Point Of Love

Point Of Love
Mau Pulang Bareng Nggak.?



Vivian kembali ke kelas dengan perasaan yang bercampur aduk sambil memegang jus jeruk di tangannya. Selepas menaiki tangga tanpa sengaja perpapasan dengan Berlian and the gank.


"Kak." Sapa Vivian canggung.


Berlian hanya melirik tidak senang dengan keberadaan Vivian di dekatnya. Mereka segera pergi tanpa menghiraukan sapaan dan kehadiranVivian.


Vivian tersenyum getir dan menghela nafas sejenak. Melanjutkan langkah kakinya menuju kelas.


Di depan pintu kelas Vivian, Dafa sedang berdiri menunggu kedatangannya.


"Kak Dafa." Sapa Vivian sedikit heran.


"Hai Vi. Kamu dari mana.?"


"Nih." Vivian menunjukkan jus jeruk yang hampir habis.


"Boleh bicara sebentar?"


Vivian hanya mengangguk. Dafa mengajak Vivian untuk duduk di kursi yang berada di depan kelas.


"Kali ini aku mau minta tolong sama kamu. Boleh.?"


"Boleh. Kak Dafa mau minta tolong apa.?"


"Sebelumnya aku mau minta maaf sama kamu. Mungkin ini sedikit menyinggung prifasimu. Aku tahu kamu sudah tidak ada kepentingan lagi dengan ekskul musik sekolah. Namun kali ini aku benar-benar membutuhkan bantuanmu Vivian." Ujar Dafa sedikit memohon.


"Tapi kak. Aku." Ucap Vivian ragu. Dafa langsung menyela ucapan Vivian.


"Aku tidak minta jawabannya sekarang. Aku akan menunggu jawabanmu besok lusa. Oke.?" Ujar Dafa sambil bergegas meninggalkan Vivian yang masih duduk di depan kelas.


Vivian memilih meminum es jeruknya sampai habis. Memasukkan gelas plastik bersama sedotan ke dalam tempat sampah yang berada tak jauh dari tempat duduknya sekarang. Vivian masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya.


Bel pembelajaran terakhir berbunyi. Semua siswa sangat antusias untuk segera pulang. Vivian membereskan semua alat tulis dan buku pelajaran. Memasukkannya ke dalam tas dengan sangat malas. Menenteng tas itu dan segera keluar kelas bersama dengan teman-temannya.


Berjalan dengan sangat malas dan lesu menuju pintu gerbang. Melihat ke sekeliling dengan harapan ada angkutan umum yang parkir di seberang jalan.


"Pulang sama siapa.?"


Vivian menoleh sambil mengerutkan dahi. Menatap seorang lelaki yang sedang tersenyum simpul padanya.


"Naik angkot." Sahut Vivian cuek.


"Jutek banget jadi cewek." Ujar Rino.


"Kak Rino ngapain sih.? Aku sudah cukup pusing ya sama adik kak Rino. Jangan sampai kakaknya juga ikutan buat kepalaku pusing." Seru Vivian kesal.


"Adik.? Siapa.? Si cumut.?"


"Ya iyalah. Siapa lagi coba adik kak Rino yang satu sekolah sama aku." Ujar Vivian geram.


"Kalian berantem.?"


"Tau ah. Bawel."


"Itu kan masalah kamu sama si cumut. Harusnya nggak ada hubungannya denganku dong." Ujar Rino membela diri.


"Terserah."


"Vivian." Sapa Dion yang sudah ada di antara keduanya.


"Iya." Jawab Vivian yang sedikit terkejut dengan kehadiran Dion.


"Mau pulang bareng nggak.?" Tanya Dion.


"Enak aja. Vivian pulang bareng sama aku." Sahut Rino tiba-tiba.


"Iya kan Vivian.?" Tanya Rino.


"Kak Rino nggak bilang gitu tadi." Sahut Vivian dengan polosnya.


Rino tersenyum nyengir. Menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


Jasmine tiba-tiba berjalan di dekat mereka dan tak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Hati Jasmine semakin sakit melihat dengan mata kepalanya sendiri. Bahwa tidak dapat di pungkiri lagi sekarang Dion lebih memilih dekat dengan Vivian di bandingkan dengan dirinya. Saat Jasmine melintas Vivian langsung menyapanya tapi semua tidak berguna sama sekali. Jasmine berlalu meninggalkan Vivian, Rino dan juga Dion.


"Aku kan sudah bilang tadi." Sahut Vivian.


Rino menatap Dion dan Vivian bergantian. Seperti telah menemukan sesuatu dalam otaknya.


"Sepertinya aku tahu kenapa Cumut marah sama kamu." Ujar Rino sambil menganggukkan kepala.


"Maksud kak Rino.?" Tanya Vivian tak mengerti.


Rino tidak menjawab pertanyaan Vivian padanya. Dia segera pergi meninggalkan Vivian dan Dion disana. Menyusul Jasmine di parkiran mobil yang sudah lebih dulu sampai disana. Vivian semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


"Gimana.?" Ucapan Dion membubarkan lamunan Vivian terhadap Jasmine dan Rino.


"Gimana apanya kak.?" Ucap Vivian tidak fokus.


"Kamu mau kan pulang bareng sama aku."


Vivian tersenyum sambil memperhatikan ke sekeliling. Namun tidak ada satu pun angkutan yang lewat disana.


"Boleh deh." Ucap Vivian dengan terpaksa.


Rasa puas dan kegembiraan tak dapat Dion tutupi lagi. Semua tergambar jelas di raut mukanya sekarang. Namun tiba-tiba.


"Mau kemana kamu." Seru Faro.


"Kak Faro." Ucap Vivian senang seperti mendapat durian runtuh.


Mendingan pulang sama kak Faro. Dari pada harus pulang sama idola sekolah kayak kak Dion. Bisa-bisa satu sekolah jadi bomerang buat aku. Ucap Vivian dalam hati.


"Maaf ya kak Dion. Aku sudah di jemput nih. Lain kali mungkin." Ujar Vivian.


Dion hanya bisa tersenyum getir melihat Vivian berlalu di bonceng oleh Faro. Dafa muncul dari belakang Dion bersama Diandra. Dafa merangkul bahu Dion dari samping sambil tertawa kecil.


"Tenang bro. Lambat laun dia juga akan jatuh ke pelukanmu. Cewek mana sih yang bisa menolak pesona seorang Dion." Ucap Diandra.


"Betul banget. Cewek kayak Vivian itu memang pantas untuk di perjuangkan. Aku dengan senang hati akan terus dukung apapun keputusanmu." Ujar Dafa.


"Apaan sih.? Bukannya kamu juga suka sama dia.? Sok-sokan dukung lagi." Sahut Dion.


"Siapa bilang aku suka sama dia. Aku itu cuma kagum. Rasa kagum dan perasaan suka sama seseorang itu sesuatu yang berbeda jauh." Ucap Dafa tersenyum simpul.


"Oh iya. Faro itu siapa sih.? Kenapa dia selalu saja mengganggu kedekatanku dengan Vivian.?"


"Ya ampun Dion. Aku kan sudah pernah cerita sama kamu. Dia itu kakak tirinya Vivian. Memangnya kenapa.?" Ujar Dafa.


"Tapi kenapa ya. Aku merasa kalau Faro itu terlalu protektif sama Vivian. Padahal kan mereka cuma saudara tiri. Jangan-jangan Faro suka lagi sama Vivian." Tuduh Dion tanpa bukti.


"Masuk akal juga sih. Secara dari segi fisik Vivian lumayan juga." Seru Dafa.


"Nggak tahu. Yuk pulang." Diandra merangkul bahu Dion dan mengajaknya berjalan menuju parkiran.


Vivian memegang ujung jaket Faro dengan sangat erat. Vivian merasakan suasana yang sangat dingin pada diri Faro. Vivian mengumpulkan keberanian untuk bertanya pada Faro.


"Kak Faro kenapa.?" Tanya Vivian ragu.


"Nggak apa-apa." Sahut Faro sedikit kesal.


Vivian tidak berani untuk bertanya lagi. Vivian merasa kalau suasana hati Faro sekarang sedang tidak baik. Dia memilih untuk diam sampai mereka sampai di parkiran samping cafe milik Faro.


"Kenapa kita kesini.?" Tanya Vivian.


"Ada yang harus aku kerjakan." Sahut Faro cuek sambil melepas helm.


"Kak. Kak Faro." Rengek Vivian.


"Hmm." Faro hanya bergumam.


"Kak Faro kenapa sih.? Dari tadi kayak gitu terus.?" Ujar Vivian mulai kesal. Namun Faro masih saja tetap diam.


"Aku mau pulang ke rumah sekarang." Seru Vivian kesal.


Faro menarik tangan Vivian masuk ke dalam cafe. Faro tidak mempedulikan Vivian yang meronta-ronta minta Faro melepaskan tangannya. Cengkraman tangan Faro yang begitu kuat membuat pergelangan tangan Vivian terasa sakit dan memerah.