
Mencari Daddy Bag. 68
Oleh Sept
Rate 18 +
"Jangan apa maksudmu, Lung! Jangan bilang kamu menyukai anak ini!" tegas mama Ami sambil menatap Alung dan Elena bergantian.
"Yang benar saja, Ma! Mana mungkin aku menyukai anak kecil?" elak Alung dengan begitu cepat.
"Lalu apa masalahmu? Kalau kamu bisa menolong gadis ini, tentu Mama juga sangat bisa. Lagian ini tidak masuk akal. Membawa seorang gadis tinggal di sini. Lalu apa katamu? Anak kecil? Ayolah, Lung! Kamu kira Mama tidak bisa melihat? Lihat fisik Elena! Dia bisa hamil beneran kalau lama-lama di sini!" sindir mama Ami terus terang.
Seketika Alung meresa tidak enak. Omongan sang mama cukup mengusik. Seolah menuduh hal yang aneh-aneh nantinya akan ia lakukan pada Elena.
"Elena! Ikut Tante. Saya tidak setuju kamu tinggal di rumah ini." Mama Ami melirik tajam pada putranya.
Alung terlihat sebal, wajahnya berubah masam. Ingin membantah perkataan sang mama. Tapi apa mau dikata.
"Kemasi barang-barangmu!" seru mama Ami kemudian.
Alung menghela napas panjang, kemudian berjalan menuju Elena.
"Tetap di sini!"
"Alung!" sentak mama Ami yang mulai tersulut emosi.
"Biarkan Elena tetap di sini, Ma."
Kini gadis itu yang bingung, ia harus mematuhi perintah yang mana. Takut juga pada sorot mata mama Ami. Tapi ia juga takut pada Alung. Tidak bisa memutuskan, Elena hanya menatap bergantian dua orang yang sedang berselisih pendapatan tersebut.
"Apa mau kamu, Lung?"
"Mama mau cucu, kan? Alung akan berikan!"
Mata mama Ami langsung terbelalak.
"Elena masih kecil, Lung!" bantah mama Ami.
"Beberapa bulan lagi dia akan menyelesaikan sekolahnya." Alung berhenti bicara sesaat, kemudian menatap Elena.
"Astaga Alung! Kamu mengajak seorang gadis untuk tinggal bersama atau apa? Lakukan dengan benar! Dan lagi Mama lihat dia sama sekali tidak tertarik padamu."
Biasanya seorang ibu akan membanggakan anaknya, sedangkan sekarang mama Ami malah berbeda. Seolah memandang remeh putranya sendiri.
"Dia menyukaiku!" ungkap pria tersebut dengan percaya diri.
Terang saja ucapan Alung tersebut membuat Elena terhenyak. Kapan ia menyukai pria itu?
"Ada apa dengannya? Mengapa dia begitu yakin kalau aku menyukainya? Ganteng sih, baik tapi ..." batin Elena meronta sebab ia sama sekali tidak pernah bilang menyukai pria tersebut.
"Kamu menyukainya?" ganti Mama Ami menatap dengan tanda tanya besar ke arah Elena.
Hal itu membuat Elena salah tingkah, siapa sih yang tidak menyukai pria tampan seperti Alung? Tapi, sekedar suka. Kagum, bukan perasaan ingin memiliki tentunya.
"Mama jangan menekannya! Jangan membuatnya tidak nyaman. Dan lagi dia selalu menatapku diam-diam," ucap Alung dengan PD.
"Apa?" tanya Elena dalam hati. Karena kini wajahnya menahan rasa malu yang besar. Memang sih, selama di rumah sakit, kadang-kadang ia memperhatikan Alung diam-diam. Tapi bukan berarti ia menyimpan rasa pada pria tersebut.
Mama Ami mulai membaca keadaan, oh rupanya ada sosok yang mampu membuat hati putranya move on dari rasa bersalah pada masa lalunya itu. Tidak ingin Alung terus membujang, akhirnya ia mengalah.
"Elena! Kamu mau jadi istri pria seperti Alung? usianya dua kali lipat usia kamu. Tante hanya sekedar mengingatkan!"
Elena semakin bingung, mengapa pembicaraan langsung menjurus ke arah situ. Ia masih sekolah. Duh!
"Dan ... Sepertinya Alung yang suka sama kamu. Tante hafal betul anak Tante."
Mendengar pernyataan sang mama, Alung tidak bisa berkata-kata lagi. Mengapa sang mama menyimpulkan dengan begitu mudahnya. Selama ini ia hanya iba, kasihan. Tapi entahlah.
"Elena masih sekolah Tante."
"Jadi kamu tidak suka anak Tante?" Mama Ami mulai memainkan kata-kata lagi.
Gadis itu pun menundukkan wajahnya, bukan tidak suka. Siapa sih yang menolak pensona seorang Alung, tapi ...
"Suka," jawab Elena seperti berbisik. Pelan, tapi terdengar jelas di telinga Alung. Bersambung.