
Selagi para personil yang lain membereskan alat music ke atas mobil pengangkut, Vivian sedang duduk bersantai di belakang panggung. Menyantap
sepotong kue kering dengan butiran coklat berwarna-warni di atasnya. Di temani juga dengan segelas jus jeruk. Penampilan mereka telah usai hari ini.
Dafa dan teman-temannya yang lain telah selesai denganpekerjaannya. Dafa menyuruh mereka untuk pulang terlebih dahulu.
Dafa mencari keberadaan Vivian yang masih berada di belakang panggung. Dafa menatap Vivian dari kejauhan sambil tersenyum. Dafa segera berjalan menghampiri Vivian.
“Bagi dong kue nya.” Ujar Dafa sambil duduk di samping Vivian.
“Ambil saja kak. Gratis.” Kata
Vivian lalu menyeruput jus jeruk miliknya.
Dafa mengeluarkan amplop putih dari
saku kemeja yang dia kenakan. Menyerahkan amplop itu kepada Vivian.
“Nih ambil. Gratis juga.” Ujar Dafa
sambil tersenyum.
“Ini apa kak.?” Tanya Vivian tidak
mengerti.
“Ini bonus buat kamu. Karena
penampilan pertama kamu yang terbilang sukses. Ya walaupun tadi sedikit grogi tapi tidak terlalu buruk juga. Nih ambil.!!” Seru Dafa yang masih menyodorkan amplop di tangannya.
“Nggak usah kak. Aku jadi nggak
enak sendiri.” Sahut Vivian ragu dan mendorong pelan tangan Dafa.
“Nggak baik loh kalau kamu tolak.
Itu namanya kamu menolak rejeki.” Seru Dafa.
“Tapi kak.” Vivian masih melum
menyelesaikan kalimatnya namun Dafa telah menaruh amplop itu di tangannya.
“Di setiap kita tampil, kita pasti
akan mendapatkan tip. Dan ini adalah bagian kamu.” Ucap Dafa.
“Kak Dafa. Sebenarnya aku ingin
kakak menyimpankan uang milikku. Aku nggak mau kalau aku harus menyimpan uang
ini sendiri. Apalagi sampai aku bawa pulang.” Perkataan vivian membuat Dafa
mengerutkan dahi tidak mengerti.
“Maksud kamu apa Vivian.?” Tanya
Dafa.
“Sebenarnya keluargaku tidak tahu menahu kalau aku ikut bergabung dalam band ini. Kalau mereka sampai tahu mungkin mereka akan marah dan tidak akan mengizinkan aku untuk tampil lagi
bersama kalian.” Kata Vivian sedikit ragu untuk menceritakan keadaan
keluarganya saat ini.
“Vivian. Ini kan kegiatan yang
positif. Seharusnya keluarga bisa mengerti dan mendukungmu. Apa kamu perlu
bantuanku untuk menjelaskan semuanya kepada mereka.?” Ujar Dafa.
“Ja-jangan kak.” Seru Vivian
langsung menggelengkan kepala menolak.
“Lalu.?”
“Kakak simpan dulu amplop ini untukku. Kalau suatu saat aku membutuhkannya, aku akan meminta amplop itu.” Seru Vivian lalu menggigit bibir bagian bawah miliknya.
“Oke. Kalau nggak gini aja. Besok
pulang sekolah kamu ikut aku.” Ucap Dafa.
“Kemana.?”
“Tenang. Besok juga kamu tahu.”
Jawab Dafa menyudahi perbincangan mereka.
Dafa mengajak Vivian untuk segera
pulang karena hari sudah mulai sore. Dafa tidak ingin Vivian di marahi oleh
kedua orang tuanya karena kesorean.
Dalam perjalanan Dafa maupun Vivian
tidak banyak bicara. Dafa tidak ingin banyak bertanya tentang keluarga Vivian
yang melarangnya untuk mengembangkan salah satu bakat yang dia miliki. Dalam
hati Dafa rasa penasaran semakin menjadi-jadi, namun otaknya tetap berfikir
logis. Tidak seharusnya dia mencampuri urusan orang lain. Dan hanya diam yang
bisa dia lakukan saat ini.
Sedangkan Vivian masih penasaran
dengan ajakan Dafa besok usai pulang sekolah.
Apa yang Dafa rencanakan.? Dan apa maksud dari perkataannya tadi. Ujar
Vivian dalam hati.
Tanpa Vivian sadari mereka telah
sampai di depan rumah Vivian. Dafa menggerakkan bahunya sedikit. Vivian segera
terbangun dari lamunannya dan segera turun dari motor.
“Terima kasih ya kak.” Ucap Vivian
sambil tersenyum.
“You are welcome. Aku pulang dulu
ya.” Sahut Dafa.
Vivian hanya mengangguk sambil
melambaikan tangan. Dafa meninggalkan Vivian yang masih belum beranjak dari
tempatnya berdiri. Dan saat Vivian membalikkan badan.
“Astagfirullohal adzim.” Teriak
Faro telah berdiri tepat di
belakang Vivian dengan tatapan yang menyeramkan.
“Kamu hobi banget bikin orang
jantungan.” Gerutu Vivian kesal.
“Dari mana kamu.? Jam segini baru
pulang.? Terus tadi siapa yang nganter kamu.?” Pertanyaan Faro meletus seperti
petasan yang baru saja dinyalakan.
Vivian hanya melangkahkan kaki
dengan malas tanpa membuka mulutnya. Faro semakin kesal dengan sikap Vivian
yang selalu dingin terhadapnya.
“Woi. Kamu bisu ya.? Atau tuli.?”
Seru Faro dengan nada mengejek.
Vivian hanya bisa menghela nafas
dan terus berjalan tanpa mempedulikan ocehan dari lelaki yang menyebalkan
menurutnya.
Saat Vivian hendak membuka pintu
kamarnya. Tiba-tiba Faro menarik salah satu tangan Vivian dengan kasar.
“Au. Sakit. Lepaskan.!!” Seru
Vivian sambil meringis kesakitan karena cengkraman tangan Faro yang begitu keras.
“Kalau sudah seperti ini. Baru kamu
membuka mulut. Hah.?” Gertak Faro dengan keras. Membuat Vivian melotot ke muka
Faro yang begitu beringas.
“Apa mau kamu.?” Sentak Vivian
tidak mau kalah. Faro tersenyum sinis.
“Aku mau kamu bersikap baik sama
aku. Dan panggil aku mas Faro.” Ucap Faro dengan lugasnya.
“Hahahaha.” Vivian tertawa
sejadi-jadinya.
Muka Faro semakin merah padam
dengan sikap Vivian kali ini.
“Diam.!!”
“Maaf-maaf kelepasan barusan.” Ucap
Vivian yang masih menyisakan sedikit tawa di sela-sela ucapannya.
“Oke. Aku nggak akan tertawa lagi.
Tapi lepas dulu ini. Sakit.” Vivian melepaskan genggaman tangan Faro dengan
tangannya yang lain. Faro merenggangkan genggamannya dan Nampak jelas ruam
merah pada pergelangan tangan Vivian.
Vivian menghela nafas dan menatap
Faro.
“Mulai sekarang aku akan panggil
kamuu..” Kalimat Vivian menggantung. Faro sangat antusias untuk mendengarkan
kelanjutan dari ucapan Vivian.
“KECEBONG”
Vivian segera masuk ke dalam
kamarnya dan menutup pintu tersebut dengan sangat keras. Hingga saat Faro
hendak masuk hidung dan juga dahinya kepentok pintu yang sengaja Vivian banting
sekeras mungkin.
“Cewek sialan.!!” Teriak Faro
dengan bringas sambil menendang-nendang pintu kamar Vivian. Namun pintu itu
masih kokoh dan tidak mau terbuka.
Vivian bersandar pada pintu kamar
sambil memegang dadanya yang berdegup kencang. Entah Vivian dapat semua
keberanian itu dari mana. Semua di luar kendali dirinya sendiri.
“Sampai kapanpun aku tidak akan
pernah memanggilmu dengan sebutan itu. Dasar KECEBONG.!!” Ucap Vivian setengah
teriak dari balik pintu kamarnya.
Faro meninggalkan kamar Vivian
dengan segala kemarahan. Muka yang merah padam tidak dapat dia bending lagi.
Bapak Vivian dan ibunya sedang
keluar. Makanya dengan berani Faro bersikap kasar kepada Vivian. Keinginan Faro
untuk menguasai seluruh rumah beserta isi dan penghuninya begitu kuat. Hingga tanpa
dia sadari dia telah melukai Vivian dengan ruam akibat cengkraman tangannya
yang begitu keras padanya.
Vivian mengatur nafas untuk
mengendalikan emosinya. Mengelus pergelangan tangannya yang sakit dan Nampak merah.
Vivian tidak ingin orang lain mengetahui pertengkarannya dengan Faro. Dia pun
memutuskan untuk membalut ruam merah itu dengan kain kasa dan mengikatnya.