
Tring.!!!
Bel tanda istirahat berbunyi. Guru segera meninggalkan kelas disusul dengan para murid yang juga ikut berhamburan keluar menuju kantin sekolah. Vivian duduk sendiri di depan kelas sambil menikmati sepotong roti lapis selai jeruk.
Pagi ini Vivian sengaja membawa bekal dari rumah. Agar dia tidak usah bolak-balik pergi ke kantin hanya untuk membeli makanan yag dapat mengganjal perutnya saat di sekolah.
"Vivian. Kamu nggak ke kantin.?" Tanya salah satu teman sekelas Vivian. Vivian hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Mau nitip sesuatu nggak.? Aku mau ke kantin soalnya. Mau sekalian aku beliin.?" Tanyanya lagi.
"Nggak usah. Makasih." Sahut Vivian dengan sopan.
Teman Vivian berlalu meninggalkannya menuju kantin sekolah. Sedangkan Vivian masih asyik menikmati roti lapis yang tinggal sesuap lagi dan mengakhirinya dengan seteguk air putih yang juga dia bawa dari rumah. Setelah selesai, Vivian segera membereskan kotak makannya dan ingin masuk ke dalam kelas.
"Vivian." Sapa Berlian dari kejauhan.
Vivian menoleh dan tersenyum mendapati Berlian dan kedua temannya menghampiri dirinya. Semua siswa menoleh dengan aneh melihat Berlian and the gank begitu akrab dengan Vivian. Karena mereka tahu terakhir kali Vivian dan Berlian terjebak perang dingin akibat bullying yang dilakukan Berlian dan teman-temannya terhadap Vivian.
"Iya kak Lian. Ada apa.?" Ucap Vivian sambil tersenyum.
"Lagi ngapain.?" Sapa Berlian dengan nada cuek.
"Nggak ada kak." Sahut Vivian sambil tersenyum.
"Vivian. Aku mau minta maaf sama kamu. Selama ini aku bersikap kurang baik padamu." Ujar Permata.
"Iya. Aku juga minta maaf." Sahut Intan menimpali.
"Iya kak. Aku sudah memaafkan kalian kok." Ujar Vivian sambil tersenyum.
"Oh iya Vivian. Sorry ya. Aku lupa bawa ponsel yang aku janjikan sama kamu." Ujar Berlian.
"Oh itu. Kak Lian tidak perlu khawatir. Aku sudah ada ini kok." Sahut Vivian sambil menunjukkan ponsel dari dalam sakunya.
"Beli.? Katanya nggak punya uang." Ujar Berlian dengan nada mengejek.
Vivian hanya tersenyum mendengar pernyataan Berlian. Tidak mungkin bagi Vivian mengungkapkan kalau Faro yang telah meminjamkan ponsel padanya.
Saat mereka bercengkrama dengan santai, dari kejauhan nampak Jasmine sedang berjalan menuju ke arah mereka. Dia sedang bersenda gurau dengan tiga teman sekelasnya. Vivian merasakan hal aneh pada diri Jasmine. Seolah Vivian sudah tidak mengenali lagi siapa yang sekarang akan lewat di depannya.
Dengan mengumpulkan segala keberanian dalam dirinya serta menekan keegoisan diri yang mencoba mempengaruhi fikirannya. Vivian memantapkan hati tersenyum kepada Jasmine dengan senyuman yang terpancar di wajahnya.
"Hai Jasmine." Sapa Vivian canggung. Berharap Jasmine akan membalas sapaan tersebut.
"Hmm." Ujar Jasmine dan segera bergegas mempercepat langkah kakinya tanpa mempedulikan seseorang yang sudah menyapanya dengan susah payah.
"Itu bukannya temen kamu.?" Tanya Intan dengan nada heran.
"Iya kak. Namanya Jasmine." Sahut Vivian sambil tersenyum. Seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka berdua.
"Kenapa tingkahnya jadi kayak gitu.? Aneh banget." Sahut Permata heran.
"Kamu berantem sama dia.?" Tanya Berlian asal.
"Nggak kok kak. Hubungan kita baik-baik saja. Mungkin dia sedang ada masalah jadi kayak gitu sikapnya." Sahut Vivian menutupi.
"Ke kantin yuk. Laper." Ujar Intan.
"Kamu ikut ya Vi. Aku yang traktir. Sebagai balasan terima kasihku karena kamu sudah membantuku kemarin." Sahut Berlian sambil memegang tangan Vivian.
"Nggak usah kak. Aku ikhlas membantu kak Lian." Ujar Vivian sambil memegang tangan Berlian.
"Kelamaan. Yuk ikut.!!" Permata langsung menarik Berlian dan Vivian. Mereka berempat segera menuju Kantin sekolah.
Berlian memilih tempat yang biasa mereka tempati. Pandangan siswa yang lain sangat aneh melihat Vivian bersama dengan 3 gadis paling populer di sekolah mereka.
"Kamu kenapa Vi.?" Tanya Permata saat melihat ekspresi Vivian yang sedikit canggung.
"Harusnya aku tidak usah ikut kalian. Aku jadi merasa aneh sendiri kak." Ujar Vivian.
Hal ini menarik perhatian Jasmine dan teman-temannya yang juga sedang berada di kantin tersebut.
"Kenapa jadi kamu yang merasa aneh Vivian. Mereka saja yang iri sama kamu karena bisa bergabung sama kita. Ya nggak.?" Celetuk Intan.
"Iya. Thats Right." Sahut Permata menimpali.
Vivian hanya membalas dengan senyum simpul di bibirnya.
Dari kejauhan terdengar keributan yang di sebabkan oleh D3. Sorak para siswi semakin menggila saat D3 memasuki kawasan kantin sekolah.
"Artisnya datang." Celetuk Permata pada tiga gadis di sekitarnya.
"Nggak tertarik tuh." Sahut Berlian. Ucapan Berlian membuat Intan tersedak minumannya sendiri.
"Uhuk.. Uhuk..!!"
"Ya ampun kak Intan. Pelan-pelan dong minumnya.!!" Ujar Vivian sambil mengelus punggung Intan.
"Tan. Aku nggak lagi mimpi kan. Cubit aku Tan.!! Cubit.!!" Pinta Permata. Intan langsung mencubit kedua pipi Permata dengan keras.
"Auw. Sakit tau." Celetuk Permata sambil mengelus kedua pipinya. Vivian hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka yang lucu.
"Bisa nggak kalian jangan bahas mereka di depanku.!!" Ujar Berlian dengan nada kesal.
"Sorry Lian. Kita nggak bermaksud membuatmu tidak nyaman. Ya nggak.?" Ujar Permata. Intan hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa.
"Tapi aku masih heran sama kamu Lian. Tumben kamu tidak tertarik pada mereka.? Terutama Dion. Ya bukannya apa-apa. Selama ini yang aku tahu kamu sangat suka sama dia. Ya kan.?" Ujar Intan meminta pendapat Permata.
"Iya. Betul banget." Sahut Permata.
"Itu kan dulu. Seiring berjalannya waktu, setiap orang pasti akan berubah." Sahut Berlian.
"Lagian kalau di fikir-fikir Dion tidak semenarik itu kok." Lanjut Berlian. Dua sahabat itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
D3 duduk tidak jauh dari Berlian dan teman-temannya duduk. Dafa melihat Vivian bersama dengan Berlian dkk juga merasa sangat aneh.
"Vivian." Sapa Dafa sambil melambaikan tangan. Vivian hanya membalas dengan senyuman dan anggukan.
"Kamu masih tergabung dalam bandnya Dafa Vi.?" Tanya Permata asal.
"Iya kak. Hanya untuk mengisi waktu luang dan menyalurkan salah satu hobiku." Ucap Vivian.
"Kamu nggak tertarik sama dia.?" Permata menunjuk Dafa dengan mengangkat kepala.
"Siapa kak.? Kak Dafa maksudnya.?" Vivian berbalik bertanya. Permata hanya mengangguk.
"Ya nggak mungkin lah kak. Aku cuma menganggapnya sebagai partner. Nggak lebih." Sahut Vivian sambil tertawa kecil.
"Vivian." Sapa Dion yang tiba-tiba berdiri di samping Vivian. Vivian terkejut begitu pula dengan Intan dan Permata.
"Kak Dion." Ucap Vivian ragu.
"Nanti pulangnya bareng yuk.!!" Ucap Dion.
Vivian bingung ingin menjawab apa. Melihat ketiga teman yang sebangku dengannya sekarang secara bergantian. Namun mereka hanya menatap Vivian dengan wajah terkejut.
"Maaf kak. Bukannya aku tidak mau. Tapi nanti aku di jemput sama kak Faro." Ucap Vivian ragu.
"Oh. Ya sudah nggak apa-apa. Mungkin lain kali saja." Ujar Faro dan segera pergi menuju meja makannya sendiri.
"Gila kamu Vivian. Dion ngajak pulang bareng kamu malah menolaknya gitu aja.?" Ujar Intan.
"Kalian jangan salah paham dulu. Aku nggak mau nanti satu sekolah memusuhiku. Gara-gara aku deket sama kak Dion." Sahut Vivian.
Intan dan Permata hanya menggangguk seolah mereka paham dengan apa yang telah Vivian ucapkan.
Maafkan aku kak Dion. Aku tidak bermaksud untuk menolakmu mentah-mentah. Tapi aku juga tidak ingin kak Faro marah dan berkelahi denganmu. Karena aku tahu betul bagaimana sifat kak Faro.