Point Of Love

Point Of Love
Saat di Cafe



Hari berubah menjadi malam. Dan malam ini tidak seperti malam-malam sebelumnya. Faro sedang duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan pintu kamar Vivian. Menatap pintu itu selama berjam-jam lamanya. Entah apa yang telah dia tunggu. Namun Faro tidak beranjak dari sofa tersebut. Sambil di temani dengan secangkir kopi hitam kesukaan yang berada di meja yang tak jauh darinya.


Vivian.


Seandainya dari dulu aku bisa berada di dekatmu seperti sekarang ini. Aku akan pastikan kamu tidak akan pernah terluka ataupun menangis. Tapi rencana Alloh memang di luar dugaan manusia. Siapa yang menyangka sekarang aku bisa sedekat ini dengan kamu. Bahkan bisa di bilang lebih dekat.


Vivian.


Aku janji sama kamu. Mulai sekarang aku nggak akan pernah membiarkan satu tetes air mata keluar dari matamu. Aku janji aku akan selalu membuatmu tersenyum dan bahagia.


Faro menyeruput kopi hitamnya. Sejenak menikmati aroma kopi robusta yang begitu pekat dalam mulutnya sambil memejamkan mata. Faro memang penikmat kopi. Apalagi kopi yang masih orisinil tanpa campuran apapun, dia sangat suka.


Ponsel Faro berdering. Satu panggilan telepon dari salah satu karyawannya.


"Hallo." Ucap Faro kasar.


"Hallo bos. Bos bisa kesini nggak.?" Sahut lelaki yang terdengar ketakutan dari balik telepon.


"Ada apa.?"


"Ada masalah bos." Jawabnya ragu.


"Tidak becus.!! Masalah kayak gini aja harus menghubungiku malam-malam kayak gini." Seru Faro kesal.


"Bos nanti bisa menilai sendiri. Ini masalah kecil atau besar." Ucapnya lirih.


"Kurang ajar. Ku pecat baru tau rasa kamu. Ngurusin kayak gitu aja nggak becus.!!" Sentak Faro gusar.


"Maaf bos. Pokoknya bos kesini sekarang ya." Seru lelaki itu dan dia segera menutup telepon sepihak tanpa memberikan kesempatan Faro untuk semakin memarahinya.


"Sialan ni bocah. Mau mati apa.!!" Saru Faro kesal sendiri.


Faro bimbang dengan kondisi saat ini. Dia harus pergi ke cafe karena suatu masalah yang terjadi disana sementara Vivian sedang sakit dan tidak ada yang menjaganya. Faro bingung apa yang sebaiknya dia lakukan.


Faro memberanikan diri mengetuk kamar Vivian. Mengetuk pintu itu dengan pelan dan hati-hati. Terdengar sahutan dari dalam kamar. Faro menghembuskan nafas pelan dari hidungnya.


"Ada apa.?" Ucap Vivian dengan kondisi yang masih setengah sadar karena kantuk.


"Itu Vivian aku mau keluar sebentar ada urusan. Kamu nggak apa-apa kan di rumah sendiri.?" Tanya Faro sedikit ragu.


"Ya.. Sendirian dong." Seru Vivian.


"Mau gimana lagi. Kamu kan lagi sakit." Ucap Faro sinis.


"Kalau aku ikut kak Faro saja gimana.? Aku nggak mau di rumah sendirian." Seru Vivian.


Faro menghela nafas kasar dari hidungnya. Mencoba mengatur dirinya agar tidak terbawa emosi yang dapat merugikan dirinya sendiri nanti.


"Kenapa ngotot banget sih pengen ikut.? Kamu kan bisa istirahat di rumah sendiri. Lagian aku bawa motor nggak bawa mobil. Nanti kamu malah tambah sakit." Gertak faro sambil menahan amarahnya yang hampir meledak.


"Ya sudah kalau gitu." Vivian segera masuk ke kamar dan membanting pintu dengan sedikit keras. Membuat Faro sedikit terkejut.


"Vivian." Faro mencoba mengetuk pintu dengan pelan. Dia tahu sekarang Vivian sedang marah padanya.


"Pergi sana.!! Biarin aku disini sendirian. Nggak usah sok peduli lagi sama aku." Sahut Vivian dari dalam kamar.


"Nggak mau." Teriak Vivian.


"Aku hitung sampai tiga. Kalau nggak di buka aku dobrak sekarang juga." Gertak Faro kesal.


"Satu."


"Dua."


"Ti..


Ceklek..!!


Pintu akhirnya terbuka juga. Namun setelah Vivian membuka pintu, dia kembali ke tempat tidurnya dan berbaring disana. Faro menghampiri Vivian lalu duduk di tepi tempat tidur Vivian. Vivian masih bersikukuh berpaling dari Faro dan tidak mempedulikan kehadiran dirinya.


"Jangan kayak anak kecil." Seru Faro.


Namun Vivian tidak merespon dan tetap acuh padanya. Faro menghembuskan nafas kasar dari hidungnya sekali lagi. pertanda dia sedang menahan amarahnya sekarang.


"Oke. Kalau mau ikut cepat ganti baju." Ucap Faro yang akhirnya mengalah kepada Vivian.


"Beneran boleh.?" Sahut Vivian antusias.


"Bawel. Cepet ganti baju. Aku tunggu di luar. Awas kalau lama. Aku tinggal." Ujar Faro dan segera keluar dari kamar Vivian.


Vivian segera ganti baju. Kali ini dia lebih memilih pakaian yang sedikit tebal. Karena dia tidak ingin masuk angin dan demam lagi. Tidak lupa Vivian juga mengenakan jaket. Setelah beberapa menit akhirnya Vivian selesai juga dan segera keluar untuk menemui Faro yang dari tadi telah menunggu nya.


Faro masih mengomel kepada Vivian. Yang katanya ganti bajunya lama lah. Yang Vivian lelet dan nggak mau bertindak cepat lah. Selalu saja ada sesuatu yang menjadi alasan Faro untuk mengomeli adik tirinya itu. Namun Vivian tidak ambil pusing sekarang dengan sikap Faro. Karena dia telah mengetahui begitulah cara Faro mengungkapkan perasaannya. Vivian membiarkannya begitu saja.


Faro melajukan motor sedikit lebih cepat. Karena karyawan cafenya beberapa kali menghubungi Faro setelah pemberitahuan tadi. Hati Faro sedikit gelisah namun dia harus tetap konsentrasi dengan motornya. Karena bukan hanya dia yang sekarang berada di motor. Disana juga ada Vivian.


Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk sampai di cafe milik Faro. Cafe yang melayani berbagai macam varian kopi. Bukan hanya kopi namun juga menyediakan beberapa makanan dan camilan ringan seperti kentang goreng dan tahu walik.


Faro memarkir motor di garasi belakang cafe. Memang garasi ini hanya khusus untuk karyawan dan pemilik cafe saja. Kalau pun parkir untuk pengunjung sudah tersedia di samping cafe tersebut.


"Kita mau makan kak.?" Tanya Vivian sambil melepas helm.


"Cerewet." Sahut Faro ketus.


Ada seorang lelaki berpakaian layaknya pegawai cafe yang sepertinya seumuran dengan Vivian berlari menghampiri Faro.


"Selamat malam Bos." Sapanya tiba-tiba. Vivian yang mendegar panggilan bos hanya bisa mengerutkan dahinya.


Bos.?? Dia barusan manggil kak Faro dengan sebutan 'Bos'. Jangan-jangan dia pemilik cafe ini lagi.!! Seru Vivian dalam hati.


"Malam. Ada apa sebenarnya.?" Seru Faro penuh dengan wibawa. Berbeda sekali saat dia mengomeli Vivian tadi.


"Ini Bos. Lihat sendiri.!!" Dia memberikan sebuah ipad yang berukuran sangat besar. Seukuran dengan buku sekolah milik Vivian.


Faro beberapa kali menggeser layar ipad itu dan raut mukanya langsung berubah 180 derajat.


Hal ini membuat pelayan laki-laki itu dan juga Vivian begidik ketakutan. Sikap dan raut muka Faro kali ini begitu menakutkan dan menyeramkan.


Faro meminta kepada pelayan lelaki itu agar mengantarkan Vivian ke ruangan miliknya yang berada di lantai dua. Lelaki itu dan juga Vivian hanya bisa menurut tanpa bisa berkata banyak. Karena mereka tidak ingin di telan mentah-mentah oleh Faro yang sedang ganas seperti sekarang.