Single Mother

Single Mother
Hati Yang Bergemuru



Mencari Daddy  Bag. 36


Oleh Sept


Rate 18 +


Perasaan Gara saat ini sudah campur aduk, bisanya ia akan menjauh bila Kanina memberikan ASI pada bayinya itu. Tapi sekarang, ia harus menahan diri tetap di samping Kanina. Rasanya ujian pertama yang cukup mengoyak iman.


Meskipun pasangan halal, hanya saja hatinya masih geli. Harus melihat live Kanina memberikan ASI pada Altar. Kan pikirannya jadi ke mana-mana.


Maunya sih tidak ingin melihat langsung, tapi dasar kepala pria. Isinya ya itu-itu saja. Tanpa kecuali si Gara, mau dilewatkan kok Sayang. Sambil pura-pura main ponsel, sesekali Gara melirik ke arah Altar yang sedang dipangku ibunya untuk diberikan ASI.


Padahal ia selama ini tidak memiliki sifat iseng seperti itu. Apa karena tadi pagi sudah ijab kabul, jadi Gara merasa tidak ada masalah. Anggap saja rejeki, pemanasan saat malam pertama mereka.


Sesaat kemudian


Altar kecil sudah tertidur lelap di tengah-tengah, samping kiri dan kanan ada ayah dan ibunya.


"Ehem ...!" Gara berdehem dan Kanina spontan menatap ke arahnya.


"Capek nggak, Nin?"


"Mengapa Mas Gara tanya aku capek apa tidak?" batin Kanina. Kemudian ia menggeleng.


"Baguslah."


"Waduh!" pekik Kanina dalam hati.


Kanina makin gelisah, saat pria itu perlahan turun dari ranjang kemudian mendekat ke arahnya. Gara mengambil bantal dan guling, ia letakkan di tempatnya semula. Mungkin agar Altar tidak jatuh. Kemudian ia sendiri memilih merebahkan tubuhnya tepat di belakang Kanina.


Sudah bisa dibayangkan, bagaimana jantung Kanina kala itu. Langsung meloncat-loncat karena gugup yang tidak terkira. Tapi, Kanina tidak sendirian. Sebab, degup jantung Gara pun sama adanya. Meletup-letup seperti saos tomat bila dipanaskan.


Setttt


Gara pun akhirnya memeluk tubuh Kanina, dua kanebo kering itu terlihat begitu kaku. Namun, hanya sebentar. Karena Gara sudah mulai memimpin keadaan.


"Kamu siap malam ini?"


Ingin menatap ekpresi sang istri yang baru ia nikahi, Gara pun menarik lembut tubuh Kanina. Agar Kanina menatap ke arahnya.


"Buka matamu ..." bisiknya lembut.


Perlahan Kanina membuka mata, kelopak matanya bergerak-gerak, ada kecemasan yang Gara tangkap pada sorot mata tersebut.


"Kamu takut, Nin?"


Kanina menggeleng pelan, tapi Gara tahu. Pasti Kanina masih menyimpan rasa traumanya dulu.


"Jangan gelisah, Nin ... atau mencemaskan apapun itu ... bagiku, kamu masih perawan. Ayo ... lakukan denganmu. Pelan-pelan saja. Karena ini yang pertama bagi kita."


Cup


Dimulai dari kecupann di pusat rambut Kanina. Setelah berdoa dalam hatinya, Gara kemudian mengecupp kedua kelopak Kanina bergantian.


"Akhirnya Mas bisa lakuin ini ..." ucap Gara lirih sembari menyentuh dagu istrinya tersebut.


Kanina mendongak pelan, dan langsung terkejut ketika pria itu menempelkan bibir mereka. Ini adalah pertama kali bagi keduanya bisa sangat sedekat itu.


Pelan, lembut dan penuh rasa. Gara pun merasakan sensasi aneh. Darahnya langsung berdesir, nadinya berdeyut lebih cepat. Apalagi jantungnya, ia merasa seolah habis marathon mengelilingi lapangan. Tiba-tiba saja tubuhnya jadi bergejolak.


Untuk sesaat, ia melepas tautan bibir mereka. Mengusap bibir Kanina yang semakin merah. Karena tadi ia sempat gemas, spontan mengigitnya kecil.


"Sakit tidak?" tanya pria itu dengan lembut. Namun, terlihat tidak menyesal. Mungkin ia akan melaju lebih dari itu.


Kanina lantas menggeleng, dengan sorot mata yang terlihat patuh.


"Maaf, Mas terlalu bersemangat," ucap Gara dengan jujur.


Kanina yang malu, hanya mampu menengelamkan wajahnya dalam-dalam. Tapi, tangan pria itu kembali menyentuh kulit wajahnya. Mengusap pipinya lembut, kemudian menyentuh bibirnya.


Mungkin Gara sudah tidak tahan, karena detik berikutnya, pria itu sudah mulai melepas kancing bajunya satu persatu. Bersambung