
Jalal memarkirkan motornya di depan rumah. Melepaskan helm dan meletakkan di atas motornya. Hari ini terasa begitu istimewa baginya. Bagaimana tidak di pagi itu dia seakan mendapat suntikan vitamin dan tambahan asupan energi karena telah bertemu dengan dambaan hatinya yang tak lain adalah Vivian. Wajah Vivian seakan melayang-layang di kepala Jalal.
Senyuman itu tak dapat menghilang dari raut mukanya. Jalal duduk bersandar di kursi ruang tamu. Dia mereplay ulang kejadian pagi ini. Tidak sia-sia usahanya untuk berinisiatif ingin mengantarkan Vivian berangkat ke sekolah. Ternyata Vivian sama sekali tidak menolak keinginan Jalal. Jalal berfikir dalam hati dan merasa kalau ternyata Vivian juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Semua hal yang di katakan oleh Nurdin memang benar adanya kalau Vivian hanya masih malu-malu padanya.
"Assalamualaikum." Sapa seseorang dari balik pintu rumah Jalal.
"Waalaikumsalam." Jawab Jalal setengah terkejut dan segera bangkit dari duduknya dan berjalan membuka pintu.
"Nurdin! Masuk-masuk!" Sahut Jalal menarik tangan Nurdin agar masuk ke dalam rumahnya.
"Ada apa? Kelihatannya lagi bahagia banget." Kata Nurdin sambil duduk.
"Kamu tahu saja kalau perasaanku sedang bahagia hari ini." Sahut Jalal sambil tersenyum. "Bentar ya aku buatin minum dulu." Lanjutnya.
"Jangan repot-repot kalau bisa keluarin saja semuanya." Kata Nurdin.
"Hahahaha." Jalal tertawa sambil berlalu menuju dapur. Tidak lama kemudian Jalal keluar dengan nampan yang berisi dua cangkir teh hangat. Meletakkan di atas meja dan mempersilahkan Nurdin untuk meminumnya.
"Kebetulan banget kamu kesini. Hari ini adalah hari yang spesial untukku." Kata Jalal.
"Memangnya ada apa?" Tanya Nurdin dengan senyumnya yang terpaksa.
"Aku pagi ini ketemu sama pujaan hatiku. Vivian ku sayang kamu cantik banget." Kata Jalal sambil memejamkan mata membayangkan Vivian seakan berada di depannya.
Aku ikut senang kalau kamu bahagia seperti ini. Bagaimana pun kamu berhak mendapatkannya. Vivian aku harap kamu bisa mengerti dengan posisi ku saat ini.
"Pantas saja kamu sebahagia ini ternyata habis ketemu sama dambaan hatimu. Ya aku turut bahagia mendengarnya." Sahut Nurdin sambil menepuk bahu Jalal yang masih saja tersenyum senang.
"Bukan cuma ketemu akhirnya aku bisa nganter dia ke sekolah." Kata Jalal dengan bangga.
"Wah. Ternyata sudah banyak kemajuan nih." Ledek Nurdin sambil tersenyum.
"Semua ini berkat kamu juga. Terima kasih ya kamu sudah banyak membantuku akhir-akhir ini." Sahut Jalal sambil merangkul bahu Nurdin dan tersenyum menatapnya.
"Sama-sama." Sahut Nurdin membalas tersenyum.
"Sebagai rasa terima kasih aku ingin mentraktir kamu makan sepuasnya hari ini. Gimana?" Tanya Jalal sambil memainkan kedua alisnya.
"Oke. Jarang-jarang juga bisa makan gratisan." Kata Nurdin sambil tertawa disusul oleh tawa Jalal setelahnya. Mereka pun keluar mengendarai sepeda motor.
☆☆☆
Pagi itu Nurdin disuruh ibunya untuk membeli beras di kios dekat tempat penitipan sepeda. Saat dia mengayuh sepeda dilihatnya Vivian sedang menuntun sepeda dengan langkah kaki yang terpincang-pincang dan rantai sepeda miliknya terlihat lepas dari porosnya. Nurdin menghentikan sepedanya dan berjalan di belakang Vivian tanpa di ketahui olehnya.
Bagaimana bisa kamu jatuh Vi. Nurdin mencemaskan keadaan Vivian saat ini. Ingin rasanya dia membantu gadis yang sangat di sukainya itu.
Nurdin mengikuti Vivian sampai di tempat penitipan sepeda. Saat Vivian keluar dari tempat penitipan sepeda Nurdin langsung masuk ke dalam kios penjualan beras hingga Vivian tak mengetahui kalau dari tadi Nurdin telah mengikutinya sampai disana.
Vivian duduk sendiri di bawah pohon beringin. Dia membuka sedikit rok panjangnya dan mendapati luka di bagian lututnya. Nurdin merasa sangat prihatin dengan keadaan Vivian saat ini lalu dia membeli obat merah dan plester untuk Vivian. Namun saat Nurdin melangkahkan kaki ingin mendekati Vivian ternyata disana Jalal telah duduk di sampingnya. Nurdin mengurungkan niatnya untuk menghampiri Vivian.
Ingin rasanya aku mengobati lukamu saat ini Vivian. Namun Jalal telah datang lebih dulu dari pada aku. Mungkin memang harus seperti ini. Jalal lah orang yang pantas bersanding denganmu. Hanya dia bukanaku yang bukan siapa-siapa ini.
Nurdin berjalan mundur dan memalingkan wajah. Berjalan menjauhi mereka berdua. Rasa sakit hati yang tidak dapat dia hindari terasa begitu menusuk-nusuk ke dalam hatinya. Terasa sakit hingga dia susah mengatur nafasnya sendiri. Meski dia sendiri yang merelakan Vivian agar bersama Jalal namun rasa cemburu itu tetap menjalar di hatinya.
Nurdin kembali ke kios beras untuk membeli beras kemasan 5 kg seperti perintah ibu nya. Saat Nurdin menenteng beras menuju sepeda dia melihat Vivian dan Jalal naik motor yang sama. Nurdin hanya bisa terswnyum getir melihat mereka berdua.
Nurdin mengayuh sepeda dengan berat hati. Ingin rasanya dia berteriak dan mengatakan yang sebenarnya pada Vivian. Tapi niat itu terhalang oleh rasa bersalahnya pada Jalal.
☆☆☆
"Kamu kenapa?" Tanya Lutvi yang sudah menenteng tasnya.
Vivian menghela nafas lalu menatap teman sebangkunya itu dengan malas.
"Ditanya malah diam." Sahut Lutvi heran.
"Aku nggak apa-apa kok. Yuk pulang." Balas Vivian yang sudah berdiri dan berjalan keluar kelas. Disusul oleh Lutvi dari belakangnya yang sedikit berlari mengejar Vivian.
"Kamu kenapa lagi Vivian?" Kata Lutvi dengan nafas yang tak teratur sambil mengacak-ngacak kepala Vivian.
"Sudahlah Lut jangan di bahas lagi! Aku lagi males nih." Sahut Vivian dengan nada kesal sambil berjalan menuju pintu gerbang sekolah mereka.
"Oke kalau gitu. Aku nggak bakal godain kamu lagi. Sekarang senyum dong!" Pinta Lutvi sambil memasang mukanya yang sok manis. Walau sebenarnya dia dari dulu memang sudah sangat manis dengan senyuman dan khas lesung pipinya yang tembem.
Sekarang mereka duduk di depan toko buku plus fotocopy yang berada di seberang jalan tepatnya di depan pintu gerbang sekolah. Lutvi sedang menunggu kakaknya menjemput sedangkan Vivian sendiri sedang menunggu angkutan umum untuknya pulang. Seorang lelaki dengan postur tubuh yang tak begitu asing di mata Vivian berhenti tepat di depan pintu gerbang sekolahnya. Vivian tak dapat menebak dengan pasti sosok lelaki tersebut karena helm hitam yang tak terlepas dari kepalanya. Turun dari atas motor dan menghampiri pos satpam sekolah. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.
Saat lelaki itu berjalan menuju motornya dia melihat Vivian duduk di seberang jalan dan melambaikan tangan dengan antusias. Vivian hanya bisa mengerutkan dahi heran. Lutvi yang mengetahui hal itu menyenggol bahu Vivian dan menggodanya.
"Ciye Vivian." Kata Lutvi dengan nada menggoda.
"Apaan sih. Biasa saja dong!" Sahut Vivian jutek.
Lelaki itu berhenti tepat di depan mereka. Menstandartkan sepeda motor dan melepaskan helmnya. Betapa terkejutnya Vivian sekarang ternyata lelaki yang dia perhatikan sedari tadi tak lain dan tak bukan Jalal.
"Kak Jalal ngapain disini?" Tanya Vivian dengan ragu.
"Jemput kamu." Jawab Jalal singkat dengan senyum di bibirnya.
Deg!
"Ehem.. ehem.." Lutvi menengahi pembicaraan mereka.
"Oh iya. Kak kenalin temen aku." Sahut Vivian mengalihkan pembicaraan.
"Jalal." Kata Jalal sambil mengulurkan tangan ke arah lutvi.
"Lutvi." Sahut Lutvi sambil meraih tangan Jalal dan berjabat tangan.
Tanpa mereka sadari kakak Lutvi telah berada tak jauh dari mereka.
"Dek." Teriak kakaknya Lutvi sambil melambaikan tangan. Mereka bertiga pun secara spontan fokus berpaling ke arah kakak Lutvi. Lutvi hanya membalas dengan melambaikan tangan.
"Aku pulang dulu ya Vi." Kata Lutvi sambil menatap temannya itu.
"Iya hati-hati di jalan." Sahut Vivian sambil tersenyum. Lutvi berlalu meninggalkan Vivian dan Jalal.
"Pulang yuk!" Ajak Jalal sambil menarik tangan Vivian agar segera naik ke atas motornya. Vivian sedikit menolak dan menghentikan keinginan Jalal.
"Aku naik angkot saja kak." Celetuk Vivian sedikit kesal dengan sikap Jalal.
"Vivian. Kamu nggak lihat apa di sekitar sekarang. Sudah nggak ada angkutan lagi Vi. Pulang sama ku ya?" Kata Jalal panjang lebar.
"Tapi kak." Kalimat Vivian menggantung.
"Nggak ada tapi-tapian. Kita pulang sekarang." Jalal menggendong Vivian dan menaruhnya di atas motor. Jalal menghidupkan motor dan melajukannya menerjang padatnya jalanan siang itu.