
Siang itu Vivian dan dua teman barunya berjalan menuju kebun
milik kakek Vivian. Vivian sengaja mengajak mereka berdua untuk menikmati
pemandangan sawah luas yang jarang sekali mereka lihat. Jasmine sangat
menikmati hari itu. Meski matahari sedikit terik tetapi tidak menyurutkan niat
mereka untuk kesana dan semua kepenatan selama perjalanan terbayar lunas dengan
pemandangan hijau yang sangat menyejukkan mata.
Vivian sedang duduk bersantai di pondok dekat dengan pohon
petai yang mulai berbunga. Sedangkan Rino sibuk mengambil foto menggunakan
ponsel pintarnya dan Jasmine sibuk mengarahkan ponsel untuk bergaya selfinya
dengan latar belakang yang begitu indah. Vivian yang melihat pemandangan yang
tak biasa hanya bisa menggelengkan kepala dengan senyuman tipis di bibirnya.
Rino yang sedang asyik mengabadikan pemandangan itu tak
sengaja mengarahkan kamera ponselnya kepada Vivian yang sedang duduk di pondok.
Dan dia sengaja mengambil beberapa foto Vivian tanpa Vivian sadari. Jasmine
yang mengetahui hal tersebut langsung berjalan mendekati kakak sepupunya.
“Kakak sedang apa.?” Tanya Jasmine sambil senyum-senyum.
“Memangnya kamu nggak lihat apa.? Kakak sedang mengabadikan
pemandangan yang begitu indah.” Sahut Rino santai.
“Ooo.. Pemandangan indah ya.?” Sahut Jasmine sambil
memberikan kode mata ke arah Vivian.
“Kamu apaan sih cumut.? Udah sana jangan ganggu
pemandangan.!” Seru Rino sedikit kesal.
“Aku bilangin Vivian ya.!” Ancam Jasmine yang langsung
berlari menjauhi Rino.
“Eh.. Cumut.! Awas kamu ya.!” Seru Rino yang mulai berlari
mengejar Jasmine. Jasmine berlari menuju tempat Vivian duduk sekarang dan
bersembunyi di belakang Vivian meminta perlindungan kepadanya. Rino masih juga
tidak terima dengan sikap Jasmine kepadanya dan masih saja meraihnya meski
Jasmine berada di belakang Vivian. Vivian hanya bisa menahan tawa sambil
menutupi mulutnya sendiri lalu segera melerai mereka berdua yang sudah seperti
tikus dan kucing yang selalu saja bertengkar.
“Udah kak Rino.! Sini duduk.!” Seru Vivian sambil tersenyum
dan akhirnya Rino duduk di samping Vivian. Dan Jasmine masih saja melirik Rino
dengan lidah yang menjulur bila Rino melihatnya.
“Tempat ini indah Vivian.” Kata Rino sambil menatap ke
sekeliling.
“Baguslah kalau kalian suka. Dulu waktu aku masih kecil, aku
sering banget diajak bapak kesini. Tapi sekarang karena aku sibuk dengan kegiatan
sekolah jadi aku jarang banget kesini.” Sahut Vivian sambil menatap bergantian
Jasmine dan Rino.
“Kamu beruntung banget Vivian. Kalau aku harus nunggu papa
cuti kerja dulu baru bisa menikmati alam yang indah kayak gini.” Jasmine
memanyunkan bibirnya.
“Gini aja. Gimana kalau kita sering main kesini.?” Sahut
Rino bersemangat.
“Modus. Modus. Mulai Modus.!” Celetuk Jasmine.
“Siapa juga yang Modus.? Gimana menurut kamu Vivian.?” Rino
menatap Vivian dengan mata yang penuh harap.
“Boleh. Terserah kaliah saja. Aku setuju-setuju aja. Rumahku selalu terbuka lebar untuk kalian berdua.” Sahut
Vivian.
“Yes.” Seru Rino kegirangan. Jasmine dan Vivian hanya bisa
tertawa melihat tingkah Rino yang sedikit aneh hari itu. Rino merasa sangat
malu dengan dirinya sendiri dan dia hanya bisa menggaruk rambutnya yang tidak
gatal.
Vivian mengeluarkan ponsel dan membuka layar yang terkunci
dengan sidik jari jempolnya. Menemukan satu pesan singkat yan belum terbaca.
Vivian membuka pesan itu dan tertulis dengan jelas nama pengirim pesan
tersebut. Siapa lagi kalau bukan Juwita. Karena dalam kontak teleponnya hanya
tersimpan tiga nomor telepon saja. Ibunya, Jasmine dan Juwita. Juwita bertanya
tentang baju yang akan mereka kenakan saat datang ke acara pernikahannya Jalal.
Vivian membalas dan mengatakan kepada Juwita agar nanti sore bertemu di tempat
biasa untuk membahasnya agar lebih jelas.
“Kita foto bareng yuk.!” Ajak Rino kepada kedua gadis itu.
Jasmine segera mengangguk antusias dan beranjak dari tempat duduknya dan Vivian
masih sibuk dengan ponsel di tangannya. Jasmine secara spontan menarik tangan
Vivian agar mengikutinya. Meski Vivian sedikit terkejut namun dia menuruti
keinginan Jasmine.
mengambil foto selfi. Jasmine segera mendekat ke Rino seperti perangko. Vivian
berdiri di samping Jasmine. Saat mereka bersiap untuk mengambil foto, Rino
merasa ada yang mengganjal dan tidak pas.
“Sebentar deh. Ada yang salah.!” Seru Rino.
“Apa lagi sih kak Rino.?” Tanya Jasmine geram.
“Kakak kan cowok sendiri. Harusnya kakak di tengah dong. Iya
nggak.?” Sahut Rino sambil memainkan matanya.
“Hadeh.. Modus terus kerjaannya.” Celetuk Jasmine kesal.
“Ya udah.” Vivian segera berpindah ke samping Rino. “Maksud
kak Rino gini kan.?” Lanjut Vivian sambil tersenyum. Rino hanya merespon dengan
jari jempolnya.
Satu potret, dua potret, dan mungkin sampai berpuluh-puluh
foto telah mereka ambil dengan gaya dan view yang berbeda-beda. Rino
memberanikan diri untuk meminta Vivian agar mau berfoto berdua dengannya.
“Vivian. Aku boleh nggak selfi berdua sama kamu.?” Tanya
Rino ragu.
“Jangan mau Vian. Kak Rino modus terus dari tadi.” Teriak
Jasmine yang berada hanya beberapa meter dari mereka berdua. Vivian hanya
tersenyum dan menganggukkan kepala pelan.
“Yes.” Seru Rino senang. Rino dan Vivian begitu dekat dan
Rino segera mengambil beberapa foto selfi bersama Vivian. Setelah selesai
Vivian segera pergi mendekati Jasmine yang melihat hasil foto yang telah dia
ambil di ponselnya.
Rino menandai beberapa foto untuk di unggah di akun social
media miliknya. Dan tak lupa juga menandai akun milik Jasmine dan Vivian agar
mereka juga bisa melihat postingannya. Rino senyum-senyum sendiri melihat hasil
foto selfinya bersama dengan Vivian. Terlihat seperti dua pasangan kekasih.
Sangat serasi fikirnya.
Kamu memang cantik Vivian. Andai saja kamu beneran jadi pacar aku. Pasti aku akan jadi cowok yang
sangat beruntung di dunia ini. Kata Rino dalam hati.
“Kakak kenapa.?” Celetuk jasmine yang sudah berada disamping
Rino tanpa dia sadari.
“Nggak apa-apa kok. Kamu ngapain sih cumut. Kepo banget.!”
Seru Rino kesal dan menyembunyikan ponselnya di balik saku celana.
“Yuk pulang. Sudah sore.!” Ajak Vivian kepada kedua temannya.
Mereka segera pergi dari tempat itu dan hanya meninggalkan
jejak yang tidak berarti. Namun kenangan akan tempat itu begitu nyata dan
tersimpan manis dalam benak mereka. Adzan Ashar terdengar dengan keras karena
mereka berjalan melewati belakang masjid dekat rumah Vivian. Beberapa menit
berlalu hingga sampailah mereka di rumah Vivian.
“Maaf kalian harus pulang sekarang. Karena habis ini aku ada
kegiatan mengaji di TPQ. Bukannya aku mau mengusir kalian. Tapi takutnya orang
tua kalian bingung nyariin. Nggak apa-apa kan.?” Seru Vivian sedikit memohon.
“Mengaji.?” Sahut Jasmine tidak percaya dengan apa yang
telah dia dengar.
“Iya. Kalian pulang saja ya.!” Kata Vivian.
“Vivian kamu nggak malu.? Sudah segede gini masih juga ngaji.?" Tanya Jasmine heran.
"Kenapa harus malu. Kita harus memanfaatkan kehidupan kita untuk menuntut ilmu. Bahkan disebutkan dalam hadist. Tuntutlah ilmu dari dalam kandungan hingga liang lahat. Dan aku tidak pernah merasa malu." Sahut Vivian dengan bangga. Jasmine dan Rino hanya mengangguk paham.
"Gimana kalau kita ikut Vivian mengaji.?”
Tanya Jasmine kepada Rino.
“Boleh juga. Tapi Cumut baju kita kayak gini. Kotor dan
bau.” Rino memegang baju dan celana yang dia kenakan.
“Kalian serius.?” Vivian merasa tidak percaya. Jasmine antusias
angguk-angguk kepala disusul oleh Rino.
“Oke. Sekarang gini aja. Jasmine biar pakai baju aku pasti
ada yang muat sama dia. Dan kak Rino, aku carikan baju bapak saja. Gimana.?”
Lanjut Vivian senang.
Mereka segera bersiap untuk pergi mengaji di TPQ. Jasmine
mengenakan rok warna peach dengan atasan putih lengan panjang dan kerudung pink
muda. Dia sangat cocok mengenakan baju milik Vivian itu. Vivian mencarikan
kemeja bapaknya yang bermotif kotak-kotak warna biru dengan sarung warna hitam
milik bapak Vivian. Terlihat cukup keren dan tidak kalah dengan santri-santri
murid ustad Fathon. Hari ini Vivian mengenakan gamis warna navy dengan kerudung
coklat. Setelah selesai mereka segera berangkat ke TPQ untuk mengikuti kegiatan
Vivian.