Point Of Love

Point Of Love
Rahasia Dua Lelaki



Vivian memberanikan diri memegang wajah Faro. Badan Faro sangat panas. Vivian mulai panik mengetahui kondisi Faro yang sedang demam. Saat Vivian ingin beranjak dari duduknya Faro segera memegang tangan Vivian.


"Di.. Dingin." Ucap Faro lirih dan badannya mulai gemetar.


Vivian langsung menyelimuti Faro dengan selimut tebal yang berada tepat di bawah kakinya.


Vivian melepas genggaman tangan Faro perlahan. Keluar dari kamar untuk mencari kompres agar panasnya bisa turun.


"Kenapa dek.? Faro nggak mau makan.?" Tanya Candra di sela-sela mulutnya yang sibuk mengunyah makanan saat Vivian menutup pintu kamar.


Vivian hanya menggelengkan kepala tanpa menjawab dan langsung menuju dapur.


"Kenapa lagi sih dia.?" Tanya Mala heran.


Namun Juwita hanya mengangkat bahu dengan malas dan melanjutkan makannya. Candra sudah selesai makan. Dia segera membawa mangkok kotor ke dapur. Mendapati adiknya sibuk memasak air panas.


"Faro kenapa.? Kalian berantem lagi.?" Tanya Candra.


"Bukan kak. Dia demam." Sahut Vivian sedikit cemas.


"Terus kalau deman kenapa malah masak air panas.? Demam itu harusnya di kompres pakai air dingin biar cepet turun panasnya." Sahut Candra.


"Masak sih kak.?" Ujar Vivian tak percaya.


"Kamu di bilangin ngeyel banget sih dek.!! Sana ambil air kran.!!" Seru Candra geram.


"Iya. Iya." Sahut Vivian kesal sambil mematikan kompor.


"Handuk kecilnya ada.?"


"Nggak ada mas. Nih mau pakai sapu tangan aja." Sahut Vivian dengan polosnya.


"Hadeh. Bentar mas ambilin di kamar mas." Ujar Candra sambil mengacak-acak rambut Vivian dengan satu tangan. Vivian hanya bisa tersenyum nyengir menatap kakaknya. Merapikan rambutnya dengan tangan kosong.


Candra keluar dari kamarnya dengan membawa handuk kecil. Mengambil baskom berisi air dari tangan Vivian.


"Biar Vivian saja mas." Protes Vivian.


"Kamu makan dulu sana. Nanti malah kamu lagi yang sakit." Sahut Candra.


"Tapi mas beneran nggak apa-apa.?" Tanya Vivian sedikit ragu.


"Udah tenang aja.!! Mas bisa kok." Ujar Candra penuh percaya diri.


Vivian tersenyum sambil mengangkat bahu. Bergabung dengan teman-temannya untuk makan mie selagi masih hangat.


Candra masuk ke dalam kamar Vivian. Menatap penuh curiga pada Faro yang masih terlihat lemah. Candra meletakkan baskom berisi air di atas meja. Memeras handuk putih dengan kasar dan menempelkannya ke dahi Faro.


"Vivian. Pelan-pelan dong." Seru Faro lirih.


Candra mengerutkan dahi geram mendengar ucapan Faro yang sangat mengganggu telinganya. Dengan kasar Candra mengambil handuk itu lagi dan mencelupkan ke baskom. Meremas handuk itu dengan asal-asalan dan menempelkannya lagi ke dahi Faro. Faro terkejut dan langsung bangun karena dinginnya air yang menempel di dahinya.


"Vivian." Ujar Faro sambil membuka mata.


Candra sudah siap dengan mata yang hampir keluar menatap sinis pada Faro.


"Vivian. Vivian. Memangnya di rumah ini hanya ada Vivian." Seru Candra kesal.


"Ternyata kamu." Ujar Faro sedikit kecewa.


"Kenapa kalau aku.?" Tanya Candra menunjukkan rasa tidak senangnya terhadap Faro.


"Ngapain kamu disini.? Mana Vivian.?" Ucap Faro ketus.


"Jangan fikir aku nggak tahu akal bulus kamu ya.? Kamu hanya pura-pura pingsan kan. Untuk menarik perhatian Vivian sama kamu." Ujar Candra geram.


"Biarin.!! Kamu kenapa sih suka ikut campur urusan orang.?" Gerutu Faro sambil mencoba duduk.


"Aku nggak suka ya kamu bohongin adikku kayak gini. Apalagi sampai pura-pura pingsan." Ucap Candra.


"Ya maaf. Lagian juga kalian tega ninggalin aku di luar sendirian. Udah hujan, anginnya kenceng banget lagi. Suruh masuk kek gimana." Ujar Faro membela diri.


"Kamu dari dulu memang nggak pernah berubah ya Al. Selalu punya banyak alasan buat ngeles." Seru Candra geram sambil melempar handuk ke muka Faro.


"Pokoknya aku mau Vivian jangan sampai tahu tentang kebohongannmu ini." Ucap Candra.


"Kamu tenang aja. Dia nggak akan tahu kok." Sahut Faro.


"Ya udah. Makan dulu sana.!! Entar keburu dingin nggak enak." Ujar Candra sambil beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar Faro.


Candra menghampiri ketiga gadis yang sudah selesai makan dan sekarang sedang bersantai sambil menonton tv.


"Gimana mas.? Kak Faro sudah baikan.?" Tanya Vivian.


"Kamu tenang aja. Faro sudah mendingan. Malahan sudah makan juga. Habis ini kamu jangan lupa ambil mangkok yang di kamar bawa ke dapur." Ujar Candra.


"Wah. Mas Candra hebat juga dalam menjaga orang sakit." Puji Juwita.


Candra hanya tersenyum simpul mendengar pernyataan Juwita padanya.


"Kalian nggak pulang.? Sudah hampir malam loh." Tanya Candra.


"Kalo kita malam ini nginep disini aja gimana mas. Boleh nggak.?" Tanya Mala dengan sedikit memohon.


"Boleh. Tapi apa kalian besok nggak sekolah.?" Candra balik bertanya.


"Besok kan hari minggu mas. Jadi nggak sekolah. Libur." Sahut Vivian.


"Astagfirulloh. Mas sampai lupa hari." Ujar Candra sambil tertawa kecil. Hal itu membuat ketiga gadis juga ikut tertawa.


"Ya kalau kalian mau bermalam disini. It's ok." Ucap Candra.


"Yey." Sorak ketiganya hampir bersamaan sambil mengangkat kedua tangannya.


Hujan sudah mulai reda. Candra ingin mengajak mereka untuk jalan-jalan dan membeli makanan untuk makan malam. Mala dan Juwita sangat antusias. Apalagi mereka belum pernah keluar malam hari untuk jalan-jalan.


"Kita jalan-jalan yuk. Sekalian beli sesuatu buat makan malam." Ajak Candra.


"Yuk. Yuk. Pengen." Sahut Mala antusias.


"Iya nih. Yuk Vi." Ujar Juwita menimpali.


"Boleh. Sekalian belanja buat keperluan dapur." Sahut Vivian senang.


"Tapi Kak Faro gimana mas.? Kan dia lagi sakit." Tanya Vivian lagi.


"Hemm. Nggak jadi deh." Ucap Mala lesu.


"Dek. Sekarang kamu masuk dan tanya Sama Faro dia mau ikut kita atau enggak. Kalau ikut suruh siap-siap. Kalau enggak ya diam saja di rumah." Seru Candra pada Vivian.


Vivian segera masuk ke dalam kamar dan membangunkan Faro pelan.


"Kak. Kak Faro." Sapa Vivian.


"Hem. Iya. Ada apa.?


"Kita mau keluar nyari makan. Kak Faro ikut atau di rumah saja.?" Tanya Vivian tanpa basa-basi.


"Kepalaku pusing."


"Ya udah. Kak Faro istirahat saja di rumah. Nanti aku belikan makanan dan obat sekalian." Ujar Vivian sambil beranjak pergi. Namun tangan Faro dengan cepat menarik tangan Vivian.


Vivian tertarik dan jatuh ke tubuh Faro dengan cepat.


"Kamu tega ninggalin aku di rumah sendirian." Ucap Faro sedikit manja. Wajah Vivian begitu dekat dengan wajah Faro. Bahkan Vivian bisa merasakan hembusan nafas yang keluar dari hidung Faro. Vivian menelan ludahnya sendiri. Matanya sesekali berkedip menatap wajah Faro yang tersenyum puas karena Vivian jatuh ke pelukannya.


Vivian segera berdiri dan merapikan dirinya. Padahal hal itu tidak perlu di lakukan.


"Ya udah. Kalau kak Faro nggak mau sendirian. Mending ikut kita saja keluar. Kata mas Candra suruh siap-siap." Ucap Vivian sedikit gugup dan segera keluar meninggalkan Faro.


Faro tersenyum senang melihat reaksi Vivian padanya. Sedangkan Vivian masih merasa sangat gugup.


Ada apa denganmu Vivian.? Kenapa hati kamu deg-degan gini.? Ingat Vivian dia itu tetap kakak kamu. Kamu nggak boleh punya perasaan lebih sama dia. Seru Vivian dalam hati.