
Sore itu setelah selesai mengaji di TPQ, Rino dan Jasmine
berpamitan untuk pulang. Karena hari sudah mulai gelap termakan waktu. Sebelum
berpamitan Jasmine juga berharap Vivian mau berkunjung ke rumahnya. Vivian
mengantarkan mereka hanya sampai depan pintu saja. Jasmine melambaikan tangan
dari balik jendela mobil Rino. Vivian membalas lambaian tangan Jasmine sambil
tersenyum padanya. Seperti yang telah mereka sepakati bersama. Sepulang mengaji
Juwita dan Mala sudah berkumpul di rumah Vivian untuk membahas sesuatu.
Pernikahan Jalal sudah di depan mata. Hanya tinggal
menghitung hari saja. Sedangkan mereka masih kebingungan untuk memilih baju
yang akan mereka kenakan saat berkunjung ke acara tersebut. Juwita duduk di
kursi belajar milik Vivian yang berada dalam kamar sedangkan Mala sedang berbaring
di ranjang sahabatnya dengan santai. Pintu kamar terbuka dan Vivian berjalan
masuk ke dalam kamarnya untuk menemui teman-temannya.
“Gimana.?” Tanya Vivian tiba-tiba.
“Gimana apanya.?” Kata Mala balik bertanya kebingungan.
“Sudah H-3 kita belum mempersiapkan apa-apa.” Sahut Vivian
lesu.
“Kita tentukan dulu temanya apa. Glamour, sexy or simple.?”
Juwita memberi pilihan.
“Kalau glamour atau sexy kayaknya nggak mungkin. Bisa-bisa
aku digantung sama bapak kalau ketahuan pakai baju begituan.” Seru Vivian
menolak.
“Masak kita pakai tema simple sih.? Ini acara besar Vivian.
Jangan sampai kita malah mempermalukan diri sendiri karena pakaian yang tidak
pantas.” Kata Mala.
“Gini aja. Gimana kalau temanya simple tapi tetap cantik dan
elegan.” Kata Juwita memberi usul lain.
“Dan juga harus tetap sopan dan menjaga aurat. Aku nggak mau
kalau pakai baju yang terbuka.” Seru Vivian tegas.
“Oke.” Sahut Mala dan Juwita bersamaan.
Walaupun mereka sudah menemukan tema pakaiannya tetapi tetap
saja mereka masih kebingungan untuk mencari tempat penyewaannya. Mereka bertiga
berbaring di ranjang bersamaan. Untung saja ranjang Vivian sedikit besar dan
muat untuk mereka bertiga.
Vivian teringat tentang Jasmine. Dan akhirnya dia mengambil
ponsel dan mengirimkan pesan singkat padanya. Selang satu menit Jasmine segera
membalas pesan dari Vivian. Saat Vivian membuka pesan itu, terdapat senyum
kecil dari ujung bibirnya. Vivian bertanya kepada orang yang tepat. Jasmine
segera memberi solusi untuk permasalahan mereka.
Jasmine memiliki banyak koneksi tentang tata busana. Bisa
dibilang dialah ahlinya. Ibu Jasmine memiliki Toko Butik yang besar dan juga
memiliki banyak Cabang Toko di daerah lain. Jasmine menyarankan dari pada menyewa baju mending
membelinya saja. Dia juga menyarankan agar mereka besok berkunjung ke Toko
Butik milik ibunya. Apalagi besok terdapat banyak diskon disana. Kalau memang
tidak ada yang cocok, jasmine akan mengantarkan mereka ke tempat yang lain.
Keesokan harinya mereka pergi menemui Jasmine di dekat Halte
Bus Sekolah. Tidak lama mereka duduk dan menunggu, datanglah Jasmine dan Rino
menggunakan mobil. Rino segera menyuruh mereka untuk masuk ke dalam mobil.
Mobil Rino melaju menembus padatnya arus lalu lintas di pagi hari.
“Kalian sudah lama.?” Sapa Rino kepada ketiga gadis yang
duduk di kursi belakang mobilnya.
“Nggak kok kak.” Sahut Juwita antusias. Rino hanya membalas
dengan senyuman namun matanya fokus ke depan untuk menyetir.
“Memang mau cari baju yang gimana Vian.?” Tanya Jasmine
sambil bergeser menghadap ke belakang.
“Yang biasa saja.” Sahut Vivian.
“Aku nggak mau.” Teriak Mala tiba-tiba, membuat semua
penghuni mobil terdiam sejenak karena terkejut.
“Pelan-pelan ngomongnya Mala.!” Kata Vivian sedikit bebisik.
“Mana bisa biasa Vivian. Ini kan acara istimewa. Kamu kan
tahu itu. Pokoknya kamu harus tampil paling cantik. Biarkan mereka menyesal
karena sudah menyakiti kamu.” Celetuk Mala emosi.
“Oke. Pokoknya semua dijamin beres di tangan Jasmine.” Sahut
Jasmine dengan bangga. Vivian hanya bisa diam dan mendengarkan mereka.
Juwita tidak menanggapi perbincangan Mala dan Vivian. Dia
telah tenggelam dalam lamunannya sendiri. Menatap Rino dari balik spion mobil. Membayangkan
wajah Rino yang tampan berdiri di hadapannya dan tersenyum padanya.
Kak Rino
memang tampan, Baik hati dan juga keren. Andai saja aku bisa jadi pacarnya. Pasti
aku bahagia banget. Kata juwita dalam hati dan tanpa dia sadari dia
senyum-senyum sendiri.
Dalam diam ternyata Juwita menaruh hati pada Rino. Hingga
tanpa sadar saat Rino mengerem mendadak karena sesuatu hal,membuat Juwita yang
sedang melamun tersungkur ke depan. Kepalanya membentur kursi bagian depan.
Vivian dan Mala merasa aneh dengan sikap Juwita yang tidak
biasa. Hari ini sikap Juwita sangat berbeda. Dia sedikit ceroboh. Mala dan
Vivian tahu kalau ada yang telah mengganggu fikiran Juwita. Badannya memang ada
bersama mereka sekarang tapi tidak fikirannya.
Sampailah mereka di depan Butik milik kelurga Jasmine.
Jasmine telah memberitahukan kepada ibunya sebelum hari itu bahwa dia akan
berkunjung ke butik bersama dengan teman-temannya. Saat Jasmine memasuki toko
para pegawai yang bekerja disana langsung menyapa dengan sopan dan melayaninya
dengan baik.
memilih baju yang mereka suka. Tanpa menghabiskan banyak waktu mereka segera
memilih baju yang dikira cocok untuk mereka pakai ke acara tersebut. Setelah
mereka selesai memilih, Jasmine menyuruh Vivian untuk mencoba satu per satu
baju yang telah dia pilih agar Jasmine bisa menilai baju mana yang terlihat
lebih cantik bila dikenakan dia nanti. Vivian menuruti keinginan temannya itu
dan pergi ke ruang ganti.
Rino baru saja masuk ke dalam toko bersama dengan Dion.
Mereka secara tidak sengaja bertemu di parkiran mobil. Dion sedang mengantar
mamanya untuk membeli baju di Butik milik ibu Jasmine. Dari pada menunggu
sendiri di parkiran akhirnya Rino mengajak Dion untuk masuk ke dalam Butik.
Vivian keluar dari ruang ganti mengenakan atasan warna navy
selutut dan celana putih. Berjalan mendekati Jasmine yang telah duduk bersama
dengan Juwita dan Mala.
“Gimana.? Bagus nggak.?” Tanya Vivian sedikit canggung.
Karena dia merasa sedikit malu.
Kenapa dia
juga ada disini.? Apa Rino juga dekat dengan dia. Atau mereka memang datang
bersama. Kata Dion dalam hati.
“Cantik.” Sahut Rino. Mereka sontak menoleh ke arahnya dengan
tatapan waspada tanpa berkata. Ekspresi wajah Jasmine yang semula kesal
langsung berubah menjadi berseri ketika melihat Dion yang datang bersama dengan
kakak sepupunya.
“Kalian kenapa.? Aku nggak salah kan.? Vivian memang cantik
dan baju apa saja yang dia kenakan pasti cantik juga.” Seru Rino membela diri.
“Kak Dion.” Kata Jasmine malu-malu. Dia segera beranjak dari
duduknya dan berjalan mendekati Dion.
“Kak Rino geser sedikit dong.” Bisik Jasmine kepada Rino.
Rino hanya bisa menggelengkan kepala dan duduk di tempat duduk bekas Jasmine
tadi.
“Kamu adik sepupunya Rino kan.?” Tanya Dion.
“Iya kak.” Jawab Jasmine sambil tersenyum malu.
Vivian masih juga berdiri mengenakan baju pilihannya.
Berharap Jasmine akan memberikan penilaian padanya. Tetapi semua di luar dugaan.
Jasmine lebih memilih untuk mengobrol dengan Dion. Vivian merasa sedikit kecewa
pada Jasmine.
“Cumut.” Teriak Vivian sedikit kesal.
“iya Vivian. Ada apa.?” Sahutnya tanpa menoleh karena matanya
sibuk memandangi wajah Dion.
“Ini gimana.?” Tanya Vivian kesal.
“Ganti-ganti. Nggak cocok sama kamu.” Seru Jasmine sambil
melambaikan tangan.
Vivian menghela nafas kasar dari hidungnya. Dia balik arah
menuju ruang ganti untuk mencoba baju yang lain. Setelah beberapa menit
akhirnya Vivian keluar lagi dari ruangan ganti. Kali ini dia mengenakan baju
long dress motif batik warna abu-abu sebetis dengan celana warna cream. Rino
tidak dapat mengedipkan mata saat melihat penampilan Vivian kali ini.
“Kalau yang ini gimana.?” Vivian menatap tiga orang yang
duduk di depannya.
Semua hanya bisa diam dengan senyuman tanpa berkata apa-apa.
Vivian terlihat sangat anggun dan cantik. Baju itu sangat cocok dan sesuai
dengan tema yang telah mereka tentukan. Jasmine dan Dion berbalik dan menoleh
ke arah Vivian. Dan benar saja bahkan Jasmine mengangkat jempol tangannya.
Cewek ini
lumayan juga. Aku ini kenapa sih.? Kenapa aku muji dia. Seru Dion dalam hati.
Vivian segera masuk kembali ke ruang ganti untuk mengganti
bajunya. Setelah selesai dia langsung menuju kasir untuk melakukan pembayaran
untuk baju yang telah dia pilih. Kalau hanya membeli sebuah baju, tabungan
Vivian sendiri sudah lebih dari cukup tanpa harus meminta uang kepada orang
tuanya. Mala dan Juwita juga telah menyelesaikan pembayaran mereka.
Vivian berjalan mendekati Jasmine yang masih asyik mengobrol
dengan Dion. Vivian mengucapkan terima kasih kepada Jasmine atas semua
bantuannya. Vivian berbalik memberikan kode kepada kedua temannya untuk segera
pulang. Rino segera menghampiri Vivian.
“Kamu mau pulang sekarang Vian.?” Tanya Rino padanya.
“Iya kak. Sudah siang juga. Aku harus segera pulang.” sahutnya
“Nggak mau makan siang dulu.?” Tanya Rino lagi.
“Nggak usah kak. Makan di rumah saja.” Vivian menolak lalu tersenyum.
“Aku antar pulang ya.?” Pinta Rino sedikit berharap. Belum sempat
Vivian menjawab Jasmine langsung menyela.
“Iya Vian. Biar diantar kak Rino aja. Lagian disini kalau mau
naik angkutan jaraknya jauh. Kamu mau kan.?” Kata Jasmine.
Setelah mendengar perkataan Jasmine akhirnya Vivian mau di
antar pulang oleh Rino. Vivian mengangguk kepala pelan. Rino begitu bersemangat
dan itu nampak jelas dari ekspresi wajahnya. Juwita dan Mala hanya mengikuti
saja. Apapun yang diputuskan oleh Vivian mereka ikut serta.
“Kakak masih ingat kan jalan ke rumah Vivian.?” Tanya Jasmine
tiba-tiba.
“Ya ingat donk. Ya udah kakak pergi dulu ya. Kalian lanjutkan
lagi saja ngobrolnya.” Kata Rino kepada Jasmine dan Dion. Vivian berpamitan
kepada Jasmine. Begitu pula Mala dan Juwita.
Hubungan mereka memang dekat. Bahkan Rino pernah ke rumahnya juga. Kata Dion dalam hati.