
Mereka telah bersiap pergi keluar untuk makan malam. Candra telah memesan taxi online untuk mengantar mereka. Faro terpaksa mengenakan baju milik Candra. Karena bajunya sendiri masih basah kuyub akibat kehujanan.
Mereka menunggu taxi online di depan gerbang perumahan. Tak lama mereka menunggu akhirnya mobil yang di sewa datang juga. Mereka segera menuju alun-alun kota banyuwangi untuk menikmati malam minggu bersama. Pujasera yang berjejer di pinggir trotoar alun-alun blambangan menyajikan berbagai jenis makanan dan minuman.
Program bupati banyuwangi yang memberikan tempat gratis untuk para pedagang kaki lima yang berbisnis di bidang kuliner. Terutama kuliner khas daerah banyuwangi.
Pecel pithik, pelasan oling, sego cawuk, sego tempong, pecel rawon, rujak soto, uyah asam pithik, pindang koyong dan lain sebagainya. Ada juga jajanan khas yakni kucur, klemben dan bagiak.
Suasana disana sangat ramai akan pengunjung. Moment malam minggu memang moment yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga, teman ataupun sahabat.
Mereka memesan makanan sesuai dengan selera masing-masing. Memilih meja cukup besar agar muat untuk lima orang dengan tema lesehan.
Tiga sego tempong dan dua pecel pithik telah mereka pesan. Di tambah dengan 3 jus jeruk dan dua es teh manis juga telah di pesan. Mereka menikmati makanan dengan iringan musik yang di mainkan para pengamen jalanan yang sudah biasa mangkal disana untuk menghibur para pengunjung alun-alun.
Vivian telah selesai dengan sego tempong miliknya. Meneguk jus jeruk manis sampai tetes terakhir. Melirik para pengamen yang juga selesai dengan lagunya. Vivian menghampiri mereka dan berbincang sedikit. Ternyata Vivian meminta ijin untuk menyumbangkan sebuah lagu.
Candra dan juga Faro tidak menyadari kalau Vivian tidak ada bersama mereka. Saat Vivian mulai mengeluarkan suara emasnya di iringi dengan petikan gitar yang di mainkan pengamen yang ada disana. Semua mata tertuju pada satu titik yaitu Vivian.
Suara Vivian yang lembut seketika menghipnotis para pengunjung yang ada disana. Lagu yang berjudul pergi hilang dan lupakan adalah lagu yang di nyanyikan Vivian kali ini.
"Untuk dua kakakku dan dua kecebong kesayanganku. Ini spesial buat kalian yang sudah menemaniku sampai detik ini." Ucap Vivian di balik mikrofon di sela lirik yang dia nyanyikan.
Semua orang bertepuk tangan dengan penampilan Vivian.
Candra dengan senyum mengembangnya menatap Vivian lekat dan berkata pada Faro.
"Nggak terasa ya.? Dia sudah sebesar ini sekarang." Ucap Candra.
"Padahal dulu sering minta gendong punggung sama kamu atau aku." Sahut Faro. Mereka pun tertawa bersama.
Hal ini membuat Mala dan Juwita saling pandang tak mengerti.
"Kalian sudah kenal lama.?" Tebak Mala asal.
Candra hanya tersenyum simpul tanpa berkomentar apa-apa.
"Terus kalau sudah kenal kenapa kalian tadi siang berantem nggak jelas gitu.?" Sahut Juwita heran.
"Iya. Aku kok jadi bingung gini." Ujar Mala menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
Vivian telah selesai dengan lagu yang dia bawakan. Gemuruh tepuk tangan di berikan oleh seluruh pengunjung yang ada disana. Vivian juga berterima kasih kepada para pengamen yang sudah mempercayai dia untuk menyanyi di tempat itu. Vivian berlari menuju kakak dan juga teman-temannya.
"Ini dia artis kita. Vivian." Seru Mala yang di sambut tepuk tangan oleh yang lain membuat Vivian menutup mukanya sendiri dengan kedua tangannya.
"Iihh.. apaan sih Mal.? Malu tahu.?" Ucap Vivian sambil bersembunyi di balik bahu Juwita.
Juwita tersenyum melihat tingkah Vivian. Menggerakkan bahunya tanda agar Vivian tidak bersembunyi lagi padanya. Juwita membisikkan sesuatu pada telinga Vivian dengan tangan yang menutupinya. Membuat Faro dan juga Candra menaruh rasa curiga.
"Woy. Telinga deket ini woy." Seru Juwita kesal sambil menutup telinganya sendiri.
"Kalian ngomongin apa sih.?" Tanya Candra.
Vivian malah menatap Candra dan Faro bergantian penuh dengan rasa curiga.
"Apa bener dengan apa yang dikatakan Juwita.? Kalau kalian sudah kenal lama.?" Ucap Vivian.
Candra dan Faro saling tatap seperti telah terciduk karena sesuatu hal.
"Maksud kamu apa dek.?" Candra mencoba mengelak.
"Mas Candra sudah janji sama Vivian. Kalau mas nggak akan pernah sembunyikan apapun dari Vivian. Mas lupa.?" Ujar Vivian. Candra menghela nafas sejenak lalu berkata.
"Oke. Mas akan jujur sekarang. Benar dengan apa yang sudah Juwita katakan tentang mas Candra dan Al faro. Kita memang sudah lama kenal. Al adalah anak dari temennya almarhum papa. Kita sudah kenal dari kecil. Dulu waktu masih SMA kita juga sempat satu sekolah." Ujar Candra.
Vivian, Mala dan Juwita hanya bisa termenung tak percaya mendengar kenyataan yang sedang ada di depan mereka.
"Terus perkelahian tadi itu hanya settingan.?" Sahut Mala.
"Kalau itu bukan settingan. Candra benar-benar memukulku." Ujar Faro.
Candra menceritakan semuanya. Apa yang membuatnya marah hingga berkelahi dengan Faro. Juga alasannya kenapa setelah perkelahian Candra berubah 90 derajat bersikap baik terhadapnya. Vivian hanya diam mendengarkan semuanya. Sedangkan Mala dan Juwita yang sedikit heboh dengan kenyataan yang ada.
Alun-alun belambangan menjadi saksi akan terkuaknya sebuah rahasia antara kedekatan Candra dan Faro. Candra juga menunjukkan foto masa kecil Vivian kepada mereka. Gelak tawa tidak bisa mereta tahan melihat kepolosan Vivian saat masih balita.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 Wib. Candra mengajak semuanya untuk segera pulang. Mereka juga belum berbelanja perlengkapan dapur dan juga obat untuk Faro.
Saat pulang mereka berhenti sebentar di indomart untuk membeli perlengkapan dapur. Kebetulan sekali di samping indomart ada apotik yang buka. Vivian dan dua temannya memilih masuk ke dalam indomart. Sedangkan Candra membeli beberapa obat untuk persediaan di rumah.
Faro duduk sendiri di depan indomart. Menikmati langit gelap dengan bintang-bintang kecil yang bersinar. Terlihat begitu indah dan cantik. Malam itu sangat berkesan bagi Faro.
Candra keluar dari apotik dengan satu kantong plastik kecil berisi beberapa obat. Berjalan mendekati Faro dan duduk di sebelahnya.
"Kenapa senyum-senyum.?" Ucap Candra.
"Nggak. Hanya hari ini terasa beda aja." Sahut Faro. Candra hanya mengerutkan dahi.
"Aku nggak akan pernah lupa dengan semua yang terjadi hari ini." Ujar Faro menatap Candra dengan senyum simpulnya. Candra membalas senyuman itu dan mendorong lengan Faro.
Vivian berteriak dari balik pintu indomart untuk memanggil Candra. Vivian sudah selesai untuk memilih barang yang akan di beli dan sekarang tinggal membayar semuanya di kasir. Karena Vivian tidak punya uang sama sekali maka belanja kali di bayar oleh kakaknya.
Setelah selesai membayar mereka segera pulang dengan membawa tiga kantong plastik belanjaan. Mereka memutuskan memanggil taxi untuk pulang. Karena hari sudah larut malam maka sulit untuk menemukan angkutan umum yang lewat. Beruntung taxi yang mereka pesan segera datang. Mereka pun pulang dengan perasaan senang karena malam yang begitu istimewa juga karena Vivian bisa tertawa seperi sedia kala.