
“Kamu nggak apa-apa kan dek.?” Candra mulai khawatir dengan reaksi Vivian setelah membaca surat gugatan cerai milik kedua orang tuanya.
Vivian tidak bisa membuka mulutnya sendiri. Bibir itu terasa sangat kaku. Butiran air mata tak bisa Vivian bendung lagi. Vivian menangis dalam diam tanpa satu kata keluar dari mulutnya.
Candra merangkul bahu Vivian dan menyandarkan kepala Vivian pada bahunya sendiri. Benar apa yang telah di prediksi oleh Candra sebelumnya.
Tetapi mau bagaimana lagi, cepat atau lambat Vivian juga akan mengetahui masalah tersebut. Entah dari orang tuanya sendiri atau orang lain di
sekitarnya.
Candra tidak punya pilihan lain selain menenangkan hati Vivian dan menemaninya dalam keadaan sulit seperti ini.
Vivian masih juga meneteskan air mata. Candra menggeser badannya sedikit agar Vivian lebih leluasa untuk menangis. Kali ini Vivian
menangis sesenggukan dalam dekapan dada Candra. Kaos hitam Candra basah dengan
air mata Vivian yang tak kunjung berhenti.
Setelah beberapa menit akhirnya Vivian bisa mengendalikan dirinya sendiri. Dia bangun dari posisi rebahan pada dada Candra dan menghapus
air matanya.
“Vivian.” Sapa Candra dengan nada khawatir. Vivian mengambil nafas dalam melalui hidung dan menghembuskannya melalui mulut. Menatap Candrabdengan senyuman yang sangaat dipaksakan. Membuat Candra semakin menghawatirkan kondisi Vivian saat ini.
“Vivian nggak apa-apa kok mas. Mas Candra tenang saja.!! Vivian kuat kok.” Seru Vivian meyakinkan Candra.
Candra yang tidak tahan melihat sikap Vivian saat ini langsung memeluknya dengan erat.
“Maafin mas ya dek. Mas sudah melukai perasaanmu dengan kabar ini. Mas janji, mas akan selalu ada buat kamu.” Ucap Candra penuh sesal.
Vivian hanya bisa mengangguk sambil menahan tangisnya sendiri. Vivian tidak ingin menangis di hadapan Candra lagi. Karena dia tidak ingin Candra juga ikut sedih karenanya. Vivian mencoba untuk lebih kuat menghadapi semuanya.
Candra melepaskan pelukannya dan mengajak Vivian untuk pulang ke rumah. Vivian hanya mengangguk menuruti permintaan Candra. Dalam
perjalanan Vivian lebih diam dari biasanya. Kabar yang dibawa oleh Candra kali ini menjadi tamparan tersakit untuk hati Vivian.
Sampailah Vivian di rumahnya. Candra segera menyapa ayah Vivian yang sedang asyik berbincang dengan tante Sinta. Candra merasa sangatbtidak senang dengan kehadiran wanita tersebut dalam kehidupan adiknya sekarang.
Vivian segera masuk ke dalam kamarnya. Melangkah menuju tempat tidur dan duduk dengan lesu sambil melepaskan tas dari genggaman
tangannya. Pandangan Vivian menatap ke kaca tapi tidak dengan fikirannya yang terlampau jauh darinya.
Vivian tidak ingin lagi meneteskan air matanya. Dia berkata dalam hati untuk menjadi gadis yang kuat dan sampai kapanpun tidak akan
menangis lagi. Ini adalah terakhir kali Vivian meneteskan air matanya. Begitu
pemikiran Vivian dan terpatri dalam otaknya.
Vivian meraih ponsel dari dalam tasnya dan melangkahkan kaki keluar dari dalam kamarnya. Vivian melihat pemandangan yang begitu menyakiti matanya. Tanpa rasa malu bapak dan tante Sinta sedang berpegangan tangan. Vivian hanya bisa menggerutu dalam hati tapi tak pernah keluar dari bibirnya satu kata pun.
Vivian berlalu meninggalkan dua orang yang begitu dia benci menuju kamar tamu tempat Candra istirahat. Di ketuklah pintu itu dan tidak
butuh waktu lama pintu itu segera terbuka.
“Ada apa dek.?” Sapa Candra sambil mengelap rambut yang basah. Sepertinya Candra baru selesai mandi dan bersih-bersih.
“Mas Candra ngapain.?” Tanya Vivian.
“Mas baru selesai mandi. Kamu nggak mandi.?” Tanya Candra lagi. Karena melihat penampilan Vivian yang tidak berubah sama sekali sejak dia
pulang bersamanya dari kafe tadi.
Vivian hanya menggelengkan kepala. Candra langsung paham dengan keinginan adiknya itu.
“Mas ganti baju dulu ya. Setelah ini kita keluar.” Belum selesai Candra dengan perkataannya namun Vivian segera masuk ke dalam kamar
Candra. Sikap Vivian membuat candra sedikit terkejut. Vivian segera duduk di atas tempat tidur.
“Aku nggak mau nunggu di luar. Panas.!! Aku nunggu mas disini aja.” Seru Vivian sambil memainkan kedua kakinya yang berayun.
“Vivian. Mas mau ganti baju lho. Kamu yakin mau nungguin mas disini.?” Tanya Candra sedikit menggoda Vivian yang tak beranjak dari tempatnya
duduk.
“Mas ganti baju saja. Aku tidak akan melihat.” Sahut Vivian sambil memejamkan matanya dan menunjukkan kepada Candra.
mengenakannya. Sesekali Candra melirik ke tempat Vivian duduk yang masih
memejamkan matanya.
“Sudah selesai belum mas.?” Tanya Vivian sambil mencoba membuka matanya sedikit.
“Eit.. Jangan dibuka dulu. Aku belum memakai celana lho.” Seru Candra menggoda Vivian. Sebenarnya Candra hanya bercanda dengannya. Dari tadi candra telah memakai celananya.
Candra berjalan mendekati Vivian dan berjongkok di depanya. Menatap adik sepupunya yang mencoba selalu tetap tegar dan tersenyum. Tangan
Candra ingin meraih pipi Vivian dan mengelusnya. Namun niat itu dia urungkan dan Candra segera berdiri di hadapan Vivian.
“Mas lama banget sih ganti bajunya. Sudah belum.?” Ucap Vivian sedikit kesal.
“Sekarang kamu bisa membuka mata.!!” Seru Candra sambil melipat tangan ke dalam sikunya.
Vivian membuka mata dan mendapati Candra telah berdiri di depannya. Mengenakan kemeja warna merah dengan celana jeans warna navi. Vivian
menatap kakak sepupunya dengan penuh decak kagum.
“Wih.!!” Seru Vivian sambil menggelengkan kepala tak pecaya
dengan penampilan Candra kali ini.
“Kenapa.? Ganteng ya.?” Tanya Candra penuh percaya diri.
“Lumayan. Setidaknya tidak terlalu buruk.” Sahut Vivian
sambil tersenyum.
“Kita enaknya kemana.?” Tanya Candra. “Karena kan kamu tahu
sendiri, Mas tidak terlalu hafal dengan jalanan disini.” Lanjutnya.
“Udah mas tenang aja. Serahin semuanya sama Vivian.” Sahut Vivian
sambil memainkan kedua matanya.
“Yuk jalan.!!” Vivian dengan semangat menarik tangan Candra.
Tapi Candra tidak bergeming sedikit pun.
“Tunggu dulu. Kamu mau berpenampilan kayak gini.?” Tanya
Candra penuh heran. “Nggak ganti baju dulu.?” Lanjutnya.
“Udah mas tenang aja.!! Aku bawa baju ganti kok. Nanti aku
bersih-bersih di pom bengsin kan bisa.” Sahut Vivian dengan santainya.
“Ya udah yuk berangkat sekarang.!!” Ucap Vivian sedikit
merengek.
Candra dan Vivian berpamitan kepada Bapak Vivian untuk
keluar sebentar. Bapak Vivian segera mengijinkan mereka. Namun Sinta menatap mereka dengan tatapan tidak
senang. Bapak Vivian juga meminjamkan motor untuk di gunakan mereka
jalan-jalan.
Candra mengajak Vivian untuk menikmati ramainya jalan
menggunakan motor. Baru kali ini Vivian mengendarai motor. Semenjak bapak Vivian
memutuskan untuk membel motor dari hasil panen nya, tidak sekalipun Vivian di
ajak untuk menaikinya. Bukan Vivian tidak menginginkan hal itu, namun hatinya
sudah terlanjur sakit karenanya. Perpisahan kedua orang tua Vivian membuatnya
semakin tidak percaya akan adanya cinta.