
Sorot lampu jalan yang menerangi malam menjadi moment tersendiri bagi Dion. Keinginan terpendamnya selama ini akhirnya terwujud juga. Dion tidak pernah bosan untuk memandangi Vivian yang masih tidak sadarkan diri dalam pangkuannya.
"Kita sudah sampai mas." Kata sopir taxi yang membubarkan lamunan Dion.
"Oh iya pak." Sahut Dion dengan nada terbata-bata.
Dion memberikan ongkos taxi sesuai dengan kilo meter yang tertera. Meminta tolong supir taxi untuk membantunya mengeluarkan Vivian. Dion menyuruh supir taxi untuk menekan bel pintu yang ada di depan pintu gerbang rumahnya. Sedangkan dia sendiri sedang menggendong Vivian. Tidak lama seorang wanita keluar dengan tergopoh-gopoh membuka pintu gerbang itu.
"Lama banget sih bik." Gerutu Dion pada pembantunya saat pintu gerbang terbuka.
"Maaf den. Bibik tadi di belakang." Sahut bik imah.
Dion tidak terlalu mempedulikan perkataan pembantunya. Dia segera masuk ke dalam rumah. Menggendong Vivian menuju kamar tamu yang berada tepat di samping kamarnya sendiri.
Bik Imah berjalan dengan cepat menyusul majikannya menuju kamar tamu. Dion menidurkan Vivian di tempat tidur.
"Ini siapa den.?" Tanya bik imah penasaran.
"Temen Dion bik. Tadi pingsan di jalan." Sahut Dion yang sudah duduk di samping Vivian.
"Apa tidak sebaiknya dibawa ke rumah sakit saja den." Ujar bik imah memberi saran.
"Aku tadi panik bik. Jadi aku bawa pulang deh." Ucap Dion disertai senyum. "Aku minta dokter Heru saja untuk kesini." Lanjutnya.
"Iya den. Harus.!!" Seru bik imah.
"Oh iya bik. Bajunya basah kena hujan tadi. Bibik gantiin ya.!!" Pinta Dion.
"Siap den." Sahutnya dengan cepat dan berlalu meninggalkan ruangan itu. Tapi belum satu menit bik imah kembali ke ruangan.
"Baju gantinya mana den.? Masak pakai bajunya bibik. Aden kan tahu bibik cuma punya baju daster." Ujar bik imah.
"Pakai bajuku saja bik."
"Baik den." Bibik pun keluar lagi dari kamar itu. Pergi menuju ruang dapur untuk mengambil air hangat.
Dion pergi ka kamarnya sendiri. Membuka lemari pakaian dan memilih baju mana yang pas untuk Vivian pakai. Lama Dion memilih akhirnya sebuah kaos kuning dan celan pendek warna coklat sudah di tangannya. Dion menutup kembali lemari pakaiannya dan pergi ke kamar sebelah.
Bik imah sudah ada di dalam kamar. Mengelap tubuh Vivian mengguanakan air hangat.
"Ini bik bajunya." Ujar Dion sambil meletakkan baju di atas nakas yang berada di samping tempat tidur.
Bik imah segera menyuruh Dion untuk keluar sebentar. Karena dia akan mengganti pakaian Vivian yang basah terkena hujan.
Dion menunggu di depan pintu sambil memainkan ponselnya.
Apa aku harus menghubungi Dafa.? Karena cuma dia yang tahu alamat rumah Vivian. Tapi kalau aku menghubunginya sekarang, otomatis Vivian akan pergi dari sini. Lebih baik aku rahasiakan keberadaan Vivian untuk malam ini. Besok aku akan menghubunginya. Lebih baik seperti itu. Fikir Dion dalam hati.
"Kamu ngapain bengong disini.?" Ujar dokter Heru yang sudah berdiri di depan Dion.
"Paman Heru. Ngagetin saja." Sahut Dion.
"Siapa yang sakit.? Bik imah.?" Tanya Dokter Heru.
Sebelum Dion memilihkan baju ganti untuk di pakai Vivian, dia menyempatkan diri untuk menghubungi dokter Heru terlebih dahulu. Dokter Heru adalah dokter keluarga Dion. Mungkin karena hubungan keluarga mereka yang begitu dekat. Karena dokter Heru sendiri adalah kakak dari mamanya Dion. Jadi wajar kalau dia menjadi dokter keluarga mereka.
"Ini siapa Dion.? Jangan bilang kamu bawa lari anak orang.?" Ujar Heru saat melihat Vivian yang masih belum sadarkan diri.
"Hus. Tuan Heru jangan sembarangan. Ini temannya den Heru. Di ketemukan tadi pingsan di jalan." Sahut bik imah tanpa di komando.
"Tuh dengerin paman. Paman periksa dulu deh keadaannya.!!" Seru Dion tidak sabar.
"Iya sabar." Sahut Dokter Heru. Dia langsung menempelkan stetoskop ke telinganya dan memeriksa kondisi Vivian. Tak begitu lama dia langsung melepas stetoskop dan mengalungkannya di leher. Menghela nafas sebentar.
"Mulai kapan dia pingsan.?" Ujar Heru tegas.
"Satu jam yang lalu." Sahut Dion.
"Kenapa tidak di bawa ke rumah sakit.?" Ujar Heru sedikit geram dengan sikap Dion.
"Maaf paman. Tadi aku panik." Sahut Dion merasa bersalah.
Dokter Heru segera membuka tas dan mengeluarkan infus lengkap dengan selang dan jarumnya. Memeriksa kedua tangan Vivian untuk mencari area vena yang akan di tusuk jarum infus.
Tangan kirinya sedikit bengkak. Inikan bekas jarum infus juga. Apa jangan-jangan dia kabur dari rumah sakit.? Ujar Heru dalam hati.
"Vivian kenapa paman.?" Tanya Dion sedikit khawatir.
"Jadi namanya Vivian. Pacar baru kamu.?" Sahut Heru menggoda.
Deg!!
"Paman apaan sih.? Jangan mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya Vivian kenapa paman.? Kenapa sampai sekarang belum siuman juga.?" Tanya Dion menggebu-gebu.
"Oke. Oke. Sabar.!! Pacar kamu ini, eh maksud paman Vivian. Dia kekurangan gula darah maka itu yang menyebabkan dia pingsan. Dan kenapa dia sampai saat ini belum sadar. Itu karena kelelahan dan stres yang begitu berat hingga membuatnya tidak punya semangat untuk bangun." Jelas Heru panjang lebar.
"Stres.?" Seru Dion terkejut.
"Apa kamu tidak tahu apa yang membuatnya stres kayak gini.?" Tanya Heru sambil membereskan peralatan medisnya. Dion hanya menggelengkan kepala.
"Kamu sudah menghubungi keluarganya.?" Lanjut Heru. Dion masih diam dan menggelengkan kepala lagi. Heru menghela nafas sejenak.
"Biarkan dia istirahat disini dulu agar lebih tenang. Besok kamu hubungi keluarganya." Seru Heru. "Tangan kirinya terdapat bekas jarum infus. Mungkin dia kabur dari rumah sakit karena sesuatu hal." Lanjutnya.
Rumah sakit.? Jadi Vivian sakit. Tapi kenapa dia malah kabur dari sana. Apa yang sebenarnya terjadi.? Kamu sebenarnya kenapa Vivian.? Kenapa sampai seperti ini. Ujar Dion dalam hati.
"Ya sudah. Paman pulang dulu. Nanti kalau dia sudah sadar. Jangan bertanya yang macam-macam.!! Tanya saja apa yang dia butuhkan." Ujar Heru.
"Iya paman. Aku nggak nganter paman sampai depan ya. Aku mau nungguin Vivian disini." Ucap Dion dengan nada sedih.
"Iya paman paham." Heru menepuk pundak keponakannya itu. "Besok paman kesini lagi." Lanjutnya sambil berjalan keluar kamar itu. Bik imah mengikuti langkah Heru dan keluar juga dari kamar. Sekarang tinggal Vivian dan Dion saja yang ada dalam ruangan.
Dion berjalan mendekati Vivian dan duduk di sebelahnya. Memegang tanga Vivian dengan lembut agar tidak mengusiknya. Mengelus tangan itu perlahan. Dion merasa sangat kasihan kepada Vivian. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dion hanya bisa menunggu Vivian sadar dengan sendirinya.
Malam itu Dion tertidur di samping Vivian sambil memegang tangannya.