Point Of Love

Point Of Love
Embun hangat



Bakda sholat isya' Vivian, Mala dan Juwita bergegas untuk keluar masjid dan segera pulang. Dalam perjalanan Vivian hanya terdiam hal itu membuat Mala dan Juwita merasa tidak enak.


"Kamu kenapa lagi Vi?" Tanya Juwita memulai pembicaraan.


"Besok kita lari pagi yuk." Celetuk Vivian tiba-tiba hingga membuat Mala dan Juwita berhenti berjalan dan menatap Vivian dengan tajam.


"Kamu lagi sakit Vi?" Mala menempelkan tangan kanannya ke kening Vivian.


"Kamu apaan Mala?" Kata Vivian sambil menepis tangan Mala.


"Kamu itu yang kenapa Vivian? Nggak ada angin, nggak ada hujan tiba-tiba ngajakin lari pagi." Celetuk Juwita sambil menatap sinis.


"Tadi nggak sengaja aku ketemu sama Nurdin." Kata Vivian sambil menghela nafas melalui hidungnya.


"Terus?" Sahut Mala.


"Dia tadi ngajakin Nia buat lari pagi bareng besok." Kata Vivian dengan nada patah semangat.


"Ooo... Jadi ini masih bersangkutan sama si Nurdin lagi?" Tanya Juwita jutek. Vivian hanya menganggukkan kepala pelan.


"Tadi siang kamu kan bilang sendiri sama kita bahwa kamu sudah nggak mau lagi berurusan dengan yang nama Nurdin. Kenapa sekarang berubah lagi sih?" Celetuk Juwita.


"Bukannya gitu. Tapi hati aku masih nggak terima dengan semua ini. Aku ingin kata-kata itu keluar langsung dari mulutnya." Kata Vivian penuh harap.


"Vivian sayang. Apa kamu udah siap sakit hati lagi?" Tanya Mala pelan.


"Aku akan menghadapinya sekali lagi." Kata Vivian sedikit memohon.


"Oke kalau gitu. Kita akan temenin kamu besok." Kata Juwita sambil menghela nafas dari hidungnya.


Vivian merasa sangat senang dan lega karena kedua sahabatnya mendukung apa yang dia inginkan. Vivian sangat berterima kasih pada Mala dan Juwita. Mereka pun saling berpelukan satu dengan yang lain.


Vivian pulang dengan perasaan yang sangat mengganggu. Namun dia memantapkan dalam hati bahwasanya dia akan memcoba menyatakan perasaannya sekali lagi dan memastikan perasaan Nurdin padanya.


Pagi ini Vivian bangun lebih awal dari biasanya padahal bertepatan dengan hari libur sekolah. Bagaimana tidak hampir tengah malam dia tak dapat memejamkan matanya karena perasaan yang sangat mengganggunya akhir-akhir ini.


Vivian segera ke sungai untuk membersihkan diri dan bersiap untuk melaksanakan ibadah sholat shubuh. Setelah selesai sholat shubuh Vivian segera bergegas mengenakan kaos lengan pendek warna putih di padukan dengan celana sport hitam dan mengenakan jaket hody hitam favoritnya. Berjalan menuju ruang tamu dan menganbil sepatu silver yang tertata di rak sepatu dekat pintu.


Saat Vivian membuka pintu dia di kagetkan dengan kemunculan ayahnya dari luar pintu. Sudah menjadi kebiasaan ayah Vivian yang selalu rutin jamaah sholat shubuh di masjid.


"Mau kemana? Tumben sudah rapi." Tanya ayah Vivian.


"Mau lari pagi Pak. Sudah janjian sama Mala dan Juwita." Jawab Vivian santai.


"Ya sudah hati-hati." Sahut ayah Vivian.


Vivian mengetuk rumah Juwita dan yang keluar adalah nenek Juwita yang sudah tua renta. Terkadang Vivian merasa sangat kasihan dengannya. Nenek yang sudah begitu tua masih harus mengurus Juwita. Bukannya menyalahkan Juwita karena semua ini sama sekali bukan kesalahannya melainkan salah kedua orang tua Juwita yang telah menelantarkannya. Hingga mau tidak mau dia harus tinggal bersama dengan neneknya.


"Oh Vivian.. Sebentar Juwita masih ganti baju." Sapa Nenek Fatimah.


"Iya nek nggak apa-apa." Sahut Vivian sambil duduk di kursi kayu yang berada tepat di depan pintu rumah nenek Fatimah.


Tak lama kemudian Juwita keluar dari rumah mengenakan kaos warna pink dan celana sport hitam dan topi hitam.


"Udah lama Vi?" Tanya Juwita sambil duduk dan mengenakan sepatunya yang berwarna ping muda.


"Baru juga sampai." Sahut Vivian santai.


"Yuk jalan!" Kata Juwita sambil berdiri dan melangkahkan kaki dan disusul dengan Vivian di belakangnya. Hanya butuh beberapa langkah untuk sampai di depan rumah Mala. Jarak antara rumah Juwita dan Mala tidak terlalu jauh di bandingkan dengan rumah Vivian.


Sampailah mereka di depan rumah Mala. Vivian duduk di poskampling yang bertepatan berada di depan rumah Mala sedangkan Juwita mengetuk pintu sambil memanggil nama Mala. Mala membuka pintu dan tedapat seuntai senyum di bibirnya. Dia mengenakan kaos merah lengan panjang di padukan dengan celana sport hitam dan sepatu putih. Rambutnya terikat sedikit ke atas.


Mereka bertiga berlari kecil bersama. Sambil berbincang santai hanya untuk mencairkan suasana.


"Vivian. Apa rencana kamu sekarang?" Tanya Juwita mengawali perbincangan pagi buta.


"Iya Vi. Kasih tau dong! Kali saja kita bisa bantu." Sahut Mala menimpali.


"Kalian cukup menjadi penonton yang baik saja." Kata Vivian sambil menatap bergantian kedua sahabatnya itu. Mala dan Juwita hanya bisa saling menatap dan mengangkat kedua bahu mereka.


Mereka merpercepat lari agar tak di dahului oleh Nurdin maupun Nia. Dia tidak ingin mengganggu moment yang sudah di mimpikan oleh Nurdin. Dia hanya bisa menunggu waktu yang tepat untuk melepaskan bom atom yang sudah lama bersarang di dalam hatinya. Mereka duduk bersantai di jembatan dekat rumah tua kosong sambil menunggu Nurdin dan Nia melewati jalan tersebut.


"Kamu yakin mereka akan lewat sini Vi?" Tanya Mala merasa ragu.


"Sudah tenang. Aku yakin kok." Jawab Vivian penuh keyakinan.


"Eeh.. Itu mereka." Sahut Juwita sambil menunjuk dua sosok manusia yang sedang berjalan bersama di tengah dinginnya embun pagi.


Sekali lagi hati Vivian tak dapat berbohong. Meski dia bersikeras untuk menutup pintu hatinya untuk Nurdin namun hati itu masih tidak dapat menerima kenyataan dan sekali lagi hati itu terasa hancur berkeping-keping. Embun pagi yang dingin pun berubah menjadi hangat dan semakin panas seakan membakar sekujur tubuh Vivian pagi itu.


Kenapa lagi dengan hati ini? Kenapa terasa begitu sakit? Seharusnya kamu bisa menerima kenyataan Vivian. Dia tidak pernah menyukaimu. Namamu tak pernah ada dalam hatinya. Sadar Vivian sadar! Kata Vivian dalam hati.


Vivian merasakan dadanya begitu sesak seakan dia sedang tertimpa sebuah batu besar yang menghalanginya untuk bernafas. Juwita segera mengelus punggung Vivian untuk menenangkannya dan berbisik pelan.


"Sabar ya Vi! Aku yakin kamu pasti kuat." Kata Juwita di susul dengan anggukan Mala di sampingnya.


Vivian mulai bisa mengatur nafasnya dengan teratur. Dia terlihat lebih tenang sekarang. Mala merangkul bahu Vivian dan menepuk-nepuk pelan berharap Vivian bisa lebih tenang dari pada sebelumnya. Mereka masih diam dan memperhatikan gerak-gerik Nurdin dan Nia dari kejauhan. Mereka terlihat sangat akrab bahkan terdengar tawa kecil dari keduanya.