
Hari pertama MOS telah Vivian lewati dengan baik. Meski dia harus menerima ceramahan bertubi-tubi dari Jasmine. Jasmine yang begitu sebal dengan perubahan drastis yang Vivian lakukan saat ini. Namun setelah Vivian menjelaskan semua alasan dibalik keputusannya itu, akhirnya Jasmine mau mengerti juga.
Di hari kedua mereka sedang melakukan kegiatan di luar ruangan. Kali ini kelompok Vivian berada di lapangan untuk melakukan kerja tim dalam permainan lari estafet. Vivian sangat menantikan kesempatan kali ini. Karena lari adalah olah raga yang begitu Vivian sukai. Karena kelompok Vivian dominan dengan anak laki-laki maka di setiap tim terdapat 3 laki-laki dan 1 perempuan.
Anak laki-laki dalam tim Vivian tidak setuju kalau Vivian bergabung dalam tim mereka. Mereka memohon kepada anggota OSIS yang memimpin mereka untuk mengganti dengan yang lain. Berlian sedikit geram dengan sikap anak laki-laki tersebut.
“Kak Lian. Kami nggak mau kalau satu tim sama cewek culun ini. Bisa-bisa kita kalah nanti.” Seru salah satu tim Vivian yang bernama Aldo.
“Iya kak. Di pindah saja ke tim yang lain.” Sahut Alex menimpali. Dan Bara hanya mendukung dengan anggukan yang besemangat.
“Kalau kalian mau ganti tim lebih baik kalian tidak usah ikut permainan ini. Gimana.?” Berlian sedikit mengancam.
“Kalau mereka tidak mau satu tim denganku tidak apa-apa kok kak. Biar aku pindah ke tim yang lain.” Sahut Vivian merasa tidak enak dengan ketiga cowok yang bersikeras menolak kehadirannya dalam tim.
“Sudah diam semuanya.! Kalau kalian masih membantah, kalian semua tidak boleh ikut dalam kegiatan hari ini.” Bentak Berlian dengan tegas.
“Baik kak.” Sahut semuanya.
Mereka semua bersiap untuk mengambil posisi masing-masing. Setiap satu putaran di ikuti oleh 5 tim yang saling bertanding. Kali ini Vivian berada di pos terakhir. Semua orang memandang rendah kepada Vivian. Vivian hanya bisa tersenyum diluar dan tertawa dalam hati.
Peluit dibunyikan dan semua peserta berlari sekencang-kencangnya. Tim Vivian berada di posisi terdepan dan saat tongkat estafet telah berada dalam genggaman tangan Vivian, Vivian segera mengeluarkan jurus andalannya dalam berlari yakni lari secepat kilat. Semua sangat terkejut dengan apa yang telah mereka saksikan. Termasuk juga teman satu tim Vivian. Dan akhirnya tim Vivian memenangkan lari tersebut. Aldo, Alex dan Bara berlari mendekati Vivian yang sudah berada di garis finish.
“Wah. Kamu hebat Vivian.” Seru Aldo sambil menepuk bahu Vivian.
“Terima kasih.” Sahut Vivian singkat.
“Maaf ya Vivian. Sikap kita kepadamu sebelumnya sedikit kasar.” Suara Alex dengan nada menyesal.
“Iya tidak apa-apa. Ke depannya jangan menilai seseorang dari penampilannya saja.” Kata Vivian sambil tersenyum.
“Iya. Berarti sekarang kamu mau kan maafin kita.?” Tanya Bara dengan mata berbinar. Vivian hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Seseorang tiba-tiba menutup mata Vivian dari belakang. Ketiga laki-laki tersebut tidak bisa memalingkan pandangan mereka dari wanita yang berada di belakang Vivian sekarang.
“Siapa ini.?” Vivian meraba tangan yang menutupi kedua matanya.
“Cumut. Jangan bercanda deh. Nggak lucu tahu.” Seru Vivian sedikit sebal dengan sikap Jasmine padanya. Jasmine akhirnya melepaskan kedua tangannya dari mata Vivian dengan bibir manyun ke depan.
“Kamu kok isa tahu sih kalau ini aku.?” Tanya Jasmine sedikit kecewa.
“Yaiya dong.” Sahut Vivian sambil mengangkat beberapa kali kedua alisnya. Alex memberanikan diri untuk membuka suara terlebih dahulu.
“Ini siapa Vivian.? Boleh nggak kita kenalan.” Kata Alex tanpa basa-basi. Vivian mau membuka mulut tapi langsung di sambar oleh Jasmine.
“Boleh dong. Kenalin namaku Jasmine.” Jasmine menyodorkan tangan kepada Alex nanum tangan Bara mendarat duluan untuk meraih tangan Jasmine. Vivian yang menyaksikan kejadian itu di depan matanya sendiri hanya bisa menahan tawa sambil melipat bibirnya ke dalam mulut.
Mereka berebutan untuk berkenalan dan memegang tangan Jasmine. Jasmine merasa rishi dan memberi kode kepada Vivian agar menolongnya dalam situasi yang tidak menyenangkan itu. Vivian yang sudah membaca situasi dengan baik langsung paham dengan kode yang diberikan oleh teman baiknya itu dan segera menengahi mereka.
“Sudah-sudah.” Kata Vivian menengahi.
“Kenalannya bisa dilanjut lain kali.” Lanjut Vivian menarik tangan Jasmine dari genggaman salah satu dari ketiga laki-laki tersebut sambil tersenyum tipis.
“Kamu ngapain kesini.?” Tanya Vivian.
“Aku kangen sama kamu. Memangnya nggak boleh kalau aku kesini.? Aku sudah ijin kok ke kak Rino kalau mau ketemu sama kamu. Udah tenang aja.” Jawab Jasmine tanpa beban.
Vivian terkejut mendengar jawaban dari Jasmine. Lalu dia menatap ketiga laki-laki yang masih di dekat mereka dan ikut mendengarkan apa yang telah Jasmine katakan padanya.
“Iya. Kita memang teman dekat. Jadi awas saja ya kalau kalian sampai gangguin sahabat aku ini.” Seru Jasmine sambil menyipitkan mata.
“Mana mungkin. Kita kan teman yang baik. Ya nggak.?” Kata Aldo saling senggol lengan. Dan kedua laki-laki itu ikut meyakinkan Jasmine.
Rino yang dari tadi begitu kebingungan mencari Jasmine yang sedang asyik mengobrol dengan Vivian. Akhirnya dapat menemukannya dan berjalan mendekatinya.
“Cumut. Ayo balik.” Seru Rino tiba-tiba.
“Kak Rino nggak seru nih.” Sahut Jasmine malas.
“Katanya kamu mau ketemu sama Vivian. Tapi malah sama cowok-cowok ini.” Seru Rino dengan mata melotot kepada ketiga cowok yang sudah mundur satu langkah sebelumnya saat Rino datang.
“Ini Vivian kak Rino.!!” Jawab Jasmine tanpa rasa bersalah sambil merangkul lengan Vivian.
“Vivian.? Teriak Rino seakan tidak percaya dengan apa yang terlihat di depan matanya sekarang. Vivian mengepang rambutnya menjadi dua dan dia sekarang mengenakan kaca mata yang super besar.
“ Ini benar kamu.? Kenapa penampilan kamu kayak gini.?” Rino menyerang Vivian dengan serdadu pertanyaan. Saat Vivian hendak menjawab, tiba-tiba sirine berbunyi dan dia mengurungkan ucapannya sendiri.
“Ayo Cumut kita pergi.!! Dan kamu Vivian, kamu masih berhutang satu penjelasan sama aku.” Kata Rino dengan tegas.
“Iya kak Rino.” Sahut Vivian dengan malas sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
Vivian kembali berkumpul pada kelompoknya. Kali ini Aldo, Alex dan Bara tidak lagi mengucilkan Vivian. Mungkin karena mereka sangat tertarik dengan Jasmine. Maka menggunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk bersikap baik dengan sahabatnya yakni Vivian. Dengan begitu mereka akan dengan mudah mengenal Jasmine dari Vivian.
Berlian merasa tidak senang dengan sikap ketiga siswa baru yang sibuk menempel pada Vivian. Dalam permainan lempar tangkap bola, Berlian sengaja melempar bola ke arah Vivian dengan sekuat tenaga hingga Vivian tidak dapat menangkap bola tersebut. Alhasil Vivian harus menerima hukuman.
Berlian menyerahkan sebuah gitar kepada Vivian dengan kasar hingga gitar tersebut hampir jatuh dibuatnya. Vivian merasa sangat tidak nyaman dengan sikap Berlian padanya. Vivian juga sedikit tidak mengerti kenapa Berlian memperlakukan dirinya seperti itu.
“Sebagai hukuman kamu harus menyanyikan sebuah lagu untuk kita semua.” Perintah Berlian dengan nada mengejek.
“Aku nggak bisa nyanyi kak.” Sahut Vivian ragu.
“Aku nggak mau tahu. Itu hukuman untukmu. Dan kamu harus menjalankannya sekarang.” Seru Berlian dengan tegas.
Rasain kamu. Siapa suruh sok kecakepan disini. Kamu sekarang harus menerima semua ini. Siap-siap saja malu. Berlian tertawa dalam hati.
Aldo, Alex dan Bara begitu kasian dengan Vivian yang di perlakukan tidak adil oleh Berlian. Tetapi apa daya, mereka tidak punya kendali ataupun pengaruh disana. Kalau mereka memprotes perintah Berlian, bisa-bisa mereka sendiri yang akan di hukum.
Dengan berat hati Vivian mengalungkan gitar ke pundaknya. Memetik beberapa senar untuk mendapatkan nada yang sesuai. Beruntung Vivian dulu sempat belajar gitar pada Rizky. Teman satu kelasnya saat masih duduk di bangku SMP. Jadi ini bukan kali pertama Vivian bermain gitar.
Vivian mulai memetik senarnya dengan pelan untuk memulai intro lagu. Akhirnya Vivian membuka suaranya dan memulai bernyanyi. Mereka semua tercengang dengan penampilan Vivian. Kali ini Vivian menyanyikan lagu “I’m in Love” karya dari Reza Darmawangsa. Suara Vivian begitu merdu hingga dengan mudah menghipnotis seluruh anggota kelompoknya. Aldo dan kawan-kawan sampai tidak berkedip dengan mulut yang menganga melihat penampilan Vivian sekarang.
"Suaranya merdu." Ucap Alex dan di sahut kedua temannya secara bersamaan.
"Iya." Kata Aldo dan Bara.
Berlian semakin kesal dengan Vivian. Dia beberapa kali mengepalkan tangan dari balik almamater yang dia kenakan sekarang.
Ada juga satu sosok yang sedang memperhatikan penampilan Vivian. Tersenyum dalam hati. Dion tanpa sadar ikut tertarik dengan sosok Vivian yang sering di bicarakan Dafa dan Rino. Meski sikapnya selalu cuek di luar namun dalam hati diam-diam Dion mulai tertarik padanya.
Jadi ini maksud Dafa waktu itu. Kata Dion dalam hati.