Point Of Love

Point Of Love
Hari Pertama MOS



Saat dimana awal masuk sekolah telah tiba. Hari ini adalah


hari pertama Vivian mengikuti kegiatan MOS di SMA PERMATA. Bukan hal yang baru


bagi Vivian untuk kegiatan semacam ini. Dulu saat dia baru masuk ke sekolah


menengah pertama , dia juga pernah merasakan hal yang sama.


Yang berbeda hanya orang-orang dan lokasinya saja. Segala


bentuk kegiatan ploncoan tetap sama dan akan selalu sepeti itu dari masa ke


masa. Entah sampai kapan kegiatan yang memalukan seperti itu berlangsung setiap


tahunnya. Seharusnya kegiatan pengenalan sekolah di laksanakan dengan kegiatan


yang lebih bermanfaat dan tidak merugikan pihak manapun. Ingin rasanya Vivian


menjadi orang yang berpengaruh agar dapat merubah system yang telah berlangsung


sekarang di setiap sekolah-sekolah yang ada.


Vivian telah turun dari bus dan duduk sejenak di halte bus


untuk mengikat tali sepatunya yang tidak sengaja terlepas. Memandang ke


sekeliling memperhatikan semua murid baru yang mulai memasuki pintu gerbang


sekolah dengan mengenakan topi yang terbuat dari kertas manila yang di bentuk


menjadi kerucut menyerupai rambu kerucut lalu lintas di tenggah jalan.


Vivian mengeluarkan topi miliknya yang telah dia buat tadi


malam dan mengenakannya. Vivian menghela nafas dengan kasar melalui hidungnya.


Menarik kedua tali tas punggung yang berada di balik tubuhnya. Berjalan menuju


pintu gerbang dengan langkah tanpa semangat.


Di depan pintu gerbang terdapat tiga anggota OSIS yang


bertugas untuk memeriksa kelengkapan peralatan dan aksesoris yang di kenakan


calon siswa baru saat kegiatan MOS berlangsung.


Salah satu dari ketiga anggota OSIS tersebut adalah Dafa.


Saat Vivian sampai di pintu gerbang, awalnya Dafa tidak mengenali Vivian dengan


penampilannya yang sekarang. Karena Vivian kali ini menguncir rambut ekor kudanya


dan mengenakan kaca mata. Namun penglihatan Dafa tentang seorang gadis


sangatlah detail. Walaupun Vivian dengan susah payah menyembunyikannya, Dafa


akan dengan mudah mengenalinya.


Dafa melambaikan tangan beberapa kali kepada Vivian karena


Vivian hanya menundukkan kepalanya ke bawah tanpa melihat ke depan.


“Kamu Vivian kan.?” Sapa Dafa tiba-tiba.


Vivian sedikit terkejut dan mengangkat kepala untuk melihat


orang yang mengenalinya kali ini sambil membetulkan kaca matanya.


“iya.” Sahut Vivian dan dia juga sedikit terkejut mendapati


Dafa yang sudah berdiri di depannya.


“Kamu boleh masuk.” Seru Dafa tanpa tersenyum. Vivian hanya


bisa mengerutkan dahi tak mengerti. Dengan mudah dia bisa masuk ke dalam tanpa


menjawab satu pertanyaan pun. Padahal setiap siswa yang masuk pasti akan


menerima pertanyaan perihal kelengkapan kegiatan MOS.


Kenapa


dengan kak Dafa.? Apa dia baik-baik saja.? Sudahlah. Kenapa aku harus memikirkan


dia. Tidak penting juga. Seru Vivian dalam hati.


Vivian melangkah kan kaki untuk menuju lapangan basket


sekolah. Disana sudah banyak siswa yang berkumpul untuk menerima kegiatan MOS


di hari pertama. Sirine mikrofon berbunyi dan semua siswa berbaris menghadap ke


podium. Dari kejauhan Vivian bisa melihat dengan jelas dari balik kaca mata


nya. Dion , Dafa dan Diandra ada di antara anggota OSIS yang lain. Kehadiran


mereka begitu menonjol. Vivian juga bisa melihat sosok gadis yang terlihat


begitu populer. Siapa lagi kalau bukan Berlian. Gadis yang di kejar-kejar


setiap cowok disana termasuk juga Rino.


Dion berjalan menuju podium. Teriakan para gadis yang sangat


mengidolakan dia terdengar begitu menyakitkan telinga. Dion berdiri di tengah


podium dan memulai pidato paginya. Vivian tidak terlalu mempedulikan ceramah


pagi itu. Matanya hanya sibuk mencari sosok wanita yang dia kenal. Sesekali


Vivian menyipitkan mata agar dapat menemukannya. Setelah melakukan usaha yang


maksimal, akhirnya di temukanlah seseorang itu. Jasmine berdiri tepat di depan


Dion yang hanya berjarak 3 meter saja.


Pantas saja


nggak kelihatan dari tadi. Ternyata dia berdiri disana. Gerutu Vivian dalam


hati.


Lima menit berlalu, begitu pula pidato Dion pagi itu. Semua


siswa baru di bagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 30


siswa. Setelah terbentuk kelompok mereka akan di damping oleh 3 anggota OSIS.


Vivian dan kelompoknya memasuki kelas mereka. Anggota OSIS yang menangani


bertabrakan dengannya saat keluar dari kantin sekolah.


Semua siswa baru di suruh untuk memperkenalkan diri di depan


kelas satu persatu. Yang mendominasi kelompok Vivian kali ini lebih banyak anak


laki-laki dari pada perempuannya. Namun tidak ada satu pun laki-laki yang


menggoda Vivian. Mungkin karena penampilan Vivian yang sekarang terlihat sangat


culun dengan kaca mata yang dikenakannya sehingga semua laki-laki sedang sibuk


mengoda Berlian.


Vivian merasa sangat lega kali ini. Karena dengan


penampilannya yang baru dia tidak harus meladeni cowok-cowok yang mencoba


menggodanya dan bersikeras meminta nomor ponselnya.


Sesi perkenalan telah berakhir dan bel tanda istirahat telah


berbunyi. Vivian keluar dari ruangan dan pergi mencari keberadaan temannya


Jasmine. Vivian berjalan keluar masuk beberapa ruangan. Setelah sudah sedikit


kecapean karena pencarian yang tak kunjung ke titik temu, akhirnya sampai pada


batas kesabaran Vivian memutuskan untuk pergi ke kantin membeli sebotol minuman


mineral.


Saat Vivian meneguk minumannya, tiba-tiba dia terkejut dengan


pemandangan yang ada di depannya sekarang. Air yang berada dalam tenggorokan


seperti terhenti sejenak karena syok. Jasmine sedang duduk bersama dengan D3


dan kakak sepupunya Rino.


Vivian mengelap ujung bibirnya menggunakan ibu jarinya. Menutup


botol minum dan mengeluarkan ponsel dari saku bajunya. Mengetik sesuatu dengan


cepat dan mengirimkannya. Jasmine yang semula begitu hanyut dalam lamunannya


terhadap Dion segera tersadar karena ponselnya yang bergetar. Jasmine menatap


layar ponsel dengan mengerutkan dahi. Melihat ke sekeliling dengan cermat namun


tidak menemukan apa yang telah dia cari.


Vivian merasa sangat geli melihat tingkah Jasmine yang tidak


mengenali dirinya. Vivian segera mengambil foto selfi dan menekan tombol kirim.


Saat Jasmine membuka layar ponselnya dia sedikit tersedak minumannya sendiri.


“Kamu kenapa Cumut.?” Seru Rino sedikit khawatir dengan


kecerobohan adiknya itu.


“Nggak kenapa-napa kok kak.” Sahut Jasmine cepat. Sekali lagi


Jasmine mencari Vivian dalam kerumunan orang yang berada dalam kantin. Akhirnya


Jasmine menemukan Vivian yang sedang duduk menyendiri di sudut kantin. Vivian hanya


melambaikan tangan tanpa dosa saat tatapan mereka bertemu.


“Aku kesana dulu ya kak. Mau ketemu temen.” Kata Jasmine


sambil tersenyum pada kakaknya Rino.


“Siapa.? Vivian.?” Tanya Rino dengan antusias.


“Kepo.” Sahut Jasmine dan segera berlalu pergi meninggalkan


ketiga cowok terkeren di sekolah dan kakak sepupunya yang selalu menyebalkan


baginya.


“Vivian.?” Namanya tidak begitu asing di telinga.” Seru Dafa.


“Iya. Kamu kenal sama dia.?” Tanya Rino sambil menyeruput teh


botol yang ada di depannya. Dafa mengeluarkan ponsel dan mencari sebuah foto


dalam galeri ponselnya.


“Vivian yang ini bukan.?” Tanya Dafa sambil menunjukkan layar


ponselnya kepada Rino. Dan sontak saja Rino tersedak melihat foto Vivian bersama


dengan Dafa.


“Kalian kenapa bisa kenal.? Dan kenapa juga kamu bisa foto


bareng sama dia.?” Tanya Rino penuh dengan kecurigaan.


“Woi. Sabar ya gays. Jadi gini ceritanya, kita itu nggak


sengaja ketemu dalam sebuah acara wedding party gitu. Kalian kan tahu sendiri


kalau band milikku begitu tenar jadi kita punya banyak job. Nah kebetulan Vivian


juga jadi tamu disana.” Jelas Dafa panjang lebar.


“Lalu kenapa kamu bisa kenal sama dia.?” Tanya Diandra heran dan penasaran.


Sedangkan Dion masih juga diam mendengarkan celotehan temannya itu. Meski dalam hati


selalu merasa penasaran dengan sosok yang tengah mereka bicarakan sekarang.


“Yang aku tahu, seorang Dafa tidak akan berkenalan dulu


dengan seorang wanita. Apalagi sampai foto bareng kayak gitu. Masih kamu save


lagi fotonya.” Lanjut Diandra geleng-geleng kepala.


“Karena kita punya hobi yang sama.” Sahut Dafa sambil


nyengir.


Hobi yang


sama.? Apa maksud perkataan Dafa barusan.? Dion bertanya dalam diam.