Point Of Love

Point Of Love
Penyesalan tiada akhir



Vivian pulang bersama dengan kedua sahabatnya. Mereka sangat senang akhirnya mereka bisa naik bus yang sama dan berangkat sekolah bersama. Vivian pulang dengan perasaan senang. Bukan karena dia telah bertemu dengan cowok ganteng di sekolah barunya tetapi karena keinginan dan cita-cita untuk masuk ke sekolah tersebut akhirnya bisa segera terjadi. Vivian meletakkan sepeda dibelakang rumah neneknya. Melangkahkan kaki dengan riang masuk menuju rumahnya.


“Dari mana kamu nduk.?” Tanya bapak Vivian yang sedang duduk di kursi depan rumah Vivian.


“Itu Pak. Vivian dari SMA PERMATA untuk mendaftar beasiswa dan mengikuti tes tulis.” Sahut Vivian dengan ekspresi senang.


“Bapak nggak suka kamu sekolah disana.” Seru Bapak Vivian singkat.


“Kenapa Pak.? Ini merupakan impian Vivian selama ini. Vivian ingin sekali bersekolah disana.” Kata Vivian.


“Pokoknya bapak nggak suka kamu sekolah disana. Bapak sudah memilih salah satu pesantren yang bagus buat kamu. Disana juga ada sekolah tingkat SMA nya juga.” Kata Bapak Vivian.


“Tapi pak. Vivian juga punya pilihan sendiri. Vivian nggak mau masuk pesantren pak. Lagian juga Vivian masuk ke SMA PERMATA lewat jalur beasiswa, jadi bapak nggak akan membayar sekolah Vivian sepeser pun.” Sahut Vivian mengharap bapak nya akan luluh dengan semua penjelasannya.


“Kamu jangan melawan perintah orang tua ya.!” Seru Bapak Vivian sedikit emosi.


“Vivian nggak pernah melawan perintah bapak. Selama ini Vivian selalu menuruti semua perintah bapak tanpa mengeluh. Apa pernah bapak bertanya pada Vivian, Vivian keberatan apa nggak. Nggak kan pak.? Vivian mohon pak. Untuk kali ini izinin Vivian untuk menentukan masa depan Vivian sendiri.!” Kata Vivian sambil bersimpuh pada kedua kaki Bapaknya yang sedang duduk.


“Baik. Untuk kali ini bapak akan mendukung keinginan kamu nduk. Tapi ingat satu hal, jika suatu hari nanti kamu ada masalah dengan sekolah itu, kamu mau tidak mau harus menuruti perintah bapak dan segera pindah ke pesantren pilihan bapak.” Sahut Bapak Vivian tegas.


“Makasih ya pak. Bapak baik banget.” Seru Vivian sambil memeluk Bapaknya dan beliau membalas memeluk dan mengelus rambut anak gadisnya yang mulai tumbuh dewasa dengan segala pemikirannya.


“Tapi ingat pesan bapak.!” Tegas Bapak Vivian.


“Siap Bos.!” Sahut Vivian sambil mengangkat tangan dan memberi hormat.


Bapak Vivian hanya bisa tersenyum melihat tingkah anaknya yang lucu di depannya sekarang. Bukan tanpa alasan bapak Vivian menginginkan dia untuk masuk ke pesantren. Bapak Vivian sangat khawatir dengan pergaulan


anak zaman sekarang. Vivian adalah anak kesayangan bapak dan anak perempuan satu-satunya. Bapak Vivian hanya ingin anak perempuanya bisa mengemban ilmu di pesantren. Karena beliau dulu juga pernah menimba ilmu di pesantren namun tidak sampai lulus. Jadi inilah salah satu alasan Bapak Vivian yang begitu antusias menyuruh anak gadisnya masuk kesana.


Vivian sangat senang dengan respon dari bapak tentang keputusannya kali ini. Tapi dia juga harus mengemban tanggung jawab yang berat. Karena jika terjadi suatu masalah sedikit saja maka impiannya bersekolah di sekolah pilihannya akan langsung berakhir saat itu juga. Sekarang Vivian harus fokus untuk tes selanjutnya yakni tes wawancara face to face. Tes inilah yang akan menentukan masuk tidaknya dia di sekolah tersebut. Dan tes wawancara dilaksanakan satu minggu setelah tes tulis.


Sore itu seperti biasa Vivian mengaji di TPQ bersama dengan semua teman-temannya. Setelah kabar akan pernikahan Jalal dengan anak pak lurah tersebar, Jalal sudah tidak pernah datang lagi untuk mengaji.


Vivian duduk di tempatnya sambil membaca buku pelajaran hari ini. Nurdin telah lama memperhatikan Vivian dari kejauhan dari tadi. Mala dan Juwita yang mengetahui hal tersebut memberikan kode kepada Vivian. Vivian berbalik badan dan pandangan mata mereka bertemu. Selang beberapa detik Nurdin segera beranjak dari duduknya dan keluar ruangan. Hal itu membuat Vivian mengerutkan dahi tak mengerti dan Vivian memutuskan untuk menyusul Nurdin keluar. Nurdin duduk sendiri pada tembok pagar kelas setinggi pinggang orang dewasa yang berada tepat di belakang kelas. Vivian memberanikan diri untuk menghampiri Nurdin dan meminta maaf padanya.


“Kamu ngapain kesini Vi.?” Tanya Nurdin tanpa menatap Vivian.


“Nggak ada. Memangnya ada yang melarang kalau aku kesini.?” Vivian balik bertanya. Membuat Nurdin tertawa singkat mendengar pernyataan Vivian yang sangat masuk akal.


“Kenapa.? Kamu mau kemana.?” Tanya Vivian terkejut. Nurdin merubah posisi duduknya dan menghadap ke Vivian.


“Lihat aku Vivian.!” Seru Nurdin pada Vivian. Dengan berat hati Vivian mengangkat kepalanya yang tertunduk dan tatapan mereka bertemu. Luka yang ada di ujung bibir Nurdin dan di salah satu matanya membuat Vivian tanpa disadari telah menyentuh luka itu.


“Kamu kenapa.?” Tanya Vivian cemas.


“Aku baik-baik saja kok.” Sahut Nurdin dan memegang tangan Vivian yang menyentuh lukanya. “Ini bukan apa-apa dibandingkan dengan sakit hatimu Vi.” Lanjutnya.


“Tapi nggak kayak gini juga kan.!” Seru Vivian.


“Vivian, semua ini salah aku. Mulai awal aku yang merencanakan semuanya. Aku merubah surat dari kamu. Meyakinkan Jalal kalau yang kamu suka adalah dia. Mencoba membuatmu cemburu dengan melibatkan Nia. Semuanya salah aku.” Seru Nurdin pada Vivian.


“Sebenarnya aku tahu semuanya. Hanya satu hal tidak ku mengerti. Saat kamu merubah surat dariku, tidak adakah rasa cinta sedikit pun yang kamu miliki untukku.?” Pernyataan Vivian membuat Nurdin merah padam. Emosi yang dia pendam dalam hatinya seakan ingin meledak mendengarnya.


“Aku terpaksa melakukannya Vivian. Selama ini keluargaku berhutang budi sama dia. Aku fikir dengan melakukan semua itu untuk dia bisa membalaskan semua yang telah dia lakukan untuk keluargaku.” Kata Nurdin.


“Dengan mempertaruhkan perasaanmu sendiri.?” Celetuk Vivian sedikit geram.


“Maafin aku Vivian. Tidak seharusnya aku melakukan semua itu. Dengan begitu mungkin saat ini kamu tidak akan sakit hati karena dia.” Sahut Nurdin menyesal.


“Nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan tidak akan merubah apayang telah terjadi. Bagiku dia hanya masa lalu dan semua ini telah memberikan aku sebuah pelajaran dalam hidup. Tidak semua yang kita inginkan akan berjalan dengan lancar. Semua ada di tangan Tuhan.” Jelas Vivian panjang lebar.


“Kamu benar Vivian. Aku nggak nyangka kamu akan bersikap sedewasa ini. Aku salut padamu.” Kata Nurdin sedikit menggoda membuat Vivian tersenyum.


“Sebenarnya aku mau pamit Vi.” Lanjut Nurdin.


“Kamu mau kemana.?” Tanya Vivian singkat.


“Besok aku akan pergi ke pesantren. Setelah perkelahianku dengan Jalal kemarin membuat keluargaku marah dan memutuskan mengirimku ke pesantren agar aku bisa bersikap lebih baik lagi dari sebelumnya.” Sahut Nurdin dengan mata berkaca-kaca.


“Kenapa kamu melakukan semua ini.? Apa alasannya.?” Sahut Vivian.


“Semua ini karena kamu Vivian. Aku nggak bisa melihat orang yang aku sayang disakiti orang lain.” Perkataan Nurdin membuat Vivian membuka mata dengan lebar karena syok. “Vivian,aku sayang sama kamu. Maaf selama ini aku tidak pernah menyatakannya padamu. Karena aku takut aku tidak pantas untukmu.” Lanjut Nurdin sambil memegang tangan Vivian.


“Jangan kayak gitu.! Nggak enak dilihat yang lain.” Vivian melepaskan tangannya. “Nurdin, aku tahu sebenarnya kamu suka sama aku. Tapi maaf aku nggak bisa. Aku nggak mau sakit hati untuk yang ketiga kalinya. Cukup kejadian selama ini jadi pelajaran tersendiri untukku. Aku hanya ingin fokus dengan masa depanku dan tidak ingin terlibat lagi dengan percintaan.” Vivian menghela nafas kasar melalui hidungnya. “Sekarang kamu juga harus fokus dengan masa depanmu sendiri. Agar kita bisa hidup dengan lebih baik.” Lanjut Vivian.


Vivian segera pergi meninggalkan Nurdin yang masih dalam penyesalan. Menyesali semua yang telah dia lakukan selama ini padanya. Nurdin tidak menyangka Vivian akan menolak pernyataan cintanya. Dia fikir selama ini Vivian hanya menyukainya saja tapi ternyata dia salah. Dan sekarang hanya penyesalan yang tersisa.