Point Of Love

Point Of Love
First Date



Ujian Akhir Nasional tingkat SMP telah usai. Vivian dapat sedikit bernafas lega dengan hal tersebut. Namun kekhawatiran tak pernah lepas dari dalam fikirannya. Akankah dia dinyatakan Lulus atau malah Tidak Lulus. Setiap usai sholat fardhu Vivian tak pernah lupa memanjatkan doa kepada Allah SWT supaya dia dapat Lulus dengan nilai yang memuaskan. Vivian ingin mendaftar ke sekolah terbaik yang berada di daerah timpat tinggalnya karena dia ingin sekali melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi bahkan kalau memungkinkan dia sangat ingin masuk ke universitas ternama. Dia tidak ingin nasib kedua orang tua nya terulang lagi padanya. Ayah Vivian yang hanya lulusan Sekolah Dasar dan ibunya yang hanya sampai tingkat Sekolah Menengah Pertama. Karena latar belakang keluarga yang sangat minim dengan pendidikan menjadikan motivasi tersendiri bagi Vivian untuk melanjutkan sekolah setinggi-tingginya. Dia juga menaruh banyak harapan agar setelah lulus nanti dia bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Tidak harus pergi ke luar negeri menjadi TKW seperti ibunya.


Hari demi hari hubungan antara Jalal dan Vivian semakin dekat. Walaupun mereka berdua belum memutuskan untuk berpacaran namun hal itu sudah tidak diperlukan lagi. Karena hubungan mereka layaknya seperti dua sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Pagi itu saat libur sekolah Vivian memutuskan untuk lari pagi bersama kedua sahabatnya. Siapa lagi kalau bukan Mala dan Juwita.


Juwita dan Mala mendukung dengan semua keputusan sahabatnya. Meski mereka meragukan keseriusan Jalal terhadap Vivian namun mereka tetap mendukung kedua nya. Karena bagi mereka kebahagiaan Vivian merupakan hal yang paling utama.


Pagi itu Jalal telah menunggu Vivian sambil duduk santai di bawah pohon beringin. Vivian berlari ringan sambil mendengarkan ipad menggunakan headset. Setelah beberapa langkah akhirnya Vivian telah sampai pada tempat Jalal menunggunya. Disusul oleh kedua sahabat Vivian yaitu Mala dan Juwita. Mereka melanjutkan berlari dan meninggalkan Vivian.


"Maaf ya kak. Nunggu lama ya?" Sapa Vivian.


"Nggak kok. Aku juga baru sampai. Lari lagi yuk!! Sahut Jalal. Vivian hanya membalas dengan mengangguk.


"Gimana ujiannya.? Lancar.? Tanya Jalal di sela-sela saat mereka berlari kecil.


"Alhamdulillah. Semuanya lancar. Doain ya kak! Semoga aku lulus dengan nilai yang baik." Kata Vivian sambil tersenyum.


"Pasti dong. Tanpa kamu minta sekalipun aku pasti akan melakukan hal itu." Sahut Jalal sambil membalas senyuman Vivian. Tatapan mereka bertemu beberapa detik lalu mereka saling memalingkan muka sambil tersenyum sendiri. Akhirnya mereka berhenti berlari dan memutuskan untuk duduk di pinggir sungai.


Vivian merentengkan tangan dan menghirup udara segar pagi itu sambil memejamkan mata.


"Udaranya enak ya kak.?" Sapa Vivian memulai obrolan pagi itu.


"Iya Vi. Apalagi ditemenin orang yang spesial kayak kamu. Di samping udaranya enak pemandangannya juga sangat cantik." Sahut Jalal sambil tersenyum menatap Vivian. Vivian hanya bisa tersenyum dengan rona merah di pipinya.


"Kakak apaan sih." Celetuk Vivian malu-malu.


Dibalik semak belukar yang tinggi terdapat dua sosok manusia yang sedang menahan tawa mendengar perbincangan Jalal dan Vivian. Siapa lagi kalau bukan Mala dan Juwita. Mereka memang sengaja bersembunyi di tempat itu hanya untuk mengintip perbincangan mereka.


"Vivian. Makasih ya kamu sudah mengizinkan aku untuk mencintaimu. Ya walaupun sebenarnya hatimu belum sepenuhnya menerimaku. Tapi aku sudah cukup senang dengan semua itu." Kata Jalal.


"Kak. Mulai sekarang aku akan belajar untuk mencintai kakak." Ucap Vivian ragu diantara malu dan takut akan menyakiti perasaan Jalal.


Jalal sangat terkejut dan terperanjat tak percaya dengang apa yang telah dia dengar barusan. Dia merubah arah duduknya dan menghadap ke arah Vivian. Jalal mengumpulkan segala keberaniannya untuk meraih tangan Vivian. Saat Jalal memegang tangan Vivian, Vivian sedikit terkejut namun dia sama sekali tidak menepis keinginan Jalal. Mereka sekarang saling berhadapan.


Vivian hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepala. Jalal seketika langsung mencium tangan Vivian. Terdengar suara gesekan dan tawa kecil dari balik semak belukar dan tiba-tiba.


BRUUUUUGG!!


Mala dan Juwita tejatuh tepat dibelakang Vivian dan Jalal. Raut muka mereka memerah karena malu namun mereka segera tersenyum semanis-manisnya untuk menutupi rasa malunya karena telah terjatuh dan telah ketahuan bahwa mereka sedang menguping pembicaraan mereka dari balik semak belukar.


Tawa Vivian tak dapat terelakkan lagi. Dia tertawa terbahak-bahak di depan Jalal. Jalal hanya bisa tersenyum melihat tingkah Vivian yang sangat langka saat tertawa. Baru kali ini Jalal melihat tawa Vivian yang sangat alami tanpa dibuat-buat. Seakan hal itu mengalir begitu saja dalam dirinya.


Mala dan Juwita hanya bisa saling pandang dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Karena mereka telah ketahuan oleh sahabatnya sendiri. Bukan hanya sahabatnya tapi juga ada Jalal di tempat tersebut. Vivian menghentikan tawanya dan mengatur nafasnya perlahan lalu berkata.


"Kalian ngapain disitu.?" Tanya Vivian denagan sisa tawa yang masih melekat di bibirnya.


"Emm.. Kita lagi cari jangkrik. Iya kan Mala.?" Celetuk Juwita sambil mengedipkan mata kepada Mala.


"I.. Iya kita lagi nyari jangkrik. Mana ya tadi.?" Sahut Mala sambil berpura-pura mencari hewan kecil tersebut.


"OOww.. Lagi nyari jangkrik." Kata Vivian sambil tersenyum menatap Jalal yang juga ikut tersenyum sambil menutupi mulutnya sendiri.


Matahari mulai menampakkan sinarnya yang hangat. Mereka akhirnya memutuskan untuk segera pulang. Mala dan Juwita berlari lebih dulu sedang Vivian dan Jalal menyusul dibelakang mereka. Jalal selalu menggenggam tangan Vivian seakan dia tidak ingin terpisah darinya.


Sesekali Jalal tanpa rasa canggung mencium tangan Vivian. Raut muka kebahagiaan tak dapat dia sembunyikan lagi. Begitu juga Vivian yang terlihat malu-malu dengan hal tersebut.


"Vivian." Panggil Jalal.


"iya kak." Sahut Vivian.


"i love you." Ucap Jalal lirih dan sedikit malu dalam mengatakan kata yang singkat namun mengandung banyak arti tersebut. Vivian sedikit terkejut sambil menarik nafas perlahan lalu menjawab ucapan Jalal.


"i love you too." Sahut Vivian singkat dan dia segera berlari meninggalkan Jalal karena malu. Vivian menyusul kedua temannya yang sudah berada didepan tak jauh darinya. Setelah sampai Vivian langsung memeluk kedua sahabatnya sambil tersenyum bahagia. Seakan dunia ini terasa begitu indah baginya. Mungkin beginilah rasanya seseorang yang sedang jatuh cinta. Apalagi Vivian baru kali ini mengalami hal tersebut.


Vivian berbalik sebentar hanya untuk melihat orang yang begitu spesial dalam hatinya. Saat dia berbalik sebentar ternyata Jalal telah menyatukan kedua tangannya dan membentuk bentuk love. Vivian tersenyum senang dengan apa yang telah dilakukan Jalal. Meski itu sederhana tetapi sangat menyentuh hati Vivian.