
Faro melajukan motor melewati padatnya lalu lintas di jalan akibat banyaknya pengendara yang baru pulang kerja. Karena waktu telah menunjukkan jam 4 sore dan itu bertepatan dengan pulangnya para karyawan-karyawan yang bekerja di beberapa kantor dan pabrik.
Vivian masih melingkarkan tangannya pada pinggang Faro. Dan tanpa Faro sadari Vivian tengah tidur pulas di punggung Faro. Mungkin ini efek dari obat yang tadi di suntikkan oleh dokter melalui selang infus.
Sampailah mereka di rumah. Faro memarkir motor di garasi tanpa pintu yang berada tepat di barat rumah. Sebenarnya bukan garasi. Hanya ruang kecil untuk menyimpan mesin obat dan beberapa pupuk pertanian milik bapak Vivian.
Faro melepaskan helm dan memanggil Vivian beberapa kali. Tapi Vivian tidak juga bergerak dan menjawab. Faro sempat kaget dan cemas. Takut kalau Vivian akan pingsan lagi. Namun saat Faro turun dari atas motor Vivian tiba-tiba sadar namun tidak 100 persen jiwanya terkumpul.
"Ngantuk." Ucap Vivian lirih. Faro ingin sekali tertawa namun di tahannya.
"Tidur di kamar." Sahut Faro sambil menahan tawa.
Faro membantu membopong Vivian untuk masuk ke dalam rumah. Mengeluarkan kunci dan segera membuka pintu. Faro membopong Vivian hingga sampai di dalam kamarnya. Saat tiba di kamar Vivian segera menjatuhkan diri di atas kasur dengan asal-asalan.
"Yang bagus tidurnya." Seru Faro.
"Bawel." Sahut Vivian lirih di tengah kantuknya. Faro menghela nafas kasar dari hidungnya. Membenarkan posisi Vivian tidur dan memberikan selimut padanya.
Saat Faro ingin keluar kamar tiba-tiba Vivian memegang tangan Faro hingga langkah Faro terhenti. Dan Faro membalikkan badan menatap Vivian.
"Apa lagi.?" Ujar Faro dengan nada kasar.
"Terima kasih Kak Faro." Ucap Vivian cepat namun dapat terdengar jelas di telinga Faro. Setelah mengatakan hal itu Vivian segera berbalik dan bersembunyi di balik selimut. Rona merah yang terpampang di pipinya ingin dia sembunyikan dari siapa pun.
Faro tersenyum senang. Seperti tersiram jutaan es dari ujung kepalanya. Ucapan Vivian barusan membuat jantungnya berdegup kencang. Akhirnya keinginan terbesarnya kali ini akhirnya bisa tercapai juga. Faro keluar kamar dengan seuntai senyum di bibirnya.
Vivian yang masih bersembunyi di balik selimut perlahan mulai tertidur pulas.
Waktu menunjukkan pukul 17.30 atau jam setengah 6 sore. Suara adzan maghrib berkumandang dimana-mana. Vivian terbangun dari tidurnya. Perut Vivian terasa sangat lapar. Karena terakhir Vivian makan pas istirahat. Itu pun yang di makan hanya bakso, lontong dan beberapa gorengan. Yang hanya bisa mengganjal laparnya dan tidak mengenyangkan.
Vivian mencoba bangun dan menuju dapur. Berharap dia akan menemukan makanan disana. Walau Vivian harus melawan rasa pusing di kepalanya yang mengganggu. Namun rasa lapar di perutnya sudah tidak bisa di toleransi lagi.
Dengan susah payah Vivian berjalan menuju dapur. Namun saat Vivian hendak sampai di dapur kepalanya mendadak begitu pusing hingga tak tertahankan. Vivian memegangi kepala dan hampir jatuh ke lantai.
Faro dengan sigap meraih tubuh Vivian dan menolongnya untuk berdiri.
"Kamu nggak apa-apa." Seru Faro cemas.
"Kepalaku sedikit pusing kak." Ucap Vivian lirih.
"Ayo ku antar ke kamar dulu." Faro membopong Vivian sampai di kamarnya. Menidurkan Vivian dan menyelimutinya.
"Kamu ngapain di dapur.?" Tanya Faro gusar.
"Cari makanan. Laper." Sahut Vivian tanpa melihat ke arah Faro berdiri.
"Kenapa nggak manggil aku aja. Kenapa malah keluar kamar sendiri. Sudah tahu lagi sakit malah bertingkah." Seru Faro kesal.
"Maaf kak."
"Udah. Diem disini. Aku siapain makanannya dulu. Untung saja aku lihat tadi. Kalau nggak kan bisa jatuh." Faro segera keluar kamar dan menuju dapur untuk menyiapkan makanan dengan mulutnya yang masih mengomel seperti ibu-ibu PKK.
Tidak membutuhkan waktu lama. Faro telah masuk kembali ke kamar Vivian dengan sebuah nampan yang berisi sepiring spageti bulgones dan segelas jus jeruk.
"Kalau makan duduk. Jangan tidur.!!" Seru Faro sambil meletakkan nampan di atas meja belajar Vivian.
"Iya." Sahut Vivian dan dia mencoba untuk duduk. Faro membantu Vivian dengan meletakkan beberapa bantal pada punggungnya untuk bersandar.
"Bisa makan sendiri.?"
Vivian hanya mengangguk. Faro mengambil piring yang berisi spageti dan memberikannya kepada Vivian. Vivian menerima piring itu dengan senang hati. Saat Vivian hendak memasukkan sesuap spageti ke mulutnya.
"Berdoa dulu." Seru Faro tiba-tiba.
Vivian tertegun dan meletakkan sendok dan garpu. Menengadahkan tangan sejenak dan mengusap seluruh mukanya.
"Gitu aja harus di ingetin." Gerutu Faro. Vivian hanya diam mendengarkan ocehan Faro. Bukan tidak mau melawan atau tidak berani. Namun Vivian mulai menyadari bagaimana sifat Faro yang sebenarnya. Faro sebenarnya orang yang baik namun cara dia mengimplementasikanya sedikit berbeda dari orang lain.
Segala sesuatu yang keluar dari mulutnya walaupun terdengar sadis, namun semua demi kebaikan Vivian juga.
Vivian tidak membantah atau melawannya karena inilah memang sifat Faro yang asli. Keras dan kasar di luarnya. Namun lembut dan baik di dalamnya. Vivian menghabiskan spageti itu tanpa ada yang tersisa. Maklum saja dia memang sedang lapar sekali. Masakan Faro lumayan enak juga. Tidak kalah dengan masakan pedagang kali lima yang biasa jualan di pinggir jalan.
Setelah selesai makan Faro memberikan jus jeruk kepada Vivian dan mengambil piring yang sudah kosong melompong dan meletakkan piring itu di atas nampan.
"Setelah ini minum obat." Ujar Faro. Vivian memberikan gelas yang masih tersisa jus jeruknya sedikit.
"Kak Faro sudah makan.?" Tanya Vivian tiba-tiba.
"Sudah."
"Oh iya. Rumah dari tadi kok sepi banget. Kemana semua orang." Vivian baru sadar kalau di rumah itu hanya ada dirinya dan Faro. Tanpa ada makhluk yang lain.
"Mama lagi di luar kota dan Bapak menemaninya. Karena mama ada urusan yang harus di selesaikan di cabang butik yang ada disana. Makanya rumah sepi kayak kuburan." Sahut Faro.
"Ooo."
"Minum obat dulu." Faro mengambil kantong plastik putih yang ada di atas meja belajar Vivian. Mengeluarkan obat yang harus di minum Vivian.
"Ku ambilkan air putih dulu." Ujar Faro dan dia segera keluar kamar Vivian dan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih.
Usai mengambil air Faro segera bergegas ke kamar Vivian. Di suruhnya Vivian untuk meminum obat yang dari rumah sakit tadi. Vivian merasa lelah dan dia ingin beristirahat. Faro paham akan hal itu. Mungkin ini memang efek dari obat yang dia minum yang bisa menyebabkan kantuk.
"Kak."
"Iya."
"Sekali lagi terima kasih. Karena sudah repot-repot merawat aku." Ucap Vivian lirih.
"Sudah istirahat saja. Katanya capek." Sahut Faro.
Vivian sudah tidak merespon lagi karena dia sudah tertidur pulas. Faro mengusap kening Vivian dan melayangkan satu kecupan manis disana. Entah apa yang sekarang ada dalam fikiran Faro. Hanya dia dan Tuhan saja yang tahu.