Point Of Love

Point Of Love
Semakin Terjerumus



Jalal pulang dengan perasaan yang mengganjal. Perkataan Vivian mengganggu fikirannya. Jalal memutuskan untuk mampir ke rumah Nurdin terlebih dahulu sebelum pulang ke rumahnya sendiri. Jalal adalah lelaki yang mandiri. Di usianya yang terbilang masih muda dia sudah termasuk kategori lelaki yang mapan. Dengan hasil kerja kerasnya dia sudah mampu membeli rumah sendiri bahkan memiliki kendaraan pribadi. Wanita mana yang tidak tertarik dengan kharismanya. Meski dia hanya jebolan SMP namun kemampuannya dalam bidang pertanian tak terelakkan. Banyak orang yang berguru dan meminta pendapatnya tentang berbagai permasalahan terkait pertanian. Entah itu pemilihan bibit ataupun pupuk yang berkualitas dan bagus untuk digunakan.


Jalal dan Nurdin adalah sahabat semenjak mereka masih kecil. Jalal sering membantu keluarga Nurdin saat kesusahan. Mungkin itu yang menjadi salah satu alasan Nurdin melepaskan Vivian begitu saja untuk Jalal sahabatnya. Jalal telah tiba di depan rumah Nurdin. Dia mengetuk pintu rumah dengan pelan. Tak lama kemudian terdengar engsel pintu itu terbuka. Seorang wanita paruh baya mengenakan daster dengan beberapa jahitan tangan di bahunya karena sering robek termakan usia. Dialah wanita yang melahirkan Nurdin ibu Satiem.


"Eh nak Jalal. Ada apa malam-malam kesini nak?" Sapa ibu Satiem dengan seuntai senyum dibibirnya.


"Iya bu maaf mengganggu. Apa Nurdin ada di rumah?" Sahut Jalal.


"Ada dia sedang di kamarnya. Sebentar ibu panggilkan. Mari nak silahkan masuk." Kata ibu Satiem sambil mempersilahkan Jalal masuk ke dalam rumahnya yang sederhana.


"Iya bu terima kasih." Jawab Jalal lalu dia masuk dan duduk di kursi kayu yang sudah tua milik keluarga Nurdin.


Ibu Satiem masuk ke dalam dan memanggil Nurdin yang sedang tiduran menatap langit-langit kamarnya. Raut wajah Vivian yang sedang tersenyum melintas dalam fikirannya.


Kamu sedang apa sekarang Vivian? Maafkan atas semua keputusanku yang membuatmu kecewa. Sungguh aku tak pernah berfikir sedikitpun menyakiti perasaanmu. Semua ini ku lakukan hanya untuk membalas kebaikan Jalal selama ini terhadap keluargaku. Hanya ini yang bisa ku lakukan untuknya. Mengesampingkan perasaanku sendiri untuk sahabat terbaikku. Sekali lagi aku minta maaf Vi.


Nurdin memejamkan mata sejenak. Dia larut dalam emosinya sendiri hingga tak menyadari ibunya telah berdiri tak jauh dari tempat tidurnya.


Ibu Satiem menatap anaknya sejenak lalu menepuk kaki Nurdin pelan. Nurdin terkejut dan menatap ibunya sudah berada dalam kamarnya. Dia segera bangun dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Ada apa buk?" Tanya Nurdin gugup.


"Kamu sudah tidur?" Ibu Satiem balik bertanya.


Tanpa berfikir panjang Nurdin langsung menggelengkan kepala.


"Ada nak Jalal di ruang tamu. Katanya pengen ketemu kamu." Lanjut ibu Satiem.


"Oh." Kata Nurdin singkat sambil segera mengenakan sandal jepitnya.


Saat Nurdin melangkahkan kakinya hendak meninggalkan kamar ibu Satiem tiba-tiba memegang lengan anaknya dan menahan pelan sambil berkata. "Ada masalah apa?" Tanya ibu Satiem cemas.


Nurdin memegang tangan ibunya dengan lembut lalu menepuknya pelan. "Ibu tenang ya! Nggak ada apa-apa kok." Kata Nurdin sambil melempar senyum termanisnya kepada ibu Satiem.


Di ruang tamu Jalal sedang duduk bersantai. Menatap sekeliling ruangan itu dan tidak ada yang mencolok. Semua sama seperti sebelumnya. Nurdin berjalan mendekatinya dengan perasaan was-was.


"Ngobrolnya di luar saja. Nggak enak sama ibu kamu." Jalal keluar terlebih dahulu di susul oleh Nurdin di belakangnya. Mereka berjalan menjauhi rumah Nurdin agar ibu Satiem tak dapat mendengar pembicaraan mereka. Sampailah mereka di sebuah pos kampling di pertigaan jalan.


Jalal duduk terlebih dahulu dan menghela nafas dalam. Menatap Nurdin yang masih berdiri di depannya.


"Kamu tahu kan kalau aku suka sama Vivian." Jalal menghela nafas lagi. Nurdin hanya merespon dengan anggukan.


"Terus?" Tanya Nurdin.


"Tadi dia ngajakin buat ketemu. Otomatis aku seneng banget dengernya." Jalal tersenyum berseri.


"Aku kira dia mau ungkapin perasaannya secara langsung tanpa harus menulis surat kayak kemarin tapi ternyata." Kalimat Jalal terdengar menggantung.


"Ternyata apa?" Tanya Nurdin ragu. Karena dia takut Vivian akhirnya akan bilang pada Jalal kalau sebenarnya yang dia sukai selama ini adalah dirinya sendiri bukan Jalal.


"Dia bilang surat itu bukan untukku tapi untuk orang lain." Lanjut Jalal.


Deg!!


"Kenapa bisa begitu?" Tanya Nurdin dengan nada heran. Meski dalam hati khawatir bukan kepalang.


"Aku juga nggak ngerti kenapa dia mengatakan hal semacam itu. Padahal disana tertulis dengan jelas namaku." Sahut Jalal.


Nurdin duduk tepat di samping Jalal. Memeluk bahunya dan berkata. "Mungkin dia hanya malu mengakui perasaannya pada orang yang dia suka. Hingga mengatakan hal-hal yang aneh."


"Apa benar seperti itu?" Tanya Jalal dengan dahi yang mengerut.


"Ya iyalah. Namanya juga anak cewek. Mereka cenderung lebih pemalu dari yang kita bayangkan. Walaupun dia dengan berani menyatakan perasaannya terlebih dahulu kepada cowok yang dia suka." Sambil melirik Jalal. "Tapi sifat pemalunya tak dapat dia hindari. Itu sudah sifat alaminya." Lanjut Nurdin memberi penjelasan yang panjang kali lebar.


"Syukurlah kalau memang begitu keadaannya. Sekarang hatiku lebih lega mendengar semua penjelasanmu. Terima kasih ya sudah mau mendengarkan masalahku. Kamu memang yang terbaik. Tidak sia-sia aku menemuimu." Kata Jalal sambil merangkul bahu Nurdin.


"Sudah larut malam pulang sana!" Sahut Nurdin. Sambil mendorong punggung Jalal pelan dengan kedua tangannya.


"Maaf-maaf sampai lupa waktu. Aku pulang dulu ya. Sekali lagi maaf karena sudah menyita waktumu istirahat." Jalal meninggalkan Nurdin yang masih duduk di pos kampling sambil melambaikan tangan.


Jalal sudah tak terlihat lagi karena gelapnya malam. Jalanan desa yang sepi dan hanya ada satu lampu dekat pos kampling yang menerangi. Itupun hanya berukuran 5 watt dengan sorot kuning. Nurdin masih duduk termenung di tempatnya. Mereplay apa yang sudah dia katakan kepada sahabatnya barusan. Memejamkan mata sebentar seakan menyesali apa yang sudah terjadi dan membayangkan wajah Vivian seakan berada tepat di depannya. Menatapnya dengan penuh rasa kecewa dan marah karena dia telah mempermainkan perasaannya.


Kenapa aku mengatakan hal yang tak pantas ku katakan. Harusnya aku mengakhiri kesalah pahaman ini sejak awal. Sekarang aku semakin terjerumus dan masuk dalam lubang kebohongan. Vivian ingin rasanya aku menemuimu sekarang dan mengatakan semua yang terjadi. Tapi sekali lagi aku tidak bisa egois dan mementingkan perasaanku padamu. Aku sangat berhutang budi pada Jalal hingga aku harus mengorbankan cintaku demi dia.


Nurdin mulai melangkahkan kaki pulang ke rumahnya. Meski langkah kakinya terasa begitu berat namun dia tetap berjalan menyusuri jalanan yang sepi dan suram. Fikiran Nurdin yang menerawang jauh membuatnya tak sadar ada batu di depannya. Hingga dia jatuh dan ada luka di lututnya. Dia berdiri kembali dan memberaihkan baju dari tempelan debu yang tak terlihat.


Sakit ini tak sebanding dengan sakit hatimu Vivian.