Point Of Love

Point Of Love
Alergi Makanan Laut



Vivian begegas keluar gedung sekolah menuju pintu gerbang.


Berharap Dafa tidak berlari mengejarnya. Vivian sampai di pintu gerbang sekolah


dengan nafas terengah-engah. Melihat ke sekeliling dengan pandangan sedikit


kabur karena terik sinar matahari yang menyengat. Vivian mengelap peluh yang


mengalir di dahinya.


Faro menghampiri Vivian yang tengah berdiri di dekat pintu


gerbang. Menatap Vivian sambil tersenyum tipis.


"Ayo pulang." Sapa Faro. Namun Vivian tidak


merespon.


"Kamu kenapa.?" Ucap Faro sedikit mendekat namun


Vivian juga ikut menghindar.


"Capek.? Laper.? Atau marah sama kakak.?" Ujar


Faro. Vivian hanya menatap Faro penuh dengan amarah dan sesal.


"Dek jangan gitu.!! Serem tahu." Goda Faro.


"Vivian nggak mau ngomong sama kak Faro." Seru Vivian


sambil membuang muka.


"Marah nie.?" Ucap Faro membuat Vivian semakin


memanyunkan bibirnya.


"Udah dong marahnya.!! Nggak enak dilihat orang. Kakak


traktir deh. Asal kamu nggak marah lagi sama kakak." Ucap Faro swdikit


memohon.


Baru kali ini Vivian melihat sosok Faro yang berbeda dari


biasanya. Lebih tenang dan hangat. Vivian merasa seperti memiliki kakak kandung


sendiri. Walau kenyataannya dia hanya kakak tiri Vivian.


Saat Vivian masih marah dan Faro masih mencoba untuk


membujuknya. Dafa dan Dion muncul dari arah belakang Vivian.


Faro segera bersikap biasa dan mengajak Vivian untuk menjauh


dari kedua lelaki tersebut. Faro sangat menjaga jarak dari mereka. Vivian hanya


bisa menuruti dan mengikuti langkah Faro menuju motornya.


"Siapa cowok yang sama Vivian barusan.?" Tanya


Dion.


"Dia kakaknya. Tapi over protektif banget sama Vivian.


Aku yakin dia juga yang menyuruh Vivian untuk keluar dari ekskul musik."


Seru Dafa gusar.


"Masak sih.?" Ujar Dion.


"Kamu nggak tahu saja bagaimana si Faro itu. Dia begitu


posesif sama Vivian. Bahkan dia tidak akan membiarkan satu makhluk pun untuk


mendekatinya. Meski itu hanya partikel terkecil di dunia ini." Seru Dafa


penuh dengan amarah.


"Kenapa kamu marah Daf.?"


"Habisnya aku kesel. Nggak ada angin nggak ada hujan


tiba-tiba Vivian memutuskan untuk keluar dari group gitu aja. Itu pun tanpa


pemberitahuan sebelumnya. Gimana aku nggak kesel coba.?" Sahut Dafa


berapi-api.


"Sabar. Orang sabar disayang Tuhan. Mungkin Vivian punya


alasan sendiri tanpa harus memberitahukan hal itu kepada orang lain. Kamu juga


harus memikirkan posisi dan perasaan Vivian saat ini. Kamu kan tahu sendiri dia


telah mengalami hal yang tidak menyenangkan. Bullying bukan sesuatu hal yang


sepele. Hal itu juga bisa mempengaruhi kesehatan fisik dan psikisnya juga.


Bahkan ada yang harus terapi setelah mereka mengalami bullying di


sekolah." Jelas Dion panjang lebar pada Dafa.


"Astaga. Apa yang sudah aku lakukan. Kenapa aku tidak


berfikir sampai sejauh ini. Kamu benar Dion mungkin Vivian memang butuh waktu


untuk sendiri dan memulihkan dirinya. Dafa bodoh. Kenapa aku malah menyalahkan


Faro dengan alasan melarangnya. Pasti sekarang Vivian sangat membenciku karena


perkataanku tadi yang sudah menjelekkan kakaknya.” Ucap Dafa penuh sesal.


“Apa kamu tahu kenapa Berlian dan teman-temannya melakukan


hal itu kepada Vivian.?” Tanya Dion dengan nada serius.


“Iya. Berlian dan teman-temannya beranggapan kalau Vivian


mencoba menggoda kamu agar bisa bergabung dalam klub music milikmu. Yang aku


dengar juga, Berlian mengancam Vivian hingga Vivian ketakutan dan pingsan di


kamar mandi.” Ujar Dion.


“Kenapa mereka tega melakukan semua itu pada Vivian. Padahal


kan kamu juga tahu sendiri kalau aku sendiri lah yang merekrut Vivian agar mau


bergabung dalam ekskul music yang ku pimpin. Dengan susah payah akhirnya Vivian


mau ikut bergabung. Dan sekarang dengan mudah dia keluar.” Ucap Dafa penuh


sesal.


“Ya udah. Besok kamu minta maaf saja sama Vivian. Beres


kan.?” Sahut Dion.


“Apa Vivian mau maafin aku ya.?” Tanya Dafa ragu.


“Kalau itu difikirkan besok saja ya.!! Sekarang kita pulang


dulu. Oke.!!” Seru Dion sambil merangkul bahu Dafa dan mengajaknya pulang.


Vivian dan Faro berhenti di sebuah restoran. Seperti yang


sudah Faro janjikan kalau dia akan mentraktir Vivian makan untuk menebus semua


kesalahan yang sudah Faro lakukan padanya. Meski semua yang Faro lakukan hanya


demi kebaikan Vivian semata. Namun begitulah wanita. Selalu beranggapan kalau


mereka selalu benar dan tidak pernah salah.


Faro memesankan nasi goreng seafood dua porsi. Satu untuk


Vivian dan yang satu untuk dirinya sendiri. Ditemani dengan segelas jus jeruk


dan jus semangka. Beberapa menit berlalu akhirnya apa yang telah dipesan datang


juga. Faro tahu kalau Vivian sangat suka menu nasi goreng. Jadi dia


berinisiatif untuk mengajak Vivian makan di restoran itu.


Vivian ragu untuk memakan hidangan yang ada di depannya


sekarang. Mengingat terakhir kali dia makan masakan laut dan berakhir di rumah


sakit karena alerginya yang parah.


“Kenapa.? Kamu nggak suka sama makanannya. Gimana kalau pesan


yang lain saja.?” Tanya Faro dengan nasi penuh dalam mulutnya.


“Nggak usah kak. Aku suka kok. Cuma porsinya saja yang


kebanyakan.” Ucap Vivian ragu. Vivian tidak enak hati mengatakan kalau dia


punya riwayat alergi terhadap makanan laut.


“Ya udah. Kalau nggak habis juga nggak masalah. Makan.!!”


Sahut Faro.


“Iya kak.” Ucap Vivian. Vivian dengan terpaksa memakan nasi


goreng seafood itu. Meski dalam hati menolak namun Vivian tidak menunjukkannya.


Dia tetap memakan makanan itu. Pada suapan ke lima akhirnya


Vivian menyerah dan merasa sangat mual dan pusing. Mukanya berubah menjadi


merah padam. Dan berakhir dengan batuk sejadi-jadinya dan tidak kunjung


berhenti.


Faro segera mennyeruput jus semangka miliknya dan menyudahi


makannya.


“kamu kenapa Vivian.?” Faro memegang bahu Vivian yang masih


juga batuk. Faro sangat panik dan segera mendekati adiknya.


Faro menepuk-nepuk punggung Vivian pelan. Berharap Vivian akan berhenti batuk. Namun semua di luar dugaannya, Vivian masih juga batuk. Hingga sekarang muka Vivian berubah menjadi pucat.


Faro semakin panik dan segera membayar tagihan di meja kasir. Lalu bergegas menghampiri Vivian dan membawanya pergi ke rumah sakit terdekat. Alergi Vivian memang terbilang sangat parah dari alergi pada biasanya.


Faro membawa Vivian ke ruang UGD agar segera di tangani oleh dokter. Setelah selesai di periksa dokter pun segera menemui Faro dan menjelaskan semuanya.


"Keluarga pasien atas nama Vivian." Teriak salah satu perawat yang bekerja disana. Faro segera menghampiri perawat tersebut. Faro diminta agar menemui dokter di ruangannya.


Faro masuk ke ruangan domter dan meminta penjelasan tentang apa yang sudah terjadi pada adiknya hingga sampai seperti itu.


"Apa hubungan anda dengan pasien.?" Tanya dokter.


"Saya kakaknya dok. Apa yang sebenarnya terjadi pada adik saya.?" Faro bertanya balik.


"Apa anda tidak tahu kalau adik anda punya riwayat alergi.?" Ujar dokter.


"Alergi.?" Faro sedikit berteriak karena terkejut.


"Anda tidak tahu.? Alergi yang diderita pasien kali ini terbilang cukup parah. Biasanya mereka yang menderita penyakit ini hanya akan mengalami ruam merah atau gatal-gatal. Tapi ini kasus yang sangat berbeda. Pasien mengalami reaksi yang di luar dugaan kami." Jelas dokter.


"Maksud dokter apa.?" Seru Faro.


Dokter menjelaskan kalau alergi Vivian termasuk dalam kategori alergi tingkat akut. Faro terkulai lemah mendengar semua itu. Dia menyalahkan dirinya sendiri dengan apa yang sudah terjadi pada Vivian. Sesal yang mendalam dia rasakan. Terasa begitu menyakitkan hingga seperti melukai hatinya sendiri.