
Ruang berukuran 6x6 meter dengan cat tembok warna crem. Berisi beberapa perabotan selayaknya kamar untuk beriatirahat. Tempat tidur lengkap dengan nakas dan lampu tidur. Lemari pakaian yang lumayan besar dan juga ada sofa di sudut ruangan di samping pintu kamar mandi yang berada dalam kamar.
Dimana ini.? Apa aku kembali ke rumah sakit.? Tapi kenapa ruangannya begitu besar.? Apa aku sudah di pindahkan ke ruang VIP. Banyak pertanyaan muncul dalam kepala Vivian.
Pemandangan yang begitu menyilaukan mata Vivian saat baru terbuka. Ingin bangkit namun badannya seakan remuk redam hingga dia memutuskan untuk tetap berbaring. Tangan kanannya terasa aneh. Di saat Vivian melirik ternyata sudah tertancap infus disana.
Selanjutnya Vivian melirik tangan sebelah kirinya yang seakan mati rasa. Mata Vivian sejenak terperanjat melihat pemandangan yang begitu langka dalam hidupnya. Bagaimana tidak langka, sekarang lelaki dengan polosnya tidur terlelap sambil memegangi tangannya.
Vivian perlahan melepaskan genggaman tangan Dion dari tangannya. Dia melakukannya dengan sangat pelan agar tidak membangunkan tidurnya. Tetapi semua di luar dugaannya. Saat tangan Vivian hampir terlepas Dion tiba-tiba terbangun.
"Kamu sudah sadar.?" Ucap Dion sayup-sayup sambil mengucek matanya sendiri.
"I. Iya kak." Sahut Vivian ragu. Vivian mencoba untuk duduk dan Dion langsung membantunya. Vivian memberanikan diri untuk bertanya kepada Dion.
"Aku dimana kak.? Apa di rumah sakit lagi.?" Tanya Vivian sambil memperhatikan jarum infus yang tertancap di tangan kanannya. Dion tersenyum melihat kepolosan Vivian.
"Kamu mau minum.?" Ujar Dion. Vivian hanya mengangguk pelan.
Dion segera berdiri dan menuangkan air putih ke dalam gelas. Memberikannya kepada Vivian. Vivian meraih gelas itu dan meminumnya sampai habis. Dion tersenyum dan kembali duduk di sebelahnya.
"Bagaimana perasaanmu sekarang.?" Tanya Dion sambil menatap Vivian. Hal ini membuat Vivian grogi dan canggung.
"Alhamdulillah sudah lebih baik." Sahut Vivian sambil tersenyum. "Terima kasih ya kak karena sudah menolongku. Aku nggak tahu lagi kalau nggak ada kak Dion disana. Mungkin sekarang aku sudah.." Ucapan Vivian terhenti karena jari telunjuk Dion sudah menempel di bibirnya.
"Sssttt. Jangan ngomong kayak gitu.!! Yang penting sekarang kamu harus sehat. Yang sudah terjadi biar jadi masa lalu saja." Ujar Dion dan jarinya masih menempel di bibir Vivian.
Pandangan mereka bertemu lima detik. Dion semakin terhipnotis dalam menatap mata Vivian yang berbinar. Vivian segera sadar dan menundukkan kepala.
"Maaf." Ucap Dion gugup.
Vivian baru menyadari kalau pakaiannya sudah ganti dengan sendirinya. Memperhatikan dengan seksama baju yang dia kenakan sekarang.
"Ini. Baju siapa.?" Ucap Vivian ragu. Ketakutan dalam hatinya menyeruak membayangkan lelaki yang sekarang tepat berada di depannya sedang mengganti pakaian yang menempel pada tubuhnya.
"Oh ini. Ini pakaianku." Sahut Dion santai. "Tadi baju kamu basah jadi aku minta tolong sama bik imah untuk menggantinya." Lanjut Dion.
Raut muka Vivian terlihat lega.
"Kamu kenapa.?" Tanya Dion sedikit heran dengan reaksi Vivian barusan.
"Nggak. Aku nggak apa-apa kok." Ujar Vivian sambil menggelengkan kepala.
"Jangan-jangan kamu mengira kalau aku yang gantiin baju kamu.?" Tanya Dion dengan nada menggoda.
"Kak Dion apaan sih.?" Sahut Vivian sedikit berteriak sambil menutup kedua telinganya. Rona merah terpancar di wajahnya karena malu mendengar pernyataan Dion yang mendekati kebenaran.
"Oh iya Vivian. Kamu kabur dari rumah sakit ya.? Kenapa.?"
Vivian tertunduk dan menghembuskan nafas kasar melaui mulutnya.
"Maaf kalau pertanyaanku menyakiti perasaanmu Vivian. Tapi aku penasaran. Kenapa kamu sampai kabur seperti ini.?" Ujar Dion.
"Iya kak. Aku memang kabur dari rumah sakit." Ucap Vivian dengan nada lesu dan dia mengangkat kepalanya menatap Dion dengan air mata yang tertahan di sudut matanya.
Dion mengerutkan dahi sejenak. Apa yang terucap dari mulut Vivian tidak sesuai dengan yang dia inginkan. Dion merogoh saku celana dan mengeluarkan sebuah ponsel. Memberikan ponsel itu kepada Vivian.
Apa yang sebenarnya kamu tutupi dariku Vivian.? Semakin kamu menutupinya. Semakin besar pula rasa penasaranku terhadapmu.
"Kamu mau menghubungi siapa.?" Tanya Dion karena rasa ingin tahunya yang semakin mendorongnya.
Vivian tidak merespon pertanyaan Dion. Dia sibuk dengan ponsel di tangannya dan mengetik sesuatu disana. Dion segera mengendalikan dirinya. Mencoba menenangkan diri dan menekan rasa ingin tahunya yan kuat. Tidak sampai satu menit ponsel itu berdering. Vivian dengan sigap mengangkatnya.
"Hallo." Ucap Vivian sedikit ragu.
"Hallo Vivian. Bagaimana keadaanmu sekarang.?" Tanya Candra dari balik telepon.
Ternyata Vivian menghubungi kakak sepupunya Candra. Hanya dia saudara dekat yang akrab dengannya. Bahkan melebihi saudara sedarah.
"Mas Candra." Isak tangis Vivian langsung pecah mendengar suara Candra.
"Hei. Jangan nangis.!!" Ucap Candra lembut penuh dengan kasih sayang. Mencoba menenangkan Vivian yang sedang terguncang.
"Mas akan segera sampai disana. Sekarang mas sudah naik kereta api. Insyaalloh besok pagi mas sudah sampai. Vivian sekarang tenang ya.!!" Ujar Candra.
Vivian segera menghapus air matanya sendiri. Mencoba untuk tenang dan menarik nafas.
"Vivian. Dengarkan kata-kata mas. Vivian jangan mikir yang macem-macem ya. Setelah mas sampai disana, mas akan menjelaskan semuanya." Ujar Candra menenangkan Vivian.
Namun kali ini perkataan Candra membuat Vivian mengerutkan dahi.
"Maksud mas Candra apa.? Apa mas tahu dengan semua yang terjadi sama aku.?" Tanya Vivian penuh dengan kecurigaan.
"Vivian. Kamu tenang dulu ya.!! Iya. Mas akui, mas memang tahu semua yang terjadi disana. Karena mas sudah meminta Juwita untuk memberikan info sama mas tentang keadaanmu. Mas khawatir jadi mas minta tolong sama dia." Ujar Candra. Vivian tidak menyangkal pernyataan Candra. Karena Vivian tahu semua yang dilakukan Candra hanya demi kebaikannya.
"Yang terpenting sekarang kamu istirahat dulu dan memulihkan tenaga. Besok setelah mas sampai disana. Mas akan menceritakan kebenarannya." Lanjut Candra.
"Iya mas. Vivian akan nurut apa kata mas." Ucap Vivian lesu.
"Kamu sekarang ada dimana.?" Tanya Candra. Vivian menelan ludahnya sendiri. Apakah Candra akan marah kalau dia sekarang sedang menginap di rumah seorang lelaki.
"Aku di rumah temen mas. Ini juga ponsel milik temen aku." Ucap Vivian sedikit ragu berharap Candra tidak akan marah kepadanya dan juga Dion.
"Ya sudah. Kamu istirahat sana. Mas juga mau tidur sebentar." Sahut Candra tanpa ada kecurigaan sedikitpun.
"Iya mas." Sahut Vivian ragu dan segera menutup telepon. Menghela nafas melalui mulutnya dengan perasaan lega. Dan baru tersadar kalau dia sedang satu ruangan dengan Dion.
"Ini ponselnya kak, Terima kasih. Maaf kak kalau sikap aku barusan sedikit berlebihan di mata kak Dion." Ujar Vivian.
"Nggak apa-apa kok. Santai saja.!! Kamu lanjut istirahat ya. Aku juga mau balik ke kamarku." Sahut Dion sambil beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Vivian.
Dion melangkahkan kaki menuju kamarnya sendiri. Merebahkan tubuhnya dengan sembarang di atas tempat tidur. Mengingat kembali apa yang baru saja terjadi. Dan membuka layar kunci ponselnya.
Candra.?? Kenapa Vivian memanggilnya mas. Apa dia kakaknya Vivian.? Bukannya kakak Vivian bernama Faro.? Hati Dion semakin penasaran.
Tanpa sadar Dion terlelap dalam mimpi indahnya malam.