
Matahari telah tenggelam dan langit berubah menjadi jingga. Tampak begitu cantik dan menawan. Desiran angin dan udara malam yang sedikit sejuk terasa menusuk ke dalam tubuh. Namun Vivian tidak bisa merasakan semua itu. Malam itu Vivian terbaring sendiri dalam kamar rawat inap rumah sakit. Menatap ke arah jendela tapi yang ada hanya lampu rumah sakit yang sudah semakin suram dari hari ke hari.
Vivian menarik selimut sampai menutupi seluruh kepalanya. Berfikir dalam balutan selimut. Merenungi semua yang telah terjadi. Perang batin yang ada dalam hati membuatnya seakan tidak sanggup untuk menerimanya.
Melihat kenyataan yang begitu menyayat hati dan menguras fikirannya. Semua hanya menyisakan sakit yang begitu dalam. Kali ini Vivian sudah tidak bisa berfikir jernih lagi. Semua tampak gelap dalam hatinya.
Vivian melemparkan selimut dengan sembarang lalu beranjak duduk. Menatap jarum dan selang infus yang tertancap di tangan kirinya. Lama Vivian terdiam dan menatap benda yang menempel di tangannya dengan tatapan
kosong tanpa arti. Dengan cepat Vivian melepas paksa jarum infus hingga darah tak henti keluar dari bekas jarum itu. Vivian segera mengambil beberapa tisu yang ada di atas meja tepat di samping tempat tidurnya.
Dengan langkah berat Vivian melangkahkan kaki meninggalkan ruangan. Ingin rasanya Vivian berlari namun tenaganya masih belum pulih sepenuhnya. Alhasil dia hanya bisa berjalan pelan. Agar tidak menarik perhatian
tak lupa saat dia keluar dari kamar dia menyempatkan diri untuk mengenakan jaket hoody warna merah miliknya.
Sampailah Vivian di pintu lobby rumah sakit. Vivian merasa sedikit lega akhirnya dia bisa keluar dari rumah sakit itu. Tidak memiliki arah tujuan akan kemana. Vivian hanya mengikuti kemana langkah kaki membawanya.
Lama Vivian berjalan menyusuri jalan yang tak kunjung putus. Tanpa sadar Vivian melihat ke sekeliling. Semua terlihat asing dan baru baginya. Vivian merasa tidak pernah lewat di jalan itu. Langit tidak mendukung apa yang
dilakukan Vivian saat ini. Gerimis pun segera turun perlahan. Namun tidak menghentikan langkah kaki Vivian.
Tetesan air hujan perlahan mulai membasahi tubuh Vivian yang mulai lesu. Vivian memutuskan untuk menepi dan duduk di depan ruko yang sudahtutup. Mengelap keringat yang bercampur air hujan yang membasahi mukanya yang terlihat pucat. Melihat ke sekeliling tempat itu. Tak jauh darinya terdapat beberapa laki-laki dengan motor-motor yang terparkir rapi. Sesekali terdengar gelak tawa mereka. Entah apa yang membuat mereka senang sampai tertawa seperti itu.
Vivian menenggelamkan wajahnya ke dalam lipatan lututnya sendiri. Sekali lagi air mata Vivian tak terbendung lagi hingga menimbulkan suara isak tangis. Terdengar langkah kaki beberapa orang mendekati Vivian yang masih tidak beranjak dari tempatnya berada.
“Hai cewek. Sendirian aja nih.?” Sapa seseorang dengan tubuh tinggi kurus. Vivian segera tersadar dan dengan cepat menghapus air mata yang membasahi pipinya.
“Kamu kenapa.? Kok nangis gitu.?” Sahut lelaki gondrong yang mencoba menyentuh pipi Vivian namun ditangkasnya dengan cepat.
“Wih. Galak juga nih cewek.!!” Seru lelaki dengan tato bergambar tengkorak di lengan kanannya.
“Kalian mau apa.? Jangan ganggu aku.!!” Gertak Vivian. Meski dalam hati begitu takut namun dia harus melawan rasa takutnya sendiri untuk membela dirinya.
“Dari pada disini sendirian. Mending ikut kita. Ya nggak.?” Ujar lelaki gondrong.
“Betul banget.” Sahut yang lain.
Vivian segera berdiri dan ingin berlari dari tempat itu. Saat ada kesempatan dia akan melarikan diri dari ketiga lelaki yang mengganggunya. Namun ketiga lelaki itu tidak memberikan celah sedikit pun untuk melarikan diri dari mereka. Salah satu dari mereka memberi isyarat kepada yang lain. Mereka menangkap Vivian dengan paksa.
“Kamu nggak apa-apa kan.?” Sapa salah seorang lelaki.
Suara ini.? Sepertinya aku kenal. Ujar Vivian dalam hati.
Vivian segera mengangkat wajahnya dan benar saja lelaki yang sekarang berdiri di depannya adalah Dion. Orang yang menyelamatkan dirinya sekarang.
“Kak Dion.” Sapa Vivian sedikit ragu. Dion mengerutkan dahi dan memandang wajah Vivian yang pucat dan kusut.
“Kamu Vivian.?” Ujar Dion tersadar. Vivian hanya tersenyum. Pandangan Vivian tiba-tiba berubah menjagi gelap. Dia jatuh tak sadarkan diri dan beruntungnya teman-teman Dion dengan sigap menolongnya.
“Lo kenal sama nih cewek.?” Tanya salah satu teman Dion.
“Iya kenal. Dia temen satu sekolah.” Sahut Dion.
“Terus ini gimana.?” Tanya teman Dion yang tengah memegangi Vivian. Dion menghela nafas sejenak sambil berfikir.
“Biar dia sama gue. Nanti gua kabari keluarganya.” Seru Dion kepada teman-temannya.
Dion memutuskan untuk naik taxi bersama dengan Vivian. Dion juga menitipkan motor miliknya kepada teman-temanya. Dion memang bergabung dalam komunitas motor sejak lama. Bukan sebuah geng atau premanisme yang mereka anut. Mereka hanya sekedar berkumpul untuk mengobrol. Kadang mereka berkumpul juga hanya makan bersama agar pertemanan mereka semakin erat. Mungkin karena kebanyakan anggota dari mereka adalah pelajar SMA. Maka mereka memutuskan untuk berkumpul 2 kali dalam satu bulan.
Vivian tertidur dalam pangkuan Dion. Perlahan Dion memberanikan diri untuk merapikan rambut yang menutupi wajah Vivian. Menarik rambut itu ke telinga Vivian perlahan. Tampaklah wajah pucat Vivian dengan hidung mancung dan bulu matanya yang lentik. Hingga seuntai senyum hinggap di bibir Dion.
Cantik. Kamu memang cantik Vivian.!! Seru Dion dalam hati.
Dion tenggelam dalam lamunannya sendiri. Mengingat saat dia bertemu dengan Vivian di depan gedung sekolah. Saat itu dia ingin sekali berkenalan dengan Vivian. Namun yang terjadi di luar kesadaranya. Karena grogi dia malah memarahi Vivian hanya karena kesalahan sepele.
Sebenarnya saat di sekolah bukan pertemuan pertamanya dengan Vivian. Dion bertemu dengan Vivian saat di dalam bus. Saat itu Vivian masih duduk di bangku SMP. Dion duduk di bagian belakang tempat duduk Vivian. Di samping Vivian ada seorang wanita paruh baya sedang berdiri. Tempat duduk di dalam bus telah terisi semua. Saat semua orang hanya peduli dengan urusan pribadi masing-masing dan tidak mempedulikan orang lain, tetapi itu berbeda dengan Vivian. Vivian segera berdiri dan mempersilahkan wanita itu untuk duduk di tempat duduknya.
Dion menatap Vivian penuh dengan decak kagum. Di zaman yang seperti ini masih ada segelintir orang yang mau peduli dengan orang lain. Begitu fikir Dion.
Dan saat Dion melihat Vivian berdiri di depan pintu gerbang sekolahnya. Dia senang bukan main. Akhirnya dia bisa bertemu lagi dengan Vivian. Dion berharap dia bisa dekat dengan Vivian. Sekarang semua keinginannya akhirnya terwujud juga. Saat ini dia telah dekat dengan Vivian. Bahkan Vivian terbaring di kakinya.
Akhirnya aku bisa sedekat ini denganmu Vivian. Seru Dion dalam hati.