
Sepanjang perjalanan menuju Apartemen Lea hanya diam saja, ia merasakan malu yang teramat sangat karena kejadian tadi pagi, ia masih benar benar kesal karena mendapati dirinya berpelukan dengan Lee.
" Ya ampun bagaimana mungkin aku bisa memeluk nya dan bagaimana mungkin aku bisa senyaman itu berada di dekatnya, aduh aku benar benar malu sekarang. Ini pasti karena aku kebiasaan memeluk bantal guling dan pasti tadi malam aku menganggap dia bantal guling"
Lee yang sedari tadi menyetir seperti nya tau kalau Lea sedang gelisah.
" Apa kau masih marah???" kata Lee sambil melirik ke arah Lea
" Sudahlah lagian apa gunanya kalau aku sedang marah, aku rasa itu tidak berpengaruh pada dirimu" kata Lea dengan ketus
" Baiklah kali ini aku akan mendengarkanmu"
Lea tetap saja tidak menjawab dalam pikirannya semakin kacau saja dan begitu tiba di bagasi Apartemen Lea langsung saja keluar dari mobil Lee dan segera menuju Apartemen tanpa menunggu Lee.
" Kenapa wanita itu moodnya seketika berubah apa karena kejadian berpelukan tadi pagi?? atau jangan-jangan dia sedang palang merah?? dasar wanita memang sangat sensitif dan susah dimengerti"
Lee pun mempercepat Langkahnya karena pagi ini ia akan rapat dengan salah satu perusahaan yang menjadi mitra kerjanya.
Begitu masuk ke Apartemen Lea ternyata sudah hendak keluar dengan pakaian yang ternyata sudah rapi.
" Cepat amat!! Apa kamu tidak mandi ya..." goda Lee
" Apa perduli mu?? aku mandi atau tidak itu sama sekali tidak berpengaruh buatmu kan???" kata Lea sambil menyerocos keluar dari pintu depan
Lee hanya bisa menarik nafas, ia tahu bahwa dirinya lah membuat Lea harus kehilangan kenyamanan dan kebahagiaan namun karena sesuatu yang tidak bisa dijelaskan Lee terpaksa harus menikahi Lea yang jelas jelas tidak mengenal nya.
Selama dikantor Lea benar benar menjadi batu es, sikapnya semakin dingin dan cuek, hanya pada satu orang saja Lea tidak bisa cuek yaitu pada Dian.
Dian melihat sikap Lea hari ini juga merasakan hal yang berbeda dengan sahabat nya ini, biasanya walaupun Lea orang nya terkenal cuek tapi tidak buat Dian. Dian adalah sosok teman yang bisa membuat Lea bahagia dan tertawa.
" Lea kok makanan nya ngakk dimakan??" tanya Dian saat mereka sedang berada dikantin kantor sementara makanan Dian sudah ludes dari tadi
" Aku sedang tidak nafsu makan nih Di, kalau kamu mau kamu bisa makan makananku ini, mubajir kalau dibuang"Kata Lea menawarkan
" Yang benar nih??" tanya Dian
Lea hanya mengangguk sambil menyodorkan kotak makanan yang berisi nasi tempura yang sebenarnya adalah makanan kesukaan Lea dikantin.
"Lea kamu kenapa sih...apa kamu lagi broken heart ya..?? kata Dia membuat Lea seketika tersentak
" Apasih kamu lagian kamu tau kalau tidak suka.." Lea tidak meneruskan kata kata nya dia memilih pergi dan duduk diruang nya.
" Ada apa sih dengannya?? ya sudahlah lebih baik aku habiskan makanan ini sebelum waktu jam makan siang selesai" kata Lee yang terus mengunyah.
" Ya ampun maagku pasti kambuh karena tidak makan tadi siang"
" Ah ..." Lea lalu mengambil tablet obat dari dalam tasnya dan meminumnya sebelum rasa sakitnya bertambah parah.
" Maaf nona Lea, anda dipanggil tuan muda keruangan nya" kata Pengawal yang sampai saat ini Lea belum tau namanya
" Ngapain sih???" kata Lea dengan kesal, ia merasa sangat malas bertemu dengan Lee
" Maaf Nona itu diluar kewenangan saya"
" Aih... pengawal ini formal sekali sih, santai dikit Napa???
Lea akhirnya melangkah keruangan boss besar dikantor itu, dengan perut yang masih sedikit mulas ia berusaha agar tidak terlihat seperti orang sakit.
Sesampai diruangan Lee, Lea tersontak kaget mencium aroma lavender memenuhi ruangan itu.
" Sebelum nya ruangan ini tidak seperti ini" kata Lea dalam hati
Ternyata Lee sudah menunggu nya disofa yang terletak di sudut ruangan yang dilengkapi dengan sebuah meja rias yang tidak terlalu besar. Lee tampak sedang membuka bungkusan yang berisi makanan. Dengan berat hati Lea mendekati laki laki yang kini jadi suaminya meskipun sebenarnya itu hanya formalitas saja
" Ada apa??" kata Lea dengan dingin,
" Apa begitu caramu bicara dengan boss mu??" kata Lee sambil memandang wajah Lee yang sedikit pucat.
" Maaf pak ada yang bisa saya bantu??"
Ah... sesungguhnya Lea sungguh jijik dengan sandiwara yang sedang terjadi antara ia dan Lee.
" Baiklah bantu aku menghabiskan makanan ini" kata Lee
" Apa?? saya tidak mau pak itu bukanlah tugas saya!" kata Lea seketika menolak
" Apa kau menolak perintah atasanmu, kalau kau mati ditempat ini saya juga yang repot,"
" Apa maksudmu berkata seperti itu, apa kau mendoakan saya mati" kata Lea dengan marah
" Nona Lea kau akan mati jika tidak makan, apa kau mau maag mu bertambah parah kau bahkan makan obat sebelum makan"
Lea kaget mendengarnya perkataan Lee, ternyata diam diam Lee mengawasi setiap pergerakan nya.
Jangan lupa like,komen dan vote novel ini ya... karena dukungan kalian akan sangat berguna sekali bagi author.