Point Of Love

Point Of Love
Rahasia yang Terungkap



Candra menarik nafas perlahan. Menatap adiknya yang penuh dengan banyak pertanyaan dalam fikirannya tergambar jelas pada raut mukanya saat ini. Melirik pada Dion yang berdiri tak jauh dari mereka dan meminta sedikit privasi darinya. Dion mengerti dan segera keluar dari kamar.


"Kamu adikku Vivian." Ucap Candra dengan mata berkaca-kaca menatap adiknya.


"Iya mas. Vivian tahu itu. Sampai kapanpun Vivian akan selalu jadi adik mas Candra. Tidak ada yang bisa mengubah itu semua." Sahut Vivian sedikit kesal.


"Bukan seperti itu Vivian. Maksud mas kamu memang adik mas. Adik kandung mas. Kita sedarah dek. Satu ayah dan satu ibu." Ujar Candra memperjelas perkataannya.


Vivian sedikit tertegun mendengarnya dan diam sejenak menatap Candra yang sudah di banjiri dengan air mata di pipinya.


"Mas sekarang sudah lega. Akhirnya mas sekarang benar-benar bisa memanggilmu adik. Sudah lama mas menunggu moment bahagia ini. Kamu adik mas dek. Kamu nggak sendiri lagi." Ucap Candra sambil mengelus rambut Vivian lembut.


"Jadi Vivian adik kandung mas Candra.?" Tanya Vivian seakan tidak percaya. Candra menganggukkan kepala pelan.


"Kenapa mas.? Kenapa.?" Suara Vivian serak karena tangis yang tertahan. Candra mengerutkan dahi tidak mengerti dengan tanggapan Vivian padanya.


"Jadi selama ini mas sudah tahu semuanya.? Kenapa mas sembunyikan semua ini dari aku.? Kenapa.?" Vivian berteriak tak terkendali dengan linangan air mata. Candra segera memeluk adiknya yang sedang terguncang dan menenangkannya dengan segala usahanya.


"Kamu tenang dulu ya dek. Mulai sekarang mas nggak akan pernah sembunyikan hal apapun dari kamu. Mas janji." Ucap Candra.


Dion hanya bisa diam di tempatnya. Mendengarkan dari balik pintu yang tidak tertutup rapat. Dua saudara yang sedang mengalami guncangan dalam keluarganya. Sungguh ironi, hal ini membuat Dion teringat akan keluarganya sendiri. Teringat mama dan papanya.


"Maafkan mas dek. Mas benar-benar minta maaf. Seharusnya mas bilang dari awal tapi mas takut menyakiti perasaanmu." Ujar Candra.


"Sekarang mas jujur sama Vivian. Sebenarnya apa yang terjadi.?" Vivian mulai bisa mengendalikan perasaannya sendiri dan menghapus air matanya. Candra menghela nafas dan duduk bersimpuh di kaki Vivian. Menatap ke dalam mata adik kandungnya.


"Semua berawal saat mas berumur 9 tahun. Saat itu mama tengah mengandung kamu. Sudah menjadi sebuah tradisi saat hari raya idul fitri semua keluarga berkumpul. Dan bertepatan mereka sedang berkunjung ke rumah mas. Bukan. Maksud mas rumah kita." Ujar Candra.


"Terus.?" Sela Vivian penasaran.


"Waktu itu mas haus dan ingin pergi ke dapur untuk mengambil minuman. Namun saat mas sampai disana ibumu tante Fani sudah tergeletak dilantai.Tante Fani juga sedang mengandung anak pertamanya. Usia kandungan Tante Fani dan mama hanya beda 2 bulan. Mas begitu panik dan menghampiri tante Fani. Mencoba membangunkannya. Dari baju yang di kenakan tante Fani keluar darah merah dari pangkal paha sampai ujung kaki. Bahkan sampai berceceran di lantai. Orang-orang di ruang tamu mendengar teriakan mas dan segera menghampiri kami di dapur. Suasana yang semula bahagia berubah menjadi kesedihan." Candra menghela nafas.


"Lalu apa yang terjadi selanjutnya mas.?" Ujar Vivian sedikit ragu. Melihat Candra seperti membawa beban yang begitu berat dalam matanya.


"Kami membawanya ke rumah sakit. Dokter menyarankan agar segera melakukan operasi sesar. Semua keluarga langsung menyetujuinya. Karena kondisi tante Fani yang tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Semua orang menanti kelahiran anak itu. Namun yang terjadi di luar dugaan. Anak yang seharusnya seusiamu saat ini, dia tidak dapat tertolong. Bayi itu meninggal dalam kandungan." Ucap Candra sambil menatap adiknya.


"Usai operasi tante Fani di perbolahkan untuk pulang dan rawat jalan. Fisiknya memang terlihat sehat namun tidak psikisnya. Tante Fani sangat terpukul dengan kepergian anaknya. Karena anak itu sudah di nantikan selama 5 tahun lebih setelah mereka menikah." Lanjut Candra.


"Lalu bagaimana aku bisa berpisah dari keluargaku sendiri.?" Tanya Vivian.


"Mama dan papa yang melihat kondisi tante Fani saat itu merasa kasihan. Akhirnya dengan banyak pertimbangan yang begitu berat dan rumit papa memutuskan untuk menyerahkan anak keduanya kepada mereka. Yaitu kamu Vivian." Ucap Candra.


"Mas." Vivian memeluk Candra. Air mata yang tadinya kering sekarang tanpa dia sadari sudah membasahi pipinya lagi.


"Maaf mas Vivian nggak tahu." Ucap Vivian terisak.


"Ssstt.!! Hei.!! Adik mas yang paling cantik.!! Jangan nangis lagi dong.!!" Ujar Candra sambil melepaskan pelukan adiknya.


Candra memegang kedua pipi Vivian. Menempelkan dahi Vivian ke dahinya sendiri sambil memejamkan mata.


"Mulai sekarang kamu jangan pernah berfikir untuk kabur lagi ya dek. Kalau kamu ada masalah, masih ada mas disini. Mas akan selalu ada untukmu. Mas janji.!!" Ujar Candra.


Cekrek.!!


"Maaf mas mengganggu." Ucap Dion ragu dan sedikit canggung.


"Iya nggak apa-apa. Ada apa.?" Tanya Candra.


"Dokter Heru sudah datang dan mau memeriksa keadaan Vivian mas." Ujar Dion.


"Ya udah. Suruh masuk saja.!!" Sahut Candra.


Dokter Heru dan juga Dion langsung masuk ke dalam ruangan. Candra segera bangkit dan berdiri di samping Vivian. Dokter Heru mengeluarkan stetoskop dan memeriksa keadaan Vivian.


"Gimana keadaan Vivian dok.?" Tanya Candra penasaran.


"Kamu ini keluarganya Vivian.?" Ujar dokter Heru pada Candra.


"Iya saya kakaknya Vivian." Jawab Candra ketus.


"Kondisi Vivian sudah lebih baik dari pada semalam. Hanya butuh istirahat yang cukup maka dia bisa beraktifitas seperti sedia kala." Seru Heru sambil memasukkan stetoskop ke dalam tas nya.


"Lalu ini apa sudah boleh di lepas.?" Sahut Vivian sambil mengangkat tangan yang masih tertancap jarum infus.


"Boleh." Ucap dokter Heru sambil tersenyum.


"Lalu bagaimana dengan alergi Vivian.?" Tanya Candra.


"Alergi.? Vivian alergi apa mas.?" Sela Dion.


"Jadi kalian tidak tahu kalau adikku sakit gara-gara alerginya kambuh.?" Sahut Candra ketus.


Dion hanya mengerutkan dahi dan menggelengkan kepala.


"Tetapi pada kenyataannya, adikmu tidak menunjukkan gejala kalau dia sedang alergi. Dia hanya stres dan tertekan." Sahut dokter Heru.


Candra mendesah kesal. Vivian merasa Candra menyalahkan Dion atas semua yang terjadi pada dirinya. Dia segera menarik ujung lengan baju Candra pelan. Candra segera menoleh padanya.


"Mas jangan marah sama mereka.!! Mereka orang baik yang sudah mau menolong Vivian. Entah apa yang akan terjadi pada Vivian kalau kak Dion tidak menolong waktu itu." Ujar Vivian.


"Hei. Jangan ngomong kayak gitu.!! Maafin mas ya kalau sikap mas membuat kamu tidak nyaman. Tapi mas juga harus bersikap tegas. Mas nggak mau nanti kamu minum obat yang salah." Ucap Candra.


"Anda tidak perlu khawatir tentang hal itu. Dari kemarin saya belum memberi obat sama sekali untuk di konsumsi oleh Vivian. Saya juga tahu kalau Vivian dalam pemulihan penyakit alerginya. Jadi saya memutuskan untuk tidak memberinya obat." Seru dokter Heru yang segera beranjak dari tempatnya. Jarum infus telah terlepas dari tangan Vivian. Dokter Heru berpamitan pada orang yang berada dalam ruangan. Dion memutuskan untuk mengantar pamannya sampai pintu depan.


"Kamu harus ekstra sabar ya Dion.!" Ucap dokter Heru tiba-tiba. Membuat Dion mengerutkan dahi tanda tak mengerti.


"Maksud paman apa.?"


"Abangnya galak minta ampun. Kalau kamu mau dekat sama adiknya. Siapkan hati dan mentalmu." Seru Heru sambil menepuk bahu Dion beberapa kali dan tersenyum nyengir menggoda.


"Paman apaan sih.? Sudah sana pergi.!!" Sahut Dion dengan raut muka malunya. Dokter Heru tertawa lepas melihat ekspresi keponakannya yang menurutnya sangat lucu dan dia berlalu pergi meninggalkan rumah Dion.