
" Sampai kapan kamu akan seperti ini Lea??" kata Dian
" Dimana Lea yang dulu, Lea yang mandiri dan bisa hidup tanpa laki laki??"
Lea hanya menatap dengan tatapan kosong, selama dua hari berada di rumah sakit sama sekali tidak berpengaruh bagi kondisi Lea. Lea benar benar sakit bukan hanya di badan saja tapi sebenarnya Lea lebih sakit secara Psikis dan sebagai sahabat Dian selalu mendampingi Lea.
" Lea" kata Dian yang masih menunggu Jawaban dari Lea.
" Apa kamu tidak kerja Di,??" kata Lea dan Dian menggelengkan kan kepalanya,
" Bagaimana aku bisa kerja, aku pasti akan kepikiran kamu terus. Aku tidak akan meninggal kan kamu dalam kondisi seperti ini. Lagipula aku bisa memeriksa dan memberikan arahan dari email"
" Kamu makan ya??" bujuk Dian, ia kemudian mengambil bubur yang masih belum tersentuh
"Sini, biar aku makan sendiri" kata Lea sambil meminta mangkuk bubur itu dari tangan Dian
Perlahan Leapun memakan bubur itu, meskipun hanya beberapa suapan Dian lega melihatnya. Sepertinya kata kata Dian barusan sudah mulai dipikirkan oleh Lea, selama beberapa hari ini Dian selalu menyemangati Lea agar bertahan untuk dirinya dan untuk anaknya.
" Jason mana??" tanya Lea, sejak pagi tadi Lea sama sekali tidak melihat Jason.
" Katanya dia ada dikantor, apa perlu aku panggilkan dia??"
" Tidak...aku senang kalau dia tidak datang!!"
Dian terdiam, ia melihat Lea yang sudah mulai mengotak atik ponselnya.
" Di...aku akan pergi dari kota ini" kata Lea tiba tiba dan ini membuat Dian begitu kaget.
"Apa??"
Lea memandang lurus kedepan, ia seolah ingin mengatakan bahwa ia akan lari semua kenyataan yang ada. Lea ingin pergi untuk meninggalkan semua luka yang telah ia dapat di kota kelahirannya ini, sama seperti dulu saat ia meninggalkan Jason dan kembali ke kota kelahirannya.
" Aku ingin jauh dari kota ini, aku akan membawa semua luka ini dan memulai kehidupan yang baru"
" Apa kamu yakin??" kata Dian dengan nada sedih, ia pasti akan sangat kehilangan sahabat terbaik nya.
" Iya" ucap Lea sambil mengangguk kan kepalanya.
" Apa kau akan meninggalkan ku??" kata Dian dan kata itu terdengar begitu pilu
Lea kemudian memeluk Dian dengan erat, ia tahu betapa Dian begitu menyayangi dirinya. Dian adalah satu satunya sahabat Lea yang mengetahui jalan hidup Lea.
" Terima kasih Dian, aku tidak akan pernah melupakan mu" kata Lea sambil menitikkan air mata.
" Aku pasti akan merindukan mu" kata Dian yang juga ikutan menangis
" Kamu akan pindah kemana??" tanya Dian
" Aku masih belum tau, aku akan memutuskan setelah sidang perceraian kami selesai, dan aku harap kamu tidak akan memberi tahukan hal ini pada siapapun terutama Jason"
Dian mengangguk pertanda ia mengerti, Dian tahu Lea butuh suasana, tempat dan waktu untuk menata hati dan kehidupan kembali. Dian yakin Lea akan bisa bangkit dan melupakan semua masa lalunya seperti ketika ia berpisah dengan Jason.
" Semoga kamu mendapat keberuntungan di tempat yang baru ya Lea, dan semoga kamu mendapat calon ayah yang terbaik untuk anak kamu ini"
Dian kemudian mengelus perut Lea yang masih rata,
" Aku tidak tau Di, apakah aku bisa yakin pada sosok laki laki sepertinya aku sudah tidak mempercayainya lagi"
" Kamu tidak boleh berkata seperti itu, aku yakin Tuhan akan mengirimkan seseorang yang bisa menjaga mu dan anakmu kelak''
Lea hanya tersenyum pahit, ia tidak ingin mendengar hal hal yang berhubungan dengan laki laki. Lea hanya ingin Keluar dari situasi yang cukup rumit ini dan pindah tempat adalah cara yang terbaik.
" Kapan sidang terakhir kamu Lea?" tanya Dia
" Kata pengacaraku Senin depan dan sepertinya itu adalah sidang putusan" kata Lea,
" Aku sudah siap untuk menjadi singel parents Di, aku pasti, pasti siap" kata Lea yang sebenarnya gamang, dalam relung hati yang paling dalam ia sangat mengharapkan kehadiran Lee untuk mendampingi nya dan membesarkan buah cinta mereka berdua.
" Aku yakin kamu pasti bisa melewati semua ini Lea, aku percaya padamu" kata Dian yang selalu memberikan keyakinan pada Lea.
Jangan lupa like komen dan vote novel ini agar author semangat ya.