
Mencari Daddy Bag. 29
Oleh Sept
Rate 18 +
Saat mobil yang ditumpangi Gara dan rombongan mulai masuk jalanan desa yang sempit, jauh dari aspal hitam nan mulus. Terlihat beberapa anak kecil mengikuti dari belakang, mereka seolah mengejar mobil yang dikendarai dengan pelan tersebut.
"Sebelah mana, Nin?" Gara bertanya saat mereka ada di perempatan jalan.
"Belok kiri, Mas."
Sesuai arahan, Gara pun belok ke kiri. Dari spion ia bisa melihat anak-anak kecil masih mengikuti mobil mereka dari belakang. Bibirnya melengkung, menahan senyum. Suasana desa yang sangat asri dan humanis. Anak-anak kecil tidak tergantung pada gawai atau gadget.
Entah karena faktor ekonomi atau apapun itu, yang pasti anak-anak di desa lebih suka bermain bersama-sama. Kejar-kejaran, main gundu, gobak sodor, atau bahkan kokoa konci versi jaman dulu.
"Langitnya mendung ... gelap," ucap Gara yang masih fokus mengemudi pelan-pelan, karena banyak lubang seperti ranjauu di mana-mana. Kalau dia yang menangani pembanguna jalan desa ini, sudah pasti ia bangun ala-ala jalanan di tol. Mulus, tanpa hambatan.
"Jalannya rusak parah ya, Nin?" seru bu Sadewo yang merasakan efek mobil yang goyang-goyang. Jujur saja, perutnya mulai tidak nyaman.
"Musim hujan, Tante." Kanina pikir, jalanan rusak parah karena sedang musim hujan.
Padahal, musim kemarau pun sama, jalan desa di kampung Kanina tidak pernah bagus. Meskipun sudah diperbaiki, pasti tidak tahan lama. Entah kontur tanahnya yang mudah gerak atau bahan untuk pembangunan yang bermasalah. Semuanya masih menjadi misteri.
"Iya, sih." Sedangkan bu Sadewo hanya bisa mengiyakan. Mau protes sama siapa? Ya sudahlah, nikmati saja naik mobil serasa naik kuda.
Mereka bertiga pun kembali terdiam, Kanina baru bersuara ketika hampir sampai.
"Mobilnya parkir sini saja, Mas. Sepertinya gak muat kalau masuk. Jalannya sempit."
"Jalan kaki?" Mata bu Sadewo terbelalak. Sudah mendung gelap, mau hujan pula, dan bawa bayi, wanita paruh baya tersebut sampai tidak bisa membayangkan. Rupanya access ke rumah Kanina tidak begitu mudah.
"Ada jalan lain tidak?" tanya Gara kemudian.
"Ada, Mas. Tapi putar balik agak jauh."
Akhirnya mereka malah putar balik, karena tidak mungkin lewat jalan sempit tersebut.
Mbermmm
Wushhhh ...
Para anak-anak terkekeh, bercanda bersama kawan mereka saat mobil itu lewat kubangan. Menciptakan cipratan yang mengenai salah satu di antara mereka. Tentu saja Gara tidak sengaja, karena anak-anak tidak mau menjauh.
"Masih lama, Nin?" tanya bu Sadewo yang mulai tidak sabar. Jalan yang bergelombang, membuat wanita paruh baya itu ingin cepat-cepat selesai.
"Sebentar lagi, Tante."
"Sabar, Ma." Gara tersenyum tipis.
"Habis pendopo kita lurus saja, Mas. Rumah Kanina yang paling ujung."
"Hemmm!"
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka pun sampai di depan rumah dengan bangunan sederhana. Kanina sudah melirik sana-sini mencari ibunya dan mbak Roh. Tapi rumah itu malah tertutup rapat.
"Ayo kita turun," seru Gara saat sudah mematikan mesin mobilnya.
Kanina pun mengangguk, kemudian membuka pintu mobil tersebut. Begitu Kanina turun dari mobil, tetangga Kanina yang kebetulan sedang membersihkan halaman, langsung memanggil Kanina.
"Ninnn!" teriaknya. Dengan langkah cepat sembari membuang sapu yang semula ia pegang, wanita itu berjalan tergesa-gesa menuju Kanina.
"Mbak Lilik ... Rumah kok sepi, Ibuk di mana, ya?"
Bukannya membawa, wanita itu kemudian memegangi tangan Kanina.
"Yang sabar ya, Nin. Kamu harus ikhlas."
Kanina lantas menoleh ke arah Gara, belum apa-apa mata Kanina sudah perih. Ia merasakan sesuatu yang buruk. Bersambung.