Point Of Love

Point Of Love
Berdarah



Hari ini berjalan seperti biasanya. Rutinitas yang di jalani Vivian berjalan tanpa adanya perubahan sedikitpun. Pagi itu Vivian mengayuh sepeda mininya yang usang sedikit lebih lamban dari biasanya. Perasaan dan hati Vivian tidak tenang sejak tadi malam. Mengingat hal yang begitu membingungkan dan mengganggu fikirannya. Hingga dia kurang fokus saat di atas sepeda dan tak menyadari ban sepedanya telah melindas batu besar dan membuatnya tidak seimbang. Vivian tak dapat mengendalikan sepedanya lalu terjatuh.


Dubrak!


Vivian termenung sejenak seakan baru sadar kalau dia telah terjatuh. Melihat sekeliling dan tak ada satu orang pun yang melintas. Dengan susah payah Vivian berdiri dan memukul-mukul bagian bajunya yang kotor akibar debu yang menempel. Vivian mencoba mengangkat sepedanya sendiri dan menuntunnya perlahan. Lutut Vivian terasa perih namun dia tetap berjalan dengan langkah kaki yang terseok-seok. Dia harus segera sampai di tempat penitipan sepeda secepatnya karena jam telah menunjukkan pukul 06.15 WIB. Sedangkan bus yang biasa dia naiki tiba pukul 06.30 WIB.


Sampailah Vivian di tempat penitipan sepeda. Setelah sepeda itu berada di tempat yang aman Vivian melangkahkan kaki menuju bawah pohon beringin. Dia duduk sendiri dan melihat sekeliling terasa begitu sepi. Vivian memberanikan diri membuka sedikit rok panjangnya hanya untuk melihat seberapa parah luka yang dia dapatkan saat jatuh tadi.


Luka hanya selebar 1 cm dengan memar merah di sekitarnya. Meski luka kecil tapi itu masih terasa sakit dan perih. Mungkin karena gesekan dari rok panjang Vivian sendiri yang langsung menempel pada luka tersebut. Vivian hanya bisa meringis kesakitan menahan lukanya. Dia tak pernah membawa peralatan P3K dalam tasnya. Mau tidak mau dia harus menahan sakit sampai di sekolah dan mengobatinya disana.


Vivian menghela nafas dalam sambil memegang tali tasnya. Menatap jalanan dengan lalu lalang kendaraan bermotor. Dari arah lain nampak sebuah sepeda motor merk ternama mendekati Vivian dan berhenti tepat di depannya. Vivian hanya bisa mengerutkan dahi. Menebak siapa sebenarnya yang ada di depannya sekarang.


Saat sang pengendara membuka helmnya baru Vivian dapat mengenali lelaki tersebut. Dia adalah Jalal. Vivian memutar matanya dengan malas.


Ngapain sih dia kesini? Bikin tambah bete aja. Gerutu Vivian dalam hati.


Jalal menatap Vivian sambil tersenyum senang. Turun dari motornya dan duduk tepat di samping Vivian. Vivian menggeser dirinya sedikit menjauh dari Jalal.


"Kamu belum berangkat Vi?" Sapa Jalal.


"Belum kak. Busnya belum datang." Jawab Vivian sambil memaksakan tersenyum.


"Emm. Kamu mau nggak aku anterin?" Kata Jalal sedikit ragu.


"Oh. Nggak usah kak aku naik bus saja." Jawab Vivian sambil mengibaskan kedua tangannya. Memalingkan pandangan menatap jalanan berharap bus yang dia tunggu segera datang.


Kenapa juga bus nya nggak datang-datang. Gerutu Vivian dalam hati.


"Kamu nggak kesiangan Vi?" Tanya Jalal.


Vivian menatap jam tangan yang menempel di tangan kirinya.


"Nggak kok kak. Habis ini busnya pasti datang." Jawab Vivian sambil tersenyum. Benar apa yang di katakan oleh Vivian.


Bus yang dia tunggu dari tari akhirnya datang juga. Dengan antusias Vivian segera berdiri dan melangkahkan kakinya. Namun rasa nyeri di lututnya membuatnya kesulitan berjalan normal. Jalal yang mengetahui hal tersebut segera berdiri dan menghampiri Vivian sambil memegang kedua lengannya.


"Kamu kenapa?" Tanya Jalal dengan nada cemas.


"Aku nggak apa-apa kok kak cuma luka kecil." Sahut Vivian sambil melepaskan genggaman tangan Jalal dari lengannya.


"Luka? Kamu lebih baik aku anterin. Nggak usah naik bus dulu. Kita obati luka mu." Kata Jalal. Bus itu berhenti di depan mereka.


"Tapi kak." Kata Vivian ragu sambil menatap Jalal.


"Kamu jangan keras kepala Vi!" Suara Jalal sedikit berteriak. Vivian merasa terkejut dengan sikap Jalal sekarang dan dia hanya bisa diam menuturi perintah Jalal.


"Woi. Jadi naik apa enggak?" Teriak kernet bus yang berdiri di pintu bus yang terbuka.


"Maaf bang. Nggak jadi naik." Sahut Jalal sambil menaruh kedua tangannya di depan dada menunjukkan isyarat maaf.


Kernet bus itu terlihat gusar dan memukul pintu bus dengan keras yang berarti mengajak sopir untuk segera melanjutkan perjalanan.


Jalal membantu Vivian untuk berjalan dan duduk kembali di tempat semula. Jalal membuka bagasi sepeda dan mengeluarkan sebuah kotak. Lalu dia meminta izin Vivian untuk melihat lukanya. Meski ragu Vivian mengiyakan keinginan Jalal. Dengan sabar dan telaten Jalal membersihkan luka Vivian lalu memberinya obat merah. Dia takut kalau tidak segera di bersihkan luka itu akan menyebabkan infeksi hingga lama untuk proses penyembuhan dan yang terakhir Jalal menempelkan plester luka agar luka tersebut tidak lagi tergesek oleh rok Vivian.


Vivian merasa sangat canggung dengan keadaan saat ini. Dia merasa punya hutang budi kepada Jalal.


"Makasih ya kak." Kata Vivian ragu.


Jalal hanya membalas dengan senyuman dan berkata. "Berangkat yuk!" Jalal memegang tangan Vivian.


Deg! Apa apaan sih dia?


Vivian melepas genggaman Jalal dengan pelan sambil tersenyum canggung.


"Iya kak." Jawab Vivian singkat.


"Sekali lagi makasih ya kak." Ucap Vivian pada Jalal.


Jalal hanya mengangguk dan melambaikan tangan. Vivian segera berbalik dan melangkahkan kaki masuk ke dalam sekolah. Tanpa dia sadari dia berbalik dan melirik ke arah Jalal yang masih tak berpindah dari tempatnya tadi. Vivian merasa tidak enak dan langsung mempercepat langkah kakinya menuju kelas. Jalal yang mengetahui sikap Vivian yang terlihat malu-malu hanya bisa tersenyum senang di balik helm hitam yang dia kenakan sekarang.


Vivian-Vivian! Kamu lucu banget sih. Aku jadi tambah suka sama kamu. Apalagi melihat sikapmu sekarang yang sangat malu-malu di depan ku. Benar dengan apa yang di katakan oleh Nurdin bahwa kamu masih malu dengan ku. Tapi itu bukan masalah besar bagi ku. Aku akan tetap sayang dan sabar menanti kamu Vi.


Jalal menghidupkan motor dan segera melaju meninggalkan sekolah Vivian dengan bibir yang tak bosan untuk tersenyum.


Vivian mengikuti pelajaran sampai jam istirahat tiba. Lutvi yang dari tadi menahan diri untuk tidak menggoda Vivian akhirnya menyerah juga. Tanpa di komando Lutvi langsung merangkul bahu Vivian. Vivian merasa terkejut karena tanpa sengaja Lutvi menyenggol lututnya yang terluka.


"Aauuw." Teriak Vivian dengan senyum getir di bibirnya.


"Kamu kenapa Vi?" Tanya Lutvi dengan nada khawatir. Vivian segera membuka rok panjangnya dan menunjukkan luka yang telah di tutup oleh plester namun masih terlihat sedikit memar merah di sekitarnya.


Lutvi menutup mulutnya yang menganga tidak percaya.


"Kenapa bisa kayak gini?" Tanya Lutvi sambil menatap Vivian.


"Tadi pagi nggak sengaja jatuh dari sepeda." Sahut Vivian tanpa dosa.


"Hemm." Lutvi menggeleng-gelengkan kepala tak percaya dengan jawaban temannya barusan. "Badan udah segede gini masih saja jatuh." Lanjut Lutvi.


"Ya mau gimana lagi." Vivian hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sudah di obati belum?" Tanya Lutvi.


"Udah." Jawab Vivian cuek. Lutvi mengerutkan dahi sambil menatap lekat pada Vivian. Vivian merasa sangat terganggu dengan sikap Lutvi.


"Kamu kenapa Lut? Ngeliatnya gitu banget." Kata Vivian dengan alis yang terangkat.


"Hayo ngaku? Siapa yang ngobatin kamu tadi." Celetuk Lutvi.


Vivian menghembuskan nafas dalam dan mulai menceritakan apa yang terjadi pada pagi ini. Semua kejadian selama ini yang manimpa dirinya membuatnya kurang berkonsentrasi hingga dia terjatuh. Dan yang lebih mengejutkan lagi orang yang datang membantu mengobati lukanya tak lain adalah orang yang berkaitan dengan masalah yang di hadapinya sekarang.


"What?" Teriak Lutvi dengan kedua mata yang hampir keluar.


"Ssttt. Jangan keras-keras!" Sahut Vivian.


"Kamu **** apa gimana sih Vi? Dia itu sedang mencari kesempatan sama kamu. Bisa-bisanya kamu malah merespon sikap dia dengan begitu polosnya." Suara Lutvi berapi-api.


"Ya mau gimana lagi Lut. Habinya dia maksa gitu." Kata Vivian dengan nada kesal.


"Hadeh. Kamu kan bisa nolak Vivian. Sekarang pasti dia berfikir kamu sudah memberi lampu hijau sama dia." Lanjut Lutvi.


"Maksudnya lampu hijau jalan terus gitu?" Kata Vivian dengan Wajah polosnya.


Lutvi langsung menyentil dahi Vivian dengan telunjuknya.


"Sakit Lut." Teriak Vivian sambil mengelus dahinya yang memerah. Lutvi berkacak pinggang dan melotot ke arah Vivian.


"Makanya jadi orang jangan polos-polos amat. Jadi kelihatan kan ***** nya." Celetuk Lutvi. "Temanku Vivian yang cantik aku bilangin ya. Cowok kalau sudah kita kasih kesempatan buat dekat sama kita dia pasti enggak bakalan mundur dan akan terus ngejar kita sampai keinginannya tercapai." Lanjutnya.


"Kamu kan tahu sendiri Lut Aku baru kali ini suka sama cowok." Sahut Vivian dengan nada kecewa.


"Tapi ngomong-ngomong dia cakep nggak?" Tanya Lutvi sambil memainkan kedua matanya.


"Kamu apaan sih Lut. Udah yuk ke kantin." Sahut Vivian dan langsung berjalan meninggalkan Lutvi yang masih menggodanya.


"Jawab dulu dong!" Teriak Lutvi sambil berlari menyusul Vivian.


"Nggak mau." Sahut Vivian sambil menjukurkan lidahnya dan berlari ke kantin. Lutvi mengejar Vivian namun gagal menangkapnya hingga mereka sampai di kantin dan saat berpapasan mereka berdua tertawa bersama sambil saling meledek satu sama lain.