
Hari ini Lea akan bertemu dengan dengan orang yang mana membeli rumahnya, ia sengaja bertemu dengan orang itu di salah satu cafe terdekat dengan rumahnya.
Lea memang sengaja tidak bertemu di dalam rumah karena ia takut akan mengundang kecurigaan pada Jason. Jika hal itu sampai terjadi maka rencananya untuk pindah dari kota itu akan gagal.
Setelah pulang dari kantor, Lea kemudian segera menuju cafe tempat mereka bertemu. Begitu sampai di cafe tersebut, Lea pun segera menghubungi orang yang akan membeli rumahnya.
" Aku di meja nomor 8" kata Orang itu dan calon pembeli itu adalah seorang laki laki yang memang sedang mencari rumah di sekitar kompleks rumah Lea.
" Meja nomor 8"
Leapun segera menuju meja itu dan betapa terkejutnya ia saat melihat seseorang yang tidak asing dalam hidupnya.
" Kak Ryan??" kata Lea sambil terkejut,
" Lea" kata Ryan yang juga tidak kalah terkejut melihat ternyata Lea yang ingin menjual rumah.
" Ya ampun kebetulan sekali" kata Lea dan iapun duduk dihadapan Ryan
" Kamu apa kabar??" tanya Ryan sambil tersenyum
" Aku baik kak' kata Lea
" Aku selalu singgah di taman itu"
" Taman??" kata Lea, ia kemudian teringat saat ia bertemu dengan Ryan saat ia sedang olahraga dengan Lee dan Dian
" O...taman yang itu ya"
" Iya hampir setiap hari Minggu aku kesana, tapi kamu tidak pernah datang lagi" kata Ryan
" Tapi kenapa kamu mau jual rumah??" tanya Ryan
Lea hanya diam, ia sebenarnya tidak ingin menceritakan apa yang sedang pada hidupnya.
" Aku ingin pindah'' kata Lea dengan nada yang sedih dan Ryan bisa melihat raut wajah Lea yang berubah drastis.
" Pindah?? memangnya suamimu pindah tugas ya?" kata Ryan menebak
" Aku sudah bercerai kak" kata Lea
Ryan tentu saja terkejut mendengar pengakuan Lea, ia kembali mengingat bagaimana cemburu nya Lee saat ia berbicara dengan Lea.
" Cerai??" ulang Ryan tidak percaya, sebagai seorang laki laki Ryan bisa melihat sorot mata Lee saat itu, ia yakin bahwa Lee sangat mencintai Lea.
" Maaf jika aku terlalu ikut campur,tapi apa alasan perceraian kalian, bukankah selama ini semua baik baik saja?? Apa ada orang ketiga??" kata Ryan yang begitu penasaran.
" Maaf kak, aku tidak bisa cerita, yang jelas aku ingin pergi dari sini" kata Lea
" Bagaimana kalau kau bekerja di salah satu perusahaan milik temanku, mereka sedang butuh kepala divisi bagian pengembangan" Kata Ryan menawarkan, ia tahu Lea salah wanita yang cukup berpotensi dan hal itu sudah terlihat saat ia masih kuliah.
" Seperti nya aku tidak bisa kak" kata Lea lagi
" Aku ingin membuka usaha saja karena saat ini aku sedang hamil"
Lagi lagi Ryan terkejut,
" Apa?? kamu sedang hamil?? mengapa suamimu tega menceraikan mu padahal kamu sedang hamil??"
" Dia tidak tahu kalau aku sedang hamil" kata Lea lagi.
Ryan hanya mampu menggelengkan kepalanya, dia bingung sendiri apakah yang sudah terjadi pada Lea dan suaminya.
" Ya ampun, aku turut prihatin Lea, aku tidak menyangka kamu mendapat cobaan seberat itu padahal kami adalah wanita yang baik" kata Ryan,
" Begitulah kak, terkadang takdir tidak selalu memihak pada kita" kata Lea
"Baiklah apa sekarang kita bisa langsung ke pokok permasalahan" kata Lea, ia tidak ingin membicarakan hal yang membuat nya kehilangan semangat.
Lea pun menunjuk kan semua foto seisi rumahnya, dan sebenarnya Ryan tidak fokus mendengar keterangan Lea, ia lebih banyak memandang wajah Lea.
" Bagaimana kak??" tanya Lea setelah menjelaskan semua isi rumahnya
" Aku ambil dan berapapun harga yang kamu tawarkan aku siap" kata Ryan.
" Sebenarnya aku berat untuk menjual rumah ini, tapi karena aku harus membayar denda kontrak maka terpaksa aku menjual rumah peninggalan orang tuaku"
Ryan berpikir sejenak dan iapun berniat untuk membantu Lea.
" Berapa jumlah yang kamu perlukan??" tanya Ryan
" Jumlahnya cukup banyak kak, aku juga butuh modal untuk membuat usaha baru"
" Baiklah, aku akan memberikan kamu uang sebesar 300 juta dan uang itu bisa kamu pergunakan tanpa menjual rumah peninggalan orang tua kamu"
Lea terkejut mendengar penawaran Ryan, tapi dengan halus ia menolaknya.
" Tidak kak, lebih baik aku jual rumah itu, aku tidak ingin merepotkan kakak" kata Lea
" Tak apa Lea, aku ikhlas menolong kamu, jika kamu sudah punya uang kamu bisa mengembalikan uang itu padaku" kata Ryan
Lea berpikir sejenak, ia memikirkan bagaimana baiknya untuk tidak menolak keinginan Ryan.
" Begini saja kak, anggap saja rumah itu saya gadaikan pada kakak dan jika saya sudah punya uang saya akan tebus kembali rumah itu. Tapi jika kakak ingin tinggal disana, silahkan" kata Lea
" Aku setuju" kata Ryan
Lea dan Ryan akhirnya membuat kesepakatan dan mereka melakukan nya diatas hitam dan putih. Ryan sebenarnya tidak menginginkan hal itu namun karena Lea memaksa, Ryan pun menyetujui keinginan Lea.
Jangan lupa like komen dan vote novel ini agar author semangat ya.