Point Of Love

Point Of Love
Foto Selfi Terindah



Siang itu Vivian dan dua teman barunya berjalan menuju kebun


milik kakek Vivian. Vivian sengaja mengajak mereka berdua untuk menikmati


pemandangan sawah luas yang jarang sekali mereka lihat. Jasmine sangat


menikmati hari itu. Meski matahari sedikit terik tetapi tidak menyurutkan niat


mereka untuk kesana dan semua kepenatan selama perjalanan terbayar lunas dengan


pemandangan hijau yang sangat menyejukkan mata.


Vivian sedang duduk bersantai di pondok dekat dengan pohon


petai yang mulai berbunga. Sedangkan Rino sibuk mengambil foto menggunakan


ponsel pintarnya dan Jasmine sibuk mengarahkan ponsel untuk bergaya selfinya


dengan latar belakang yang begitu indah. Vivian yang melihat pemandangan yang


tak biasa hanya bisa menggelengkan kepala dengan senyuman tipis di bibirnya.


Rino yang sedang asyik mengabadikan pemandangan itu tak


sengaja mengarahkan kamera ponselnya kepada Vivian yang sedang duduk di pondok.


Dan dia sengaja mengambil beberapa foto Vivian tanpa Vivian sadari. Jasmine


yang mengetahui hal tersebut langsung berjalan mendekati kakak sepupunya.


“Kakak sedang apa.?” Tanya Jasmine sambil senyum-senyum.


“Memangnya kamu nggak lihat apa.? Kakak sedang mengabadikan


pemandangan yang begitu indah.” Sahut Rino santai.


“Ooo.. Pemandangan indah ya.?” Sahut Jasmine sambil


memberikan kode mata ke arah Vivian.


“Kamu apaan sih cumut.? Udah sana jangan ganggu


pemandangan.!” Seru Rino sedikit kesal.


“Aku bilangin Vivian ya.!” Ancam Jasmine yang langsung


berlari menjauhi Rino.


“Eh.. Cumut.! Awas kamu ya.!” Seru Rino yang mulai berlari


mengejar Jasmine. Jasmine berlari menuju tempat Vivian duduk sekarang dan


bersembunyi di belakang Vivian meminta perlindungan kepadanya. Rino masih juga


tidak terima dengan sikap Jasmine kepadanya dan masih saja meraihnya meski


Jasmine berada di belakang Vivian. Vivian hanya bisa menahan tawa sambil


menutupi mulutnya sendiri lalu segera melerai mereka berdua yang sudah seperti


tikus dan kucing yang selalu saja bertengkar.


“Udah kak Rino.! Sini duduk.!” Seru Vivian sambil tersenyum


dan akhirnya Rino duduk di samping Vivian. Dan Jasmine masih saja melirik Rino


dengan lidah yang menjulur bila Rino melihatnya.


“Tempat ini indah Vivian.” Kata Rino sambil menatap ke


sekeliling.


“Baguslah kalau kalian suka. Dulu waktu aku masih kecil, aku


sering banget diajak bapak kesini. Tapi sekarang karena aku sibuk dengan kegiatan


sekolah jadi aku jarang banget kesini.” Sahut Vivian sambil menatap bergantian


Jasmine dan Rino.


“Kamu beruntung banget Vivian. Kalau aku harus nunggu papa


cuti kerja dulu baru bisa menikmati alam yang indah kayak gini.” Jasmine


memanyunkan bibirnya.


“Gini aja. Gimana kalau kita sering main kesini.?” Sahut


Rino bersemangat.


“Modus. Modus. Mulai Modus.!” Celetuk Jasmine.


“Siapa juga yang Modus.? Gimana menurut kamu Vivian.?” Rino


menatap Vivian dengan mata yang penuh harap.


“Boleh. Terserah kaliah saja. Aku setuju-setuju aja. Rumahku selalu terbuka lebar untuk kalian berdua.” Sahut


Vivian.


“Yes.” Seru Rino kegirangan. Jasmine dan Vivian hanya bisa


tertawa melihat tingkah Rino yang sedikit aneh hari itu. Rino merasa sangat


malu dengan dirinya sendiri dan dia hanya bisa menggaruk rambutnya yang tidak


gatal.


Vivian mengeluarkan ponsel dan membuka layar yang terkunci


dengan sidik jari jempolnya. Menemukan satu pesan singkat yan belum terbaca.


Vivian membuka pesan itu dan tertulis dengan jelas nama pengirim pesan


tersebut. Siapa lagi kalau bukan Juwita. Karena dalam kontak teleponnya hanya


tersimpan tiga nomor telepon saja. Ibunya, Jasmine dan Juwita. Juwita bertanya


tentang baju yang akan mereka kenakan saat datang ke acara pernikahannya Jalal.


Vivian membalas dan mengatakan kepada Juwita agar nanti sore bertemu di tempat


biasa untuk membahasnya agar lebih jelas.


“Kita foto bareng yuk.!” Ajak Rino kepada kedua gadis itu.


Jasmine segera mengangguk antusias dan beranjak dari tempat duduknya dan Vivian


masih sibuk dengan ponsel di tangannya. Jasmine secara spontan menarik tangan


Vivian agar mengikutinya. Meski Vivian sedikit terkejut namun dia menuruti


keinginan Jasmine.


mengambil foto selfi. Jasmine segera mendekat ke Rino seperti perangko. Vivian


berdiri di samping Jasmine. Saat mereka bersiap untuk mengambil foto, Rino


merasa ada yang mengganjal dan tidak pas.


“Sebentar deh. Ada yang salah.!” Seru Rino.


“Apa lagi sih kak Rino.?” Tanya Jasmine geram.


“Kakak kan cowok sendiri. Harusnya kakak di tengah dong. Iya


nggak.?” Sahut Rino sambil memainkan matanya.


“Hadeh.. Modus terus kerjaannya.” Celetuk Jasmine kesal.


“Ya udah.” Vivian segera berpindah ke samping Rino. “Maksud


kak Rino gini kan.?” Lanjut Vivian sambil tersenyum. Rino hanya merespon dengan


jari jempolnya.


Satu potret, dua potret, dan mungkin sampai berpuluh-puluh


foto telah mereka ambil dengan gaya dan view yang berbeda-beda. Rino


memberanikan diri untuk meminta Vivian agar mau berfoto berdua dengannya.


“Vivian. Aku boleh nggak selfi berdua sama kamu.?” Tanya


Rino ragu.


“Jangan mau Vian. Kak Rino modus terus dari tadi.” Teriak


Jasmine yang berada hanya beberapa meter dari mereka berdua. Vivian hanya


tersenyum dan menganggukkan kepala pelan.


“Yes.” Seru Rino senang. Rino dan Vivian begitu dekat dan


Rino segera mengambil beberapa foto selfi bersama Vivian. Setelah selesai


Vivian segera pergi mendekati Jasmine yang melihat hasil foto yang telah dia


ambil di ponselnya.


Rino menandai beberapa foto untuk di unggah di akun social


media miliknya. Dan tak lupa juga menandai akun milik Jasmine dan Vivian agar


mereka juga bisa melihat postingannya. Rino senyum-senyum sendiri melihat hasil


foto selfinya bersama dengan Vivian. Terlihat seperti dua pasangan kekasih.


Sangat serasi fikirnya.


Kamu memang cantik Vivian. Andai saja kamu beneran jadi pacar aku. Pasti aku akan jadi cowok yang


sangat beruntung di dunia ini. Kata Rino dalam hati.


“Kakak kenapa.?” Celetuk jasmine yang sudah berada disamping


Rino tanpa dia sadari.


“Nggak apa-apa kok. Kamu ngapain sih cumut. Kepo banget.!”


Seru Rino kesal dan menyembunyikan ponselnya di balik saku celana.


“Yuk pulang. Sudah sore.!” Ajak Vivian kepada kedua temannya.


Mereka segera pergi dari tempat itu dan hanya meninggalkan


jejak yang tidak berarti. Namun kenangan akan tempat itu begitu nyata dan


tersimpan manis dalam benak mereka. Adzan Ashar terdengar dengan keras karena


mereka berjalan melewati belakang masjid dekat rumah Vivian. Beberapa menit


berlalu hingga sampailah mereka di rumah Vivian.


“Maaf kalian harus pulang sekarang. Karena habis ini aku ada


kegiatan mengaji di TPQ. Bukannya aku mau mengusir kalian. Tapi takutnya orang


tua kalian bingung nyariin. Nggak apa-apa kan.?” Seru Vivian sedikit memohon.


“Mengaji.?” Sahut Jasmine tidak percaya dengan apa yang


telah dia dengar.


“Iya. Kalian pulang saja ya.!” Kata Vivian.


“Vivian kamu nggak malu.? Sudah segede gini masih juga ngaji.?" Tanya Jasmine heran.


"Kenapa harus malu. Kita harus memanfaatkan kehidupan kita untuk menuntut ilmu. Bahkan disebutkan dalam hadist. Tuntutlah ilmu dari dalam kandungan hingga liang lahat. Dan aku tidak pernah merasa malu." Sahut Vivian dengan bangga. Jasmine dan Rino hanya mengangguk paham.


"Gimana kalau kita ikut Vivian mengaji.?”


Tanya Jasmine kepada Rino.


“Boleh juga. Tapi Cumut baju kita kayak gini. Kotor dan


bau.” Rino memegang baju dan celana yang dia kenakan.


“Kalian serius.?” Vivian merasa tidak percaya. Jasmine antusias


angguk-angguk kepala disusul oleh Rino.


“Oke. Sekarang gini aja. Jasmine biar pakai baju aku pasti


ada yang muat sama dia. Dan kak Rino, aku carikan baju bapak saja. Gimana.?”


Lanjut Vivian senang.


Mereka segera bersiap untuk pergi mengaji di TPQ. Jasmine


mengenakan rok warna peach dengan atasan putih lengan panjang dan kerudung pink


muda. Dia sangat cocok mengenakan baju milik Vivian itu. Vivian mencarikan


kemeja bapaknya yang bermotif kotak-kotak warna biru dengan sarung warna hitam


milik bapak Vivian. Terlihat cukup keren dan tidak kalah dengan santri-santri


murid ustad Fathon. Hari ini Vivian mengenakan gamis warna navy dengan kerudung


coklat. Setelah selesai mereka segera berangkat ke TPQ untuk mengikuti kegiatan


Vivian.