
Candra berdiri dan meraih ponsel dalam saku celananya. Membuka layar ponsel dan menelfon seseorang. Menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Hallo." Ucap Candra.
"Hallo mas Candra. Ada apa.?" Sahut Juwita dari balik telepon.
"Juwita. Mas boleh minta tolong nggak sama kamu.?" Seru Candra.
"Boleh. Minta tolong apa mas.?" Sahut Juwita antusias.
"Tolong sekarang kamu ke rumah Vivian. Kemasi semua barang milik Vivian.!!" Ujar Candra.
"Hah. Kenapa mas.?" Seru Juwita terkejut.
"Sudah kamu langsung kesana saja. Kalau di dalam kamar nggak ada tas Vivian yang besar. Pakai kardus saja nggak apa-apa." Sahut Candra tegas.
"I.. iya mas." Ujar Juwita gugup.
Candra segera menutup telfon dengan kasar dan memasukkan ponsel tak berdosa ke dalam saku.
"Apa ini mas.? Kenapa mas menyuruh juwita mengemasi barang-barangku.?" Tanya Vivian bingung.
"Karena sekarang kamu sudah tahu yang sebenarnya kalau kamu adalah adik kandung mas. Jadi mas nggak bisa membiarkan kamu tinggal disana lagi." Ujar Candra. Vivian hanya tertunduk dan diam. Mengingat apa yang terjadi kemarin pada dirinya. Candra memegang kedua bahu Vivian dengan lembut sambil berkata.
"Pokoknya kamu ikuti apa kata mas saja. Jauh-jauh hari mas sudah mempersiapkan semuanya." Lanjut Candra.
"Maksud mas.?" Seru Vivian bingung.
"Sudah. Nanti kamu juga akan tahu sendiri. Sekarang kita pergi dari sini." Ujar Candra.
"Iya mas." Ucap Vivian lesu.
Candra keluar kamar dan menemui Dion. Meminta baju Vivian yang ada padanya. Serta memperingatkan Dion agar tidak terlalu dekat dengan adiknya.
Dion sedikit kecewa dengan sikap Candra padanya. Padahal Dion sangat berharap Candra akan menyukainya agar usahanya untuk mendekati Vivian bisa berjalan dengan lancar. Dengan menyelamatkan Vivian, Dion telah mengambil langkah pertamanya untuk lebih dekat. Namun semua di luar dugaannya. Rencananya untuk mendekati Vivian terhalang oleh Candra. Kakak kandung Vivian.
Vivian segera mengganti pakaiannya. Setelah selesai dia keluar dari kamar. Di ruang tamu Candra dan Dion sedang duduk di sofa.
"Makasih karena sudah mengizinkan Vivian tinggal disini." Ucap Candra ketus.
"Iya mas sama-sama. Aku juga senang bisa membantu Vivian." Ujar Dion canggung.
"Tapi kamu jangan khawatir. Setelah ini Vivian tidak akan merepotkan kamu lagi. Jadi aku minta kamu jauhi Vivian." Seru Candra dengan nada bicara yang sedikit kasar menurut Vivian.
Vivian segera menghampiri keduanya. Candra tidak mengetahui kalau sebenarnya Vivian telah mendengar semua pembicaraan mereka barusan. Vivian bersikap seolah-olah dia tidak tahu apa-apa dan duduk di samping Candra.
"Sudah.?" Tanya Candra sambil tersenyum simpul pada Vivian. Vivian hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Candra padanya.
Candra dan Vivian segera berpamitan kepada Dion. Sikap Candra kali ini berbanding terbalik dari sikap sebelumnya. Dia terlihat sangat sopan di depan Dion saat sedang bersama dengan Vivian.
Rasa kecewa masih membekas dalam hati Dion. Namun Dion masih bisa tersenyum di depan Vivian saat dia dan kakaknya berpamitan dari kediamannya.
"Kita mau kemana mas.?" Tanya Vivian.
"Kita mau pulang ke rumah." Sahut Candra sambil tersenyum.
"Rumah.?" Seru Vivian terkejut sambil mengerutkan dahi.
"Iya. Kamu kenapa.? Kok kaget gitu.?" Ujar Candra dengan senyum simpul di bibirnya.
"Tunggu deh mas. Mas tadi sudah meminta Juwita untuk membereskan semua barang aku. Lalu kenapa kita sekarang kesana lagi mas.?" Tanya Vivian semakin kebingungan.
"Vivian. Kamu tenang dulu ya.!! Mas nggak akan membawa kamu pergi ke rumah itu lagi. Sama sekali tidak terbesit hal itu dalam fikiran mas. Pokoknya serahkan semuanya sama mas. Kamu percaya kan sama mas.?" Ujar Candra.
Vivian menghela nafas dan mengangguk pelan. Menatap jalanan yang tak biasa dia lalui. Sepuluh menit berlalu dengan cepat. Sampailah mereka di komplek perumahan brawijaya. Sebuah rumah tipe perumahan pada umumnya yang terlihat mungil namun memberi kesan cantik dan elegan. Perpaduan warna putih pada tembok dan warna ping muda pada pintu, kusen serta tepi jendela memberikan kesan tersendiri. Sehingga rumah itu terlihat sangat manis.
Candra membayar ongkos taxi sesuai dengan kilometer yang tertera. Mengajak Vivian turun dari taxi.
"Ini rumah siapa mas.?" Tanya Vivian ragu namun rasa keingintahuannya kuat.
"Ini rumah kita. Yuk masuk.!!" Candra segera menggandeng tangan Vivian dan mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah.
Candra mengeluarkan sebuah kunci dari dalam sakunya. Membuka pintu depan rumah dengan kunci itu. Pintu akhirnya terbuka. Mata keduanya disuguhkan dengan pemandangan ruang tamu dengan sofa coklat lengkap dengan mejanya juga.
Candra segera merebahkan badan ke sofa empuk itu.
"Aaa... Enaknya." Ucap Candra sambil memejamkan mata menikmati sofa empuknya.
Vivian masih berjalan pelan dan melihat ke dalam rumah. Candra membuka mata dan mendapati adiknya yang masih diam dan bingung sambil memperhatikan ruangan tamu dengan seksama. Candra segera berdiri dan menghampiri Vivian. Memegang kedua bahunya dari belakang dan mendorongnya pelan untuk lebih masuk ke dalam rumah. Vivian sedikit terkejut namun dia tidak menolak.
Setelah ruang tamu terdapat juga ruang tengah lengkap dengan televisi dan kasur lantainya. Ada dua kamar disana dan semuanya sudah terisi dengan tempat tidur dan lemari pakaian.
Dapur dan kamar mandi bersebelahan. Kedua ruangan ini berada di paling ujung dalam bagian rumah. Setelah selesai tour pengenalan rumah baru. Candra mengajak Vivian untuk duduk di ruang tamu.
"Kamu kenapa dek.?" Ujar Candra sambil tersenyum simpul. Melihat Vivian yang masih kebingungan.
"Nggak apa-apa mas. Cuma sedikit bingung saja." Ucap Vivian. Mendengar ucapan Vivian akhirnya Candra buka suara dan menceritakan semuanya.
"Rumah ini mas beli tiga tahun yang lalu. Salah satu teman mas menjadi marketing di perumahan sini. Dia menawarkan rumah ini kepada mas. Awalnya mas tidak tertarik namun setelah di fikir-fikir nggak ada salahnya kalau mas beli salah satunya. Walaupun kecil tapi masih layak untuk di tinggali. Ini rumah kamu Vivian." Candra menatap Vivian lekat.
Deg.!!
"Mas secara khusus membelikannya untukmu. Mas juga sengaja menyembunyikan semuanya. Karena mas menunggu moment yang tepat untuk memberi tahu hal ini. Dan karena kamu sudah tahu semuanya maka mas memutuskan untuk membawamu kesini." Lanjut Candra.
Mendengar semua perkataan Candra linangan air mata haru tidak bisa Vivian bendung lagi. Vivian langsung memeluk kakaknya dengan erat.
"Makasih banyak mas. Makasih." Ucap Vivian di tengah isak tangisnya yang pecah.
Candra membalas pelukan adiknya dan mengelus bahu Vivian dengan lembut. Keduanya melepas pelukan dan saling berhadapan. Candra segera menghapus air mata yang membasahi pipi Vivian.