
Vivian begegas keluar gedung sekolah menuju pintu gerbang.
Berharap Dafa tidak berlari mengejarnya. Vivian sampai di pintu gerbang sekolah
dengan nafas terengah-engah. Melihat ke sekeliling dengan pandangan sedikit
kabur karena terik sinar matahari yang menyengat. Vivian mengelap peluh yang
mengalir di dahinya.
Faro menghampiri Vivian yang tengah berdiri di dekat pintu
gerbang. Menatap Vivian sambil tersenyum tipis.
"Ayo pulang." Sapa Faro. Namun Vivian tidak
merespon.
"Kamu kenapa.?" Ucap Faro sedikit mendekat namun
Vivian juga ikut menghindar.
"Capek.? Laper.? Atau marah sama kakak.?" Ujar
Faro. Vivian hanya menatap Faro penuh dengan amarah dan sesal.
"Dek jangan gitu.!! Serem tahu." Goda Faro.
"Vivian nggak mau ngomong sama kak Faro." Seru Vivian
sambil membuang muka.
"Marah nie.?" Ucap Faro membuat Vivian semakin
memanyunkan bibirnya.
"Udah dong marahnya.!! Nggak enak dilihat orang. Kakak
traktir deh. Asal kamu nggak marah lagi sama kakak." Ucap Faro swdikit
memohon.
Baru kali ini Vivian melihat sosok Faro yang berbeda dari
biasanya. Lebih tenang dan hangat. Vivian merasa seperti memiliki kakak kandung
sendiri. Walau kenyataannya dia hanya kakak tiri Vivian.
Saat Vivian masih marah dan Faro masih mencoba untuk
membujuknya. Dafa dan Dion muncul dari arah belakang Vivian.
Faro segera bersikap biasa dan mengajak Vivian untuk menjauh
dari kedua lelaki tersebut. Faro sangat menjaga jarak dari mereka. Vivian hanya
bisa menuruti dan mengikuti langkah Faro menuju motornya.
"Siapa cowok yang sama Vivian barusan.?" Tanya
Dion.
"Dia kakaknya. Tapi over protektif banget sama Vivian.
Aku yakin dia juga yang menyuruh Vivian untuk keluar dari ekskul musik."
Seru Dafa gusar.
"Masak sih.?" Ujar Dion.
"Kamu nggak tahu saja bagaimana si Faro itu. Dia begitu
posesif sama Vivian. Bahkan dia tidak akan membiarkan satu makhluk pun untuk
mendekatinya. Meski itu hanya partikel terkecil di dunia ini." Seru Dafa
penuh dengan amarah.
"Kenapa kamu marah Daf.?"
"Habisnya aku kesel. Nggak ada angin nggak ada hujan
tiba-tiba Vivian memutuskan untuk keluar dari group gitu aja. Itu pun tanpa
pemberitahuan sebelumnya. Gimana aku nggak kesel coba.?" Sahut Dafa
berapi-api.
"Sabar. Orang sabar disayang Tuhan. Mungkin Vivian punya
alasan sendiri tanpa harus memberitahukan hal itu kepada orang lain. Kamu juga
harus memikirkan posisi dan perasaan Vivian saat ini. Kamu kan tahu sendiri dia
telah mengalami hal yang tidak menyenangkan. Bullying bukan sesuatu hal yang
sepele. Hal itu juga bisa mempengaruhi kesehatan fisik dan psikisnya juga.
Bahkan ada yang harus terapi setelah mereka mengalami bullying di
sekolah." Jelas Dion panjang lebar pada Dafa.
"Astaga. Apa yang sudah aku lakukan. Kenapa aku tidak
berfikir sampai sejauh ini. Kamu benar Dion mungkin Vivian memang butuh waktu
untuk sendiri dan memulihkan dirinya. Dafa bodoh. Kenapa aku malah menyalahkan
Faro dengan alasan melarangnya. Pasti sekarang Vivian sangat membenciku karena
perkataanku tadi yang sudah menjelekkan kakaknya.” Ucap Dafa penuh sesal.
“Apa kamu tahu kenapa Berlian dan teman-temannya melakukan
hal itu kepada Vivian.?” Tanya Dion dengan nada serius.
“Iya. Berlian dan teman-temannya beranggapan kalau Vivian
mencoba menggoda kamu agar bisa bergabung dalam klub music milikmu. Yang aku
dengar juga, Berlian mengancam Vivian hingga Vivian ketakutan dan pingsan di
kamar mandi.” Ujar Dion.
“Kenapa mereka tega melakukan semua itu pada Vivian. Padahal
kan kamu juga tahu sendiri kalau aku sendiri lah yang merekrut Vivian agar mau
bergabung dalam ekskul music yang ku pimpin. Dengan susah payah akhirnya Vivian
mau ikut bergabung. Dan sekarang dengan mudah dia keluar.” Ucap Dafa penuh
sesal.
“Ya udah. Besok kamu minta maaf saja sama Vivian. Beres
kan.?” Sahut Dion.
“Apa Vivian mau maafin aku ya.?” Tanya Dafa ragu.
“Kalau itu difikirkan besok saja ya.!! Sekarang kita pulang
dulu. Oke.!!” Seru Dion sambil merangkul bahu Dafa dan mengajaknya pulang.
Vivian dan Faro berhenti di sebuah restoran. Seperti yang
sudah Faro janjikan kalau dia akan mentraktir Vivian makan untuk menebus semua
kesalahan yang sudah Faro lakukan padanya. Meski semua yang Faro lakukan hanya
demi kebaikan Vivian semata. Namun begitulah wanita. Selalu beranggapan kalau
mereka selalu benar dan tidak pernah salah.
Faro memesankan nasi goreng seafood dua porsi. Satu untuk
Vivian dan yang satu untuk dirinya sendiri. Ditemani dengan segelas jus jeruk
dan jus semangka. Beberapa menit berlalu akhirnya apa yang telah dipesan datang
juga. Faro tahu kalau Vivian sangat suka menu nasi goreng. Jadi dia
berinisiatif untuk mengajak Vivian makan di restoran itu.
Vivian ragu untuk memakan hidangan yang ada di depannya
sekarang. Mengingat terakhir kali dia makan masakan laut dan berakhir di rumah
sakit karena alerginya yang parah.
“Kenapa.? Kamu nggak suka sama makanannya. Gimana kalau pesan
yang lain saja.?” Tanya Faro dengan nasi penuh dalam mulutnya.
“Nggak usah kak. Aku suka kok. Cuma porsinya saja yang
kebanyakan.” Ucap Vivian ragu. Vivian tidak enak hati mengatakan kalau dia
punya riwayat alergi terhadap makanan laut.
“Ya udah. Kalau nggak habis juga nggak masalah. Makan.!!”
Sahut Faro.
“Iya kak.” Ucap Vivian. Vivian dengan terpaksa memakan nasi
goreng seafood itu. Meski dalam hati menolak namun Vivian tidak menunjukkannya.
Dia tetap memakan makanan itu. Pada suapan ke lima akhirnya
Vivian menyerah dan merasa sangat mual dan pusing. Mukanya berubah menjadi
merah padam. Dan berakhir dengan batuk sejadi-jadinya dan tidak kunjung
berhenti.
Faro segera mennyeruput jus semangka miliknya dan menyudahi
makannya.
“kamu kenapa Vivian.?” Faro memegang bahu Vivian yang masih
juga batuk. Faro sangat panik dan segera mendekati adiknya.
Faro menepuk-nepuk punggung Vivian pelan. Berharap Vivian akan berhenti batuk. Namun semua di luar dugaannya, Vivian masih juga batuk. Hingga sekarang muka Vivian berubah menjadi pucat.
Faro semakin panik dan segera membayar tagihan di meja kasir. Lalu bergegas menghampiri Vivian dan membawanya pergi ke rumah sakit terdekat. Alergi Vivian memang terbilang sangat parah dari alergi pada biasanya.
Faro membawa Vivian ke ruang UGD agar segera di tangani oleh dokter. Setelah selesai di periksa dokter pun segera menemui Faro dan menjelaskan semuanya.
"Keluarga pasien atas nama Vivian." Teriak salah satu perawat yang bekerja disana. Faro segera menghampiri perawat tersebut. Faro diminta agar menemui dokter di ruangannya.
Faro masuk ke ruangan domter dan meminta penjelasan tentang apa yang sudah terjadi pada adiknya hingga sampai seperti itu.
"Apa hubungan anda dengan pasien.?" Tanya dokter.
"Saya kakaknya dok. Apa yang sebenarnya terjadi pada adik saya.?" Faro bertanya balik.
"Apa anda tidak tahu kalau adik anda punya riwayat alergi.?" Ujar dokter.
"Alergi.?" Faro sedikit berteriak karena terkejut.
"Anda tidak tahu.? Alergi yang diderita pasien kali ini terbilang cukup parah. Biasanya mereka yang menderita penyakit ini hanya akan mengalami ruam merah atau gatal-gatal. Tapi ini kasus yang sangat berbeda. Pasien mengalami reaksi yang di luar dugaan kami." Jelas dokter.
"Maksud dokter apa.?" Seru Faro.
Dokter menjelaskan kalau alergi Vivian termasuk dalam kategori alergi tingkat akut. Faro terkulai lemah mendengar semua itu. Dia menyalahkan dirinya sendiri dengan apa yang sudah terjadi pada Vivian. Sesal yang mendalam dia rasakan. Terasa begitu menyakitkan hingga seperti melukai hatinya sendiri.