Point Of Love

Point Of Love
Kamu harus Kuat.!!



Kereta api berhenti di stasiun tepat pukul 06.00 Wib. Candra melangkahkan kaki keluar dari gerbong kereta. Mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya dan membuka chat dari Vivian. Candra mengerutkan dahi saat melihat lokasi Vivian sekarang.


Ini kan perumahan elit. Kenapa Vivian bisa ada disana.? Siapa teman Vivian sebenarnya.? Ujar Candra dalam hati.


Candra bergegas keluar dari stasiun dan mencari taxi. Namun taxi tak kunjung datang. Candra dengan berat hati menghampiri tukang ojek yang mangkal tak jauh dari stasiun. Candra meminta abang tukang ojek untuk mengantarkan ke lokasi yang telah di kirim oleh Vivian. Kehawatiran Candra terhadap Vivian terlihat sangat nyata. Di setiap Vivian mengalami sesuatu hal pasti Candra akan selalu hadir disisinya.


Hanya perlu lima belas menitan akhirnya Candra sampai juga di depan rumah Dion. Candra segera menghubungi nomor yang di gunakan Vivian kemarin dan menempelkannya di telinga. Namun nomor yang di tuju tak kunjung di angkat. Candra mencobanya lagi dan saat dering ketiga ada jawaban.


"Hallo." Ucap Dion dengan malas karena mata yang masih tertutup karena kantuk.


Apa.? Suara lelaki.? Ujar Candra dalam hati. Candra terkejut mendengar suara Dion.


"Hallo. Aku sudah di depan rumahmu. Cepat buka pintunya." Gertak Candra dengan geram.


"Ini siapa.? Berisik.!!" Sahut Dion tak kalah galak. Karena kantuk yang teramat sangat membuat Dion kehilangan setengah kesadarannya.


"Aku kakaknya Vivian. Vivian ada di rumahmu kan.?" Ucap Candra.


Dion seketika membuka mata sambil duduk dan segera tersadar dari kantuknya. Mengusap matanya yang lelah berkali-kali.


"Oh iya. Maaf kakaknya Vivian, aku lupa. Tunggu sebentar aku akan bukain pintu." Seru Dion dan dia segera menutup telepon.


Bodoh kamu Dion.!! Kenapa hal penting kayak gini bisa lupa sih. Aduh.!! Mau di taruh mana muka aku ini. Seru Dion dalam hati.


Dion segera keluar kamar dengan tergesa-gesa. Bik imah yang melihat dari balik dapur hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan majikannya pagi ini. Dion membuka pintu gerbang dan mempersilahkan Candra untuk masuk ke dalam rumahnya. Raut muka Candra terlihat tidak bersahabat.


Serem banget sih mukanya. Jadi ngeri sendiri. Dion bergidik melihat raut muka Candra.


Dion membuka pintu kamar Vivian dengan sangat pelan dan hati-hati. Dion tidak ingin mengganggu tidur Vivian. Namun saat pintu kamar terbuka ternyata Vivian sudah bangun dari tadi. Candra segera menghampiri Vivian dan memeluknya.


"Kamu nggak apa-apa kan dek.? Mana yang sakit.? Bilang sama mas." Ucap Candra sembari memeluk adik kesayangannya.


"Vivian baik-baik saja kok mas." Sahut Vivian dengan senyum yang dipaksakan sambil mengelus punggung Candra pelan.


"Oh iya mas. Kenalin ini kak Dion. Dia yang sudah menyelamatkan ku kemarin." Lanjut Vivian. Candra melepas pelukannya dan menatap adik yang tampak kusut dan pucat.


"Aku Candra. Kakaknya Vivian. Terima kasih karena sudah menyelamatkan Vivian." Ucap Candra ketus.


"Iya mas sama-sama." Sahut Dion canggung.


"Tunggu sebentar. Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya." Ujar Candra.


"Masak sih mas. Dimana.?" Tanya Vivian antusias.


"Kalau nggak salah kita pernah bertemu di cafe. Waktu kamu jemput mas di stasiun waktu itu. Kamu inget nggak dek.?" Tanya Candra pada Vivian.


"Iya mas betul. Waktu itu kita memang nggak sengaja bertemu." Sahut Dion menimpali.


"Oh iya. Mas kapan datang.?" Sahut Vivian sambil tersenyum.


"Mas baru sampai terus langsung kesini. Bagaimana kamu bisa berada disini.? Bukannya kamu sedang di rawat di rumah sakit.?" Candra memegang kedua tangan Vivian.


Candra mengerutkan dahi mendengar pernyataan Vivian. Begitu juga Dion tak kalah terkejut.


"Maksud kamu apa dek.? Mas nggak ngerti." Ujar Candra.


"Sebenarnya Bapak memaksa Vivian agar menyetujui pernikahannya dengan tante Sinta. Kalau Vivian nggak setuju, bapak akan tetap menikahinya. Kemarin saat kami terlibat pertengkaran tentang masalah ini tanpa sengaja bapak mengucapkan kata yang begitu menyakiti hati Vivian mas." Vivian menatap Candra dengan linangan air mata yang siapa saja yang melihat akan merasa kasihan dan iba.


"Bapak bilang apa sama kamu.?" Tanya Candra sedikit ragu. Karena takut hal ini akan semakin membuat hati Vivian sakit.


"Mas mau tahu apa yang dikatakan bapak sama aku.?"


Candra hanya mengangguk tanpa satu kata keluar dari mulutnya.


"Bapak bilang." Vivian kembali terisak dan menundukkan pandangannya. Candra khawatir dengan kondisi Vivian saat ini.


"Vivian. Kamu kenapa.? Apa yang bapak bilang.?" Tanya Candra penasaran namun juga takut dengan apa yang akan Vivian katakan. Vivian menatap Candra sekali lagi dan menguatkan hatinya.


"Bapak bilang aku.. Aku.. Aku bukan anak kandungnya mas."


Bak tersambar petir di pagi hari. Candra hanya bisa tertegun tanpa bisa berkata apa-apa. Dion juga ikut terkejut mendengar perkataan Vivian barusan. Ketakutan Candra selama ini akhirnya terjadi.


Pantas saja dia kabur dari rumah sakit. Kalau aku jadi dia mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Ujar Dion dalam hati.


"Kepana mas Candra diam.? Apa mungkin mas sudah tahu perihal semua ini.?" Ujar Vivian.


"Vivian sekarang tenang dulu ya.!!" Seru Candra mencoba menenangkan Vivian dengan mengelus bahunya.


"Nggak mas. Aku ingin tahu yang sebenarnya. Aku nggak akan tenang sebelum tahu apa kebenarannya." Ucap Vivian dengan air mata yang tidak bisa dia kendalikan.


Candra menghela nafas sejenak. Meletakkan kedua tangannya pada bahu Vivian. Perang batin yang sedang melanda dalam fikiran serta berkecamuk dalam hatinya tersirat sepenuhnya pada raut muka Candra saat ini. Candra mengendalikan diri dan perasaannya saat ini.


"Vivian. Apa kamu sudah siap mendengar kebenarannya." Ucap Candra.


Vivian mengangguk pelan.


Aku harap setelah kamu mengetahui semua kebenarnya, kamu nggak akan marah sama mas Candra Vivian. Ujar Candra dalam hati.


"Tapi sebelumnya mas pengen kamu janji satu hal sama mas." Ucap Candra ragu.


"Apa mas.?"


"Kamu harus janji kamu nggak akan marah sama mas." Seru Candra meyakinkan.


"Mas Candra ngomong apa sih.? Kenapa juga Vivian harus marah sama mas. Lagi pula masalah Vivian kali ini nggak ada hubungannya sama mas Candra." Ucap Vivian sambil tersenyum.


"Pokoknya mas nggak mau tahu. Kamu harus janji dulu sama mas dan nggak akan marah sama mas." Seru Candra.


"Oke. Vivian janji nggak akan marah sama mas." Sahut Vivian.


Apa yang sebenarnya mas Candra sembunyikan dari ku. Ya Alloh semoga apa yang akan aku dengar ini tidak akan membuat ku semakin terluka. Kamu harus kuat Vivian.!! Harus.!! Seru Vivian dalam hati.