
Semua perlengkapan dan peralatan musik untuk lomba band telah selesai mereka persiapkan. Vivian sedang duduk bersantai sambil memperhatikan sekeliling. Setelah Dafa memastikan semuanya barang telah masuk ke dalam mobil, dia segera menghampiri Vivian.
"Sudah beres." Seru Dafa kepada Vivian.
Vivian hanya tersenyum simpul sambil mengangguk pelan.
"Berangkat yuk.!!" Ajak Dafa.
"Yuk."
Vivian berjalan mengikuti Dafa menuju mobil yang akan membawa mereka. Vivian memilih untuk duduk di dekat jendela. Memandang jalanan yang ramai akan membuatnya sedikit rileks. Sesekali Vivian menatap layar ponselnya. Tidak ada satu notifikasi pun masuk. Entah itu telpon maupun chat.
Kenapa aku kefikiran sama kak Faro terus ya.? Seru Vivian dalam hati. Apa yang sedang kamu fikirkan Vivian.? Vivian segera menghilangkan hal itu dari dalam fikirannya.
Vivian kembali menatap jendela dengan pemandangan jalanan yang cukup ramai dengan beragam kendaraan yang melintas. Mungkin karena bertepatan dengan jam pulang kerja. Vivian menghela nafas pelan.
"Kamu kenapa Vivian.?" Tanya Dafa sedikit khawatir dengan raut muka Vivian saat ini.
Vivian menatap Dafa sejenak namun lebih memilih untuk diam dan menggelengkan kepala pelan.
"Kamu sakit.?" Tanya Dafa yang masih penasaran.
"Aku baik-baik saja kok kak." Ucap Vivian datar dengan senyum yang terlihat memaksa.
"Kalau kamu sakit atau nggak enak badan. Lebih baik istirahat dulu.!! Nanti kalau sudah sampai aku pasti akan memberitahumu." Ujar Dafa.
"Aku nggak apa-apa kok kak. Mungkin ini efek dari nervous." Sahut Vivian tersenyum getir. Dafa membalas senyuman Vivian.
"Kamu tenang saja Vivian. Aku yakin kamu bisa." Ujar Dafa memberi sedikit semangat pada Vivian.
Waktu berlalu dengan cepat. Akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan. Lomba kali ini di adakan di pinggir pantai dengan panggung terbuka.
Pemandangan yang sungguh di luar dugaan. Langit jingga yang disuguhkan dengan sinar matahari yang mulai redup membuat suasana menjadi sangat romantis.
Senyum simpul itu terukir di bibir Vivian yang mungil. Menikmati pemandangan indah yang di berikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Desiran angin pantai yang berhembus di sore hari sidikit membuat Vivian meringkuk kedinginan. Mengusap kedua lengan dengan tangan kosong berharap akan sedikit memberikan kehangatan sejenak untuk mengurangi dingin yang menusuk sampai ke dalam tulang.
Dafa yang melihat hal itu langsung bersimpati dan melepaskan jaket miliknya. Memberikannya kepada Vivian. Membantunya mengenakan jaket agar tidak kedinginan lagi.
Semula Vivian menolak karena tidak ingin merepotkan Dafa. Namun Dafa tetap memaksanya dan beralasan supaya Vivian tidak sampai jatuh sakit.
Mereka sedang bersiap di belakang panggung. Menunggu giliran mereka untuk di panggil tampil di depan para juri.
Vivian duduk termenung dengan tatapan kosong tanpa arti.
Tiba-tiba seseorang menghampiri Vivian dan menepuk bahunya. Membuat Vivian terkejut dan menatap orang itu sambil mendongakkan kepala.
"Kak Nurdin." Seru Vivian tidak percaya dengan orang yang menyapanya sekarang.
"Kenapa terkejut kayak gitu.? Memangnya aku hantu." Sahut Nurdin sambil terkekeh.
"Kok bisa ada disini.?" Tanya Vivian dengan senyum mengembang.
"Aku juga ikut acara ini loh. Memangnya kamu doang yang boleh ikut." Goda Nurdin sambil tersenyum. Vivian yang juga ikut tersenyum.
Kedekatan keduanya menarik perhatian Dion yang sedang mencari keberadaan Dafa. Dion segera menghampiri Dafa dengan muka masam.
"Hai bro." Sapa Dion datar.
"Kamu datang juga.?" Ucap Dafa dengan nada menggoda. Dafa mengetahui alasan Dion untuk datang melihatnya bukan karena dirinya namun karena Vivian.
"Apaan sih." Ujar Dion tanpa ekspresi.
Dion menatap ke seluruh penjuru dan mendapati Vivian sedang asyik bercengkrama dengan seorang lelaki yang tak di kenalnya.
"Itu siapa.?" Tanya Dafa penasaran.
"Nggak tahu."
"Kamu cemburu.?" Ujar Dafa sambil tersenyum.
"Yakin.?" Dafa yang tahu dengan sifat Dion semakin menggodanya.
"Bodoh amat. Aku pergi saja deh." Seru Dion ingin meninggalkan Dafa dan teman-temannya. Dafa segera memegang lengan Dion dan berteriak memanggil Vivian.
"Vivian."
"Iya."
"Sini sebentar."
Vivian hanya mengangguk. Meninggalkan Nurdin yang masih duduk di tempatnya sambil tersenyum datar menatapnya. Nurdin paham dan membalas senyum Vivian. Menatapnya dari belakang saat Vivian berjalan mendekati Dion dan Dafa.
"Jangan macam-macam Daf.!" Seru Dion berbisik.
"Tenang. Serahin semua sama Dafa." Ujar Dafa sambil mengangkat kedua alisnya bersamaan.
"Ada apa kak.?"
"Nih Dion mau ngomong sama kamu." Ujar Dafa sambil mendorong tubuh Dion mendekat pada Vivian. Vivian mengerutkan dahi tanda tak mengerti dengan tingkah kedua lelaki ini.
"Nggak kok Vi. Kamu lagi dikerjain sama Dafa." Sahut Dion sedikit gugup.
"Kalau nggak ada apa-apa aku kesana dulu." Ucap Vivian sambil menunjuk Nurdin yang masih duduk di tempatnya.
"Itu.?" Tanya Dafa menggantung sambil melihat kepada Nurdin.
"Oh. Itu temanku kak. Kenapa.? Kalian mau kenalan juga.?" Tanya Vivian pada keduanya.
Keduanya menggeleng kepala bersamaan dengan cepat. Vivian beranjak meninggalkan keduanya dan kembali menemui Nurdin.
"Menurutmu dia suka juga nggak sama Vivian.?" Ujar Dion.
Dafa melirik Dion dengan lirikan tajam.
"Menurut loh." Ucap Dafa ketus dan meninggalkan Dion yang masih memperhatikan Vivian dan Nurdin.
Acara segera dimulai karena juri yang akan memberikan vote sudah hadir dan stay di tempat yang sudah disediakan panitia.
Begitu banyak yang mendaftar pada perlombaan kali ini. Entah kapan giliran tim Vivian di panggil ke atas pentas.
Vivian dan timnya menonton dari samping panggung. Sekarang saatnya tim Nurdin untuk naik dan menampilkan performa terbaik mereka. Seperti yang sudah diperkirakan oleh Vivian. Pasti Nurdin ambil peran pada bagian vokal. Karena Vivian tahu betul, Nurdin sangat menonjol di bidang ini sama seperti dirinya.
"Itu teman kamu tadi kan.?" Tanya Dafa.
Vivian hanya mengangguk pelan tanpa suara. Menikmati suara Nurdin yang sangat lembut terdengar di telinganya.
"Suaranya oke juga." Lanjut Dafa.
Vivian menoleh Dafa dengan senyum dan anggukan yang pasti. Membenarkan pernyataan Dafa padanya.
"Dia dari sekolah mana.?"
"Dia nggak sekolah. Cuma lulusan SD." Ujar Vivian.
Dafa melirik Vivian sambil mengerutkan dahi. Hal ini membuat Vivian merasakan sesuatu yang aneh di dekatnya.
"Kenapa.? Ada yang salah dengan ucapanku.?" Ujar Vivian.
"Kamu kenal dia dimana Vivian.?" Tanya Dafa penuh curiga.
"Aku sudah kenal dia dari kecil. Kan dia tetangga aku." Ujar Vivian sedikit ketus.
"Ooo.. Kukira kenal dimana."
Jawaban Dafa kali ini membuat Vivian merasa tidak senang. Walaupun Nurdin pernah menolak pernyataan Cintanya. Hal itu tidak menyisakan kebencian sedikitpun di hati Vivian.
Namun bukan Vivian namanya kalau tidak bisa menyembunyikan perasaan yang sebenarnya dalam hati.
Tanpa mempedulikan Dafa yang seakan-akan telah merendahkan status Nurdin yang hanya lulusan Sekolah Dasar. Vivian memilih untuk menyaksikan penampilannya saat ini. Seperti biasa, Vivian di suguhkan dengan suara Nurdin yang halus dan lembut. Vivian memejamkan mata sejenak menikmati suara indah itu.