
Saat dimana awal masuk sekolah telah tiba. Hari ini adalah
hari pertama Vivian mengikuti kegiatan MOS di SMA PERMATA. Bukan hal yang baru
bagi Vivian untuk kegiatan semacam ini. Dulu saat dia baru masuk ke sekolah
menengah pertama , dia juga pernah merasakan hal yang sama.
Yang berbeda hanya orang-orang dan lokasinya saja. Segala
bentuk kegiatan ploncoan tetap sama dan akan selalu sepeti itu dari masa ke
masa. Entah sampai kapan kegiatan yang memalukan seperti itu berlangsung setiap
tahunnya. Seharusnya kegiatan pengenalan sekolah di laksanakan dengan kegiatan
yang lebih bermanfaat dan tidak merugikan pihak manapun. Ingin rasanya Vivian
menjadi orang yang berpengaruh agar dapat merubah system yang telah berlangsung
sekarang di setiap sekolah-sekolah yang ada.
Vivian telah turun dari bus dan duduk sejenak di halte bus
untuk mengikat tali sepatunya yang tidak sengaja terlepas. Memandang ke
sekeliling memperhatikan semua murid baru yang mulai memasuki pintu gerbang
sekolah dengan mengenakan topi yang terbuat dari kertas manila yang di bentuk
menjadi kerucut menyerupai rambu kerucut lalu lintas di tenggah jalan.
Vivian mengeluarkan topi miliknya yang telah dia buat tadi
malam dan mengenakannya. Vivian menghela nafas dengan kasar melalui hidungnya.
Menarik kedua tali tas punggung yang berada di balik tubuhnya. Berjalan menuju
pintu gerbang dengan langkah tanpa semangat.
Di depan pintu gerbang terdapat tiga anggota OSIS yang
bertugas untuk memeriksa kelengkapan peralatan dan aksesoris yang di kenakan
calon siswa baru saat kegiatan MOS berlangsung.
Salah satu dari ketiga anggota OSIS tersebut adalah Dafa.
Saat Vivian sampai di pintu gerbang, awalnya Dafa tidak mengenali Vivian dengan
penampilannya yang sekarang. Karena Vivian kali ini menguncir rambut ekor kudanya
dan mengenakan kaca mata. Namun penglihatan Dafa tentang seorang gadis
sangatlah detail. Walaupun Vivian dengan susah payah menyembunyikannya, Dafa
akan dengan mudah mengenalinya.
Dafa melambaikan tangan beberapa kali kepada Vivian karena
Vivian hanya menundukkan kepalanya ke bawah tanpa melihat ke depan.
“Kamu Vivian kan.?” Sapa Dafa tiba-tiba.
Vivian sedikit terkejut dan mengangkat kepala untuk melihat
orang yang mengenalinya kali ini sambil membetulkan kaca matanya.
“iya.” Sahut Vivian dan dia juga sedikit terkejut mendapati
Dafa yang sudah berdiri di depannya.
“Kamu boleh masuk.” Seru Dafa tanpa tersenyum. Vivian hanya
bisa mengerutkan dahi tak mengerti. Dengan mudah dia bisa masuk ke dalam tanpa
menjawab satu pertanyaan pun. Padahal setiap siswa yang masuk pasti akan
menerima pertanyaan perihal kelengkapan kegiatan MOS.
Kenapa
dengan kak Dafa.? Apa dia baik-baik saja.? Sudahlah. Kenapa aku harus memikirkan
dia. Tidak penting juga. Seru Vivian dalam hati.
Vivian melangkah kan kaki untuk menuju lapangan basket
sekolah. Disana sudah banyak siswa yang berkumpul untuk menerima kegiatan MOS
di hari pertama. Sirine mikrofon berbunyi dan semua siswa berbaris menghadap ke
podium. Dari kejauhan Vivian bisa melihat dengan jelas dari balik kaca mata
nya. Dion , Dafa dan Diandra ada di antara anggota OSIS yang lain. Kehadiran
mereka begitu menonjol. Vivian juga bisa melihat sosok gadis yang terlihat
begitu populer. Siapa lagi kalau bukan Berlian. Gadis yang di kejar-kejar
setiap cowok disana termasuk juga Rino.
Dion berjalan menuju podium. Teriakan para gadis yang sangat
mengidolakan dia terdengar begitu menyakitkan telinga. Dion berdiri di tengah
podium dan memulai pidato paginya. Vivian tidak terlalu mempedulikan ceramah
pagi itu. Matanya hanya sibuk mencari sosok wanita yang dia kenal. Sesekali
Vivian menyipitkan mata agar dapat menemukannya. Setelah melakukan usaha yang
maksimal, akhirnya di temukanlah seseorang itu. Jasmine berdiri tepat di depan
Dion yang hanya berjarak 3 meter saja.
Pantas saja
nggak kelihatan dari tadi. Ternyata dia berdiri disana. Gerutu Vivian dalam
hati.
Lima menit berlalu, begitu pula pidato Dion pagi itu. Semua
siswa baru di bagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 30
siswa. Setelah terbentuk kelompok mereka akan di damping oleh 3 anggota OSIS.
Vivian dan kelompoknya memasuki kelas mereka. Anggota OSIS yang menangani
bertabrakan dengannya saat keluar dari kantin sekolah.
Semua siswa baru di suruh untuk memperkenalkan diri di depan
kelas satu persatu. Yang mendominasi kelompok Vivian kali ini lebih banyak anak
laki-laki dari pada perempuannya. Namun tidak ada satu pun laki-laki yang
menggoda Vivian. Mungkin karena penampilan Vivian yang sekarang terlihat sangat
culun dengan kaca mata yang dikenakannya sehingga semua laki-laki sedang sibuk
mengoda Berlian.
Vivian merasa sangat lega kali ini. Karena dengan
penampilannya yang baru dia tidak harus meladeni cowok-cowok yang mencoba
menggodanya dan bersikeras meminta nomor ponselnya.
Sesi perkenalan telah berakhir dan bel tanda istirahat telah
berbunyi. Vivian keluar dari ruangan dan pergi mencari keberadaan temannya
Jasmine. Vivian berjalan keluar masuk beberapa ruangan. Setelah sudah sedikit
kecapean karena pencarian yang tak kunjung ke titik temu, akhirnya sampai pada
batas kesabaran Vivian memutuskan untuk pergi ke kantin membeli sebotol minuman
mineral.
Saat Vivian meneguk minumannya, tiba-tiba dia terkejut dengan
pemandangan yang ada di depannya sekarang. Air yang berada dalam tenggorokan
seperti terhenti sejenak karena syok. Jasmine sedang duduk bersama dengan D3
dan kakak sepupunya Rino.
Vivian mengelap ujung bibirnya menggunakan ibu jarinya. Menutup
botol minum dan mengeluarkan ponsel dari saku bajunya. Mengetik sesuatu dengan
cepat dan mengirimkannya. Jasmine yang semula begitu hanyut dalam lamunannya
terhadap Dion segera tersadar karena ponselnya yang bergetar. Jasmine menatap
layar ponsel dengan mengerutkan dahi. Melihat ke sekeliling dengan cermat namun
tidak menemukan apa yang telah dia cari.
Vivian merasa sangat geli melihat tingkah Jasmine yang tidak
mengenali dirinya. Vivian segera mengambil foto selfi dan menekan tombol kirim.
Saat Jasmine membuka layar ponselnya dia sedikit tersedak minumannya sendiri.
“Kamu kenapa Cumut.?” Seru Rino sedikit khawatir dengan
kecerobohan adiknya itu.
“Nggak kenapa-napa kok kak.” Sahut Jasmine cepat. Sekali lagi
Jasmine mencari Vivian dalam kerumunan orang yang berada dalam kantin. Akhirnya
Jasmine menemukan Vivian yang sedang duduk menyendiri di sudut kantin. Vivian hanya
melambaikan tangan tanpa dosa saat tatapan mereka bertemu.
“Aku kesana dulu ya kak. Mau ketemu temen.” Kata Jasmine
sambil tersenyum pada kakaknya Rino.
“Siapa.? Vivian.?” Tanya Rino dengan antusias.
“Kepo.” Sahut Jasmine dan segera berlalu pergi meninggalkan
ketiga cowok terkeren di sekolah dan kakak sepupunya yang selalu menyebalkan
baginya.
“Vivian.?” Namanya tidak begitu asing di telinga.” Seru Dafa.
“Iya. Kamu kenal sama dia.?” Tanya Rino sambil menyeruput teh
botol yang ada di depannya. Dafa mengeluarkan ponsel dan mencari sebuah foto
dalam galeri ponselnya.
“Vivian yang ini bukan.?” Tanya Dafa sambil menunjukkan layar
ponselnya kepada Rino. Dan sontak saja Rino tersedak melihat foto Vivian bersama
dengan Dafa.
“Kalian kenapa bisa kenal.? Dan kenapa juga kamu bisa foto
bareng sama dia.?” Tanya Rino penuh dengan kecurigaan.
“Woi. Sabar ya gays. Jadi gini ceritanya, kita itu nggak
sengaja ketemu dalam sebuah acara wedding party gitu. Kalian kan tahu sendiri
kalau band milikku begitu tenar jadi kita punya banyak job. Nah kebetulan Vivian
juga jadi tamu disana.” Jelas Dafa panjang lebar.
“Lalu kenapa kamu bisa kenal sama dia.?” Tanya Diandra heran dan penasaran.
Sedangkan Dion masih juga diam mendengarkan celotehan temannya itu. Meski dalam hati
selalu merasa penasaran dengan sosok yang tengah mereka bicarakan sekarang.
“Yang aku tahu, seorang Dafa tidak akan berkenalan dulu
dengan seorang wanita. Apalagi sampai foto bareng kayak gitu. Masih kamu save
lagi fotonya.” Lanjut Diandra geleng-geleng kepala.
“Karena kita punya hobi yang sama.” Sahut Dafa sambil
nyengir.
Hobi yang
sama.? Apa maksud perkataan Dafa barusan.? Dion bertanya dalam diam.