Point Of Love

Point Of Love
Fitting Baju



Sore itu setelah selesai mengaji di TPQ, Rino dan Jasmine


berpamitan untuk pulang. Karena hari sudah mulai gelap termakan waktu. Sebelum


berpamitan Jasmine juga berharap Vivian mau berkunjung ke rumahnya. Vivian


mengantarkan mereka hanya sampai depan pintu saja. Jasmine melambaikan tangan


dari balik jendela mobil Rino. Vivian membalas lambaian tangan Jasmine sambil


tersenyum padanya. Seperti yang telah mereka sepakati bersama. Sepulang mengaji


Juwita dan Mala sudah berkumpul di rumah Vivian untuk membahas sesuatu.


Pernikahan Jalal sudah di depan mata. Hanya tinggal


menghitung hari saja. Sedangkan mereka masih kebingungan untuk memilih baju


yang akan mereka kenakan saat berkunjung ke acara tersebut. Juwita duduk di


kursi belajar milik Vivian yang berada dalam kamar sedangkan Mala sedang berbaring


di ranjang sahabatnya dengan santai. Pintu kamar terbuka dan Vivian berjalan


masuk ke dalam kamarnya untuk menemui teman-temannya.


“Gimana.?” Tanya Vivian tiba-tiba.


“Gimana apanya.?” Kata Mala balik bertanya kebingungan.


“Sudah H-3 kita belum mempersiapkan apa-apa.” Sahut Vivian


lesu.


“Kita tentukan dulu temanya apa. Glamour, sexy or simple.?”


Juwita memberi pilihan.


“Kalau glamour atau sexy kayaknya nggak mungkin. Bisa-bisa


aku digantung sama bapak kalau ketahuan pakai baju begituan.” Seru Vivian


menolak.


“Masak kita pakai tema simple sih.? Ini acara besar Vivian.


Jangan sampai kita malah mempermalukan diri sendiri karena pakaian yang tidak


pantas.” Kata Mala.


“Gini aja. Gimana kalau temanya simple tapi tetap cantik dan


elegan.” Kata Juwita memberi usul lain.


“Dan juga harus tetap sopan dan menjaga aurat. Aku nggak mau


kalau pakai baju yang terbuka.” Seru Vivian tegas.


“Oke.” Sahut Mala dan Juwita bersamaan.


Walaupun mereka sudah menemukan tema pakaiannya tetapi tetap


saja mereka masih kebingungan untuk mencari tempat penyewaannya. Mereka bertiga


berbaring di ranjang bersamaan. Untung saja ranjang Vivian sedikit besar dan


muat untuk mereka bertiga.


Vivian teringat tentang Jasmine. Dan akhirnya dia mengambil


ponsel dan mengirimkan pesan singkat padanya. Selang satu menit Jasmine segera


membalas pesan dari Vivian. Saat Vivian membuka pesan itu, terdapat senyum


kecil dari ujung bibirnya. Vivian bertanya kepada orang yang tepat. Jasmine


segera memberi solusi untuk permasalahan mereka.


Jasmine memiliki banyak koneksi tentang tata busana. Bisa


dibilang dialah ahlinya. Ibu Jasmine memiliki Toko Butik yang besar dan juga


memiliki banyak Cabang Toko di daerah lain. Jasmine  menyarankan dari pada menyewa baju mending


membelinya saja. Dia juga menyarankan agar mereka besok berkunjung ke Toko


Butik milik ibunya. Apalagi besok terdapat banyak diskon disana. Kalau memang


tidak ada yang cocok, jasmine akan mengantarkan mereka ke tempat yang lain.


Keesokan harinya mereka pergi menemui Jasmine di dekat Halte


Bus Sekolah. Tidak lama mereka duduk dan menunggu, datanglah Jasmine dan Rino


menggunakan mobil. Rino segera menyuruh mereka untuk masuk ke dalam mobil.


Mobil Rino melaju menembus padatnya arus lalu lintas di pagi hari.


“Kalian sudah lama.?” Sapa Rino kepada ketiga gadis yang


duduk di kursi belakang mobilnya.


“Nggak kok kak.” Sahut Juwita antusias. Rino hanya membalas


dengan senyuman namun matanya fokus ke depan untuk menyetir.


“Memang mau cari baju yang gimana Vian.?” Tanya Jasmine


sambil bergeser menghadap ke belakang.


“Yang biasa saja.” Sahut Vivian.


“Aku nggak mau.” Teriak Mala tiba-tiba, membuat semua


penghuni mobil terdiam sejenak karena terkejut.


“Pelan-pelan ngomongnya Mala.!” Kata Vivian sedikit bebisik.


“Mana bisa biasa Vivian. Ini kan acara istimewa. Kamu kan


tahu itu. Pokoknya kamu harus tampil paling cantik. Biarkan mereka menyesal


karena sudah menyakiti kamu.” Celetuk Mala emosi.


“Oke. Pokoknya semua dijamin beres di tangan Jasmine.” Sahut


Jasmine dengan bangga. Vivian hanya bisa diam dan mendengarkan mereka.


Juwita tidak menanggapi perbincangan Mala dan Vivian. Dia


telah tenggelam dalam lamunannya sendiri. Menatap Rino dari balik spion mobil. Membayangkan


wajah Rino yang tampan berdiri di hadapannya dan tersenyum padanya.


Kak Rino


memang tampan, Baik hati dan juga keren. Andai saja aku bisa jadi pacarnya. Pasti


aku bahagia banget. Kata juwita dalam hati dan tanpa dia sadari dia


senyum-senyum sendiri.


Dalam diam ternyata Juwita menaruh hati pada Rino. Hingga


tanpa sadar saat Rino mengerem mendadak karena sesuatu hal,membuat Juwita yang


sedang melamun tersungkur ke depan. Kepalanya membentur kursi bagian depan.


Vivian dan Mala merasa aneh dengan sikap Juwita yang tidak


biasa. Hari ini sikap Juwita sangat berbeda. Dia sedikit ceroboh. Mala dan


Vivian tahu kalau ada yang telah mengganggu fikiran Juwita. Badannya memang ada


bersama mereka sekarang tapi tidak fikirannya.


Sampailah mereka di depan Butik milik kelurga Jasmine.


Jasmine telah memberitahukan kepada ibunya sebelum hari itu bahwa dia akan


berkunjung ke butik bersama dengan teman-temannya. Saat Jasmine memasuki toko


para pegawai yang bekerja disana langsung menyapa dengan sopan dan melayaninya


dengan baik.


memilih baju yang mereka suka. Tanpa menghabiskan banyak waktu mereka segera


memilih baju yang dikira cocok untuk mereka pakai ke acara tersebut. Setelah


mereka selesai memilih, Jasmine menyuruh Vivian untuk mencoba satu per satu


baju yang telah dia pilih agar Jasmine bisa menilai baju mana yang terlihat


lebih cantik bila dikenakan dia nanti. Vivian menuruti keinginan temannya itu


dan pergi ke ruang ganti.


Rino baru saja masuk ke dalam toko bersama dengan Dion.


Mereka secara tidak sengaja bertemu di parkiran mobil. Dion sedang mengantar


mamanya untuk membeli baju di Butik milik ibu Jasmine. Dari pada menunggu


sendiri di parkiran akhirnya Rino mengajak Dion untuk masuk ke dalam Butik.


Vivian keluar dari ruang ganti mengenakan atasan warna navy


selutut dan celana putih. Berjalan mendekati Jasmine yang telah duduk bersama


dengan Juwita dan Mala.


“Gimana.? Bagus nggak.?” Tanya Vivian sedikit canggung.


Karena dia merasa sedikit malu.


Kenapa dia


juga ada disini.? Apa Rino juga dekat dengan dia. Atau mereka memang datang


bersama. Kata Dion dalam hati.


“Cantik.” Sahut Rino. Mereka sontak menoleh ke arahnya dengan


tatapan waspada tanpa berkata. Ekspresi wajah Jasmine yang semula kesal


langsung berubah menjadi berseri ketika melihat Dion yang datang bersama dengan


kakak sepupunya.


“Kalian kenapa.? Aku nggak salah kan.? Vivian memang cantik


dan baju apa saja yang dia kenakan pasti cantik juga.” Seru Rino membela diri.


“Kak Dion.” Kata Jasmine malu-malu. Dia segera beranjak dari


duduknya dan berjalan mendekati Dion.


“Kak Rino geser sedikit dong.” Bisik Jasmine kepada Rino.


Rino hanya bisa menggelengkan kepala dan duduk di tempat duduk bekas Jasmine


tadi.


“Kamu adik sepupunya Rino kan.?” Tanya Dion.


“Iya kak.” Jawab Jasmine sambil tersenyum malu.


Vivian masih juga berdiri mengenakan baju pilihannya.


Berharap Jasmine akan memberikan penilaian padanya. Tetapi semua di luar dugaan.


Jasmine lebih memilih untuk mengobrol dengan Dion. Vivian merasa sedikit kecewa


pada Jasmine.


“Cumut.” Teriak Vivian sedikit kesal.


“iya Vivian. Ada apa.?” Sahutnya tanpa menoleh karena matanya


sibuk memandangi wajah Dion.


“Ini gimana.?” Tanya Vivian kesal.


“Ganti-ganti. Nggak cocok sama kamu.” Seru Jasmine sambil


melambaikan tangan.


Vivian menghela nafas kasar dari hidungnya. Dia balik arah


menuju ruang ganti untuk mencoba baju yang lain. Setelah beberapa menit


akhirnya Vivian keluar lagi dari ruangan ganti. Kali ini dia mengenakan baju


long dress motif batik warna abu-abu sebetis dengan celana warna cream. Rino


tidak dapat mengedipkan mata saat melihat penampilan Vivian kali ini.


“Kalau yang ini gimana.?” Vivian menatap tiga orang yang


duduk di depannya.


Semua hanya bisa diam dengan senyuman tanpa berkata apa-apa.


Vivian terlihat sangat anggun dan cantik. Baju itu sangat cocok dan sesuai


dengan tema yang telah mereka tentukan. Jasmine dan Dion berbalik dan menoleh


ke arah Vivian. Dan benar saja bahkan Jasmine mengangkat jempol tangannya.


Cewek ini


lumayan juga. Aku ini kenapa sih.? Kenapa aku muji dia. Seru Dion dalam hati.


Vivian segera masuk kembali ke ruang ganti untuk mengganti


bajunya. Setelah selesai dia langsung menuju kasir untuk melakukan pembayaran


untuk baju yang telah dia pilih. Kalau hanya membeli sebuah baju, tabungan


Vivian sendiri sudah lebih dari cukup tanpa harus meminta uang kepada orang


tuanya. Mala dan Juwita juga telah menyelesaikan pembayaran mereka.


Vivian berjalan mendekati Jasmine yang masih asyik mengobrol


dengan Dion. Vivian mengucapkan terima kasih kepada Jasmine atas semua


bantuannya. Vivian berbalik memberikan kode kepada kedua temannya untuk segera


pulang. Rino segera menghampiri Vivian.


“Kamu mau pulang sekarang Vian.?” Tanya Rino padanya.


“Iya kak. Sudah siang juga. Aku harus segera pulang.” sahutnya


“Nggak mau makan siang dulu.?” Tanya Rino lagi.


“Nggak usah kak. Makan di rumah saja.” Vivian menolak lalu tersenyum.


“Aku antar pulang ya.?” Pinta Rino sedikit berharap. Belum sempat


Vivian menjawab Jasmine langsung menyela.


“Iya Vian. Biar diantar kak Rino aja. Lagian disini kalau mau


naik angkutan jaraknya jauh. Kamu mau kan.?” Kata Jasmine.


Setelah mendengar perkataan Jasmine akhirnya Vivian mau di


antar pulang oleh Rino. Vivian mengangguk kepala pelan. Rino begitu bersemangat


dan itu nampak jelas dari ekspresi wajahnya. Juwita dan Mala hanya mengikuti


saja. Apapun yang diputuskan oleh Vivian mereka ikut serta.


“Kakak masih ingat kan jalan ke rumah Vivian.?” Tanya Jasmine


tiba-tiba.


“Ya ingat donk. Ya udah kakak pergi dulu ya. Kalian lanjutkan


lagi saja ngobrolnya.” Kata Rino kepada Jasmine dan Dion. Vivian berpamitan


kepada Jasmine. Begitu pula Mala dan Juwita.


Hubungan mereka memang dekat. Bahkan Rino pernah ke rumahnya juga. Kata Dion dalam hati.