Point Of Love

Point Of Love
Kepergok Warga



Vivian masuk ke dalam rumah dan segera menutup pintu dengan malas. Berjalan dengan sangat lesu dan melemparkar dirinya di kursi ruang tamu.


"Capek banget." Ujar Vivian menyandarkan kepala sambil memejamkan mata.


"Gara-gara cowok tadi sampai lupa makan. Perutku laper banget." Keluh Vivian penuh kekecewaan. Dan perutnya pun tidak berhenti-henti berbunyi. Tanda protes minta di isi ulang.


Disaat bersamaan pintu depan sedang di ketuk seseorang.


"Siapa.?"


"Buka pintunya.!!" Sahut Faro dari balik pintu.


Vivian dengan malas melangkahkan kakinya yang seakan terasa berat. Membuka pintu dan segera menuju kursi untuk merebahkan dirinya lagi. Faro masuk ke dalam rumah Vivian dengan kantong plastik berisi makanan di tangannya.


"Kamu kenapa.? Lesu banget." Ujar Faro heran melihat tingkah Vivian.


"Laper." Sahut Vivian dengan polosnya.


"Nih makan.!!" Faro menyodorkan bungkus kresek warna putih berisi makanan yang telah merwka pesan di restoran tadi.


"Asyik. Makasih ya kak." Ujar Vivian senang.


Vivian segera masuk ke dalam dan mengambil piring dan sendok. Memindahkan makanan ke piring dan membawanya ke ruang tamu untuk di makan berdua dengan Faro.


Vivian meletakkan piring diatas meja dan mempersilahkan Faro untuk menyantap makanannya. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Vivian untuk menghabiskan makanannya.


Saat Faro meliriknya, Vivian sudah selesai dan meletakkan piring diatas meja sambil tersenyum puas. Faro hanya bisa tersenyum simpul melihat Vivian yang sudah kenyang.


"Kak Faro kenapa .?" Ujar Vivian sedikit aneh melihat Faro yang tersenyum padanya.


"Nggak. Lucu aja lihat ekspresi kamu kayak gitu. Memangnya sudah lapar banget ya.?" Goda Faro sambil menahan tawa.


"Kak Faro nyebelin. Sudah sana pulang.!!" Gerutu Vivian kesal.


"Makanannya saja belum habis. Masak disuruh pulang." Ujar Faro mengelak.


"Makanya cepetan habisin makanannya. Terus pulang sana.!!" Ujar Vivian kesal.


Faro hanya tersenyum tanpa membalas pernyatan Vivian padanya. Menikmati makanan sambil sesekali melirik Vivian yang masih terlihat kesal.


Percakapan dua manusia yang sedang makan santai di ruang tamu mengundang perhatian 3 warga yang sedang melintas. Karena waktu menunjukkan pukul 21.30 malam. Dan di depan rumah Vivian masih terparkir motor milik Faro.


"Assalamualaikum." Ucap salah seorang dari mereka.


"Waalaikumsalam." Sahut Vivian spontanitas.


"Siapa.?" Tanya Faro sebelum memasukkan satu sendok makanan terakhir ke dalam mulutnya.


Vivian hanya berdiri sambil mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu. Berjalan keluar rumah untuk melihat siapa yang tengah mengucapkan salam barusan.


"Selamat malam dik." Sapa mereka dengan sopan.


"Selamat malam pak. Ada apa ya.?" Tanya Vivian sedikit ragu.


"Itu siapa di dalam rumah adik.? Tamu laki-laki apa perempuan.?" Ujar salah seorang dari mereka.


"Oh itu teman kakak saya pak. Namanya kak Faro. Memangnya kenapa ya pak.?"


"Bapak hanya mengingatkan saja. Adik ini kan anak perempuan. Tinggal sendiri lagi disini. Apa baik kalau memasukkan tamu laki-laki malam hari seperti ini.?"


"Kami tidak melakukan hal yang aneh-aneh kok pak. Lagi pula kak Faro hanya membelikan makanan untuk saya. Tidak ada hal lain." Sahut Vivian mengelak.


"Kami paham betul dengan maksud adik. Tapi kami sebagai warga juga tidak ingin hal yang buruk terjadi di kawasan komplek ini. Tidak baik kalau ada dua orang berlawanan jenis berduaan di dalam rumah. Pasti pihak ketiganya adalah syetan."


Deg.!!


Apa yang mereka bilang barusan memang tidak salah. Aku dan kak Faro memang bukan sodara. Tidak benar membiarkan kak Faro lama-lama disini. Dia harus segera pulang.


"Kami harap adik mengerti dengan maksud kami. Kami tidak punya niat buruk apalagi mengintimidasi. Kami hanya ingin mencegah sebelum terlambat."


"Iya pak. Saya paham." Sahut Vivian sambil tertunduk dan merasa bersalah.


Faro yang sudah selesai dengan makanannya segera keluar menghampiri Vivian di depan rumah.


"Ada apa Vivian.?"


"Mas nya islam bukan.?"


"Iya saya islam. Memangnya kenapa.?" Sahut Faro.


"Mas harusnya tahu di dalam islam laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim tidak seharusnya berada dalam satu rumah. Apalagi pada malam hari seperti ini."


"Iya pak. Saya tahu itu. Saya minta maaf kalau hal ini membuat bapak-bapak merasa tidak nyaman. Saya tadi hanya berniat mengantarkan makanan untuk adik teman saya. Karena dia disini tidak punya sanak saudara maka saya membantunya. Sekali lagi saya minta maaf. Saya janji hal ini tidak akan terjadi lagi." Ucap Faro meyakinkan orang-orang itu.


"Ya sudah. Untuk kali ini kami masih mentolerir. Silahkan masnya sekarang pulang.!!"


"Baik pak. Saya akan pergi."


Bapak-bapak yang sedang jadwal jaga malam pun segera pergi meninggalkan Faro dan Vivian.


Faro menatap Vivian dan memegang kedua bahunya.


"Kamu nggak apa-apa.?" Tanya Faro sedikit khawatir.


Vivian hanya diam dan mengangguk pelan. Perlahan Vivian mengangkat kepalanya yang semula menunduk karena merasa bersalah. Menatap Faro yang berada tepat di depannya.


"Maaf ya kak."


"Kenapa kamu minta maaf. Ini bukan salah kamu. Keadaan saja yang kurang tepat." Ujar Faro sambil tersenyum simpul.


"Sudah. Masuk sana.!! Jangan lupa di kunci pintunya. Langsung tidur. Besok kan kamu sekolah." Lanjut Faro.


"Iya kak." Vivian menuruti perintah Faro dan segera masuk ke dalam rumah.


Saat Vivian beranjak pergi masuk ke dalam rumah, Faro tiba-tiba meraih tangan Vivian. Vivian berbalik dan menatap Faro lekat-lekat.


"Ada apa kak.?" Tanya Vivian.


Faro merogoh saku celananya dan memberikan ponsel miliknya kepada Vivian.


"Apa ini kak.?" Tanya Vivian sambil mengerutkan dahi.


"Ponsel kamu kan rusak. Untuk sementara kamu pakai ponsel ini nggak apa-apa kan.?" Ujar Faro.


"Tapi kak. Ini kan ponsel kak Faro. Kalau ponsel kakak sama aku. Terus kak Faro gimana.?" Ujar Vivian.


"Kamu tenang saja. Aku masih punya satu ponsel lagi yang nggak kepakai." Sahut Faro sambil tersenyum. Vivian membalas senyum Faro dan segera masuk ke dalam rumah.


Faro menghela nafas sejenak. Menyalakan motor dan segera pergi melajukan motor melewati jalanan yang terbilang ramai lancar dengan arus kendaraan malam itu.


Faro lebih sering pulang ke Cafe dari pada ke rumahnya sendiri. Semua berawal saat ibu Faro yakni tante Sinta mengetahui tentang perasaan Faro kepada Vivian. Sinta tidak setuju dengan hal itu, bahkan menentang anaknya secara terang-terangan. Dan Faro bukan tipe orang yang suka di kekang. Jadi dia memutuskan tidak pulang ke rumah dan memilih tinggal di Cafe.


Faro berjalan menaiki tangga menuju ruang pribadi miliknya. Membuka pintu dengan sebuah kunci dari dalam saku celananya.


Ceklek.!!


Pintu itu terbuka dan Faro segera masuk ke dalam dan tak lupa mengunci pintu itu kembali. Berjalan mendekati sofa dan duduk bersandar sambil memejamkan mata sejenak.


Fikiran Faro melayang kesana-kemari. Akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Vivian. Kekhawatirannya terhadap Vivian tidak dapat dia tutupi lagi dari raut wajahnya saat ini.


"Hallo Vivian."


"Iya kak. Ada apa.?" Sahut Vivian dari balik telepon dengan suara sedikit serak.


"Kamu sudah mau tidur.?


"Belum kak. Kenapa.?"


"Aku mau minta maaf  Soal kejadian tadi." Ucap Faro sedikit ragu.


"Aku juga mau minta maaf sama kakak. Aku juga salah dalam hal ini." Sahut Vivian sedikit lesu.


"Ya sudah. Kamu istirahat saja sekarang. Tidak perlu memikirkan hal ini lagi." Ujar Faro menenangkan.


"Iya kak. Good night." Sahut Vivian.


"Good night."


Vivian menutup telepon dan meletakkan ponsel di samping bantal tidurnya. Merebahkan kepala perlahan dan menarik selimut dengan motif kotak-kotak berwarna coklat untuk menghangatkan tubuhnya dari dinginnya malam.