Point Of Love

Point Of Love
Apa arti hadirku untukmu?



Vivian pulang dengan perasaan senang. Hari ini merupakan hari yang sangat istimewa baginya.  Tidak hanya pengumuman kelulusan saja yang membuatnya senang namun juga karena dia sekarang telah mempunyai seseorang yang sangat berarti dan menempati tempat yang spesial dalam hatinya.


Sore ini Vivian begitu bersemangat untuk segera bergegas berangkat ke TPQ tempatnya menuntut ilmu agama. Setelah selesai mandi dan mempersiapkan diri Vivian segera mengambil tas yang berisi beberapa kitab yang di pelajari pada  hari ini dan segera menenteng tas tersebut di pundaknya. Vivian menuju dapur dan berpamitan kepada neneknya. Saat dia sampai di ujung pintu belakang rumahnya terlihat dua sahabatnya telah berjalan tak jauh dari Vivian berdiri.


Vivian melambaikan tangan sambil tersenyum ke arah kedua sahabatnya. Mala membalas dengan melambaikan tangan pada Vivian. Mereka berjalan bersama menuju TPQ.


“Kamu kenapa Vi.? Kelihatannya senang banget.” Goda Juwita. Vivian hanya membalas pertanyataan Juwita dengan senyuman. Hal tersebut membuat Mala dan Juwita saling tatap tak mengerti.


“Ditanya malah senyum-senyum sendiri.” Celetuk Mala. Vivian mengeluarkan selembar kertas dan menunjukkannya kepada Mala dan Juwita. Awalnya Mala mengerutkan dahi keheranan setelah selang beberapa detik raut muka mereka berubah drastis menjadi sangat senang dengan senyuman dibibir mereka.


“Selamat ya Vivian.” Ucap Mala sambil memelik Vivian. Disusul dengan Juwita yang juga memeluknya hingga mereka bertiga saling berpelukan satu denan yang lain.


“Akhirnya Vivian kita lulus juga ya Mal. Setelah itu kamu bakalan pakai seragam putih abu-abu yang selalu kamu impikan selama ini.” Kata Juwita.


“iya nih. Aku sudah tidak sabar menunggu saat itu. Makasih ya, selama ini kalian selalu mendukung dan menyemangatiku.” Ucap Vivian sambil memeluk kedua sahabatnya itu dengan penuh rasa haru.


Sampailah mereka di tempat tujuan mereka. Waktu sore itu terasa begitu singkat bagi mereka. Mungkin karena terlalu senang hingga mereka menikmati setiap pelajaran sore itu. Mata Vivian mengarah ke tempat laki-laki. Vivian sedang mencari seseorang yang sangat spesial dalah hidupnya sekarang. Sore ini Jalal tidak menampakkan batang hidungnya. Hal itu membuat hati Vivian gelisah. Tak seperti biasanya Jalal tidak datang untuk mengaji. Kalau saja dia tidak datang pasti dengan alasan yang sangat penting.


Setelah pembelajaran sore itu usai. Vivian segera bergegas menemui sofyan. Meski Jalal lebih dekat dengan Nurdin namun Vivian merasa risih untuk bertemu dengannya. Bukanya Vivian belum move-on dan menghindar dari Nurdin tapi dia ingin menjaga perasaan Jalal.


“Sofyan!” Teriak Vivian.


“Hei. Vivian.? Ada apa.?” Tanya Sofyan sambil tersenyum manis. Sofyan sangat senang karena ini kali pertama dia disapa oleh seorang wanita. Apalagi itu Vivian.


“Emm.. Anu.. Emm.. Itu.. “ Vivian merasa canggung dan sedikit malu untuk menanyakan keberadaan Jalal sekarang. Apalagi saat melihat reaksi Sofyan yang begitu ekstrim baginya. Membuat Vivian semakin gugup dan jangan sampai Sofyan juga salah paham padanya.


“Kamu kenapa Vivian. Ngomong saja.!” Sahut Sofyan sambil menahan tawa karena sikap Vivian yang menurutnya begitu lucu dan menggemaskan.


“itu.. Kak Jalal.” Kalimat Vivian belum selesai tapi Sofyan langsung paham dan memotongnya.


“Ooo.. kamu ingin tahu kan Jalal dimana dan kenapa dia tidak datang hari ini.” Sahut Sofyan. Vivian hanya mengangguk pelan. Sofyan mengajak Vivian untuk mencari tempat yan tepat untuk mengobrol berdua tentang Jalal. Vivian semakin khawatir dengan semua itu.


Apa yang sebenarnya terjadi pada Jalal. Kenapa Sofyan mengajaknya ke tempat sepi. Padahal dia hanya ingin mengetahui keberadaan dan keadaannya sekarang. Kenapa begitu misterius.?


Vivian segera menghapus segala fikiran khawatirnya dan menggantinya dengan positif thinking. Setelah menemukan tempat yang sepi dan dirasa aman Sofyan menarik nafas panjang dan menatap Vivian dengan lekat.


“Ada apa sebenarnya.?” Tanya Vivian yang tak sabar dengan semua penjelasan Sofyan.


hanya diam dan mendengarkan dengan seksama perkataan Sofyan kata demi kata. Mencerna semua yang telah didengarnya. Tapi sepanjang perbincangan itu Vivian hanya bisa mengerutkan dahinya dan menggeleng-gelengkan kepala. Terlihat dari raut mukanya, Vivian merasa tidak percaya dengan apa yang telah dikatakan Sofyan


kepadanya.


Dari kejauhan nampak Mala dan Juwita sedang memperhatikan mereka berdua. Setelah Sofyan selesai dengan pesan yang telah disampaikannya kepada Vivian, dia segera bergegas meninggalkan Vivian yang masih diam membisu. Dua orang yang telah lama memperhatikan Vivian dari kejauhan langsung berlari menghampiri sahabatnya yang diam seperti patung.


“Ada apa Vi.?” Tanya Juwita dengan nada khawatir. Karena melihat ekspresi Vivian yang begitu syok setelah berbicara dengan Sofyan.


Vivian langsung berjongkok dan memeluk kedua lututnya dengan air mata yang tak tertahankan lagi. Mala dan Juwita terkejut dengan sikap Vivian dan ikut berjongkok dengannya. Sekali lagi Juwita memberanikan diri untuk bertanya kepada Vivian.


“Vivian.?” Ucap Juwita pelan. Namun Vivian bukannya menjawab dia malah menelungkupkan kepalanya ke lututnya dan menangis tersedu-sedu. Mala dan Juwita hanya bisa saling pandang dan menggelengkan kepala mereka pelan. Juwita segera memeluk Vivian disusul dengan Mala.


Juwita dan Mala mencoba segala cara untuk menenangkan Vivian yang masih juga menangis. Juwita membawa Vivian ke tempat yang lebih prifasi yakni ke rumah Vivian sendiri. Karena menurut Juwita, kamar Vivian sendirilah tempat yang paling tepat untuk mereka sekarang.


Vivian masih juga menangis di bahu Juwita sedangkan Mala mengelus tangan Vivian sambil menenangkannya. Juwita menggeser tempat duduknya dan memegang pipi Vivian dengan kedua tangannya.


“Vivian. Kamu kenapa.? Cerita sama kita.! Dengan begitu rasa sesak dalam hatimu akan sedikit berkurang dengan membaginya bersama.” Ucap Juwita pelan.


“Iya Vi. Aku jadi ikut sedih kalau kamu kayak gini.” Sahut Mala sambil menatap Vivian dengan menganggukkan kepala.


Vivian membenarkan duduknya dan menghapus air mata yang keluar membasahi kedua pipinya. Vivian menarik nafas panjang dan memejamkan mata sejenak lalu membuka mata dan menatap kedua sahabatnya yang begitu khawatir dengan kondisinya sekarang. Baru tadi sore mereka begitu bahagia dengan berita kelulusan Vivian namun sekarang mereka juga harus menyaksikan kesedihan Vivian yang tak tertahankan.


“Kak Jalal.. Dia.. Dia.. Dia akan menikah bulan depan.” Suara Vivian terdengar serak parau.


Juwita dan mala membelalakkan mata dengan mulut terbuka seakan tak percaya dengan apa yang telah mereka dengar sekarang. Juwita segera memeluk sahabatnya yang sedang terluka dan ikut menangis bersamanya. Mala


merangkul kedua temannya dan mereka saling berpelukan dan diiringi isak tangis ketiganya.


Setelah Vivian sudah agak mendingan dan sedikit tenang, Mala dan Juwita berpamitan untuk pulang karena hari mulai gelap. Gara-gara kejadian ini mereka bertiga sampai tidak mengaji malamnya.


Vivian merebahkan tubuhnya diatas ranjang kesayangannya. Menatap langit-langit kamar dan bayangan Jalal muncul disana dengan segala perhatian dan ucapannya saat dia bilang dia sangat mencintai Vivian. Namun semua itu bertolak belakang dengan apa yang terjadi sekarang. Jalal memilih untuk menikah dengan orang lain.


Aku sadar kalau aku ini hanya anak kecil yang baru mengenal apa itu cinta. Tapi apa salahku hingga kamu begitu kejam kepadaku.? Jika memang kamu akan menikah dengan orang lain, kenapa kamu mendekatiku.? Apa bagimu aku hanya mainan semata yang saat kau butuh engkau datang memainkannya dan saat kau telah bosan kau akan mencampakannya begitu saja. Apa arti hadirku untukmu.?


Vivian memejamkan mata dan ada air mengalir dari sudut kedua matanya.