Point Of Love

Point Of Love
Ruam Merah



Selagi para personil yang lain membereskan alat music ke atas mobil pengangkut, Vivian sedang duduk bersantai di belakang panggung. Menyantap


sepotong kue kering dengan butiran coklat berwarna-warni di atasnya. Di temani juga dengan segelas jus jeruk. Penampilan mereka telah usai hari ini.


Dafa dan teman-temannya yang lain telah selesai denganpekerjaannya. Dafa menyuruh mereka untuk pulang terlebih dahulu.


Dafa mencari keberadaan Vivian yang masih berada di belakang panggung. Dafa menatap Vivian dari kejauhan sambil tersenyum. Dafa segera berjalan menghampiri Vivian.


“Bagi dong kue nya.” Ujar Dafa sambil duduk di samping Vivian.


“Ambil saja kak. Gratis.” Kata


Vivian lalu menyeruput jus jeruk miliknya.


Dafa mengeluarkan amplop putih dari


saku kemeja yang dia kenakan. Menyerahkan amplop itu kepada Vivian.


“Nih ambil. Gratis juga.” Ujar Dafa


sambil tersenyum.


“Ini apa kak.?” Tanya Vivian tidak


mengerti.


“Ini bonus buat kamu. Karena


penampilan pertama kamu yang terbilang sukses. Ya walaupun tadi sedikit grogi tapi tidak terlalu buruk juga. Nih ambil.!!” Seru Dafa yang masih menyodorkan amplop di tangannya.


“Nggak usah kak. Aku jadi nggak


enak sendiri.” Sahut Vivian ragu dan mendorong pelan tangan Dafa.


“Nggak baik loh kalau kamu tolak.


Itu namanya kamu menolak rejeki.” Seru Dafa.


“Tapi kak.” Vivian masih melum


menyelesaikan kalimatnya namun Dafa telah menaruh amplop itu di tangannya.


“Di setiap kita tampil, kita pasti


akan mendapatkan tip. Dan ini adalah bagian kamu.” Ucap Dafa.


“Kak Dafa. Sebenarnya aku ingin


kakak menyimpankan uang milikku. Aku nggak mau kalau aku harus menyimpan uang


ini sendiri. Apalagi sampai aku bawa pulang.” Perkataan vivian membuat Dafa


mengerutkan dahi tidak mengerti.


“Maksud kamu apa Vivian.?” Tanya


Dafa.


“Sebenarnya keluargaku tidak tahu menahu kalau aku ikut bergabung dalam band ini. Kalau mereka sampai tahu mungkin mereka akan marah dan tidak akan mengizinkan aku untuk tampil lagi


bersama kalian.” Kata Vivian sedikit ragu untuk menceritakan keadaan


keluarganya saat ini.


“Vivian. Ini kan kegiatan yang


positif. Seharusnya keluarga bisa mengerti dan mendukungmu. Apa kamu perlu


bantuanku untuk menjelaskan semuanya kepada mereka.?” Ujar Dafa.


“Ja-jangan kak.” Seru Vivian


langsung menggelengkan kepala menolak.


“Lalu.?”


“Kakak simpan dulu amplop ini untukku. Kalau suatu saat aku membutuhkannya, aku akan meminta amplop itu.” Seru Vivian lalu menggigit bibir bagian bawah miliknya.


“Oke. Kalau nggak gini aja. Besok


pulang sekolah kamu ikut aku.” Ucap Dafa.


“Kemana.?”


“Tenang. Besok juga kamu tahu.”


Jawab Dafa menyudahi perbincangan mereka.


Dafa mengajak Vivian untuk segera


pulang karena hari sudah mulai sore. Dafa tidak ingin Vivian di marahi oleh


kedua orang tuanya karena kesorean.


Dalam perjalanan Dafa maupun Vivian


tidak banyak bicara. Dafa tidak ingin banyak bertanya tentang keluarga Vivian


yang melarangnya untuk mengembangkan salah satu bakat yang dia miliki. Dalam


hati Dafa rasa penasaran semakin menjadi-jadi, namun otaknya tetap berfikir


logis. Tidak seharusnya dia mencampuri urusan orang lain. Dan hanya diam yang


bisa dia lakukan saat ini.


Sedangkan Vivian masih penasaran


dengan ajakan Dafa besok usai pulang sekolah.


Apa yang Dafa rencanakan.? Dan apa maksud dari perkataannya tadi. Ujar


Vivian dalam hati.


Tanpa Vivian sadari mereka telah


sampai di depan rumah Vivian. Dafa menggerakkan bahunya sedikit. Vivian segera


terbangun dari lamunannya dan segera turun dari motor.


“Terima kasih ya kak.” Ucap Vivian


sambil tersenyum.


“You are welcome. Aku pulang dulu


ya.” Sahut Dafa.


Vivian hanya mengangguk sambil


melambaikan tangan. Dafa meninggalkan Vivian yang masih belum beranjak dari


tempatnya berdiri. Dan saat Vivian membalikkan badan.


“Astagfirullohal adzim.” Teriak


Faro telah berdiri tepat di


belakang Vivian dengan tatapan yang menyeramkan.


“Kamu hobi banget bikin orang


jantungan.” Gerutu Vivian kesal.


“Dari mana kamu.? Jam segini baru


pulang.? Terus tadi siapa yang nganter kamu.?” Pertanyaan Faro meletus seperti


petasan yang baru saja dinyalakan.


Vivian hanya melangkahkan kaki


dengan malas tanpa membuka mulutnya. Faro semakin kesal dengan sikap Vivian


yang selalu dingin terhadapnya.


“Woi. Kamu bisu ya.? Atau tuli.?”


Seru Faro dengan nada mengejek.


Vivian hanya bisa menghela nafas


dan terus berjalan tanpa mempedulikan ocehan dari lelaki yang menyebalkan


menurutnya.


Saat Vivian hendak membuka pintu


kamarnya. Tiba-tiba Faro menarik salah satu tangan Vivian dengan kasar.


“Au. Sakit. Lepaskan.!!” Seru


Vivian sambil meringis kesakitan karena cengkraman tangan Faro yang begitu keras.


“Kalau sudah seperti ini. Baru kamu


membuka mulut. Hah.?” Gertak Faro dengan keras. Membuat Vivian melotot ke muka


Faro yang begitu beringas.


“Apa mau kamu.?” Sentak Vivian


tidak mau kalah. Faro tersenyum sinis.


“Aku mau kamu bersikap baik sama


aku. Dan panggil aku mas Faro.” Ucap Faro dengan lugasnya.


“Hahahaha.” Vivian tertawa


sejadi-jadinya.


Muka Faro semakin merah padam


dengan sikap Vivian kali ini.


“Diam.!!”


“Maaf-maaf kelepasan barusan.” Ucap


Vivian yang masih menyisakan sedikit tawa di sela-sela ucapannya.


“Oke. Aku nggak akan tertawa lagi.


Tapi lepas dulu ini. Sakit.” Vivian melepaskan genggaman tangan Faro dengan


tangannya yang lain. Faro merenggangkan genggamannya dan Nampak jelas ruam


merah pada pergelangan tangan Vivian.


Vivian menghela nafas dan menatap


Faro.


“Mulai sekarang aku akan panggil


kamuu..” Kalimat Vivian menggantung. Faro sangat antusias untuk mendengarkan


kelanjutan dari ucapan Vivian.


“KECEBONG”


Vivian segera masuk ke dalam


kamarnya dan menutup pintu tersebut dengan sangat keras. Hingga saat Faro


hendak masuk hidung dan juga dahinya kepentok pintu yang sengaja Vivian banting


sekeras mungkin.


“Cewek sialan.!!” Teriak Faro


dengan bringas sambil menendang-nendang pintu kamar Vivian. Namun pintu itu


masih kokoh dan tidak mau terbuka.


Vivian bersandar pada pintu kamar


sambil memegang dadanya yang berdegup kencang. Entah Vivian dapat semua


keberanian itu dari mana. Semua di luar kendali dirinya sendiri.


“Sampai kapanpun aku tidak akan


pernah memanggilmu dengan sebutan itu. Dasar KECEBONG.!!” Ucap Vivian setengah


teriak dari balik pintu kamarnya.


Faro meninggalkan kamar Vivian


dengan segala kemarahan. Muka yang merah padam tidak dapat dia bending lagi.


Bapak Vivian dan ibunya sedang


keluar. Makanya dengan berani Faro bersikap kasar kepada Vivian. Keinginan Faro


untuk menguasai seluruh rumah beserta isi dan penghuninya begitu kuat. Hingga tanpa


dia sadari dia telah melukai Vivian dengan ruam akibat cengkraman tangannya


yang begitu keras padanya.


Vivian mengatur nafas untuk


mengendalikan emosinya. Mengelus pergelangan tangannya yang sakit dan Nampak merah.


Vivian tidak ingin orang lain mengetahui pertengkarannya dengan Faro. Dia pun


memutuskan untuk membalut ruam merah itu dengan kain kasa dan mengikatnya.