Point Of Love

Point Of Love
Belajar Melepaskan



Sepekan berlalu setelah kejadian lari pagi waktu itu. Vivian tidak ingin lagi memikirkan permasalahan yang menyangkut hatinya. Sekarang dia lebih fokus untuk menghadapi UAN yang akan berlangsung minggu depan. Vivian duduk sambil menyandarkan kepala ke meja. Memegangi perutnya yang terasa sangat sakit. Lutvi menghampiri Vivian dan duduk di sebelahnya dengan raut muka cemas.


"Kamu kenapa Vivian?" Tanya Lutvi dengan nada cemas.


"Nggak tahu nih. Perutku tiba-tiba sakit." Kata Vivian sambil memegangi perut dengan kedua tangannya.


"Kamu tadi pagi makan apa Vi? Sampai sakit kayak gitu." Sahut Lutvi heran.


"Aku nggak makan yang aneh-aneh kok. Aduh sakit banget." Rintih Vivian dengan wajahnya yang mulai pucat.


Lutvi segera memberitahukan kondisi Vivian dan meminta izin pada Sham selaku ketua kelas untuk mengantarkan Vivian ke ruang UKS sekolah. Sham adalah ketua kelas 9G kelas Vivian sekarang. Seperti ketua kelas pada umumnya Sham adalah anak terpintar di kelas. Dia juga sering mengadakan belajar kelompok untuk teman-temannya yang kesulitan dalam memahami pelajaran. Setelah mendapatkan izin dari Sham, Lutvi segera membopong Vivian ke ruang UKS yang berdekatan dengan ruang BP.


Langkah demi langkah Vivian jalani meski sakit pada perutnya tak tertahankan lagi. Lutvi tidak tega melihat kondisi Vivian saat ini. Sampailah mereka di depan ruangan BP. Lutvi menyuruh Vivian agar menunggu di kursi depan ruang BP. Lutvi mengetuk pintu ruang BP lalu masuk ke dalam untuk meminta kunci ruang UKS pada Bapak Towi. Bapak Towi keluar dari ruangan dan mendapati Vivian yang semakin pucat duduk bersandar di kursi depan ruangĀ  BP.


Pak Towi bergegas membuka pintu ruang UKS. Ada sedikit raut muka khawatir di wajahnya saat melihat kondisi Vivian seperti itu. Pintu UKS akhirnya terbuka. Lutvi segera membopong Vivian masuk ke dalam ruangan. Lutvi menidurkan Vivian ke atas ranjang kesehatan. Saat dia hendak keluar Vivian menarik lengan baju Lutvi pelan.


"Ada apa?" Tanya Lutvi yang masih saja cemas.


"Kayaknya celana dalam aku basah." Kata Vivian sedikit pelan. Mungkin karena dia malu mengatakannya pada Lutvi hingga dia berkata setengah berbisik. Lutvi tanpa ragu membuka rok Vivian dan ternyata celana dalam Vivian ada banyak bercak darah segar.


"Da.. Darah." Ucap Vivian setengah ketakutan karena melihat darah yang banyak keluar dari *********** sendiri. Lutvi segera menggeser kursi agar dapat duduk berdekatan dengan Vivian.


"Memang itu darah. Kamu fikir itu jus stoberi." Celetuk Lutvi di selingi dengan tawa yang menggelitik.


"Kenapa kamu malah tertawa Lutvi?" Tanya Vivian dengan nada emosional. Bagaimana bisa Lutvi tertawa seperti itu di saat dia kesakitan bahkan sampai mengeluarkan darah yang banyak.


"Eit.. Jangan marah dulu!! Oke aku jelasin sekarang. Sebagai sesama perempuan hal ini sangatlah wajar Vivian. Kita para perempuan suatu saat pasti akan melahirkan anak-anak kita nanti setelah menikah." Kata Lutvi sambil tersenyum.


"Maksud kamu?" Sahut Vivian sambil mengerutkan dahi.


"Aduh.. Kamu lola banget sih Vivian." Lutvi dengan gemas menyentil dahi Vivian dengan jari telunjuknya.


"Aawww.. Sakit tau." Teriak Vivian sambil mengelus dahinya yang sakit karena ulah temannya yang jahil.


"Vivian sayang. Kamu itu sedang menstruasi. Seorang perempuan yang sudah menstruasi berarti dia sudah beranjak dewasa. Darah yang keluar itu bukannya penyakit. Melainkan sel telur yang menempel pada dinding rahim dan siap untuk dibuahi. Karena kita belum menikah tidak mungkin kan sel telur itu dibuahi. Makanya keluar darah dan di namakan datang bulan atau menstruasi. You are understand?" Kata Lutvi geram dengan kepolosan temannya itu.


"Terus gimana sekarang? Aku nggak mungkin pulang dengan kondisi kayak gini. Apalagi nih lihat! Rok ku juga merah semua." Kata Vivian dengan bibirnya yang maju beberapa senti.


"Kamu tiduran dulu disini. Aku mau keluar sebentar." Kata Lutvi sambil bergegas keluar ruang tersebut namun terhenti karena Vivian memanggilnya.


"Sssttt... Berisik." Sahut Lutvi sambil menutup pintu ruangan tersebut.


Vivian hanya bisa menghela nafas dari hidungnya. Setelah benerapa menit akhirnya Lutvi datang dengan sebuah kantong plastik yang berisi pembalut, celana dalam dan minuman khusus untuk meredakan sakit perut saat menstruasi.


Lutvi segera menyuruh Vivian untuk masuk ke dalam toilet yang ada di dalam ruang UKS tersebut. Tidak lama setelah Vivian masuk dia membuka pintu toilet dan hanya mengeluarkan kepalanya sedikit sambil tersenyum.


"Lutvi. Cara pakainya gimana?" Tanya Vivian tanpa dosa.


"Hemm.. sini aku ajarin cara pakainya." Lutvi segera merebut celana dalam dan pembalut yang baru dia beli. Mengajari Vivian yang baru pertama kali mengenakan pembalut karena ini kali pertama dia menstruasi. Setelah selesai Vivian segera keluar dari toilet dan mendapati Lutvi yang masih duduk di kursi.


Vivian menunjukkan bagian belakang rok nya yang terdapat bercak darah akibat datang bulan pertamanya. Merengek dan mengeluh pada teman sebangku yang menemaninya sampai saat ini. Lutvi menyarankan agar Vivian pulang paling terakhir agar teman-temannya yang lain tidak mengetahui perihal yang telah terjadi padanya sekarang.


Vivian hanya menganggukkan kepala menuruti semua saran dari Lutvi. Lutvi pergi ke kelas terlebih dahulu untuk mengikuti sisa jam pelajaran hari itu. Bel berbunyi menandakan jam pelajaran telah berakhir. Lutvi segera membereskan buku-bukunya dan memasukkan ke dalam tas. Tak lupa juga dia menenteng tas Vivian yang masih ada di meja sampingnya. Membawa dua tas bukan suatu masalah untuk Lutvi. Sebelum pulang dia mampir sebentar ke UKS untuk memberikan tas milik Vivian padanya. Dengan semua nasihat yang telah dia persiapkan untuk Vivian yang panjang di kali lebar seperti rumus matematika yang sangat di benci oleh Vivian.


Vivian hanya diam mendengarkan temannya yang sangat cerewet terhadapnya. Namun Vivian sangat bersyukur memiliki teman seperti Lutvi yang selalu perhatian padanya. Lutvi telah berlalu meninggalkan Vivian sendiri di depan ruang UKS. Tak lama kemudian terlihat dari kejauhan seorang lelaki mengenakan jaket jeans dengan sobekan di sikunya. Vivian menyipitkan mata menatapnya namun tetap dia tak mengenali sosok orang tersebut sampai dia berada tepat di depan Vivian. Vivian mengerutkan dahi sambil menatap lelaki yang masih mengenakan masker menutupi hidung dan mulutnya.


"Kamu siapa?" Tanya Vivian heran. Lelaki itu membuka masker dan tersenyum ke arah Vivian.


"Kak Jalal. Ngapain disini?" Lanjut Vivian ragu. Jalal bukannya menjawab pertanyaan Vivian, dia malah duduk di sampingnya. Dengan sigap Vivian menggeser duduknya agar tidak terlalu dekat dengan Jalal.


"Mau jemput kamu." Sahutnya sambil tersenyum.


Deg! Kenapa jadi kayak gini. Aku kan lagi bocor. Kalau dia tahu kondisiku saat ini aku bisa malu banget.


"Kenapa diam? Yuk pulang!" Ajak Jalal sambil berdiri dan menggandeng tangan Vivian.


"Kakak pulang saja dulu. Aku bisa pulang sendiri kok." Sahut Vivian sambil menarik tangannya sendiri. Jalal segera melepas jaket yang dia kenakan dan memakaikan jaket itu ke pinggang Vivian.


"Apa yang mau kakak lakukan? Apa maksudnya ini?" Tanya Vivian kebingungan.


"Saat aku di depan pintu gerbang tadi nggak sengaja aku ketemu sama temen kamu. Begitu dia melihatku Dia langsung menyapaku. Dalam kesempatan itu aku iseng tanya keberadaanmu padanya dan dia menceritakan semuanya padaku." Kata Jalal.


Vivian membelalakkan mata seakan ingin keluar. Bagaimana bisa Lutvi menceritakan semuanya pada Jalal dengan kondisi Vivian sekarang yang tidak memungkinkan. Apalagi ini merupakan kali pertama Vivian datang bulan. Raut muka Vivian langsung berubah drastis. Rona merah itu tak dapat dia sembunyikan lagi.


"Yuk pulang!!" Ajak Jalal sambil mengulurkan tangan kanannya di depan Vivian. Vivian dengan ragu-ragu mengulurkan tangannya meraih tangan Jalal perlahan. Jalal menggenggam erat tangan Vivian dan berjalan menuju pintu gerbang.


Mungkin inilah yang memang harus terjadi. Tidak semua keinginan kita akan terwujud dan tidak semua rencana kita akan berjalan lancar sesuai dengan keinginan kita. Karena Tuhan lebih tahu mana yang lebih baik untuk kita. Dan sekarang aku hanya bisa belajar melepaskan apa yang seharusnya ku lepaskan. Cinta yang takkan pernah terbalas dan hanya akan menyakiti hati bila mengingatnya.