Point Of Love

Point Of Love
Empat Mata Saja



Vivian segera turun dari panggung bersama dengan teman-temannya. Mereka tidak pernah menyangka kalau penampilan mereka akan


sukses seperti tadi. Para lelaki yang awalnya hanya memandang sebelah mata tentang penampilan Vivian sebelumnya yang terlihat culun, sekarang berubah menjadi sebuah rasa kagum karena kecantikan Vivian yang sengaja dia


sembunyikan.


“Vivian penampilan kamu..” kalimat Aldo menggantung.


“Kenapa.? Cantik ya.?” Sahut Claudia yang berada tepat di samping Vivian. Aldo hanya bisa tersenyum malu mendengar pernyataan Claudia


padanya sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


“Aku minta maaf ya Vivian karena sikapku yang kurang mengenakan pada kesan pertama.” Kata Aldo penuh sesal.


“Iya nggak apa-apa kok. Itu hal yang biasa. Nggak usah terlalu difikirkan.” Sahut Vivian sambil tersenyum.


“Makanya Do. Lain kali itu jangan Cuma melihat seseorang dari penampilan luarnya saja. Kamu belum tahu saja sisi yang begitu mempesona


dari dia.” Diana menimpali.


“Mungkin semua cowok memang kayak gitu kali Na. Kalau ada cewek cantik mulus pasti langsung di terkam. Tapi kalau dia terlihat kurang


menarik, mereka acuh bahkan menganggapnya hanya angin lewat.” Kata Claudia


disusul dengan tawa kecil di bibirnya.


“Ya enggak lah. Kenapa kalian berfikiran seperti itu.” Sahut Aldo membela diri. Vivian dan Diana hanya bisa tertawa melihat Aldo yang


salah tingkah.


“Vivian.” Sapa Dafa.


Tawa mereka langsung terhenti mendengar suara merdu Dafa. Claudia langsung berpindah tempat mendekati Diana sambil menggenggam erat tangan Diana dengan kedua tangannya. Begitu juga Diana melakukan hal yang sama kepada


Claudia. Kedua mata gadis cantik itu tampak berbinar menatap Dafa.


“Iya. Ada apa kak.?”


“Bisa kita bicara sebentar.?”


“Boleh. Kak Dafa mau ngomong apa.?” Tanya Vivian.


“Kamu bisa ikut aku sebentar.” Dafa meraih tangan Vivian. Dan itu membuat Claudia dan Diana semakin mencengkram genggaman mereka.


Apa-apaan ini.? Sialan.!! Kamu mau nikung aku dari belakang ya. Gerutu Rino dalam hati.


Kamu beruntung sekali


Vivian bisa kenal dan dekat dengan mereka. Seperti yang sudah di gosipkan mereka memang keren. Seru Diana dalam hati.


Sepetinya aku memang


sudah tidak punya kesempatan untuk dekat denganmu Vivian. Kamu begitu populer


di kalangan senior. Kata Aldo penuh sesal dalam hati.


“Kamu apa-apaan sih Dafa.?” Sentak Rino yang langsung merebut tangan Vivian darinya.


Dafa memutar matanya dengan malas melihat tingkah Rino yang


menghentikan niat terselubungnya.


“Kamu kenapa sih Rino.? Minggir.!” Teriak Dafa kesal dengan


sikap Rino padanya.


“Kalau mau ngomong sama Vivian, disini aja.!” Tegas Rino seperti pengawal pribadi Vivian saja.


Vivian menengahi keduanya. Vivian memberi penjelasan kepada Rino yang sudah seperti kakaknya sendiri agar memberi mereka prifasi sedikit. Mungkin apa yang akan Dafa katakan memang sangat sensitive hingga dia harus


berbicara empat mata saja dengannya.


Dafa membawa Vivian sedikit menjauh dari teman-temannya.


“Ada apa kak.?” Tanya Vivian sedikit penasaran.


“Sebenarnya dari pertama kita bertemu aku sudah berharap sama kamu Vivian.”


Deg.!!


“Maksud kak Dafa apa.?” Sahut Vivian terkejut sambil mengerutkan dahi tidak mengerti sama sekali dengan ucapan yang keluar dari


mulut lelaki di depannya itu.


“Kamu mau nggak bareng-bareng terus sama aku.” Kalimat Dafa menggantung membuat Vivian semakin tidak menemukan titik temu tentang


pembicaraan mereka saat ini.


"Hah.?" Seru Vivian semakin bingung.


“Maksud perkataanku, kamu mau nggak bergabung dalam Band musikku.” Akhirnya Dafa menyelesaikan misinya untuk mengatakan apa yang telah


dia pendam selama ini.


Vivian menertawakan dirinya sendiri dalam hati.


Kehawatirannya ternyata cuma hal sepele yang tidak terlalu penting. Vivian


selalu berfikir dalam hati kalau selama ini Dafa mengejar-ngejar dirinya karena


Dafa menaruh hati padanya. Betapa geer dirinya selama ini beranggapan kalau


Dafa suka padanya dan ingin menyatakan perasaannya padanya.


Vivian menghela nafas lega dan tersenyum tipis sambil


menundukkan kepala agar Dafa tidak melihat reaksinya sekarang.


“Aku fikirkan dulu ya kak.” Sahut Vivian dan dia langsung


meninggalkan Dafa yang masih tidak percaya dengan jawaban yang dia dengar.


Vivian kembali ke kelompoknya. Di pintu telah berdiri


beberapa wanita yang hendak menghentikan langkah Vivian. Tatapan mereka begitu


tajam seperti ujung belati yang siap untuk menggores siapa saja yang melewati


Vivian berjalan sampai pada mereka. Mereka langsung sigap


dan melipat kedua tangan menyilangkan ke dalam siku tangan.


“STOP.!” Claudia menghentikan langkah Vivian dengan salah


satu tangannya.


“Kamu kenapa Clau.?” Kata Vivian sedikit terkejut.


“Kamu tidak boleh masuk ke dalam ruangan sebelum menjelaskan


semuanya dengan sejelas-jelasnya kepada kita semua.” Seru Claudia sambil


melirik beberapa gadis yang berdiri di samping kiri dan kanannya.


“Kalian kenapa sih.? Apa yang harus aku jelasin


sejelas-jelasnya.” Sahut Vivian sedikit tertawa.


“Apa hubungan kamu dengan kak Rino dan kak Dafa.?” Tanya


Claudia.


“Kenapa kalian bisa kenal satu dengan yang lain.?” Tanya


Diana.


“Dan juga kenapa kalian bisa begitu dekat kayak gitu.?”


Tanya Cleo.


Pertanyaan yang sangat bertubi-tubi dari beberapa gadis gila


yang sangat mengidolakan senior mereka. Vivian melelan ludahnya


sendiri.berharap mereka tidak akan menerkamnya hidup-hidup.


“Oke. Mana yang harus aku jawab duluan.?” Kata Vivian ragu.


“Terserah.” Mereka menjawab bersamaan. Membuat Vivian


menelan ludahnya sekali lagi.


“Yang pertama, aku akan menjelaskan kalau aku tidak ada


hubungan apa-apa dengan kak Rino maupun Kak Dafa. Kita hanya teman biasa. Yang


kedua, aku kenal sama kak Rino karena dia adalah kakak sepupu dari sahabatku


yang bernama Jasmine. Dan kak Dafa, kami tidak sengaja bertemu di sebuah acara


pernikahan teman. Dan yang ketiga, kami tidak pernah dekat sama sekali.” Jelas


Vivian panjang lebar.


“Lalu barusan kak Dafa bilang apa sama kamu.?” Tanya Claudia


yang masih menaruh curiga pada Vivian.


“Kak Dafa memintaku untuk bergabung dengan Bandnya.” Sahut


Vivian sedikit geram dengan petanyaan konyol yang bertubi-tubi.


“Baiklah. Untuk kali ini kita percaya padamu.” Seru Diana


dengan tatapan matanya yang tajam.


Mereka mengizinkan Vivian untuk masuk ke dalam ruangan. Vivian


duduk di tempat duduknya. Menghela nafas lega dan menidurkan kepalanya di atas


meja. Memejamkan mata sejenak untuk bersantai.


Ponsel Vivian bordering. Satu panggilan masuk. Mas Candra


melakukan panggilan tetepon padanya.


“Assalamualaikum mas Candra.” Sapa Vivian.


“Waalaikumsalam dek. Mas sudah di stasiun sekarang. Kurang


lima menit keretanya datang. Mas sudah tidak sabar utuk bertemu sama kamu.”


Sahut Candra dari balik telepon.


“Iya mas. Vivian juga sudah kangen banget sama mas Candra.”


Seru Vivian.


“Mungkin besok pagi mas baru nyampek sana dek. Kamu bisa


nggak jemput mas di stasiun.?”


“Bisa banget mas. Besok sepulang dari sekolah aku langsung


jemput mas Candra di stasiun.” Seru Vivian kegirangan.


“Kamu sekarang menginap di sekolah.?” Tanya Candra.


“Iya mas. Karena nanti malam ada kegiatan renungan malam.


Jadi semuanya harus menginap di sekolah dan besok pagi baru kita pulang.” Sahut


Vivian.


“Ya sudah. Kamu hati-hati disana ya dek. Jangan lupa makan


dan jangan sampai kecapek an.” Seru Candra tegas.


“Siap bos.” Jawab Vivian dengan tegas.


Candra mengakhiri panggilan telepon dan menutupnya. Begitu


juga Vivian. Sekarang raut wajah Vivian berubah menjadi berseri lagi.