
Faro membawa Vivian masuk ke dalam cafe melalui pintu belakang. Semua karyawan yang berpapasan dengan Faro segera memberi salam dan menunduk. Namun Faro tidak mempedulikan hal itu. Dia masih bersikeras menarik tangan Vivian agar mengikutinya. Faro menaiki tangga disusul oleh Vivian dibelakangnya.
"Kak Faro. Sakit kak." Ucap Vivian sambil mencoba melepaskan cengkraman tangan Faro yang cukup kuat.
Faro membuka pintu ruangannya dan menarik Vivian untuk masuk ke dalam. Mendorong Vivian agar duduk di sofa ruangan itu. Vivian hanya bisa meringis kesakitan sambil memegangi pergelangan tangannya yang memerah.
Faro mencari sesuatu dalam laci meja kerjanya. Sebuah kotak berwarna putih. Menghampiri Vivian dan meletakkan kotak itu di atas meja dengan kasar.
"Kak Faro kenapa sih.? Kesurupan atau gimana.?" Tanya Vivian kesal.
Namun Faro masih juga diam tak menjawab pertanyaan Vivian.
"Sini tangan kamu.!!" Ujar Faro kasar. Sambil menarik tangan Vivian. Vivian menarik tangannya sendiri dengan paksa dan kasar.
"Kak Faro mau ngapain sih.?" Teriak Vivian geram.
Faro masih memilih untuk diam. Menarik tangan Vivian dan segera mengoles salep pada tangannya yang terlihat memerah.
"Lepasin." Vivian menarik tangannya dengan paksa. Begitu juga dengan Faro tidak ingin mengalah dengan Vivian. Faro menarik tangan Vivian dengan kuat hingga tubuh Vivian tertarik berdekatan dengan tubuh Faro.
Pandangan mereka bertemu. Vivian menatap Faro dengan jantungnya yang berpacu cepat seperti kuda yang berlari. Vivian menatap mata yang begitu menawan. Bola mata yang berwarna coklat dengan bulu mata cukup lentik membuat Vivian menelan ludahnya sendiri. Sudut mata itu lambat laun menarik hati Vivian untuk menyentuhnya. Setetes air menyentuh ujung jari Vivian.
Vivian menyentuh wajah Faro dengan lembut dan berkata.
"Kak. Lihat aku.!!" Seru Vivian.
Perlahan Faro menatap mata Vivian yang berbinar dengan senyum simpul di bibirnya yang mungil. Faro memegang tangan Vivian dan mengecupnya tanpa berkata apa-apa.
"Kakak kenapa.?" Ucap Vivian lirih.
"Maaf. Maafin aku Vivian. Aku sudah menyakitimu." Suara Faro terdengar serak karena menahan tangis.
Vivian langsung memeluk Faro dengan penuh kasih sayang. Mengelus rambut dan punggungnya pelan.
"Kak Faro kenapa.?" Ucap Vivian lirih.
"Aku juga nggak tahu. Ada apa denganku." Ujar Faro. Vivian melepaskan pelukannya dan menatap wajah Faro lekat.
"Maksudnya.?" Vivian mengerutkan dahi.
"Aku juga nggak tahu Vivian. Saat aku melihat kamu dekat dengan cowok lain dan bercengkrama dengan mereka. Hatiku terasa sangat sakit. Dan ingin sekali aku menghajar mereka yang mencoba mendekatimu." Ujar Faro kesal.
Vivian semakin tidak mengerti.
"Tapi aku tidak melakukan semua itu. Aku menahannya disini." Jari telunjuk Faro menekan dadanya sendiri.
Vivian diam dan tertegun mendengar pengakuan Faro padanya.
"Karena aku tahu kalau aku tetap melakukannya. Kamu pasti akan membenciku Vivian. Dan aku tidak ingin hal itu terjadi. Semua aku lakukan demi kamu Vivian." Ucap Faro.
Vivian masih diam dan mendengarkan.
Ya alloh. Kenapa aku merasa kalau kak Faro saat ini sedang menyatakan perasaannya secara tidak langsung padaku. Apa yang harus aku lakukan.? Ucap Vivian dalam hati.
"Aku tidak ingin kehilangan kamu Vivian." Ucap Faro sedikit memohon. Vivian menelan ludahnya sendiri. Tidak tahu apa yang harus dia katakan sekarang.
"Kak Faro ngomong apa sih.? Aku nggak ngerti." Seru Vivian mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Vivian. Aku sayang kamu."
Deg.!!
Seluruh tubuh Vivian seakan lemas tak bertenaga. Tatapan matanya berubah menjadi kabur dan buram. Mulutnya terasa kaku. Dan dari kedua tangannya mengeluarkan keringat dingin.
Ya allah. Kenapa jadi kayak gini. Aku tidak pernah menyangka akan berakhir seperti ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Ucap Vivian dalam hati.
"Aku. Aku." Ucap Vivian gugup.
Faro segera memeluk Vivian dan mengelus punggungnya pelan sambil berkata.
"Aku tidak akan memaksa kamu untuk membalas perasaanku. Sekarang hatiku sedikit lebih lega dari sebelumnya. Karena aku sudah mengatakan semua isi hati ini yang terpendam sejak lama." Ujar Faro sambil melepas pelukannya.
Raut muka Vivian berubah pucat akibat syok mendengar pernyataan cinta dari Faro.
"Mulai sekarang aku tidak akan mengekangmu lagi. Kamu bebas melakukan apa saja selama itu masih di batas kewajaran dan positif buat kamu." Ujar Faro tersenyum simpul.
"Aku akan selalu di sampingmu dan mendukungmu." Lanjut Faro.
Apa yang harus aku katakan.? Ya allah bantu aku. Seru Vivian dalam hati. Jantung Vivian semakin tak terkendali. Terus berpacu seperti usai lomba lari maraton. Vivian mengelus dadanya sendiri dan mengatur nafas.
"Kamu kenapa.?" Ucap Faro terkejut dengan kondisi Vivian.
"Aku. Aku nggak bisa nafas kak." Ucap Vivian terbata-bata.
Faro panik dan segera menggendong Vivian ke dalam kamar. Membaringkan Vivian di atas tempat tidur. Faro menyuruh Vivian agar berbaring miring dengan bantal diantara dua kaki dan kepala ditinggikan bertumpu pada bantal. Memastikan punggung Vivian tetap lurus. Posisi ini akan membuat Vivian sedikit rileks serta membuat pernapasan menjadi lebih mudah.
"Gimana.?" Ujar Faro yang terlihat masih menghawatirkan orang yang begitu dia sayang.
"Sudah agak mendingan kok kak."
"Kamu istirahat saja dulu.!!" Ujar Faro yang segera keluar dari ruangan itu dan membiarkan Vivian sendiri disana.
Vivian merasa begitu lega saat Faro sudah tidak ada disampingnya lagi.
"Untung saja aku nggak sampai pingsan tadi." Seru Vivian pada dirinya sendiri.
"Kenapa aku jadi susah bernafas kayak gini sih saat dekat sama kak Faro.? Ayolah Vivian. Kamu harus bisa mengendalikan dirimu sendiri. Jangan sampai kamu suka juga sama Faro hingga hal seperti ini tidak perlu terjadi lagi." Ujar Vivian menyalahkan dirinya sendiri.
Sebenarnya kalau difikir-fikir. Kak Faro orangnya sangat baik. Hanya terkadang caranya untuk mengekspresikan perasaan memang sedikit ekstrim dan menguras emosi. Namun dibalik itu semua dia adalah sosok lelaki yang hangat dan perhatian. Dari luar terlihat dingin dan kejam. Sedangkan dari dalam dia begitu hangat dan perhatian. Apa yang sudah aku katakan.? Sadar Vivian.!! Sadar.!! Kenapa kamu malah memujinya seperti ini. Ingat Vivian dia itu lebih pantas jadi kakak. Bukan pacar ataupun pasangan. Ujar Vivian dalam hati.
Kemelut perselisihan dalam hati Vivian membuatnya mengacak-acak rambutnya sendiri kesal. Vivian memutuskan untuk memejamkan mata sejenak. Tanpa terasa dia sudah tertidur lelap.
Faro masuk ke dalam ruangan dengan sebuah nampan berisi teh hangat dan roti lapis dengan selai jeruk di dalamnya. Menaruh nampan itu di atas nakas. Faro duduk di samping Vivian.
Aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu Vivian. Ujar Faro dalam hati.
Faro membelai rambut Vivian lembut penuh dengan kasih sayang. Mendekatkan wajahnya pada wajah Vivian dan ingin mengecup salah satu pipinya. Namun saat bibir Faro hampir mendarat dipipi Vivian. Vivian membalikkan badan.
Deg.!!
Bibir Faro dan bibir Vivian menempel. Faro terkejut dan jangtungnya seketika berdegup kencang. Faro segera menarik diri dan berdiri dengan cepat. Memegang bibirnya sendiri dengan perasaan yang bercampur aduk.
Vivian menggeliat dan perlahan mulai membuka mata. Melihat Faro yang sudah berdiri di depannya dengan ekspresi tegang.
"Kak Faro kenapa.?" Tanya Vivian sambil menggaruk lehernya yang gatal.
"Kamu. Kamu lapar nggak.?" Tanya Faro canggung.
"Hmm. Lumayan. Ada makanan nggak.?" Tanya Vivian malas disela-sela kantuknya.
"Nih kakak bawain teh hangat sama roti lapis. Kamu mau.?" Ujar Faro sambil duduk dipinggir tempat tidur.
"Boleh." Sahut Vivian sambil mencoba duduk.
"Kakak suapin ya.?" Ucap Faro sedikit ragu. Vivian hanya mengangguk malas. Faro menyuapi Vivian dengan senang hati.
Untung saja dia tidak sadar dengan apa yang terjadi barusan. Kalau dia sampai tahu bisa gawat. Seru Faro dalam hati.