Point Of Love

Point Of Love
Cewek Lesbian



Vivian sedang duduk sendiri di depan ruangan tertutup tempat wawancara berlangsung. Menunggu namanya segera dipanggil ke dalam. Lebih cepat lebih baik begitu fikirnya saat ini. Karena kalau sampai dia tidak lolos, dia harus menuruti keinginan Bapak untuk masuk ke pesantren. Pintu terbuka tiba-tiba dan Jasmine telah selesai melakukan wawancaranya. Ekspresi mukanya menunjukkan kalau dia telah lulus tes kali ini. Sekarang giliran Vivian yang masuk ke dalam. Dengan hati yang berdebar dan keringat dingin yang keluar dari keningnya, Vivian melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam. Dan benar saja Dion telah duduk disana dan mempersilahkan Vivian untuk segera duduk.


“Nama kamu Vivian Maharani.?”


“Iya kak.” Jawab Vivian sedikit gugup.


“Dari SMP mana.?”


“SMP HARAPAN kak.” Vivian meremas jemarinya sendiri.


“Apa motivasi kamu masuk ke sekolah SMA PERMATA.?” Dion masih membolak-balik berkas milik Vivian tanpa menatapnya.


“Alasan yang pertama karena sekolah ini memiliki kualitas yang bagus dan banyak murid yang berprestasi dibidang akademis dan non akademis. Yang kedua karena kondisi keluarga yang kurang mendukung jadi saya memilih jalur beasiswa untuk masuk ke sekolah ini.” Vivian mulai panik dan berkeringat deras. Dion mencatat sesuatu.


“Prestasi apa saja yang sudah kamu raih selama sekolah di SMP HARAPAN.?” Tanya Dion sambil melihat ke arah Vivian. Dion mengerutkan dahi karena teringat dengan wajah Vivian yang tidak asing baginya. Tetapi dia masih bersikap biasa saja.


Kenapa dia melihatku seperti itu.? Apa ada yang aneh dengan mukaku.? Vivian salah tingkah.


“Aku unggul dalam pelajaran olah raga khususnya dibidang lari. Entah lari jarak jauh maupun jarak dekat.” Vivian merasa sangat gugup dan menundukkan kepala.


“Apa kita pernah bertemu sebelumnya.? Wajahmu tidak asing bagiku.” Kata Dion tiba-tiba.


“Nggak pernah kak. Ini pertemuan pertama kita.” Sahut Vivian. “Oh iya apa wawancaranya sudah selesai.?” Tanya Vivian yang sudah tidak betah berada dalam satu ruangan dengan Dion. Meski AC dalam ruangan tersebut sangat sejuk tapi tidak dapat menyejukkan perasaan Vivian saat ini.


“Sudah kamu boleh keluar.” Ucap Dion cuek dan mempersilahkan Vivian untuk keluar ruangan.


Aku yakin aku pernah bertemu dengannya sebelum ini. Tapi dimana ya.? Seru Dion dalam hati dan dia masih merasa penasaran dengan Vivian.


Vivian merasa sangat lega karena sudah keluar dari ruangan tersebut yang membuatnya berkeringat bukan main. Bukan karena cowok keren bernama Dion tapi karena perasaan yang selalu gelisah dan marah apabila dekat dengan laki-laki. Rasa sakit yang telah dia rasakan telah memberikan perasaan tersendiri hingga membuatnya jadi seperti ini. Saat Vivian keluar Jasmine langsung beranjak dan menghampirinya. Sekarang Vivian tahu alasan Jasmine keluar ruangan dengan ekspresi yang begitu gembira. Bukan karena sukses tes wawancara namun karena bisa bertemu dan berbicara dengan Dion secara langsung.


“Gimana.?” Tanya Jasmine dengan antusias.


“Gimana apanya.?” Sahut Vivian cuek.


“Ya wawancaranya dong Vivian. Dan juga gimana kak Dion. Dari dekat dia lebih ganteng dan keren kan.?” Seru Jasmine sambil menggoda Vivian.


“Keren apanya coba.? Biasa aja.” Vivian mengeluarkan ponsel dari sakunya.


“Vivian. Aku heran deh sama kamu. Kenapa kamu nggak tertarik sama sekali. Apa jangan-jangan kamu lesbian ya.” Celetuk Jasmine dan Vivian langsung membungkam mulutnya.


“Sssttt… Jangan keras-keras nanti banyak yang tahu lagi.” Vivian menunjukkan senyuman yang menggoda kepada Jasmine. Jasmine geli sendiri dengan sikap Vivian dan dia langsung meninggalkan Vivian dan menuju ke kantin dengan langkah seribu.


“Woi.. tungguin.!” Teriak Vivian.


“Nggak mau. Sana jauh-jauh.!” Sahut Jasmine sambil berlari. Vivian hanya bisa tertawa melihat tingkah Jasmine yang sangat lucu baginya. Vivian juga ikut berlari mengejar Jasmine. Tanpa Vivian sadari percakapannya dengan Jasmine terdengar dengan jelas oleh Dion dari balik pintu. Dion tersenyum tipis mendengar obrolan singkat mereka.


Cewek yang menarik. Fikir Dion dalam hati.


Jasmine tidak mau duduk berdekatan dengan Vivian. Setiap Vivian mendekat dia selalu melarangnya. Vivian hanya bisa tersenyum melihat tingkah Jasmine yang konyol. Rino yang melihat tingkah mereka yang aneh langsung menghampiri.


“Nggak kok kak. Jasmine aja yang lagi sensi sama aku.” Celetuk Vivian asal-asalan.


“Siapa juga yang lagi sensi.?” Seru Jasmine. Jasmine akhirnya mendekat kepada Vivian dan Rino. “Vivian tuh kak nyebelin.?” Lanjutnya dengan bibir yang sedikit maju.


“Memangnya kenapa dengan Vivian.?” Tanya Rino sambil menyeruput jus apel milik Jasmine.


“Vivian nggak suka sama cowok. Dia lesbian.!” Seru Jasmine sedikit berbisik. Rino yang mendengar hal tersebut langsung tersedak jus apel yang melewati tenggorokannya.


“ha ha ha. Kata siapa cumut.?” Tawa Rino memecahkan suasana seisi kantin hingga yang lain memperhatikan mereka bertiga.


“Tanya saja sendiri.?” Sahut Jasmine cuek.


“Emang bener ya Vi.?” Rino merasa sangat penasaran.


“Nggak bener kak Rino. Jasmine saja yang sensi. Gini ya kak, kita kan nggak bisa memaksa orang untuk suka sama orang lain. Dan juga rasa suka itu nggak akan tumbuh kalau hanya memperhatikan fisik luarnya saja. Walaupun menurut kamu dia keren dan ganteng tapi nggak akan menjamin kebahagiaan. Bagiku yang paling penting itu ininya.” Vivian meletakkan tangan ke dadanya sendiri. “Percuma dong kalau punya wajah ganteng atau cantik tapi hatinya nggak.” Lanjut Vivian.


“Kamu masih umur segini sudah punya pemikiran kayak gitu. Melihat dari sudut pandangmu sepertinya kamu banyak pengalaman tentang suatu hubungan. Kamu sudah punya cowok ya Vi.?” Tanya Rino.


Lebih tepatnya mantan kak.! Seru Vivian dalam hati.


Vivian hanya menggelengkan kepala sambil meneguk air mineral yang telah dia beli di kantin. Jasmine yang mendengar pernyataan Vivian hanya bisa mengangguk tanpa berkomentar. Sekarang Jasmine tahu alasan mengapa Vivian begitu cuek jika dia menyinggung soal cowok-cowok tampan dan keren di sekolah itu. Ternyata inilah alasan Vivian dibalik itu semua.


Rino yang mendengar pernyataan Vivian yang begitu mengejutkan baginya hanya bisa bedecak kagum dalam hati. Di usianya yang dibilang masih muda dia sudah paham betul dengan masalah suatu hubungan. Dibandingkan dengan dia yang tidak tahu apa-apa meski lebih tua dari Vivian. Rino merasa malu dengan dirinya sendiri. Selama ini dia mengejar-ngejar Berlian hanya karena dia wanita tercantik di sekolah tersebut.


“Lalu tipe cowok idaman kamu kayak gimana Vivian.” Tanya Rino iseng.


“Iya. Aku juga pengen tahu.” Seru Jasmine.


“Aku nggak punya tipe cowok idaman.” Jawab Vivian cuek.


“Apa kayak aku.?” Rino merapikan pakaiannya sendiri membuat Jasmina dan Vivian menahan tawa.


“Udah kak Rino jadi kakak yang baik aja buat kita. Kakak nggak akan masuk kriteria.” Sahut Jasmine dan disusul gelak tawa keduanya.


Rino menghela nafas melalui hidungnya. Membuat dua gadis itu semakin geli melihatnya. Jasmine segera merangkul bahu kakak sepupunya itu dan menenangkannya. Serta diselingi dengan tawa yang masih tersisa. Setelah merasa puas dikantin mereka memutuskan untuk segera pulang. Rino dan Jasmine sangat antusias untuk mengantarkan Vivian pulang. Namun Vivian segera menolak keinginan mereka karena Vivian tidak ingin merepotkan keduanya. Vivian beralasan ada keperluan lain sebelum pulang ke rumah jadi dia bilang lain kali saja karena tidak ingin menyinggung perasaan Jasmine dan Rino.


"Aku suka temenan sama dia kak." Seru Jasmine yang duduk di samping Rino yang mengemudikan mobil. "Disamping dia baik, dia juga dewasa." lanjutnya.


"Iya. Kakak juga suka sama dia. dia itu unik. Beda dari cewek pada umumnya." Sahut Rino. "Kira-kira dia suka nggak ya sama kakak.?" Lanjut Rino.


"Jangan mulai lagi deh. Aku bilangin mama loh nanti." ancam Jasmine sambil mengeluarkan jari telunjuknya.


"Iya cumut. Kakak bercanda doang." sahut Rino mengalah kepada adiknya Jasmine.


Aku akan membuatmu terkesan kepadaku Vivian. lihat saja nanti. Seru Rino dalam hati.


Rino melajukan mobil melewati padatnya arus lalu lintas siang itu.~~~~