapa jejak cakaran. Alung berhenti sebentar, ia mengambil napas sejenak, kemudian mendarat bibirnya lagi. Mengabsen tiap inci tubuh Elena. Setelah itu kembali memompa ... lagi dan lagi.


Hampir saja Elena menjerit karena menahan perih yang sakitnya bukan main. Namun, gerakan Alung lama-lama membuat ia menikmati iramanya. Rasa perih, pedih dan panas lambat laun berubah menjadi rasa nikmat.


"Sayang ...!"


Terdengar suara-suara khas malam pertama.


Alung menegang, dan detik berikutnya ia melepaskan saos sambal ke dalam wadahnya. Terasa hangat, lega ... dan puas ...


Setelah itu, dengan sayang, Alung mengusap kening Elena.


"Sakit?" tanya pria yang sudah membuktikan keampuhan senjatanya barusan.


Elena mengangguk dengan lemas.


Cup


"Maafin Mas ya, Elena ..." Bersambung


SKIP ya.


Kebiasaan, habis menyakiti baru minta maaf, dasar laki-laki. Lalu diulangi lagi dan lagi ....Hehehehe