
Sidang putusan Lea dan Lee akhirnya dilaksanakan hari ini,pagi tadi Lea sudah mendapatkan pesan dari Max pengacara nya bahwa sidang akan dimulai pukul 08.00 pagi.
Lea yang sudah keluar dari rumah sakit sedang berada di kamar nya, ia hanya bisa diam membisu ketika ia melihat isi pesan tersebut.
Hari ini Lea akan resmi menyandang status janda, sebuah status yang sama sekali tidak ia inginkan. Dulu saat ia masih remaja dan ayahnya masih hidup ia ingin sekali seperti ibunya yang begitu bahagia dengan kehidupan mereka saat itu.
Sampai Lea Bertemu dengan Jason, ia sangat menginginkan kehidupan seperti yang dimiliki boleh ibunya ketika sang ayah masih hidup.
Lea hanya bisa menarik nafas panjang dan mengelus perut nya kerena kenyataan nya Lea harus menjadi orang tua tunggal bagi anaknya kelak.
Saat Lea sedang merenung tiba tiba saja seseorang mengetuk pintu rumahnya dan ternyata itu adalah Dian, sahabat nya.
" Apa kau baik-baik saja??" kata Dian yang melihat bekas airmata di pipi Lea
" Aku baik, hanya sedikit mewek saja"kata Lea, ia tidak bisa berbohong pada sahabatnya ini.
Leapun membawa Lea masuk kedalam kamarnya
" Apa sidang putusan kamu sudah selesai??" tanya Dian
" Belum, mungkin sebentar lagi" kata Lea sambil melihat ke arah jam dikamar nya
" Kamu yang kuat ya Lea" kata Dian sambil menepuk pundak Lea dan Leapun mengangguk pelan
" Kenapa kamu tidak kekantor??" tanya Lea
" Aku sudah minta ijin pada Jason, aku ingin menemani kamu hari ini" kata Dian
" O..." kata Lea
" Bagaimana rencana kamu selanjut nya??" tanya Dian
" Seperti yang aku bilang kemarin, aku akan menjual rumah ini dan pembeli nya sudah ada, dia akan datang besok untuk melihat kondisi rumah ini" kata Lea.
Lea kemudian memandang sekeliling kamarnya, hatinya begitu sedih karena harus menjual rumah peninggalan orang tuanya, rumah yang begitu banyak menyimpan kenangan itu harus ditinggalkannya.
"Apa kamu yakin Lea??" tanya Dian lagi
Lea hanya mengangguk, sebenarnya hatinya begitu berat namun ia sudah membuat keputusan untuk meninggalkan semua kenangan yang ada disana.
" Mengapa kamu tidak menikah dengan Jason saja??"
Lea terkejut mendengar perkataan Dian, wajahnya langsung berubah menjadi marah ketika Dian berkata seperti itu.
" Maaf Di, aku hanya melihat Jason begitu mencintaimu dan aku yakin dia pasti akan bisa membahagiakan mu" kata Dian
" Aku tidak akan pernah menikah dengan seorang laki laki pengecekan seperti dia" kata Lea
" Aku tau, aku minta maaf, aku hanya ingin melihatmu bahagia" kata Dian dengan jujur
" Aku mengerti, tapi hatiku tidak akan pernah menjadi milik Jason lagi"
" Apa itu karena kamu masih begitu mencintai Lee??" tanya Dian
Lea terdiam, kata kata Dian kembali membuat dirinya gelisah. Ya, hatinya tidak bisa berbohong bahwa nama Lee masih ada dan terukir indah disana.
" Aku mengerti Lea, aku minta maaf" kata Dian
Ponsel Lea Kembali berdering dan ternyata pengacara Max kembali menghubungi nya.
" Bagaimana pak,apa sidang sudah selesai" tanya Lea
" Sudah Bu, sidang putusan nya berjalan dengan lancar, saya akan kirim salinan akte cerainya sebelum Eku memberikan aslinya pada ibu" kata Max
Bulir air mata kembali mengalir di pipi Lea, kini ia benar benar sudah menjadi seorang janda.
" Oh ya Bu, pak Lee tadi hadir di ruang persidangan" kata Max, membuat Lea benar benar kaget, ia sama sekali tidak menyangka bahwa Lee akan datang ke persidangan.
" Benarkah?? apa dia mengatakan sesuatu??" tanya Lea penasaran
" Kata pak Lee dia benar benar minta maaf dan ia juga mengucapkan terimakasih karena ibu adalah bagian uang paling indah yang pernah ia miliki" kata Max
Hati Lea kembali berontak ketika Max berkata seperti itu, ia ingin sekali bertemu dengan Lee dan mengatakan bahwa dirinya sedang mengandung buah cinta mereka.
"Terima kasih pak" kata Lea, suara nya sudah berubah menjadi serak karena ia berusaha menahan tangis yang ingin pecah.
" Apa ini Lea ingin bertemu dengan pak Lee sepertinya ia masih ada disini??" tanya Max
" Tidak..aku tidak ingin"kata Lea berbohong padahal ia ingin sekali.
" Aku harus bisa, harus bisa menahan semua ini,"
Begitu selesai berbicara dengan pengacaranya, Lea sudah tidak bisa menahan tangisannya, Lea pecah di dalam pelukan Dian.
"Sudahlah Lea, tidak ada gunanya kau menangisi laki laki pecundang itu" kata Dian dengan geram, jika Lee ada dihadapannya maka ia ingin sekali membunuh laki laki yang sudah membuat hidup Lea porak poranda.
Jangan Jangan lupa like komen dan vote novel ini agar author semangat ya.