
Kabar tentang pernikahan Jalal dan Hana telah tersebar ke seluruh penjuru kampung. Undangan akan pernikahan mereka juga telah beredar ke semua warga dan sanak keluarga. Vivian tidak terlalu ambil pusing dengan kabar yang telah beredar. Sekarang dia lebih memilih untuk cuek dan lebih mengutamakan sekolah dan masa depannya sendiri.
Siang itu Vivian sedang asyik bercanda dengan kedua sahabatnya. Siapa lagi kalau bukan Mala dan Juwita. Vivian duduk di batang kayu yang telah lama terpotong dan tak digunakan lagi. Belakang rumah Juwita merupakan tempat favorit mereka untuk melepas penat setelah seharian melewati semua pembelajaran di sekolah. Vivian sangat suka membaca novel. Berbagai novel yang dia pinjam dari perpustakaan sekolah telah selesai dia baca. Entah sudah berapa banyak novel yang telah dia baca hingga membuatnya jago dalam menulis sebuah puisi.
Kali ini Vivian melanjutkan membaca salah satu novel kesukaannya yang berjudul “A Story of Love” yang bercerita tentang seorang gadis yang mencari cinta sejati dalam hidupnya yang penuh dengan lika-liku dan banyak menemukan hambatan akan tujuannya. Vivian mengernyitkan bibir karena apa yang telah dia baca sekarang sama persis dengan kehidupannya sendiri. Tapi bedanya Vivian tidak sedang mencari cinta sejati tapi dia sedang berjuang untuk masa depan dan mencari jati diri.
“Hai.” Sapa Sofyan. Mereka seketika langsung berhenti tertawa mendengar suara Sofyan yang begitu tiba-tiba. Karena asyik bercanda mereka tidak menyadari akan kedatangan Sofyan.
“Hai juga.” Sahut Mala canggung.
“Maaf kalau aku mengganggu.”
“Nggak kok. Ada apa.?” Tanya Juwita.
“Aku hanya mampir untuk mengantarkan ini pada kalian.” Sofyan memberikan tiga buah undangan pernikahan kepada mereka.
“Itu apa.?” Tanya Mala asal-asalan.
“Undangan pernikahannya Jalal.” Sahut Sofyan ragu.
“Oh.” Sahut Vivian tiba-tiba sambil membaca novel yang ada ditangannya. Respon Vivian yang begitu cuek membuat Sofyan mengerutkan dahi tak percaya.
“Sini-sini.! Terima kasih ya.” Mala segera merebut undangan dari tangan Sofyan. Sofyan yang sedang berfikir tentang reaksi Vivian merasa sedikit terkejut dengan yang dilakukan Mala padanya.
“Ya sudah kalau gitu aku pamit dulu.” Kata Sofyan gugup.
“Oke. Sekali lagi terima kasih ya. Kita pasti datang kok.” Sahut Juwita sambil tersenyum senang.
Sofyan segera pergi meninggalkan mereka bertiga. Berjalan sidikit lebih cepat agar segera menjauh dari mereka. Reaksi Vivian sangat mengganggu fikiran Sofyan. Yang Sofyan tahu selama ini Vivian sangat menyukai Jalal. Saat Sofyan pertama kali memberitahukan tentang pernikahan Jalal reaksinya begitu menyedihkan. Berbeda jauh dengan apa yang telah dia tunjukkan barusan.
Bagaimana mungkin dia bisa berbubah begitu cepat. Padahal saat itu dia begitu terkejut dan siapapun
yang melihatnya pasti akan merasa kasihan. Tapi sekarang dia sangat berbeda. Seperti bukan Vivian yang kukenal. Apa dia sudah melupakan Jalal dengan mudah.? Aku harus memberitahu Jalal tentang semua ini. Seru Sofyan dalam hati.
Mala membuka salah satu undangan dan membacanya. Sampul depan terpampang dengan jelas foto prewedding kedua calon mempelai. Vivian menutup novel dan menyudahinya. Meraih salah satu undangan dan membukanya.
“Kamu datang Vi.?” Tanya Mala.
“Emm. Gimana ya.? Datang saja lah.” Sahut Vivian cuek.
“Kamu yakin.?” Seru Juwita.
“Ada hiburannya. Kan rugi kalau nggak datang.” Sahut Vivian sambil tersenyum menggoda.
“Maksud kamu.?” Tanya Mala tidak mengerti. Vivian mengedipkan salah satu matanya kepada Juwita dan Juwita membalasnya. Mereka berdua pun tertawa bersama. Mala hanya bisa menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Melihat tingkah kedua sahabatnya yang sangat aneh membuatnya semakin bingung dan tak mengerti. Mereka yang melihat Mala kebingungan semakin tertawa terpingkal-pingkal. Juwita merasa kasihan dengan Mala dan akhirnya dia membisikkan sesuatu ke telinga Mala. Selang beberapa detik Mala pun ikut tertawa bersama.
Keesokan harinya tibalah pengumuman tentang murid baru yang lolos seleksi. Vivian mencari namanya dipapan pengumuman. Satu persatu nama yang terdaftar dicari menggunakan jari telunjuknya dan akhirnya namanya terlihat juga. Urutan 56, namanya tertulis disana sedangkan Jasmine berada pada nomor 67. Vivian sangat lega dan bahagia. Usaha yang telah dilakukannya selama ini tidak sia-sia. Vivian segera merangkul sahabat barunya yang bernama Jasmine.
“Aku juga senang. Akhirnya aku bisa melihat cowok ganteng setiap hari.” Sahut Jasmine senang bukan main. Vivian yang mendengar perkataan Jasmine segera melepas pelukannya. Memandang Jasmine sambil mengerutkan dahi.
“Kamu kenapa.? Memangnya nggak boleh kalau aku ngeliat cowok ganteng.” Seru Jasmine kesal.
“Bukannya nggak boleh. Tapi tujuan utama kita masuk ke sekolah ini kan bukan itu.” Seru Vivian.
“Iya aku tahu. Tapi nggak apa-apa juga kalau dapat bonus cowok ganteng. Apalagi kalau dia itu kak Dion. Hati aku langsung berdebar-debar.” Jasmine menggenggam kedua tangan didepan dadanya sambil menatap langit membayangkan cowok impiannya. Vivian hanya bisa memutar matanya dengan malas. Vivian ingin sekali merayakan keberhasilannya bersama dengan Jasmine dan Rino. Vivian memutuskan untuk mentraktir keduanya di kantin. Jasmine menyetujui ide Vivian dan dia merangkul bahu Vivian dan mereka berjalan menuju kantin. Tidak lupa sebelum itu Jasmine telah mengirim pesan singkat pada kakak sepupunya Rino untuk menemui mereka di kantin. Rino senang sekali karena dia bisa bertemu dengan Vivian sekali lagi.
Dua gadis yang begitu riang sedang berjalan bersama. Setelah Vivian mengalami banyak hal tentang percintaan, dia tidak pernah lagi mengurai rambutnya yang panjang. Vivian selalu mengikat rambut bahkan sampai mengepang menjadi dua. Kali ini Vivian hanya mengikat rambutnya seperti ekor kuda sedangkan Jasmine terlihat sangat cantik dan imut dengan rambut terurai yang berwarna kecoklatan.
“Vivian nanti kalau kak Rino ngomong macam-macam jangan ditanggapin ya.!” Kata Jasmine disela-sela langkah mereka menuju kantin.
“Memangnya kenapa.?” Tanya Vivian sambil mengenakan headset ke telinganya.
“Pokoknya kamu ikutin saja intruksiku. Oke.?” Seru Jasmine dan Vivian hanya bisa tersenyum sambil mengacungkan jari jempolnya kepada Jasmine. Jasmine begitu khawatir dan kefikiran karena ucapan kakaknya waktu itu. Khawatir kalau dia akan mencoba merayu Vivian.
Saat mereka melewati lapangan terdapat beberapa anak cowok sedang bermain basket. Siapa lagi kalau bukan D3 yang bermain basket. Jasmine senang tiada tara karena bisa menyaksikan tiga cowok terkeren pagi itu namun tiba-tiba bola basket yang mereka mainkan terlempar mendekat ke arah Jasmine dan Vivian. Vivian segera sigap menarik Jasmine agar tidak terkena lemparan bola basket tersebut. Langkah mereka terhenti disana.
“Woi. Sini bolanya lempar.” Teriak salah satu dari mereka. Vivian mengambil bola basket tersebut dan langsung melemparnya ke dalam ring basket. Dan hasilnya bola basket tersebut masuk tepat ke jaringnya. Semua orang yang melihat hal tersebut berdacak kagum dalam hati termasuk juga Dion.
“Kamu jago Vi.” Seru Jasmine sambil bertepuk tangan untuk Vivian. Vivian tidak terlalu merespon pujian Jasmine padanya. Dia segera merangkul bahu Jasmine dan membawanya berjalan menuju kantin.
“Mereka murid baru kan.?” Tanya Dafa pada yang lain.
“Cantik-cantik ya. Ya nggak Dion.? Seru Diandra pada Dion.
Cewek yang sangat menarik. Seru Dion dalam hati.
Sesampainya dikantin terlihat Rino telah memilih tempat duduk untuk mereka. Jasmine melambaikan tangan kepada kakaknya dan Rino bediri sambil membalas lambaian tangan Jasmine. Vivian dan Jasmine segera bergabung dengan Rino. Vivian menyuruh Jasmine dan Rino untuk memesan apa yang mereka inginkan karena hari ini Vivian yang akan membayar semuanya.
“Kak Rino kalu mau makan pesen aja. Aku yang bayar.” Kata Vivian sambil tersenyum.
“Wah. Dalam rangka apa nih.? Habis gajian ya.?” Goda Rino pada Vivian.
“Gajian pala lo peyang.” Sahut Jasmine sambil mendorong kepala Rino menggunakan jari telunjuknya.
“Kamu apaan sih cumut. Sakit tahu.!” Seru Rino sebal melihat tingkah Jasmine padanya.
“Sudah jangan bertengkar gitu.! Nggak enak dilihat yang lain. Ini bukan apa-apa kok kak. Cuma rasa bersyukur aja karena akhirnya aku lolos seleksi dan bisa sekolah disini.” Vivian tersenyum senang.
Mereka memesan makanan dan minuman masing-masing. Setelah pesanan mereka datang mereka segera menyantap semuanya dengan selingan canda serta gelak tawa ketiganya.
Terima kasih Ya Allah. Engkau telah memberikanku kesempatan untuk menentukan masa depanku sendiri. Kalau
bukan karena ridho-Mu aku tidak akan masuk ke sekolah yang begitu aku impikan. Serta aku sangat bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang yang begitu baik padaku. Seru Vivian dalam hati.