
Akhirnya Lea menuruti permintaan Lee untuk seruangan dengan suaminya, sebenarnya Lea pasti tidak nyaman bekerja seruangan dengan Lee namun lagi lagi kerena ancaman Lea terpaksa menurutinya.
Sesuai dengan perintah Lee, Tom dan OB lainnya' merubah seluruh posisi meja kerja Lee dan sesuai dengan permintaan Lee, ia ingin meja kerja Lee dan Lea saling berhadapan.
Lea yang melihat posisi meja kerjanya merasa keberatan, ia pasti kehilangan fokus jika Lee memperhatikan nya
" Pak, tolong mejanya jangan berhadapan begitu" pinta Lea
" Memangnya kenapa??" kata Lee dengan cuek
" Aku pasti bisa tidak fokus" kata Lea dengan jujur
" Tidak fokus?? Why???"
"Aku ingin meja dan kursi nya saling bersampingan saja, agar aku bisa fokus kerja"
" Kamu ini aneh ya... justru kalau aku menatap mu maka kami akan semakin serius kerja dan lagi pula aku berhak mengetahui kondisi kamu" kata Lee
" Sampai kapan aku akan kerja disini??" tanya Lea
" Sampai aku mengijinkanmu" kata Lee yang sembari duduk di kursinya.
" Nah sekarang aku bisa melihat wajahmu sepuasnya" kata Lee sambil tersenyum dan wajah Lea langsung saja memerah menatap senyum suaminya.
Lea dan Lee kemudian fokus dengan pekerjaan mereka masing masing, sesekali Lee melihat Lea dan begitu sebaliknya terkadang pandangan mereka saling bertemu dan kemudian saling membuang muka.
Jam 12.00 akhirnya tiba, tiba waktunya bagi para semua karyawan untuk menikmati waktu makan siang sampai dengan jam 13.00 siang.
Dian yang biasanya memang sudah keroncongan segera menghampiri Lea ke meja kerjanya dan begitu kaget nya ia melihat meja itu sudah kosong melompong bahkan laptop dan barang barang lainnya juga ikut hilang
" Ya ampun apa jangan jangan Lea dipecat ya?? mungkin saja!! dia sakitnya kelamaan sih jadi boss marah dan memecatnya" kata Dian menduga duga
Dian kemudian mengambil ponselnya dan menekan nomor Lea.
Dian calling...
Lea melihat layar ponselnya dan begitu melihat Dian yang menghubungi nya Lea segera mengangkat dengan menekan tanda hijau dilayar ponselnya.
" Aku segera kekantin tunggu saja, kamu ditempat biasa ya" kaya Lea yang begitu paham dengan maksud penggilan Dian
" Ok..jangan lama, i Will wait you and remember only five minute".
" Ok deh beb" kata Lea kan mematikan ponsel
Lea melihat Lee masih sangat sibuk dengan laptopnya seperti nya begitu banyak tugas yang akan dia selesaikan
" permisi pak, apa bapak tidak makan siang??" tanya Lea, ia sengaja memanggil Lee dengan bapak agar kedengarannya lebih sopan
" Baiklah saya duluan ya" kata Lea sambil berjalan dan keluar dari ruangan CEO Farma grup.
" Tunggu dulu" kata Lee menghentikan langkahnyai
" Ingat ya,jangan makan yang pedas dan jangan lupa minum yang banyak dan satu hal lagi ...."
' Apa??"
" Jangan lama lama karena aku pasti merindukan mu" kata Lee sambil tersenyum dan ia kembali fokus pada laptopnya
Pipi Lea langsung terasa panas saat Lee mengatakan ia akan merindukan Lea, ada riak riak Kevin yang timbul dihatinya.
Akhirnya Lea dan Dian bertemu di meja 17 yaitu meja yang menjadi tempat mereka biasa makan, para karyawan sudah tahu bahwa meja nomor 17 adalah milik Lea dan Dian dan itu sudah berlangsung selama 3 tahun semenjak Lea dan Dian memulai bekerja di Yahya grup corporation.
Setelah memesan makanan Dian dan
" Lea apa boleh bertanya??" tanya Dian
" Soal apa??" tanya Lea yang menikmati makan siangnya
" Apa hubungannya kamu dengan pak Lee??"
Pertanyaan Dian membuat Lea tersedak saat menikmati makanan yang sedang dikunyahnya dan dengan sigap Dian memberikan gelas berisi air putih pada Lea.
" Hukkk....huk.." Lea menepuk nepuk dadanya agar batuknya segera berhenti dan Dian juga menepuk punggung sahabatnya itu.
" Ini gara gara kamu...huk..huk" kata Lea lagi dan ia kembali minum, dan setelah beberapa menit akhirnya batuk Lea terhenti.
" Apa aku salah??" tanya Dian, dia juga meletakkan sendok makannya, ia juga menghentikan sejenak aktivitas makannya hanya untuk mendapatkan jawaban yang ia tanyakan
" A...aku tidak ada hubungan apa apa kok!! kamu ini aneh" kata Lea sambil kembali menyendok nasi goreng ke mulutnya.
" Tapi waktu kamu sakit kemarin aku tidak sengaja mendengar kamu menyebut Lee dengan mas" kata Dian menjelaskan apa yang ia dengar
" eh...itu kamu pasti salah dengar" kata Lea berkelit
dan Begitu menggigit bibir bagian bawahnya Dian juga tahu kalau Lea sedang berbohong.
" Aku tidak salah dengar nona Lea, jelas jelas aku dengar dan sepertinya Pak Lee menaruh perhatian khusus padamu" tambah Dian membuat Lea semakin tersudut,
" Apalagi ini saatnya aku bicara jujur dengan Dian, sepertinya dia penasaran sekarang, aku rasa jika hanya dia yang tahu itu tidak akan jadi masalah"
Jangan lupa like,komen dan vote novel ini ya... karena dukungan kalian akan sangat berguna sekali bagi author.