
Pagi itu Vivian bangun dengan mata yang sembab akibat menangis semalaman. Dia beranjak dari tempat tidurnya berjalan dengan malas melewati dapur. Vivian menghela nafas sejenak menatap pintu dapur tanpa arti. Dia mengambil handuk hijau yang tergantung didekat pintu dapur lalu kembali berjalan menuju sungai. Nenek Vivian yang menyaksikan pemandangan aneh dipagi hari hanya bisa menggelengkan kepala pertanda ada yang tidak beres dari cucunya tersebut. Kalimat yang diucapkan Sofyan kemarin masih terdengar jelas dalam fikirannya. Vivian tidak dapat mengontrol dirinya sendiri saat ini. Orang yang sangat dia cintai dan berarti dalam hidupnya telah menyakiti hatinya.
Kenapa kak.? Kenapa hal yang begitu sensitive tentang hubungan kita harus orang lain yang memberitahukan.? Apa yang kamu fikirkan saat melakukan hal itu.? Apa kamu tidak memikirkan perasaanku saat ini.? Apa perasaanku ini hanya lelucon yang tidak penting bagimu. Meski begitu kamu tidak punya hak untuk menyakiti hatiku seperti ini. Tidak sama sekali.!!
Vivian duduk termenung sambil menatap aliran sungai yang begitu bening dan bersih. Dia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Menghapus air yang tak sengaja keluar dari salah satu sudut matanya. Berjalan menuruni jalan sungai yang sedikit curam. Vivian segera mandi karena sang surya sedikit demi sedikit telah menampakkan sinarnya pagi itu. Setelah selesai mandi Vivian segera bergegas pulang. Sebenarnya hari ini tidak ada kegiatan yang berarti disekolah namun Vivian tetap ingin pergi kesana. Mungkin dengan bertemu teman-temannya rasa sakit dalam hatinya bisa sedikit terobati.
Nenek Vivian telah menyiapkan sarapan untuk cucu kesayangannya. Nasi sisa semalam disulapnya menjadi nasi goreng special dengan telur goreng mata sapi diatasnya. Satalah mandi dan berganti baju Vivian tidak menampakan wajah sedihnya dihadapan nenek dan kakeknya. Hari ini kesehatan kakek Vivian sedikit menurun dari biasanya. Kakek Vivian punya riwayat penyakit sejak lama yakni hipertensi dan kadar gula atau diabetes. Hari ini ayah Vivian berencana untuk membawanya berobar ke dokter Joko. Dokter langganan kakek sejak lama. Disamping buka praktek mandiri dirumahnya dokter Joko juga bertugas disalah satu rumah sakit.
Setelah menyelesaikan sarapannya pagi itu Vivian segera berpamitan untuk segera berangkat ke sekolah. Sekali lagi kegiatan pagi itu sangat menyehatkan bagi Vivian. Sudah suatu kaharusan dia mengayuh sepeda mini usangnya itu. Kondisi keluargalah yang menuntutnya harus seperti sekarang ini. Vivian mengayuh sepedah dengan pandangan kosong. Pagi itu Mala dan Juwita sengaja menunggu Vivian didepan rumah Mala. Setelah mereka pulang dari rumah Vivian kemarin, mereka sangat menghawatirkan kondisi Vivian saat ini. Mereka memutuskan untuk menemani Vivian dan mencoba menghiburnya agar melupakan masalah yang menimpanya dan bisa sedikit mengobati rasa sakitnya.
Setelah beberapa menit sampai juga Vivian didepan rumah Mala. Tatapan Vivian yang masih kosong membuatnya tidak menyadari akan kehadiran kedua sahabatnya yang juga mengayuh sepeda disamping dan belakangnya. Mereka hampir sampai dipertigaan jalan namun tak ada satu orang pun yang memulai pembicaraan pagi itu hingga akhirnya Juwita yang berada disamping Vivian memberanikan diri untuk menyapanya terlebih dahulu.
“Vivian.” Sapa Juwita tiba-tiba membuat Vivian sedikit terkejut mendengarnya. Vivian baru menyadari kalau kedua temannya telah berada didekatnya selama ini.
“Kalian dari tadi.?” Suara Vivian sedikit parau.
“Kamu nggak apa-apa kan Vi.?” Sahut Juwita cemas.
“Memangnya aku kenapa.? Aku baik-baik aja kok.” Vivian mencoba tersenyum. Mala dan Juwita saling melirik. Mereka tahu kalau Vivian sedang tidak baik sekarang. Muka yang pucat dengan mata sembab akibat menangis
semalam terlihat jelas di raut mukanya. Meski Vivian mencoba tersenyum namun tak dapat menutupi semua itu. Vivian memalingkan muka dan menghapus air matanya. Sampailah mereka di tempat penitipan sepeda.
Vivian memarkir sepeda dan langsung berjalan ke bawah pohon beringin tanpa menunggu kedua sahabatnya selesai parkir. Mala mengerutkan dahi dan mengangkat bahu. Juwita hanya membalas dengan hembusan nafas kasar yang keluar dari kedua lubang hidungnya. Mereka segera berjalan menyusul Vivian yang telah duduk dibawah pohon beringin. Mereka duduk disamping Vivian.
“Vivian. Kamu beneran nggak apa-apa.?” Tanya Juwita khawatir dengan kondisi temannya saat ini.
“Aku nggak apa-apa kok.” Sahut Vivian dengan suara parau. Juwita memeluk sahabatnya dengan erat. Vivian menangis dibahu sahabatnya. Mala mengelus punggung Vivian dengan lembut. Pemandangan yang tak biasa terlihat. Ketiga sahabat saling merangkul satu sama lain untuk menguatkan.
Setelah drama tangis di pagi hari dirasa telai usai. Bus yang biasa dinaiki Vivian sudah datang. Vivian segera menghapus air matanya dan berdiri. Menatap kedua temannya yang begitu berat untuk membiarkannya pergi.
“Kamu yakin mau berangkat ke sekolah.?” Tanya Mala tak rela.
Vivian hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Berjalan menuju bus yang telah berhenti menunggunya. Saat Vivian telah naik ke dalam bus, Vivian memilih duduk didekat jendela agar dapat melihat kedua temannya. Melambaikan tangan dengan senyum yang dipaksakan. Bus itu pun melaju meninggalkan dua insan yang masih duduk terdiam dibawah pohon beringin dengan tatapan iba. Sebenarnya Vivian merasa tidak enak kepada kedua sahabatnya. Dengan sikap Vivian yang terus-menerus bersedih membuat mereka juga ikut bersedih karenanya.
Randy dan Ricky maju ke depan kelas. Mereka menyanyikan sebuah lagu yang berjudul “Bila Rasaku ini Rasamu” yang dipopulerkan oleh Band ternama Keris Patih. Ricky memainkan gitar dan Randy bernyanyi disampingnya. Lirik
lagu tersebut begitu dalam dan menyentuh hati. Suara petikan gitar dan suara Randy yang begitu enak didengar membuat seluruh penghuni kelas terhipnotis oleh mereka berdua. Dan itu tak luput dari Vivian juga. Bukannya kagum Vivian malah menelungkupkan kepala ke kedua tangannya yang terlipat diatas meja. Membuat Lutvi dan teman-teman Vivian yang berada didekatnya menoleh dengan rasa heran. Lutvi segera mendekat dan mengelus bahu Vivian. Disusul dengan teman-teman perempuan Vivian yang duduk tak jauh darinya.
“Vivian kenapa Lut.?” Tanya Zulfa yang duduk dibelakang Lutvi. Lutvi hanya mengangkat bahu dan menggelengkan kepala. Lutvi mengelus bahu Vivian pelan dan memberanikan diri untuk bertanya.
“Vivian kamu kenapa.?” Tanya Lutvi ragu. Vivian tidak bergeming sama sekali. Lutvi memeluk bahu Vivian.
Vivian mengangkat kepala dengan linangan air mata yang membasahi kedua pipinya. Lutvi mengerutkan dahi tak mengerti dengan apa yang telah terjadi pada teman sebangkunya itu.
“Kamu kenapa.?” Tanya Lutvi heran. Zulfa, Rofi, Shofi dan Happy segera berkerumun mengelilingi tempat duduk Vivian dan Lutvi. Baru kali ini mereka melihat Vivian manangis seperti itu. Selama ini Vivian tidak pernah menampakkan kesedihan didepan teman-temannya. Ini adalah kali pertama mereka melihatnya. Vivian dikenal sebagai anak yang ceria dan selalu tersenyum. Walaupun Vivian tergolong anak yang pendiam tapi dia tidak pernah neko-neko dan aneh-aneh. Melihat kondisi Vivian sekarang membuat mereka keheranan dan sedikit khawatir.
Vivian hanya menatap Lutvi dalam diam. Lutvi segera memeluk Vivian dan mengelus punggungnya perlahan. Setelah tangis Vivian sedikit reda, Vivian melepas pelukan temannya dan masih menundukkan kepala. Perlahan Vivian mulai menceritakan apa yang telah terjadi padanya. Mencurahkan segala sesak yang menyelimuti hatinya saat ini. Ada yang mencoba memenangkan dan ada pula yang geram dengan cerita yang disampaikan oleh Vivian saat itu.
“Vivian, aku tahu kamu baru kali ini jatuh cinta kan. Cinta memang terkadang menyakitkan, tapi kita tidak harus bersedih berlebihan untuk orang yang telah menyakiti hati kita. Kamu harus ikhlas.” Jelas Lutvi dengan segala usaha menenangkan temannya itu.
“Iya Vi. Masih banyak kok cowok diluar sana yang lebih baik dari dia. Lagian juga kamu cantik Vi, pasti banyak cowok yang akan ngantri buat ngejar-ngejar kamu nanti.” Sahut Zulfa geram.
“Kamu harus kuat Vivian. Jangan bersedih kayak gini.!! Dia nggak pantes kamu tangisin.” Kata Happy menimpali.
“Lagian juga dunia nggak bakal kiamat kan kalau kamu nggak sama dia. Ikhlasin saja.!! Dia juga kan yang rugi.” Cetus Shofi.
“Sekarang kamu fokus saja dengan masa depanmu. Setelah ini kan kita masuk SMA. Lebih baik kamu fokus dulu kesana.” Sahut Lutvi.
“Makasih ya teman-teman. Kalian sudah membuatku merasa lebih baik.” Kata Vivian sambil menatap semua teman yang mengelilingi dirinya saat ini dan disusul dengan senyum dibibirnya.
“Gitu dong senyum. Kan enak dilihatnya.” Sahut Lutvi dan mereka semua juga ikut tersenyum.
Mereka memaksa Vivian agar maju ke depan dan menyumbangkan sebuah lagu. Vivian menolak dengan keras keinginan teman-temannya namun hal itu sia-sia karena Zulfa dan Rofi mendorong Vivian maju ke depan. Dan mau tidak mau Vivian harus menyanyikan sebuah lagu. Mereka sangat mengenal siapa Vivian. Vivian memiliki suara yang merdu untuk didengar dan Vivian menyanyikan lagu yang berjudul "Kekasih bayangan".
Mungkin aku memang hanya kekasih bayanganmu saja kak.