Point Of Love

Point Of Love
Dalam Kesederhanaan



Setelah perut mereka terisi penuh dengan makanan. Mereka memutuskan untuk segera pulang. Rino dan Jasmine sangat bersikeras untuk mengantarkan Vivian pulang. Kali ini Vivian tidak bisa menolaknya lagi. Vivian mengirim pesan singkat kepada Juwita bahwa dia tidak bisa pulang bersama dengannya. Juwita hanya membalas dengan emoticon senyum penuh cinta dan kecup manja. Membuat Vivian yang membacanya tersenyum sendiri.


Rino yang melihat Vivian senyum-senyum sendiri dari balik spion mobil membuatnya tersenyum juga lalu memberi kode kepada Jasmine agar melirik ke kursi belakang Mobil tempat Vivian duduk. Jasmine melirik Vivian dan memergokinya.


“Kamu kenapa Vivian.?” Tanya Jasmine.


“Nggak apa-apa kok.” Vivian masih melanjutkan senyumnya yang tersisa.


“Coba sini lihat.! Seru Jasmine sambil meraih ponsel Vivian. Vivian tidak memberikan ponselnya  kepada Jasmine tetapi dia malah menunjukkan pesan Juwita padanya.


“Kamu memang lucu Vivian. Cuma karena pesan kayak gitu aja kamu senengnya minta ampun.” Sahut Jasmine sambil geleng-geleng kepala.


Vivian tidak terlalu peduli dengan perkataan Jasmine. Dia segera mengirimkan pesan singkat lagi kepada Juwita dengan emoticon yang tidak kalah lucu dari yang telah dia terima tadi. Setelah selesai mengirim Vivian segera memasukkan ponselnya ke dalam saju bajunya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Baru kali ini Vivian bisa menaiki mobil sebagus ini. Biasanya dia hanya bisa naik bus atau angkot. Itu pun dia lakukan hanya untuk berangkat dan pulang sekolah. Vivian memberi petunjuk arah kepada Rino yang ada dibalik kemudi mobil. Rino menerima semua petunjuk tentang jalan menuju rumah Vivian. Setelah sampai di pertigaan pohon beringin Vivian menyuruh Rino untuk berhenti.


“Rumahmu disini Vivian.?” Tanya Rino.


“Nggak kok kak. Masih lumayan jauh.”


“Tapi kok berhenti disini.? Aku nggak mau ya di cap sebagai cowok yang nggak mau tanggung jawab karena nurunin cewek di tengah jalan kayak gini.” Seru Rino.


“Nggak kok kak. Kak Rino tenang aja. Aku Cuma mau mengambil sepeda yang aku titipin disitu.” Vivian menunjuk sebuah rumah tempat biasa dia menitipkan sepeda dan dia langsung turun dari mobil Rino. Berlari untuk mengambil sepeda dan Rino mengemudikan mobil tepat dibelakang Vivian yang sedang mengayuh sepedanya.


“Vivian cewek yang sederhana ya kak.” Jasmine mengagumi sosok Vivian.


“Iya Cumut. Kamu bener banget.” Sahut Rino


“Kakak bayangin aja. Di zaman yang serba canggih kayak gini masih ada cewek yang kayak dia. Setiap hari dia harus panas-panasan dibawah terik matahari dan juga capek-capek mengayuh sepeda hanya untuk berangkat ke sekolah. Sedangkan kita dengan seenaknya minta ini itu sama orang tua. Karena kita nggak mau capek dan ribet. Aku salut banget sama dia.” Jasmine mengambil ponsel dan mengabadikan moment saat Vivian sedang mengayuh sepeda disiang hari dengan terik matahari yang menyengat. mengunggahnya di akun sosial media miliknya dan memberi caption "Harus lebih bersyukur dengan apa yang telah Tuhan berikan pada kita. Keep Fighting."


Kamu memang benar cumut. Vivian adalah cewek yang istimewa dan unik. Aku jadi makin penasaran sama dia. Kata Rino dalam hati.


Rino begitu mengagumi sosok yang sekarang sedang mengayuh sepeda mini usang untuk pulang ke rumahnya. Jasmine dan Rino mengagumi semua pemandangan sawah yang membentang luas. Suasana jalan menuju rumah Vivian begitu asri dan sejuk. Jauh berbeda dengan rumah mereka yang berada di pekotaan. Penuh dengan asap kendaraan bermotor serta polusi udara hinggan kadang suit untuk bernafas dengan lega. Jasmine membuka kaca jendela mobil dan menghirup udara yang begitu segar melalui lubang hidungnya. Setelah melewati bentangan sawah yang luas, akhirnya mereka memasuki perkampungan tempat tinggal Vivian. Rumah-rumah yang berjejer dan nampak sederhana. Jasmine mengeluarka kepalanya sedikit dan berteriak kepada Vivian.


“Masih jauh ya Vian.?” Teriak Jasmine dari dalam mobil.


“Udah deket kok.” Sahut Vivian sedikit berteriak.


Setelah lima puluh meter akhirnya sampai juga dirumah Vivian. Vivian segera mempersilahkan Rino dan Jasmine untuk masuk ke dalam rumahnya. Menyuruh mereka untuk duduk terlebih dahulu selagi dia berganti pakaian.


“He’em. Tapi sepi banget ya cumut.” Sahut Rino sambil melihat sekeliling dalam rumah Vivian.


Vivian keluar dari dalam kamar dengan mengenakan kaos oblong warna putih dan celana santai warna navi. Rambut yang seperti ekor kuda juga tak pernah luput darinya. Vivian menyuruh kedua temannya itu untuk bersantai sejenak selagi dia membuatkan minuman didapur. Rumah Vivian baru selesai direnovasi. Dulu lantai rumahnya selalu berembun saat turun hujan. Atapnya juga sering bocor karena genteng yang belubang termakan usia. Sekarang sudah tidak lagi karena sudah dipasang keramik diseluruh lantai rumah Vivian serta atap yang telah diperbaiki. Dapur dan kamar mandi pun telah selesai dibangun. Semua biaya renovasi rumah bersumber dari transferan mama Vivian yang bekerja di luar negeri.


Vivian keluar dari arah belakang dengan membawa nampan berisi tiga gelas es teh manis dan setoples keripik singkong buatan neneknya. Meletakkan nampan diatas meja dan mempersilahkan Jasmine dan Rino untuk menikmatinya.


“Jadi merepotkan kamu Vi.” Kata Rino merasa tidak enak.


“Nggak kok kak. Santai saja.” Vivian tersenyum.


“Vivian. Rumah kamu sepi banget. Pada kemana.?” Tanya Jasmine sambil meraih gelas berisi es the yang sangat menggoda.


“Kalau jam segini bapak lagi disawah. Adik aku main dirumah neneknya. Jadi ya rumah sepi.” Sahut Vivian sambil meneguk es tehnya sendiri.


“Ibu kamu.?” Tanya Rino ragu.


“Ibu aku nggak ada disini.”Vivian tersenyum sejenak. “Sejak aku duduk dibangku Sekolah Dasar kelas satu, dia sudah ninggalin keluarga ini untuk bekerja diluar negeri. Ya maklum saja, saat itu kondisi keuangan keluargaku sedang tidak stabil dan kami juga terlilit hutang.” Lanjut Vivian sambil menghela nafas.


Dibalik sikap kamu yang baik ternyata kamu juga sangat mengerti dengan kondisi keluarga Vivian. Bagaimana bisa kamu tumbuh dengan baik seperti sekarang ini tanpa kasih sayang seorang ibu. Kamu memang wanita yang tangguh Vivian. Seru Rino dalam hati.


“Maaf ya Vivian. Kita nggak bermaksud membuat kamu sedih.” Jasmine segera mendekati Vivian dan memeluknya.


“Nggak apa-apa kok. Dan Alhamdulillah kalian bisa lihat sendiri sekarang. Dengan kerja keras ibu selama ini, kami bisa melunasi semua hutang keluarga dan juga merenovasi rumah agar lebih nyaman. Tapi maaf ya masih berantakan.” Jelas Vivian.


Walaupun sebenarnya bukan ini yang aku inginkan. Kata Vivian dalam hati.


Percakapan mereka terhenti karena adik Vivian yang bernama Rocky berlari menghampiri kakaknya. Saat ini umur Rocky sudah 10 tahun. Dia sudah masuk Sekolah Dasar kelas 4. Rocky adalah anak yang cerdas jadi dia selalu mendapat rangking pertama dikelasnya.


“Kakak baru pulang.?” Tanya Rocky sambil menyeruput es teh manis milik Vivian.


“Iya dek.” Sahut Vivian. Kamu kebiasaan deh nyerobot punya kakak. Sana ambil sendiri dibelakang.! Nggak enak ada teman kakak.” Lanjut Vivian sedikit geram dengan sikap adiknya.


“Kakak pelit.!” Seru Rocky dan langsung berlari ke arah dapur.


Vivian hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan adiknya. Rino dan Jasmine hanya bisa tersenyum melihat kakak beradik yang sedang bertengkar. Mereka teringat dengan kelakuan merena dulu yang tak jauh berbeda dengan Vivian dan adiknya.