Prince For An Ice Princess

Prince For An Ice Princess
Episode 85



" Lea ada dimana??"


Pertanyaan yang dilontarkan Jason, kini harus ia dapatkan dari Lee.


" Lea?? apa kau bercanda Lee, kau tidak pantas dan tidak berhak menanyakan keberadaan Lea, apa kau tidak ingat perjanjian kita??" kata Jason


Lee akhirnya memutuskan untuk menemui Jason, mungkin saja Jason sengaja menyembunyikan Lea.


" Beritahu saja Lea ada dimana??" kata Lee tanpa basa-basi.


" Aku ingatkan Lee, kamu sudah tidak hak untuk itu lagi" kata Jason yang juga sudah mulai murka, hal yang paling ia takutkan sepertinya akan terjadi.


" Jangan coba coba menganganggu Lea kerena sebentar lagi kami akan menikah"


Jason terpaksa mengarang cerita untuk membuat Lee menjauhi Lea.


" Baiklah, jika memang kalian memang akan segera menikah, aku ikhlas tapi ijinkan aku bertemu dengan Lea untuk terakhir kalinya" pinta Lee dengan wajah mengiba, ia benar benar ingin bertemu wanita itu.


" Maaf Lee, aku tidak bisa" kata Jason memupuskan harapan Lee, Jason bahkan membalik badannya setelah menyuruh nya keluar dari ruangan nya.


Lee akhirnya melangkah dengan langkah gontai, ia merasa orang bodoh karena tidak mungkin Jason memberitahukan dimana keberadaan Lea.


Lee pun teringat pada Dian, sahabat Lea di kantor dan iapun memutuskan untuk membuntuti Dian sepulang kantor karena jika ia menemui Dian sekarang pasti Jason akan menaruh curiga.


Cukup lama Lee menunggu di sebuah Cefe yang berada didepan kantor, sudah hampir menunjukkan jam 6 sore tapi Dian belum juga keluar.


" Itu dia" kata Lee sambil memperhatikan Dian yang keluar dari dalam kantor Yahya group.


Begitu melihat Dian keluar, Lee segera menyalakan motor yang baru saja ia beli, ia tidak ingin menggunakan mobil, ia takut Jason akan curiga padanya.


Setelah menggunakan helm dan jaket tebal berwarna hitam, Lee dengan cepat mengikuti Dian yang sedang dibonceng oleh seorang tukang ojek.


Begitu melihat celah untuk mendekati Dian dan sang pengemudi motor, Lee segera mendahului motor itu dan mencegatnya.


Dian dan sang pengemudi tentu saja terkejut, Dianpun langsung turun dari motor dan segera menghampiri Lee.


" Anda ini bagaimana sih?? ngapain menghalangi kami" kata Dian, namun begitu Lee membuka helmnya maka wajah Dian langsung berubah menjadi raut wajah yang sangat terkejut.


" Pak Lee" kata Dian, Ia begitu masih menghormati Lee dengan sebutan Bapak.


" Dian, aku ingin bicara denganmu!!" pinta Lee


" Bicara?? " kata Dian pura pura tidak mengerti padahal Dian tahu, ia pasti menyangka Lea.


" Sebentar saja, aku mohon" kata Lee


Setelah memesan dua minuman dan beberapa potong kue, Leepun memulai untuk membicarakan hal yang masih belum ia ketahui.


Jujur saja, Lee tidak mempercayai bahwa Lea akan menikah dengan Jason. Lee tahu bahwa Lea bukanlah orang yang bisa cepat melupakan seseorang, Lee yakin Lea pergi untuk bisa melupakan semua kenangan mereka.


" Maaf ya Di jika aku bersikap kurang sopan tadi, aku hanya ingin..." kata Lee


" Tak apa pak, ada yang bisa saya bantu??" kata Dian berbasa basi.


Lee kemudian menarik nafasnya dan mulai membicarakan masalah mantan istrinya.


" Lea ada dimana??" kata Lee langsung dan inilah yang membuat Dian merasa tidak enak


" Kenapa bapak tanyakan Lea, bukankah kalian sudah bercerai??" kata Dian belum bertanya


" Aku tahu, tapi entah kenapa aku ingin sekali bertemu dengannya" kata Lee memohon


Sebenarnya Dian begitu marah kepada Lee namun ia sadar ia tidak berhak untuk memarahi ataupun menghakimi Lee.


" Sepertinya sudah terlambat" kata Dian lagi


" Terlambat?? apa maksudnya??" kata Lee bertambah gusar


" Lea sudah pergi entah kemana dan aku sebagai sahabat tidak mengetahui kemana Lea pergi" kata Dian.


Dian berusaha untuk menjaga ketenangan mimiknya, ia tidak ingin seperti orang yang mengetahui keberadaan Lea.


" Aku hanya ingin melihat wajahnya sebelum aku kembali ke Kalimantan, aku memang bersalah karena telah meninggal kan Lea begitu saja. Aku sungguh bodoh telah meninggal kan Lea padahal ia begitu berusaha untuk mempertahankan rumah tangga kami"


"Aku sebenarnya masih belum yakin atas semua yang dialami Lea pak Lee, cobaan hidup begitu keras menyiksanya bahkan setelah anda meninggalkan Lea, Tante Miapun meninggalkan Lea untuk selamanya"


" Apa?? Mama meninggal??" kata Lee tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dian


" Apakah pak Lee benar benar tidak tahu??'


Lee menggelengkan kepalanya, ia juga begitu terpukul mendengar hal ini. Lee bisa membayangkan betapa hancurnya Lea saat itu dan dia tidak ada di masa masa sulit itu.


" Bodoh..bodoh..." kata Lee sambil memukul kepalanya hingga beberapa kali


" Percuma pak, anda sebaiknya tidak menyiksa diri" kata Lea


" Aku adalah pengecut Dian, aku pecundang" kata Lee memaki dirinya sendiri.


Jangan lupa like komen dan vote novel ini agar author semangat ya.